Laut Bercerita: Perjuangan, Kehilangan, dan Penantian di Layar Lebar

oleh -125 Dilihat
oleh
Laut Bercerita: Perjuangan, Kehilangan, dan Penantian di Layar Lebar

Yogyakarta | Perjalanan Laut Bercerita menuju layar lebar berawal dari novel karya Leila S. Chudori yang terbit pada 2017. Karya tersebut mengangkat pengalaman Biru Laut, seorang aktivis mahasiswa yang menghadapi penangkapan dan penghilangan paksa, serta orang-orang terdekat yang terus mencari kabar tentang dirinya. Dengan memadukan kisah personal dan latar sejarah, novel ini menghadirkan tema perjuangan, kehilangan, dan ingatan yang membekas pada pembaca.

Sebelum berkembang menjadi film panjang, cerita ini telah lebih dahulu hadir dalam bentuk film pendek pada 2019. Adaptasi singkat itu menjadi salah satu langkah awal dalam perjalanan karya tersebut ke medium audiovisual. Peralihan dari novel ke film menuntut pilihan kreatif yang berbeda: rangkaian narasi dan sudut pandang dalam buku perlu diterjemahkan melalui gambar, suara, akting, serta penyusunan adegan. Film pendek memberi kesempatan untuk memperkenalkan dunia cerita di layar, sementara versi panjang menyediakan ruang lebih luas bagi tokoh dan konflik untuk berkembang.

Adaptasi film panjang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, yang juga menulis skenario bersama Leila S. Chudori. Keterlibatan sang penulis dalam penulisan naskah menghubungkan kembali proses adaptasi dengan sumber novelnya, sementara Anggi Noen membawa pendekatan penyutradaraan ke dalam bentuk sinematik. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menerjemahkan materi sastra ke film tanpa mengabaikan bobot emosional maupun konteks kisah.

Reza Rahadian memerankan Biru Laut, tokoh sentral yang menjadi poros cerita, sedangkan Dian Sastrowardoyo tampil sebagai Kasih Kinanti. Kehadiran kedua pemeran utama ini menempatkan hubungan antartokoh sebagai unsur penting dalam adaptasi. Dari novel terbitan 2017, film pendek 2019, hingga film panjang, perjalanan Laut Bercerita memperlihatkan bagaimana satu kisah dapat hadir dalam format berbeda. Versi layar lebar memperluas jangkauan cerita kepada penonton baru sekaligus mengundang pembaca lama untuk menyaksikan kembali perjuangan, kehilangan, dan penantian melalui bahasa sinema.

Pada akhir 1990-an, Biru Laut menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Yogyakarta. Kota itu menjadi ruang bagi perjumpaan gagasan, tetapi juga tempat ketika kegelisahan terhadap keadaan politik semakin terasa. Laut gemar membaca buku dan mengikuti diskusi; baginya, bacaan bukan sekadar pelarian, melainkan cara memahami ketimpangan dan membayangkan perubahan. Percakapan di mahasiswa membuka pandangannya tentang kebebasan, keadilan, serta tanggung jawab untuk tidak diam saat masyarakat menghadapi penindasan. Dari lingkungan itulah ia mengenal kelompok studi Winatra, yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Bergabung dengan kelompok tersebut berarti memasuki ruang yang mempertemukan persahabatan dengan pilihan politik yang berisiko.

Winatra dipimpin Bram, sosok yang mengarahkan diskusi sekaligus mendorong para anggotanya untuk melihat persoalan sosial secara kritis. Di dalam kelompok itu, Laut bertemu Daniel Tumbuan, Alex Perazon, dan Sunu Dyantoro. Mereka datang dengan latar serta karakter berbeda, tetapi disatukan oleh keinginan untuk memahami keadaan di sekitar dan memperjuangkan perubahan. Buku, perdebatan, dan pertemuan menjadi bagian dari keseharian mereka. Diskusi tidak berhenti pada pertukaran pendapat: gagasan tentang keadilan mendorong mereka mengambil langkah nyata, meski setiap tindakan membawa risiko di tengah pengawasan aparat.

Gerakan mereka menentang ketidakadilan dan membela kebebasan berekspresi, yang semakin dibatasi oleh rezim Orde Baru. Para aktivis Winatra juga berusaha mendampingi masyarakat yang menghadapi tekanan, termasuk petani yang mempertahankan hak dan tanah mereka. Kehadiran mahasiswa di tengah persoalan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung di ruang diskusi, tetapi juga melalui solidaritas dan keterlibatan langsung. Namun, keberanian itu berhadapan dengan ancaman, intimidasi, dan kekuasaan yang berusaha membungkam suara kritis. Melalui perjalanan Laut dan kawan-kawannya, kisah ini menggambarkan bagaimana persahabatan dan idealisme tumbuh di tengah situasi politik yang menekan, serta bagaimana pilihan untuk berpihak pada masyarakat dapat mengubah kehidupan mereka secara mendalam.

Bahaya bagi Laut dan kawan-kawannya meningkat ketika seorang mahasiswa ditangkap karena membaca sekaligus mengedarkan buku yang dilarang rezim. Penangkapan itu bukan sekadar ancaman bagi satu orang; peristiwa tersebut menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang berani mencari pengetahuan di luar batas yang ditetapkan penguasa. Lingkaran pertemanan mereka semakin rentan diawasi, sementara kegiatan diskusi dan penyebaran gagasan harus dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi. Setiap pertemuan berisiko berujung pada pemeriksaan, penahanan, atau hilangnya seseorang tanpa penjelasan. Meski begitu, tekanan tidak membuat mereka meninggalkan keyakinan bahwa Indonesia dapat dibangun dengan lebih adil dan demokratis.

Laut dan kelompoknya tetap menyusun langkah untuk menyuarakan perubahan. Cita-cita itu mereka perjuangkan melalui gagasan, pertemuan, dan rencana membentuk organisasi yang dapat memperluas gerakan. Namun, ketika mereka hendak mendeklarasikan Partai Winatra, situasi politik justru berubah menjadi semakin berbahaya. Sebuah kerusuhan terjadi di mimbar bebas di kawasan Jakarta, dan para aktivis kemudian dijadikan kambing hitam atas peristiwa tersebut. Tuduhan itu membuat mereka berada dalam posisi sulit: aspirasi yang ingin disampaikan tersisih oleh narasi yang dibentuk pihak berkuasa, sedangkan keselamatan para anggota semakin terancam. Rencana deklarasi yang semestinya menandai langkah politik baru pun dibayangi ketakutan dan pengawasan.

Setelah peristiwa itu, aparat memburu Laut dan sejumlah anggota Winatra. Mereka menghilang satu demi satu tanpa kabar yang dapat dipercaya, meninggalkan keluarga serta orang-orang terdekat dalam penantian panjang. Tidak ada kepastian mengenai tempat mereka dibawa, keadaan mereka, atau apakah mereka masih hidup. Ketidakjelasan tersebut menjadi luka yang terus terbuka, sebab ketiadaan berita tidak memberi ruang bagi keluarga untuk berduka maupun berharap dengan tenang. Bagi Laut dan kawan-kawannya, kehilangan kebebasan menjadi bagian dari risiko memperjuangkan demokrasi di tengah kekuasaan yang menekan. Bagi mereka yang menunggu, setiap hari dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Penghilangan para aktivis itu memperlihatkan bagaimana perjuangan politik dapat berujung pada kehilangan yang nyata, sekaligus menyisakan tuntutan akan kebenaran dan keadilan.

Kehilangan Laut tidak berhenti pada dirinya. Bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya, hilangnya seorang anak, kakak, atau kekasih meninggalkan ruang kosong sekaligus pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Tidak ada kepastian tentang apa yang terjadi, sementara waktu terus berjalan dan harapan untuk menemukan jejaknya tetap dipelihara. Penantian itu menjadi pengalaman panjang yang harus dihadapi bersama, dengan rasa cemas, duka, dan keteguhan yang hadir berdampingan.

Asmara Jati, adik Laut, berusaha menelusuri jejak sang kakak dan mencari kejelasan mengenai orang-orang yang menghilang. Ia tidak menjalani pencarian itu sendirian: ibu dan bapaknya turut menghadapi ketidakpastian yang membayangi keluarga mereka. Kenangan tentang Laut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi kenangan saja tidak menjawab pertanyaan tentang nasibnya. Upaya untuk memperoleh kabar dan memahami apa yang terjadi pun berlangsung di tengah keterbatasan informasi, membuat setiap petunjuk terasa penting sekaligus menyakitkan.

Ratih Anjani, kekasih Laut, juga harus menjalani kehilangan tanpa penjelasan yang pasti. Hubungan mereka membuat pencarian tersebut terasa sangat personal, sementara ketidakjelasan memaksanya hidup dengan penantian yang tidak memiliki batas waktu. Bersama keluarga dan sahabat yang ikut merasakan dampak kehilangan, Ratih berupaya menjaga ingatan tentang Laut dan mereka yang hilang. Kisah mereka memperlihatkan bahwa dampak peristiwa itu tidak hanya dialami oleh orang yang menghilang, tetapi juga oleh mereka yang ditinggalkan, yang terus mencari jawaban selama bertahun-tahun. Melalui sudut pandang orang-orang terdekat, film ini memberi ruang bagi pengalaman menunggu, merawat harapan, dan menghadapi kenyataan bahwa kejelasan mungkin tak segera datang.