Perilaku Hewan Menjelang Gempa: Kisah yang Pernah Terekam dan Dugaan Ilmiahnya

oleh -92 Dilihat
oleh
Perilaku Hewan Menjelang Gempa: Kisah yang Pernah Terekam dan Dugaan Ilmiahnya

Jakarta | Hingga kini, belum ada cara yang dapat memastikan kapan gempa bumi akan terjadi. Para ilmuwan dapat mengukur aktivitas seismik, memetakan wilayah berisiko, dan memperkirakan kemungkinan gempa dalam rentang waktu tertentu, tetapi waktu dan lokasi kejadian secara tepat belum dapat ditentukan. Karena itu, laporan mengenai hewan yang bertingkah tidak biasa sebelum sejumlah gempa menarik perhatian publik dan peneliti. Kisah-kisah tersebut memunculkan pertanyaan tentang apakah hewan mampu merasakan perubahan lingkungan yang tidak disadari manusia.

Berbagai laporan menggambarkan hewan gelisah, mengeluarkan suara lebih sering, meninggalkan tempat tinggal, atau menunjukkan perubahan pola makan sebelum gempa. Namun, perilaku seperti ini merupakan fenomena yang dilaporkan, bukan metode prediksi gempa yang telah dipastikan. Sebagian kesaksian dicatat setelah gempa terjadi, sehingga ingatan dan penafsiran orang dapat memengaruhi detail maupun waktu kejadian. Selain itu, perilaku yang tampak ganjil bisa muncul karena banyak faktor sehari-hari, seperti cuaca, suara, gangguan habitat, atau kondisi kesehatan hewan.

Ketertarikan terhadap fenomena ini juga berhubungan dengan perbedaan kemampuan sensorik hewan dan manusia. Spesies tertentu memiliki pendengaran yang lebih peka terhadap frekuensi rendah, kemampuan mendeteksi getaran melalui permukaan, atau kepekaan terhadap perubahan bau dan tekanan. Secara teori, kemampuan tersebut memungkinkan mereka merespons rangsangan lingkungan yang luput dari perhatian manusia. Akan tetapi, belum jelas apakah rangsangan itu berkaitan langsung dengan proses sebelum gempa, seberapa konsisten responsnya, dan apakah respons tersebut dapat dibedakan dari perilaku normal. Untuk menilai kemungkinan tersebut, diperlukan pengamatan terukur dalam jangka panjang, bukan hanya cerita setelah kejadian. Catatan perilaku sebelum dan sesudah gempa perlu dibandingkan dengan data seismik serta kondisi lingkungan lain. Dengan pendekatan itu, penelitian dapat menguji apakah ada pola yang berulang dan relevan, tanpa menganggap setiap perubahan perilaku sebagai tanda bahwa gempa akan segera terjadi.Pada Februari 1975, menjelang gempa besar di Haicheng, Provinsi Liaoning, China, warga dan petugas dilaporkan menyaksikan perilaku hewan yang tidak biasa. Ratusan ular ditemukan mati di luar sarangnya, sementara ternak menolak masuk kandang. Ayam berlarian, anjing menggonggong tanpa terkendali, dan kucing enggan memasuki rumah. Peristiwa-peristiwa tersebut kemudian kerap diceritakan sebagai bagian dari kisah peringatan sebelum gempa. Namun, catatan perilaku itu perlu dipahami dalam konteks sejarah yang lebih luas, bukan sebagai bukti tunggal yang menjelaskan keputusan pemerintah.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran dan sejumlah tanda geologis, pejabat setempat memerintahkan evakuasi seluruh kota. Tak lama sesudahnya, gempa berkekuatan sekitar M7,3 mengguncang wilayah tersebut dan dilaporkan merusak sekitar 90 persen bangunan. Keputusan evakuasi Haicheng sering dianggap berhasil menyelamatkan banyak jiwa, tetapi berbagai faktor ikut memengaruhinya, termasuk pemantauan gempa, laporan warga, serta aktivitas seismik pendahulu. Karena itu, perilaku hewan tidak dapat dinyatakan sebagai penyebab evakuasi atau sebagai penanda pasti bahwa gempa akan terjadi. Kisah ini menunjukkan betapa sulitnya memisahkan pengamatan yang benar-benar tercatat dari penafsiran yang berkembang setelah bencana.

Peristiwa lain yang menarik perhatian terjadi tahun lalu di San Diego Zoo Safari Park. Sebelum gempa M5,2 mengguncang kawasan itu, sekelompok gajah terlihat membentuk lingkaran di sekitar dua anak gajah. Susunan tersebut dapat tampak seperti respons perlindungan, tetapi satu kejadian tidak cukup untuk membuktikan bahwa gajah mampu meramalkan gempa. Situasinya juga berbeda dari Haicheng: yang satu melibatkan laporan beragam hewan dan evakuasi sebuah kota, sedangkan yang lain merupakan pengamatan terhadap kelompok gajah di taman satwa. Kedua kisah dapat mendorong penelitian tentang respons hewan terhadap perubahan lingkungan, tetapi tidak sepatutnya disamakan atau digunakan sebagai dasar tunggal untuk memprediksi gempa. Penilaian ilmiah memerlukan pengamatan berulang, pencatatan yang sistematis, dan pembandingan dengan perilaku normal hewan.

Salah satu dugaan yang diajukan untuk menjelaskan perilaku hewan menjelang gempa berawal jauh di bawah permukaan bumi. Ketika tekanan pada batuan meningkat sebelum sebagian batuan bergeser, perubahan fisik di sekitar kawasan patahan mungkin menimbulkan efek yang merambat menuju permukaan. Sejumlah hipotesis menyebut proses tersebut dapat memicu perubahan elektromagnetik yang kemudian mencapai lingkungan tempat hewan hidup. Jika perubahan itu benar-benar terjadi dalam kondisi tertentu, hewan dengan kepekaan indra yang sesuai mungkin dapat mendeteksinya sebelum manusia menyadari adanya tanda bahaya.

Namun, jalur pengaruh yang mungkin terjadi ini belum dapat diperlakukan sebagai penjelasan yang telah dipastikan. Besarnya perubahan, jarak rambat, kondisi geologi setempat, serta kemampuan masing-masing spesies dapat berbeda. Karena itu, dugaan tentang sinyal elektromagnetik lebih tepat dipahami sebagai salah satu kemungkinan yang sedang dipertimbangkan, bukan bukti bahwa hewan selalu mampu meramalkan gempa. Perilaku yang tampak ganjil juga dapat dipengaruhi faktor lain, seperti suara, getaran, perubahan lingkungan, atau keadaan hewan itu sendiri. Pengamatan tunggal belum cukup untuk menentukan penyebabnya.

Tekanan dan pergeseran batuan juga disebut berpotensi menghasilkan bunyi atau getaran berfrekuensi rendah, yang dapat merambat melalui tanah maupun udara. Sebagian sinyal semacam ini mungkin berada di luar rentang pendengaran manusia, tetapi masih dapat terindra oleh spesies tertentu. Kemampuan indra hewan memang beragam: ada yang peka terhadap getaran, suara, medan, atau perubahan lain di sekitarnya. Gajah, misalnya, diketahui berkomunikasi menggunakan gelombang berfrekuensi sangat rendah, sehingga menunjukkan bahwa sebagian hewan dapat memanfaatkan suara yang tidak mudah disadari manusia. Meski demikian, fakta tersebut tidak membuktikan bahwa gajah atau hewan lain mendeteksi tanda gempa sebelum kejadian. Hubungan tekanan batuan, perubahan elektromagnetik, bunyi rendah, dan respons hewan masih merupakan sejumlah dugaan ilmiah yang perlu diuji melalui pengamatan terukur dan berulang.

Selain getaran yang terlalu lemah untuk dirasakan manusia, proses menjelang gempa mungkin menghasilkan perubahan kimia yang dapat ditangkap oleh indra hewan. Salah satu dugaan menyebut tekanan pada batuan dapat memicu reaksi yang melepaskan hidrogen ke dalam air tanah. Perubahan kadar zat tersebut berpotensi memengaruhi bau atau rasa air, sehingga hewan yang bergantung pada sumber air setempat mungkin merespons sebelum manusia menyadari adanya perubahan. Namun, jalur dari tekanan geologi hingga terbentuknya sinyal yang cukup kuat dan konsisten masih perlu diuji.

Penjelasan lain mengaitkan tegangan batuan dengan terbentuknya ozon di udara dekat permukaan tanah. Jika memang terjadi, perubahan konsentrasi ozon dapat menghasilkan bau khas yang mungkin dikenali oleh hewan dengan penciuman peka. Ada pula catatan mengenai lonjakan karbon monoksida beberapa hari sebelum gempa di Gujarat, India, pada 2021. Pengamatan itu merupakan contoh perubahan gas yang pernah dilaporkan, bukan bukti bahwa hidrogen dalam air atau ozon menjadi pemicu perilaku hewan. Karbon monoksida adalah gas yang berbeda, dan lonjakan yang tercatat tidak dengan sendirinya menunjukkan penyebab maupun hubungan langsung dengan respons satwa.

Kepekaan hewan juga tidak seragam, sebab tiap spesies menangkap jenis informasi lingkungan yang berbeda. Gajah, misalnya, dapat berkomunikasi melalui gelombang berfrekuensi sangat rendah, yang merambat jauh dan mungkin membawa informasi tentang lingkungan. Kura-kura, di sisi lain, dikenal peka terhadap medan magnet, kemampuan yang membantu orientasi dan navigasi. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa suatu perubahan alam mungkin terdeteksi oleh satu jenis hewan, tetapi tidak oleh jenis lain, atau tidak tampak sebagai perilaku yang mudah dikenali manusia. Meski demikian, perubahan gas, getaran, dan kepekaan sensorik masih merupakan kemungkinan yang sedang diteliti, bukan dasar yang andal untuk meramalkan kapan gempa akan terjadi.

Baca juga: BPJS Kesehatan Jelaskan Pemutakhiran Data Peserta PBI JKN Menjelang November