Ajudan Gubernur Kaltim Akui Kekeliruan dan Minta Maaf kepada Mahasiswa

oleh -104 Dilihat
oleh
Ajudan Gubernur Kaltim Akui Kekeliruan dan Minta Maaf kepada Mahasiswa

Samarinda | Asky Rizal Toding, ajudan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, menyampaikan permintaan maaf setelah menyenggol seorang peserta aksi dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda. Insiden tersebut terjadi di lingkungan kantor gubernur pada Senin sore, 19 Oktober, ketika mahasiswa menggelar aksi. Dalam keterangan video yang dikutip pada Rabu, Asky secara terbuka mengakui bahwa sikapnya saat kejadian terlihat arogan. Ia juga menyatakan tindakannya keliru dan menyampaikan penyesalan atas peristiwa yang berlangsung di tengah kegiatan penyampaian aspirasi itu.

Asky mengatakan kejadian tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan, baik bagi mahasiswa yang mengikuti aksi maupun masyarakat. Pernyataan itu menjadi bagian dari tanggapannya setelah insiden tersebut mendapat perhatian. Ia tidak membenarkan tindakannya dan mengakui bahwa sikap yang ditunjukkannya tidak semestinya terjadi. Permintaan maaf itu disampaikan secara langsung melalui rekaman video, dengan pengakuan bahwa tindakannya telah menimbulkan dampak bagi pihak lain. Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa peristiwa tersebut merupakan kekeliruan, bukan sikap yang patut ditunjukkan ketika berhadapan dengan peserta aksi.

Pengakuan Asky menyoroti pentingnya menjaga sikap saat berada di lingkungan kantor pemerintahan, terlebih ketika mahasiswa sedang menyampaikan aspirasi. Peserta aksi memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, sementara aparat maupun pihak yang berada di sekitar kegiatan diharapkan bertindak secara terkendali dan menghormati mereka. Dalam konteks itu, permintaan maaf menjadi respons atas tindakan yang diakuinya keliru serta ketidaknyamanan yang muncul. Keterangan tersebut juga menunjukkan bahwa Asky menyadari dampak insiden tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa yang terlibat, tetapi turut menjadi perhatian masyarakat. Ia menyampaikan penyesalan atas kejadian itu dan mengakui perlunya bertanggung jawab atas sikapnya.

Asky menjelaskan bahwa tindakannya terhadap mahasiswa terjadi secara spontan. Ia menyatakan bahwa perbuatan tersebut tidak dilakukan atas arahan atau instruksi siapa pun. Penjelasan itu disampaikan sebagai keterangan mengenai bagaimana insiden tersebut berlangsung, bukan sebagai pembenaran atas perilakunya. Asky mengakui kekeliruan yang terjadi dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada mahasiswa terkait insiden itu.

Dalam keterangannya, Asky menegaskan bahwa ia tidak membenarkan tindakan yang telah dilakukannya. Ia juga menyadari bahwa perilakunya dinilai berlebihan dan menyatakan penyesalan atas hal tersebut. Pengakuan ini disampaikan bersamaan dengan permohonan maafnya, sebagai respons terhadap peristiwa yang terjadi. Ia tidak mengalihkan tanggung jawab dengan alasan bahwa tindakan itu spontan ataupun menyebut adanya pihak lain yang mengarahkannya.

Asky turut berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari sikapnya setelah mengakui kekeliruan dan meminta maaf kepada mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa tindakannya berlangsung tanpa arahan siapa pun, sekaligus mengakui bahwa perilaku tersebut tidak semestinya dilakukan. Dengan demikian, penjelasan mengenai spontanitas itu berdampingan dengan penyesalan dan komitmennya untuk tidak mengulanginya.

Permintaan maaf Asky ditujukan sebagai tanggapan langsung atas insiden tersebut. Ia menyatakan penyesalan atas tindakannya dan mengakui bahwa perilakunya berlebihan, tanpa menyatakan bahwa spontanitas membuat perbuatannya dapat dibenarkan. Ia juga memastikan bahwa tidak ada arahan dari orang lain dalam tindakan itu. Penjelasan dan permohonan maaf tersebut menunjukkan bahwa Asky mengakui kekeliruan yang terjadi serta menyampaikan komitmen untuk tidak melakukan hal serupa lagi. Sikap yang ia sampaikan mencakup pengakuan atas tindakan, penyesalan, permintaan maaf kepada mahasiswa, dan janji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Keterangan itu tetap berfokus pada pengakuan Asky mengenai tindakannya sendiri dan responsnya setelah insiden, tanpa menambahkan alasan lain atau klaim di luar penjelasannya.

Sudarno, tim ahli gubernur bidang informasi dan komunikasi publik, menyampaikan penjelasan mengenai rangkaian kejadian sebelum insiden yang melibatkan ajudan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud. Ia membenarkan bahwa terjadi senggolan yang diduga dilakukan oleh Asky, ajudan gubernur. Keterangan tersebut memberikan konteks tentang situasi yang berkembang di sekitar lokasi, tetapi tidak mengubah fakta bahwa tindakan yang dipersoalkan menjadi perhatian publik. Sudarno menjelaskan peristiwa itu berdasarkan kondisi yang ia ketahui, termasuk kegiatan demonstrasi dan kedatangan gubernur di masjid.

Menurut Sudarno, mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) telah menggelar demonstrasi sejak sore. Rudy, kata dia, belum sempat menemui para peserta aksi karena memiliki banyak kegiatan. Dengan demikian, ketika massa berkumpul di area masjid, demonstrasi masih berlangsung dan mahasiswa belum memperoleh kesempatan untuk menyampaikan tuntutan secara langsung kepada gubernur. Situasi itu kemudian berlanjut menjelang waktu salat Magrib, saat Rudy hendak menunaikan ibadah di Masjid Nurul Mukminin pada Senin, 19 Oktober. Kehadiran massa di sekitar masjid membuat pertemuan gubernur dan para demonstran terjadi dalam suasana yang tidak direncanakan sebagai dialog resmi.

Sudarno menyebut Rudy sempat dihadang oleh massa ketika berada di area tersebut. Ia juga mengatakan terdengar celetukan kecil dari salah satu pihak saat situasi berlangsung. Menurut penilaiannya, rangkaian keadaan itu memicu reaksi dari ajudan, termasuk insiden senggolan yang diduga dilakukan Asky. Penjelasan ini disampaikan sebagai gambaran mengenai suasana sebelum kejadian, bukan sebagai pembenaran atas tindakan yang terjadi. Perbedaan menjelaskan pemicu dan membenarkan perilaku penting untuk dipahami, terutama ketika insiden melibatkan mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi. Keterangan Sudarno membantu menjabarkan kronologi dari sudut pandang tim gubernur, sementara penilaian menyeluruh tetap perlu mempertimbangkan keterangan para mahasiswa dan pihak lain yang berada di lokasi. Karena itu, insiden tersebut menjadi perhatian tidak hanya karena dugaan kontak fisik, tetapi juga karena berlangsung saat kelompok mahasiswa berupaya menyampaikan aspirasi kepada kepala daerah. Konteks ini menjelaskan bagaimana demonstrasi sore dan kegiatan gubernur bertemu di satu tempat, sebelum ketegangan meningkat menjelang salat Magrib.Peristiwa yang melibatkan ajudan Gubernur Kalimantan Timur dan mahasiswa menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan situasi demonstrasi yang memanas dan memunculkan sorotan terhadap cara aparat pendamping gubernur merespons peserta aksi. Seorang demonstran perempuan disebut mengalami kontak fisik, hingga ponsel yang dibawanya terjatuh. Informasi dalam sumber tidak menjelaskan lebih jauh mengenai kondisi ponsel tersebut ataupun akibat lain yang dialami demonstran. Namun, potongan kejadian yang tersebar cukup memicu perhatian publik terhadap batas tindakan yang semestinya dijaga saat mengamankan atau mendampingi pejabat di tengah aksi massa.

Sudarno mengakui bahwa reaksi ajudan dalam insiden itu keliru dan menyampaikan permintaan maaf kepada mahasiswa. Pengakuan tersebut menjadi penilaian penting atas kejadian, tetapi tidak menghapus perhatian pada kontak fisik yang terekam dan disebut terjadi terhadap demonstran perempuan. Dalam konteks penyampaian aspirasi, tindakan fisik terhadap demonstran tidak dapat dibenarkan, sekalipun keadaan sedang tegang atau situasi di lapangan memanas. Respons yang tepat seharusnya tetap mengutamakan pengendalian diri, komunikasi, serta penghormatan terhadap keselamatan peserta aksi. Penegasan ini relevan karena ketegangan tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan perlakuan fisik terhadap warga yang sedang berdemonstrasi.

Beredarnya video juga membuat insiden tersebut mendapat perhatian lebih luas daripada kejadian di lokasi semata. Rekaman di media sosial dapat membentuk penilaian publik terhadap sikap para pihak, sekaligus mendorong pembahasan mengenai perlindungan demonstran dan tanggung jawab dalam menghadapi aksi. Karena itu, permintaan maaf dan pengakuan atas kekeliruan perlu dibaca bersama fakta yang tersedia: seorang peserta aksi perempuan disebut mengalami kontak fisik, ponselnya terjatuh, dan tindakan fisik dinilai tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun yang memanas. Bahan sumber hanya memuat keterangan tersebut dan tidak memberikan informasi tentang proses hukum, sanksi, atau perkembangan lanjutan.

Baca juga: Ajudan Gubernur Kaltim Akui Kesalahan dan Janji Tak Mengulangi Sikap terhadap Mahasiswa | Polda Kaltim Periksa Ajudan Usai Video Insiden dengan Mahasiswa GMNI Samarinda Viral | Aksi Masyarakat Sipil dan Mahasiswa Warnai Peringatan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran