Emas Dunia Pulih ke Atas US$4.000, Pasar Menanti Keputusan The Fed

oleh -366 Dilihat
oleh
Emas Dunia Pulih ke Atas US$4.000, Pasar Menanti Keputusan The Fed

Jakarta | Harga emas dunia kembali bergerak di atas US.000 per troy ons setelah sempat terkoreksi hingga US.900. Berdasarkan data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, emas berada di US.016,31 per troy ons. Nilai tersebut naik 0,52% dibandingkan penutupan sebelumnya, sekaligus menandai pulihnya harga ke atas level psikologis penting yang sebelumnya kembali terlewati ke bawah.

Penguatan itu menunjukkan adanya pemulihan setelah tekanan jual membawa logam mulia mendekati US$3.900. Kembalinya harga ke kisaran US$4.000 menjadi perkembangan yang diperhatikan pelaku pasar, terutama karena pergerakan terjadi menjelang keputusan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Meski demikian, kenaikan pada Senin belum serta-merta memastikan tren penguatan berlanjut; harga masih dapat berubah seiring penilaian investor terhadap prospek inflasi dan arah kebijakan bank sentral.

Pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, harga kemudian sedikit melemah. Data Refinitiv yang tercatat pukul 06.37 WIB menunjukkan emas berada di US$4.012,49 per troy ons, turun 0,1%. Koreksi tersebut relatif terbatas dan membuat harga masih bertahan di atas US$4.000. Dengan demikian, pergerakan terbaru menggambarkan pasar yang berusaha mempertahankan pemulihan, tetapi tetap berhati-hati sebelum memperoleh petunjuk lebih jelas dari pengumuman kebijakan suku bunga AS.

Salah satu latar yang menyertai pemulihan ini adalah turunnya harga minyak. Penurunan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran mengenai tekanan inflasi, karena energi merupakan salah satu komponen yang dapat memengaruhi biaya dan ekspektasi harga. Perubahan persepsi inflasi penting bagi emas: investor mencermati apakah tekanan harga yang lebih ringan dapat memberi ruang bagi kebijakan moneter yang tidak terlalu ketat. Namun, hubungan tersebut tidak selalu berjalan langsung, dan pasar tetap menimbang berbagai data serta komunikasi bank sentral.

Menjelang pengumuman The Fed, perhatian kemungkinan tertuju pada keputusan suku bunga dan sinyal mengenai langkah berikutnya. Tingkat bunga memengaruhi daya tarik relatif emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, sementara perubahan ekspektasi kebijakan dapat memicu volatilitas pada dolar AS dan aset lainnya. Untuk sementara, angka penutupan Senin dan pelemahan tipis pada Selasa memperlihatkan bahwa emas telah pulih melewati US$4.000, tetapi arah selanjutnya masih bergantung pada respons pasar terhadap keputusan tersebut.

Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior StoneX, menilai penurunan harga minyak menjadi salah satu faktor yang membantu mengangkat emas. Ketika energi lebih murah, kekhawatiran bahwa biaya bahan bakar akan terus mendorong inflasi dapat berkurang, sehingga tekanan terhadap logam mulia turut mereda. Selain itu, aksi beli saat harga emas melemah memberikan dukungan tambahan. Investor yang melihat penurunan sebagai kesempatan masuk kembali ke pasar membantu menahan harga, meskipun pelaku pasar masih berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Harga minyak terkoreksi setelah mengalami lonjakan pada pekan sebelumnya. Namun, koreksi tersebut belum menjauhkan minyak dari level tertinggi dalam enam bulan, sehingga pergerakan energi tetap menjadi perhatian. Harapan bahwa konflik AS dan Iran dapat mereda turut menekan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dalam waktu dekat. Meski demikian, prospek itu masih tidak pasti. Risiko terhadap jalur maupun ketersediaan pasokan tetap membayangi pasar, dan perkembangan geopolitik yang memburuk dapat mendorong harga energi naik kembali.

Jika gangguan pasokan terjadi, kenaikan harga minyak berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap langkah The Fed dan membatasi ruang bagi emas untuk bergerak lebih tinggi. Haberkorn memperkirakan perdagangan emas akan cenderung terbatas di sekitar US$4.000 per troy ons hingga bank sentral mengumumkan keputusannya. Dengan kata lain, dukungan dari minyak yang lebih murah dan pembelian saat harga turun dapat menjaga logam mulia, tetapi belum tentu cukup untuk memicu pergerakan besar sebelum kepastian kebijakan tersedia. Pasar kemungkinan tetap mencermati pernyataan The Fed, sekaligus menimbang perubahan harga energi dan risiko pasokan, sebagai petunjuk bagi arah inflasi dan pergerakan emas berikutnya.

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu, dan perhatian pelaku pasar tertuju pada sinyal mengenai langkah kebijakan berikutnya. Secara luas, investor memperkirakan bank sentral Amerika Serikat itu akan mempertahankan suku bunga setelah menaikkannya pada September. Keputusan untuk menahan suku bunga pekan ini dinilai sejalan dengan kebutuhan pejabat untuk menilai dampak pengetatan sebelumnya terhadap ekonomi dan inflasi. Meski demikian, perkiraan tersebut tidak serta-merta menghilangkan ketidakpastian, sebab perubahan data ekonomi dapat menggeser ekspektasi pasar dalam waktu singkat.

Menurut CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 80%. Angka itu menunjukkan bahwa pasar masih memperhitungkan kemungkinan pengetatan lanjutan, meskipun keputusan terdekat diperkirakan berupa jeda. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga. Ketika imbal hasil aset lain meningkat, biaya peluang untuk memegang emas juga bertambah, sehingga sebagian investor dapat mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan pendapatan. Hubungan ini membuat arah kebijakan moneter menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan emas.

Sejumlah pejabat The Fed telah memberi sinyal bahwa suku bunga jangka pendek kemungkinan tidak akan dinaikkan pada rapat pekan ini. Namun, investor tetap mencermati apakah jeda tersebut hanya sementara. Jika inflasi bertahan pada tingkat tinggi, bank sentral dapat kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga, sehingga ekspektasi kebijakan yang lebih ketat berpotensi membatasi pemulihan emas. Karena itu, perhatian pasar tidak berhenti pada pengumuman Rabu, tetapi juga tertuju pada data yang dapat memperjelas tekanan harga. Pada Kamis, Amerika Serikat akan merilis indeks PCE, indikator inflasi pilihan The Fed. Hasilnya dapat memberi petunjuk mengenai laju inflasi dan membantu pasar menilai arah kebijakan berikutnya, termasuk apakah peluang kenaikan pada Desember masih akan menguat atau justru berkurang. Bagi emas, perubahan ekspektasi tersebut dapat memengaruhi permintaan dan pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan.

Selain menunggu keputusan suku bunga The Fed, investor juga mencermati pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November. Pemungutan suara tersebut dapat mengubah komposisi Kongres dan memengaruhi arah pembahasan anggaran serta prioritas pemerintah. Karena itu, pelaku pasar menilai kemungkinan perubahan kebijakan fiskal sebagai salah satu faktor yang dapat membentuk prospek ekonomi dan pasar keuangan. Perhatian tersebut muncul ketika harga emas kembali bergerak di atas US$4.000, sementara pasar berusaha menakar pengaruh suku bunga, dolar, dan risiko kebijakan terhadap aset lindung nilai. Namun, hasil pemilu sendiri belum tentu langsung menentukan pergerakan pasar; konteks kebijakan yang mengikuti hasilnya juga penting.

Analis OCBC berpandangan bahwa investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada siapa yang menang atau bagaimana hasil pemilu terbagi. Implikasi pemilu terhadap kebijakan fiskal, tarif, belanja terkait geopolitik, serta tingkat ketidakpastian kebijakan dinilai lebih penting untuk dicermati. Perubahan pada prioritas belanja atau penerimaan negara dapat memengaruhi kebutuhan pembiayaan pemerintah dan perkiraan defisit. Sementara itu, arah kebijakan tarif dapat memengaruhi biaya, perdagangan, dan ekspektasi inflasi. Belanja geopolitik juga berpotensi menjadi perhatian karena dapat berdampak pada pengeluaran pemerintah dan persepsi risiko. Dengan demikian, proses penyusunan kebijakan setelah pemilu dapat menjadi sumber perhatian berkelanjutan bagi investor, bukan sekadar hasil pemungutan suara pada satu hari.

Berbagai perkembangan tersebut dapat diteruskan ke.

Baca juga: Langkah Awal Garuda di Piala Asia 2027: Jepang Menanti, Qatar Jadi Laga Kedua