Korban Jiwa Kebakaran Bromo Bertambah Setelah Suraji Meninggal di Surabaya

oleh -287 Dilihat
oleh
Korban Jiwa Kebakaran Bromo Bertambah Setelah Suraji Meninggal di Surabaya

Surabaya | Korban meninggal akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo bertambah menjadi enam orang setelah Suraji, 44 tahun, wafat pada Jumat, 23 Oktober 2026. Ia meninggal pukul 12.00 WIB setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Kabar tersebut menandai bertambahnya jumlah korban jiwa dalam peristiwa kebakaran yang melanda kawasan Bromo.

Adin Niken Primasari dari instalasi hukum, humas, dan pemasaran RSUD Dr. Soetomo membenarkan waktu wafat Suraji. Berdasarkan keterangan rumah sakit, pasien tersebut mengembuskan napas terakhir pada tengah hari, setelah tim medis memberikan perawatan intensif. Informasi ini menjadi konfirmasi resmi mengenai kondisi terakhir Suraji selama dirawat di Surabaya.

Dengan meninggalnya Suraji, jumlah korban yang kehilangan nyawa dalam kebakaran Bromo kini tercatat enam orang. Perubahan jumlah korban ini menyusul kabar duka dari rumah sakit, tempat Suraji menjalani penanganan medis. Sebelumnya, lima orang telah meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Keterangan mengenai wafatnya Suraji sekaligus memperbarui catatan korban jiwa yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di kawasan itu.

Peristiwa ini kembali menyoroti dampak serius kebakaran di kawasan Gunung Bromo terhadap keselamatan manusia. Namun, informasi yang disampaikan dalam kabar wafat Suraji berfokus pada identitas dan waktu meninggalnya serta perawatan intensif yang telah dijalaninya di RSUD Dr. Soetomo. Tidak ada rincian tambahan mengenai kondisi klinis pasien yang disampaikan oleh pihak rumah sakit dalam keterangan tersebut.

Keluarga Suraji kini menghadapi kehilangan setelah ia meninggal di Surabaya, sementara jumlah korban meninggal dalam kebakaran Bromo bertambah menjadi enam orang. Konfirmasi Adin Niken Primasari memberi kepastian mengenai waktu wafat pasien, yakni Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 12.00 WIB. Perkembangan ini menjadi bagian penting dari laporan mengenai dampak kebakaran di kawasan Bromo dan penanganan para korban yang terdampak.

Suraji mengalami luka bakar berat setelah kebakaran di kawasan Bromo. Ia diketahui bekerja sebagai petugas keamanan di Artotel, PT Mitra Indo Permai. Luka bakar yang dideritanya mencakup sekitar 49 persen permukaan tubuh, sehingga penanganan medis harus dilakukan secara intensif. Area yang paling terdampak meliputi wajah dan dada. Cedera pada bagian-bagian tersebut menjadi perhatian penting dalam perawatannya, terlebih karena kondisi Suraji juga melibatkan gangguan pada saluran pernapasan. Informasi mengenai tingkat luka dan cedera pernapasan itu menggambarkan beratnya dampak kebakaran yang dialaminya, serta alasan ia memerlukan pengawasan ketat dari tenaga medis sejak menjalani perawatan di rumah sakit.

Selain luka pada kulit, Suraji mengalami cedera saluran pernapasan setelah menghirup udara panas dan asap. Paparan tersebut dapat menyebabkan gangguan serius, terutama ketika seseorang berada di tengah kebakaran dan terpapar panas serta asap. Dalam kasus Suraji, kondisi pernapasan itu menyertai luka bakar yang luas dan membuat penanganan medis menjadi lebih kompleks. Tim medis perlu memantau keadaan tubuhnya secara berkelanjutan, termasuk pernapasan dan dampak cedera yang terlihat pada wajah serta dada. Perawatan tidak hanya berfokus pada luka di permukaan tubuh, tetapi juga pada kondisi saluran napas yang terdampak. Kombinasi cedera tersebut menjadikan kondisinya memerlukan perhatian intensif.

Karena tingkat luka bakar dan gangguan pernapasannya, Suraji dirawat di ruang resusitasi observasi intensif (ROI). Ia juga mendapatkan bantuan ventilator untuk mendukung pernapasan. Perawatan di ruang tersebut memungkinkan kondisi pasien diawasi secara intensif, sementara bantuan alat pernapasan diberikan sesuai kebutuhan medisnya. Keterangan mengenai ruang perawatan dan penggunaan ventilator menunjukkan bahwa Suraji membutuhkan dukungan medis serius setelah mengalami kebakaran. Meski telah memperoleh penanganan intensif, kondisinya tetap menjadi perhatian hingga kabar meninggalnya di Surabaya. Peristiwa ini menambah jumlah korban jiwa kebakaran Bromo dan memperlihatkan bahwa dampak kebakaran dapat mencakup luka bakar luas maupun cedera akibat menghirup udara panas dan asap.

Selama menjalani perawatan, Suraji menghadapi sejumlah komplikasi yang membuat kondisinya memerlukan penanganan berkelanjutan. Komplikasi tersebut meliputi infeksi berat dan gangguan pada paru-paru, anemia, penurunan kadar protein dalam darah, serta gangguan elektrolit. Berbagai masalah kesehatan itu terjadi bersamaan dengan luka bakar yang dialaminya. Tim medis berupaya menangani setiap kondisi tersebut selama Suraji dirawat. Namun, meski berbagai tindakan telah diberikan, keadaan Suraji tidak menunjukkan perbaikan yang cukup untuk menghentikan kemunduran kondisinya.

Menurut Adin, kondisi Suraji mulai memburuk pada Jumat pagi setelah ia mengalami syok sepsis. Perubahan kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan perawatan Suraji, yang sebelumnya telah mencakup penanganan komplikasi dan luka bakar. Tim medis memberikan cairan dan antibiotik, serta melakukan transfusi darah dan protein. Penanganan juga diarahkan pada gangguan elektrolit dan luka bakar yang dialami Suraji. Upaya-upaya itu dilakukan sebagai bagian dari perawatan terhadap masalah yang muncul selama ia dirawat.

Meski telah memperoleh cairan, antibiotik, transfusi darah dan protein, serta penanganan untuk gangguan elektrolit dan luka bakar, kondisi Suraji terus menurun. Komplikasi berupa infeksi berat dan gangguan paru-paru, anemia, kadar protein darah yang menurun, serta gangguan elektrolit tetap menjadi bagian dari kondisi yang dihadapinya selama perawatan. Setelah memburuk usai mengalami syok sepsis pada Jumat pagi, keadaannya tidak kembali membaik. Tim medis terus melakukan penanganan sebagaimana diperlukan, tetapi kondisi Suraji berlanjut semakin menurun hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Sebelum Suraji meninggal dunia di Surabaya, lima orang telah lebih dahulu dilaporkan menjadi korban jiwa dalam kebakaran di kawasan Bromo. Dua di antaranya, Sukaris dan Hendra Rony Wagiyanata, merupakan petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS). Keduanya tercatat dalam daftar korban yang meninggal akibat peristiwa tersebut. Informasi mengenai mereka menunjukkan bahwa dampak kebakaran turut dirasakan oleh orang-orang yang bertugas di kawasan taman nasional. Mereka menjadi bagian dari lima korban yang sebelumnya telah diberitakan meninggal, sebelum kabar mengenai Suraji menambah jumlah korban jiwa.

Tiga korban lainnya ialah Wisnu Yuda Pratama, berusia 25 tahun, Sefriel Ardiansyah, berusia 19 tahun, serta Munawi. Wisnu dan Sefriel diketahui sebagai relawan dalam penanganan kebakaran. Di luar kegiatan kerelawanan, keduanya bekerja sebagai karyawan hotel setempat. Keterlibatan mereka menggambarkan bahwa warga dan pekerja di sekitar kawasan turut berada dalam upaya menghadapi keadaan darurat. Sementara itu, Munawi merupakan anggota Masyarakat Peduli Api Tengger Laut Pasir. Kelompok tersebut menjadi bagian dari masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kebakaran di kawasan itu. Nama dan latar belakang kelima korban memperlihatkan bahwa mereka berasal dari unsur petugas, relawan, pekerja, dan kelompok masyarakat setempat.

Dalam pemberitaan mengenai korban-korban sebelumnya, identitas dan peran mereka disampaikan sebagai informasi penting bagi publik untuk memahami siapa saja yang terdampak. Sukaris dan Hendra bertugas di lingkungan BB TNBTS, sedangkan Wisnu, Sefriel, dan Munawi memiliki keterlibatan masing-masing sebagai relawan, karyawan hotel, dan anggota kelompok masyarakat. Keterangan tersebut tidak mengubah fakta bahwa kelimanya telah lebih dahulu dilaporkan meninggal sebelum Suraji. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya menyiapkan santunan sebesar Rp10 juta. Informasi yang tersedia menyebutkan nilai santunan itu, tetapi tidak merinci siapa penerimanya. Karena itu, keterangan mengenai santunan tersebut tidak dapat dikaitkan secara khusus dengan salah satu korban tanpa informasi tambahan. Peristiwa ini kemudian kembali menjadi perhatian setelah Suraji meninggal di Surabaya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Ajak Warga Bantu Padamkan Kebakaran Gunung Ciremai | Satgas TMMD ke-130 Bersama Masyarakat Padamkan Kebakaran Lahan di Kampung Mawi | Gempa Magnitudo 7 di Tibet: Korban Jiwa, Kerusakan, dan Penanganan Darurat