Risiko Penyakit Jantung Bisa Tersembunyi, Ini Langkah Pencegahannya

oleh -81 Dilihat
oleh
Risiko Penyakit Jantung Bisa Tersembunyi, Ini Langkah Pencegahannya

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, Rasa sehat tidak selalu menunjukkan bahwa pembuluh darah berada dalam kondisi baik. Penyakit jantung, khususnya yang berkaitan dengan penyempitan pembuluh darah koroner, dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang mudah dikenali. Kondisi ini membuat seseorang tetap beraktivitas seperti biasa dan menganggap dirinya terbebas dari risiko, padahal proses gangguan pada pembuluh darah mungkin sudah berlangsung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. dr. Vito A. Damay, mengingatkan bahwa penyempitan pembuluh darah pada tingkat tertentu belum tentu menimbulkan gejala. Penyempitan sekitar 30–40 persen, misalnya, dapat belum terasa ketika seseorang melakukan kegiatan sehari-hari. Aliran darah masih mungkin mencukupi kebutuhan tubuh pada kondisi tersebut sehingga keluhan seperti nyeri dada atau sesak belum muncul secara jelas.

Meski demikian, keadaan tanpa gejala bukan berarti risikonya dapat diabaikan. Penyempitan dapat bertambah seiring waktu, terutama apabila disertai faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tidak terkontrol, diabetes, kebiasaan merokok, berat badan berlebih, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Jika penyempitan terus berkembang, aliran darah menuju otot jantung dapat terganggu dan meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung.

Risiko ini juga lebih sulit dikenali pada orang yang jarang melakukan aktivitas fisik. Karena tubuh tidak sering dituntut bekerja lebih keras, keterbatasan aliran darah mungkin tidak terlihat. Seseorang dapat merasa baik-baik saja bukan karena pembuluh darahnya sepenuhnya sehat, melainkan karena belum berada pada kondisi yang memicu gejala. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan evaluasi faktor risiko tetap penting, termasuk bagi orang yang merasa tidak memiliki keluhan. Deteksi lebih awal membantu dokter menilai kondisi pembuluh darah dan menentukan langkah pencegahan sebelum gangguan berkembang menjadi keadaan darurat.

Kebiasaan hidup sedentari, seperti terlalu lama duduk, jarang berjalan, dan hampir tidak pernah berolahraga, dapat membuat risiko penyakit jantung sulit dikenali. Seseorang mungkin merasa sehat karena tidak mengalami nyeri dada, sesak napas, atau keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, tidak adanya gejala bukan berarti pembuluh darah benar-benar dalam kondisi baik.

Ketika tubuh jarang bergerak, perubahan pada pembuluh darah dapat berkembang tanpa disadari. Penyempitan pembuluh darah, misalnya, mungkin belum menimbulkan tanda yang jelas pada tahap awal. Keluhan bisa baru muncul ketika kebutuhan jantung terhadap aliran darah meningkat, seperti saat melakukan aktivitas berat. Karena terbiasa menjalani rutinitas yang minim gerak, seseorang juga mungkin tidak pernah memberi kesempatan kepada tubuh untuk menunjukkan keterbatasannya.

Narasumber menjelaskan bahwa sekitar 90 persen pasien yang pernah ditanganinya tidak berolahraga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik sering menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari pasien dengan masalah jantung. Rendahnya aktivitas bukan hanya berkaitan dengan kebugaran, tetapi juga dapat membuat seseorang terlambat menyadari perubahan pada tubuhnya.

Seseorang bisa merasa tidak memiliki keluhan karena tidak mengetahui kondisi yang sedang dialaminya, terlebih jika ia jarang bergerak atau terlalu lama duduk. Dengan kata lain, tubuh yang tidak banyak digunakan untuk beraktivitas mungkin belum memperlihatkan tanda peringatan secara nyata. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan tetap penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Mengurangi waktu duduk secara bertahap dapat menjadi langkah awal. Berdiri, berjalan singkat setiap beberapa waktu, menggunakan tangga, dan menjadwalkan olahraga rutin membantu meningkatkan aktivitas harian. Perubahan sederhana tersebut sebaiknya dilakukan konsisten, sambil berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar jenis dan intensitas aktivitas sesuai dengan kondisi tubuh.

Pencegahan penyakit jantung sebaiknya dimulai sebelum muncul kerusakan otot jantung atau penyempitan pembuluh darah. Dokter umumnya menekankan perubahan pola hidup sebagai dasar perlindungan jangka panjang, terutama bagi orang yang memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, berat badan berlebih, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Langkah ini tidak hanya bertujuan mengurangi risiko, tetapi juga membantu tubuh mempertahankan fungsi pembuluh darah secara optimal.

Aktivitas fisik teratur merupakan bagian penting dari upaya tersebut. Orang dewasa dapat menargetkan olahraga intensitas sedang, seperti berjalan cepat, bersepeda, atau berenang, selama sekitar 150 menit setiap minggu, sesuai kondisi kesehatan masing-masing. Latihan kekuatan juga dapat dilakukan beberapa kali seminggu. Kebiasaan bergerak membantu mengendalikan tekanan darah, kadar gula, berat badan, dan kadar lemak darah. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga dan pengaturan makan dapat memengaruhi kekakuan pembuluh darah, sehingga sirkulasi tetap lebih baik.

Pola makan perlu disusun dengan memperbanyak sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein rendah lemak. Batasi garam, gula tambahan, makanan ultra-proses, lemak jenuh, dan lemak trans. Penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan mempertahankan massa otot, bukan sekadar mengurangi angka pada timbangan. Asupan protein yang cukup, latihan kekuatan, dan pemantauan komposisi tubuh dapat membantu mencapai hasil yang lebih sehat dan bertahan lama.

Tidur yang cukup, umumnya tujuh hingga sembilan jam bagi orang dewasa, turut mendukung kesehatan jantung. Stres kronis perlu dikelola melalui relaksasi, pernapasan, ibadah, hobi, atau konsultasi profesional. Berhenti merokok juga sangat penting karena zat kimia dalam rokok dapat merusak dinding pembuluh darah dan meningkatkan risiko pembekuan. Obat tetap digunakan bila diresepkan dokter, tetapi pencegahan tidak cukup hanya mengandalkannya. Aktivitas fisik dan pola makan sehari-hari merupakan bagian yang sama pentingnya dalam menjaga jantung.

Kurang tidur merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung yang kerap kurang diperhatikan. Dokter menyebutkan bahwa tidur yang tidak mencukupi dapat menjadi faktor risiko, tetapi hal ini sering diabaikan ketika seseorang berupaya menjaga kesehatan jantung. Perhatian biasanya lebih banyak diberikan pada hal-hal lain, sementara kebiasaan tidur belum selalu dianggap sebagai bagian penting dari upaya pencegahan.

Karena itu, kebiasaan tidur perlu ditempatkan sebagai salah satu hal yang tidak boleh diabaikan. Mengenali bahwa kurang tidur dapat berkaitan dengan risiko penyakit jantung membantu seseorang lebih sadar terhadap kebiasaan sehari-hari yang dijalani. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan pemeriksaan atau penanganan setelah masalah muncul, tetapi juga dengan memperhatikan faktor-faktor yang berpotensi meningkatkan risiko sejak lebih awal.

Kebiasaan merokok juga termasuk faktor yang perlu diperhatikan. Berhenti merokok merupakan salah satu perubahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor risiko penyakit jantung. Keputusan pasien untuk berhenti merokok dinilai sebagai hal yang sangat baik. Sikap tersebut menunjukkan adanya langkah nyata untuk mengurangi faktor risiko, sekaligus menjadi bagian dari perhatian terhadap kesehatan jantung.

Upaya menjaga kesehatan jantung sebaiknya dimulai sebelum muncul kerusakan atau penyempitan pembuluh darah. Dengan demikian, kurang tidur dan kebiasaan merokok tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan yang dapat diabaikan. Perhatian terhadap kedua hal ini perlu dimulai lebih awal, termasuk melalui keputusan untuk berhenti merokok dan kesadaran bahwa tidur yang kurang merupakan faktor risiko penyakit jantung. Langkah menjaga kesehatan jantung menjadi lebih bermakna apabila dilakukan sebelum kerusakan atau penyempitan pembuluh darah terjadi.

Response (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *