Prabowo Soroti Pangan dan Mata Uang sebagai Instrumen Kekuatan Global

oleh -132 Dilihat
oleh
Prabowo Soroti Pangan dan Mata Uang sebagai Instrumen Kekuatan Global

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto menilai dinamika geopolitik global sedang berubah, sementara berbagai instrumen ekonomi dapat digunakan negara sebagai senjata. Pandangan itu disampaikan di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (21/10/2026). Pernyataan tersebut menyoroti bahwa persaingan antarnegara tidak lagi dapat dipahami hanya melalui kekuatan militer atau hubungan diplomatik. Perkembangan politik dunia juga berkaitan erat dengan keputusan ekonomi dan kemampuan suatu negara menjaga kepentingan nasionalnya. Dalam pandangan ini, alat ekonomi bukan sekadar sarana transaksi atau pertumbuhan, tetapi dapat memiliki dampak strategis ketika digunakan dalam hubungan antarnegara.

Prabowo menempatkan perubahan tersebut dalam konteks keterkaitan politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan. Keempat bidang itu saling memengaruhi, sehingga perkembangan pada satu sektor dapat berimbas pada sektor lain. Kebijakan ekonomi, misalnya, dapat berhubungan dengan daya tahan masyarakat dan kemampuan negara menghadapi tekanan. Sementara itu, keadaan politik dan sosial turut membentuk ruang bagi suatu negara untuk menentukan langkahnya. Dengan melihat keterhubungan tersebut, persaingan global perlu dipahami secara luas, tidak hanya sebagai persoalan diplomasi atau keamanan dalam pengertian sempit.

Penekanan pada instrumen ekonomi menunjukkan pentingnya membaca perubahan kekuatan global dengan cermat. Pangan dan mata uang, sebagaimana tercermin dalam pokok perhatian Prabowo, berada dalam ranah yang dapat bersentuhan langsung dengan kepentingan negara dan kehidupan masyarakat. Ketika aspek ekonomi memiliki bobot strategis, ketahanan nasional juga berkaitan dengan kemampuan mengelola kebutuhan dan menjaga stabilitas. Pernyataan Presiden itu menggarisbawahi bahwa dinamika geopolitik menuntut perhatian pada beragam sumber pengaruh, sekaligus pemahaman mengenai hubungan di bidang-bidang utama kehidupan bernegara. Kerangka tersebut menjadi dasar untuk menilai bagaimana persaingan berubah dan mengapa instrumen nonmiliter dapat berperan dalam menentukan posisi suatu negara di tengah hubungan global yang terus bergerak.

Prabowo menyoroti bahwa persaingan antarnegara tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer atau diplomasi. Mata uang, kegiatan ekspor dan impor, serta pasokan pangan juga dapat menjadi instrumen yang memengaruhi posisi dan daya tawar suatu negara. Dalam pandangan tersebut, hubungan ekonomi lintas negara bukan sekadar pertukaran barang dan jasa, melainkan bagian dari dinamika kekuatan global. Perubahan nilai mata uang maupun ketergantungan pada perdagangan dapat membawa konsekuensi yang melampaui urusan pasar.

Pangan mendapat perhatian khusus karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat sekaligus ketahanan suatu negara. Prabowo secara khusus menyebut beras dalam pembahasannya mengenai persaingan tersebut. Komoditas ini tidak hanya dipandang sebagai bahan konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan antarnegara yang dapat berpengaruh dalam situasi persaingan. Dengan demikian, urusan produksi, ketersediaan, dan perdagangan pangan memiliki dimensi strategis. Ketika akses terhadap pangan menjadi penting bagi kehidupan masyarakat, pengelolaannya terkait pula dengan kemampuan negara menjaga kepentingannya.

Pandangan itu menempatkan persoalan ekonomi dalam kaitan yang lebih luas dengan bidang politik, sosial, dan pertahanan. Prabowo menegaskan bahwa aspek-aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keputusan atau keadaan di bidang perdagangan, misalnya, dapat bersinggungan dengan kondisi sosial, sementara ketahanan pangan berhubungan dengan kepentingan politik dan pertahanan. Karena itu, mata uang, ekspor-impor, dan beras dapat dibaca sebagai bagian dari persaingan yang mencakup banyak dimensi, bukan sebagai isu yang berdiri sendiri. Uraian tersebut menekankan cara melihat hubungan antarbidang dalam konteks kekuatan global, tanpa mengurangi kenyataan bahwa kebutuhan pangan juga berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Prabowo menggambarkan politik saat ini sebagai arena yang semakin ditentukan oleh kekuatan. Dalam penilaiannya, kemampuan suatu pihak untuk bertahan dan menjaga kepentingannya sangat berkaitan dengan seberapa besar kekuatan yang dimiliki. Pandangan tersebut menempatkan kekuatan bukan sekadar sebagai latar dalam hubungan politik, melainkan sebagai faktor yang dapat memengaruhi posisi para pihak ketika menghadapi persaingan. Pihak yang kuat dinilai memiliki peluang lebih besar untuk tetap bertahan, sedangkan pihak yang lemah menghadapi risiko tersisih. Dengan kerangka itu, dinamika politik dipahami sebagai persaingan yang tidak selalu berjalan setara bagi semua pihak.

Untuk menerangkan penilaiannya, Prabowo merujuk pada keadaan di Timur Tengah dan berbagai tempat lain. Rujukan tersebut digunakan untuk menyoroti bagaimana situasi politik dapat memperlihatkan perbedaan kemampuan pihak yang kuat dan yang lemah. Pernyataan itu tidak perlu dibaca sebagai uraian mengenai konflik atau negara tertentu, melainkan sebagai gambaran umum tentang persaingan kekuatan yang menurutnya berlangsung dalam politik saat ini. Ia menyampaikan bahwa pihak yang memiliki posisi lebih kuat cenderung lebih mampu menghadapi tekanan, sementara pihak yang lemah berisiko kehilangan ruang untuk bertahan. Dengan demikian, kondisi di sejumlah kawasan menjadi konteks bagi pandangannya mengenai ketimpangan daya.

Penilaian tersebut juga menekankan bahwa kekuatan berhubungan dengan daya tahan dalam menghadapi perubahan dan tekanan politik. Ketika hubungan antar pihak berlangsung dalam suasana persaingan, kemampuan untuk mempertahankan posisi menjadi hal penting. Prabowo melihat bahwa pihak yang lemah dapat tersingkir apabila tidak memiliki kekuatan yang memadai, sementara pihak yang kuat dinilai lebih mampu bertahan. Pernyataan ini mencerminkan cara pandang yang menempatkan daya dan ketahanan sebagai unsur utama dalam membaca politik global. Rujukan pada Timur Tengah serta berbagai tempat lain mendukung gambaran umum itu, tanpa merinci peristiwa atau akibat tertentu. Pokok pandangannya adalah bahwa kekuatan berpengaruh pada kemampuan untuk bertahan di tengah politik yang kompetitif.

Dalam pandangan Prabowo, persatuan nasional bukan sekadar slogan atau seruan yang disampaikan pada momentum tertentu. Prinsip tersebut perlu diyakini dan dijaga sebagai landasan kehidupan berbangsa. Di tengah perbedaan kepentingan, latar belakang, maupun pandangan politik, masyarakat Indonesia tetap membutuhkan kesadaran bersama mengenai tujuan nasional. Prabowo menempatkan keyakinan terhadap persatuan sebagai pegangan penting agar bangsa dapat menghadapi perubahan dan tantangan tanpa kehilangan arah. Karena itu, gagasan persatuan tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarkelompok di dalam negeri, tetapi juga dengan kemampuan Indonesia menentukan sikap secara mandiri di tengah dinamika global.

Prabowo menghubungkan pandangan itu dengan seruan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Ia mengingatkan bahwa Soekarno pernah menyampaikan seruan yang kemudian dicemooh oleh sebagian pihak. Namun, menurut Prabowo, respons tersebut tidak menghapus arti gagasan yang disampaikan. Ia melihat adanya benang merah seruan Soekarno dan kebutuhan Indonesia saat ini, yakni menjaga persatuan nasional. Dengan mengangkat kembali pengalaman tersebut, Prabowo menekankan bahwa gagasan mengenai persatuan dapat menghadapi keraguan atau penolakan, tetapi tetap memiliki nilai bagi kehidupan bangsa. Penekanannya bukan pada perbedaan respons terhadap tokoh atau pernyataan tertentu, melainkan pada pesan yang dianggap relevan untuk terus diperhatikan.

Penegasan itu juga memberi konteks pada pembahasan mengenai pangan dan mata uang sebagai unsur yang berhubungan dengan kekuatan suatu negara. Bagi Prabowo, kemandirian dan kemampuan menghadapi persaingan tidak dapat dilepaskan dari kondisi bangsa yang bersatu. Persatuan dipandang sebagai prinsip yang perlu dipercaya, bukan sekadar tema politik yang muncul sesaat. Dengan merujuk pada Soekarno, Prabowo mengaitkan pesan masa lalu dengan tanggung jawab untuk menjaga kebersamaan nasional pada masa kini. Ia menegaskan bahwa politik persatuan nasional merupakan prinsip yang perlu diyakini, dengan benang merah berupa upaya menjaga persatuan bangsa sebagaimana tercermin dalam seruan Soekarno yang pernah dicemooh.

Baca juga: Prabowo Apresiasi Kabinet Merah Putih dan Soroti Tantangan bagi Indonesia | Prabowo Paparkan Tekanan Global dan Risiko Bencana yang Dihadapi Indonesia | Prabowo Soroti Penyelundupan dan Kebocoran Kekayaan Alam Indonesia