Kota Termahal Italia | Kesulitan mempertahankan tenaga pengajar di Milan berakar pada ketimpangan pendapatan dan biaya hidup. Guru menerima gaji berdasarkan standar nasional Italia, tetapi harus menghadapi harga kebutuhan sehari-hari yang tinggi di salah satu kota termahal di negara itu. Tidak ada tunjangan khusus yang secara otomatis diberikan untuk mengimbangi biaya bekerja dan tinggal di Milan. Akibatnya, posisi mengajar yang tersedia tidak selalu menarik bagi calon guru, sementara sebagian tenaga pengajar yang sudah bekerja di kota tersebut kesulitan mengatur keuangan dan mempertahankan tempat tinggal.
Menurut data konsultan pendidikan Docenti.it, gaji guru di Italia berkisar 1.350 hingga 2.000 euro per bulan. Besar pendapatan dapat berbeda sesuai tingkat pengalaman dan jenjang karier, tetapi rentang tersebut tetap menjadi acuan bagi banyak tenaga pengajar. Di Milan, angka itu harus dibandingkan dengan biaya hunian yang jauh dari ringan. Portal properti Idealista mencatat rata-rata harga sewa sebuah kamar di kota tersebut sekitar 700 euro per bulan. Dengan demikian, satu kebutuhan pokok dapat menyerap porsi besar dari pendapatan bulanan, bahkan sebelum biaya transportasi, makanan, tagihan, dan kebutuhan lainnya diperhitungkan.
Persoalan utamanya bukan semata-mata besaran gaji, melainkan ketidakcocokan sistem pengupahan nasional dan kondisi lokal. Guru yang ditempatkan di Milan memperoleh gaji standar yang sama dengan tenaga pengajar di desa-desa kecil di Italia bagian selatan, meskipun biaya tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari di kedua lokasi berbeda tajam. Perbedaan tersebut membuat pendapatan yang cukup di daerah dengan biaya hidup lebih rendah terasa terbatas di Milan. Tanpa dukungan tambahan, seperti tunjangan wilayah atau bantuan hunian, guru harus menanggung sendiri kesenjangan itu. Tekanan finansial ini dapat mengurangi daya tarik pekerjaan, mempersempit pilihan tempat tinggal, dan memperberat upaya sekolah mengisi posisi yang kosong.
Tingginya biaya hidup di Milan menjadi hambatan nyata bagi sekolah yang berusaha merekrut dan mempertahankan guru. Persoalan paling terasa adalah biaya sewa, yang dapat menghabiskan bagian besar dari pendapatan, terutama bagi tenaga pengajar muda dengan gaji awal terbatas. Akibatnya, sebuah posisi kosong tidak selalu menarik pelamar yang memenuhi kebutuhan sekolah, meskipun kota ini memiliki banyak institusi pendidikan.
Giovanni Pavesi, guru musik berusia 43 tahun, menyebut mahalnya sewa sebagai kendala utama bagi para guru, khususnya mereka yang baru memulai karier. Guru yang harus pindah dari daerah lain mungkin kesulitan menemukan tempat tinggal dengan harga terjangkau dekat sekolah. Jika biaya hunian tidak sebanding dengan penghasilan, pekerjaan di Milan menjadi pilihan yang kurang menarik dibandingkan posisi di wilayah dengan biaya hidup lebih rendah.
Situasi tersebut turut berkaitan dengan tingginya pergantian tenaga pengajar. Sebagian calon guru memilih tidak melamar karena memperhitungkan pengeluaran untuk tinggal dan bekerja di kota itu. Sebagian lainnya menerima penempatan, tetapi kemudian mengajukan mutasi ke daerah lain. Perpindahan ini dapat membuat sekolah kembali menghadapi kekosongan dan mengulang proses pencarian guru, sehingga kesinambungan pengajaran lebih sulit dijaga.
Data serikat pekerja CISL menunjukkan skala kebutuhan tersebut. Menjelang tahun ajaran baru, wilayah metropolitan Milan memiliki sekitar 4.300 posisi guru yang tersedia. Angka itu merupakan yang tertinggi di Italia, dari total sekitar 37.000 lowongan secara nasional. Namun, jumlah posisi yang diumumkan tidak berarti semuanya dapat segera diisi: sekitar seperlima lowongan di Milan masih belum terisi.
Kesenjangan kebutuhan sekolah dan jumlah guru yang bersedia mengambil pekerjaan memperlihatkan bahwa perekrutan tidak hanya bergantung pada ketersediaan tenaga profesional. Kondisi tempat tinggal, biaya transportasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari ikut memengaruhi keputusan. Selama tekanan biaya hidup tetap tinggi, sekolah dapat terus menghadapi kesulitan mengisi posisi, sementara guru yang bertahan mungkin mencari kesempatan untuk pindah. Karena itu, angka lowongan perlu dibaca bersama faktor ekonomi yang membentuk pilihan para pengajar, bukan sekadar sebagai persoalan administratif dalam penempatan staf sekolah di Milan.
Pengalaman Massimiliano Matteri memperlihatkan bagaimana mahalnya biaya hidup di Milan dapat berkaitan dengan keputusan seorang guru untuk pindah. Matteri, yang berusia 49 tahun, mengajar sastra Italia dan sejarah. Selama tiga tahun, ia tinggal di sebuah apartemen studio yang sempit di pinggiran Milan. Kisah ini memberi gambaran konkret tentang keadaan tempat tinggal seorang pengajar di kota tersebut, tanpa perlu menganggap bahwa pengalaman satu orang mewakili seluruh guru. Namun, perpindahannya menunjukkan bahwa persoalan biaya hidup dapat menjadi bagian penting dari pilihan tempat tinggal dan pekerjaan.
Setelah tinggal di Milan selama tiga tahun, Matteri pindah untuk mengajar di Livorno, sebuah kota pesisir di Tuscany. Informasi yang tersedia mengaitkan keputusan pindah itu dengan biaya hidup, tetapi tidak merinci pertimbangan lain atau urutan kejadian di luar keterangan tersebut. Karena itu, kisahnya dapat dibaca sebagai contoh keputusan yang berkaitan dengan kondisi hidup, bukan sebagai uraian lengkap tentang seluruh faktor yang mungkin memengaruhi perpindahan. Perbedaan tinggal di studio sempit di pinggiran Milan dan menetap di kota lain menjadi bagian utama dari pengalaman yang disampaikan.
Di Livorno, Matteri kemudian membeli rumah yang lebih nyaman dan memiliki kondisi keuangan yang lebih baik. Perubahan tersebut menggambarkan hasil yang disebut dalam kisahnya setelah ia pindah, tanpa menetapkan bahwa semua guru yang meninggalkan Milan akan memperoleh keadaan serupa. Bagi pembahasan tentang posisi pengajar yang kosong, pengalaman ini menunjukkan sisi manusiawi dari persoalan: keputusan untuk mengajar di tempat lain dapat berkaitan dengan keterjangkauan hidup dan tempat tinggal. Kisah Matteri tidak menjelaskan jumlah guru yang pindah atau alasan setiap posisi kosong. Namun, pengalamannya mengingatkan bahwa biaya sewa dan kondisi hunian merupakan bagian dari konteks yang perlu dipertimbangkan ketika membicarakan daya tarik Milan bagi para pengajar.
Kekurangan pengajar di Milan tidak berdiri sendiri. Kesulitan sekolah mengisi posisi kosong berkaitan dengan tekanan biaya hidup dan persoalan upah yang dirasakan pekerja di berbagai sektor Italia. Ketika biaya sewa dan kebutuhan sehari-hari meningkat, gaji yang tidak bertumbuh sepadan membuat pekerjaan mengajar di kota mahal semakin sulit menarik maupun mempertahankan tenaga pendidik. Persoalan ini menunjukkan bahwa krisis di sekolah merupakan bagian dari tantangan daya beli yang lebih luas, bukan semata-mata masalah perekrutan lokal.
Angka-angka nasional memperkuat gambaran tersebut. Menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), upah riil Italia setelah memperhitungkan inflasi kini lebih rendah daripada tingkat pada 1990. Italia menjadi satu-satunya dari lebih dari 20 negara maju yang mengalami penurunan upah riil dalam rentang perbandingan itu. Sementara itu, data Eurostat menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir Italia mengalami penurunan daya beli terbesar di Uni Eropa. Dengan demikian, kenaikan harga bukan sekadar mengurangi ruang belanja rumah tangga, tetapi juga mengikis nilai pendapatan yang diterima pekerja. Bagi guru di Milan, gabungan upah yang tertekan dan biaya hunian yang tinggi dapat memperburuk kesenjangan pendapatan dan pengeluaran rutin.
Stagnasi upah menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni, terutama menjelang pemilihan nasional tahun depan. Ketidakpuasan terhadap pendapatan, biaya hidup, dan mutu layanan publik berpotensi menjadi perhatian utama pemilih. Pada Jumat, 30 Oktober 2026, serikat pekerja USB memimpin demonstrasi dan pemogokan di berbagai wilayah Italia untuk memprotes mahalnya biaya hidup, rendahnya upah, serta penurunan kualitas layanan publik.



































