Binance Pulihkan Mayoritas Aset Setelah Peretasan, Penarikan Bertahap Dimulai

oleh -132 Dilihat
oleh
Binance Pulihkan Mayoritas Aset Setelah Peretasan, Penarikan Bertahap Dimulai

Jakarta | Binance menyatakan akan mulai membuka kembali layanan penarikan dana pada Minggu, 1 November 2026, setelah mengganti sebagian besar aset kripto yang hilang dalam peretasan. Perusahaan menyebut sekitar 95% dari aset yang dicuri telah dipulihkan atau diganti. Langkah tersebut memungkinkan pengguna kembali memindahkan aset dari platform secara bertahap, setelah layanan penarikan sebelumnya dihentikan untuk mendukung proses pemulihan dan pengamanan.

Nilai kerugian yang disebut dalam sumber mencapai US$6,3 miliar, atau sekitar Rp114 triliun. Meski mayoritas aset telah diganti, pemulihan belum sepenuhnya selesai. Binance masih berupaya mengembalikan 5% sisanya, yang terdiri atas aset dengan tingkat likuiditas lebih rendah. Karakteristik ini dapat membuat proses pencarian, pembelian, atau penggantian aset membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan aset yang aktif diperdagangkan di pasar.

Pembukaan penarikan akan dilakukan dalam beberapa tahap, bukan sekaligus untuk seluruh pengguna dan aset. Tahap pertama dijadwalkan berlangsung pukul 06.00 hingga 09.00 GMT pada Minggu. Dalam rentang waktu tersebut, penarikan akan tersedia untuk 15 aset kripto. Daftar aset yang disebut mencakup bitcoin, ether, XRP, dan dogecoin, bersama sejumlah aset lainnya yang masuk dalam kelompok tahap awal.

Pendekatan bertahap ini memberi perusahaan ruang untuk memantau aktivitas jaringan, mengelola permintaan penarikan, dan memastikan proses berjalan stabil. Pengguna perlu memperhatikan aset yang telah diaktifkan serta jendela waktu yang berlaku, karena ketersediaan layanan dapat berbeda menurut tahap. Mereka juga sebaiknya memeriksa pengumuman resmi Binance untuk mengetahui rincian lengkap 15 aset dan ketentuan operasional sebelum mengajukan transaksi.

Pemulihan sekitar 95% aset menjadi perkembangan penting, tetapi belum berarti seluruh dampak peretasan telah dituntaskan. Sisa aset berlikuiditas lebih rendah masih memerlukan penanganan, sementara pembukaan penarikan dilakukan secara terbatas dan terjadwal. Informasi mengenai jadwal serta aset yang didukung dapat berubah mengikuti perkembangan pemulihan dan kesiapan layanan. Karena itu, pengguna disarankan merujuk pada pembaruan resmi sebelum memindahkan dana, serta memastikan alamat tujuan dan jaringan yang dipilih sudah benar agar terhindar dari kesalahan transaksi.

Binance menyatakan akan menanggung dampak finansial serangan tersebut dan menggunakan sumber daya internal untuk memulihkan aset pengguna yang terdampak. Perusahaan menyisihkan sekitar US$6,34 miliar untuk menangani kerugian dan mendukung proses penggantian token. Komitmen ini menempatkan tanggung jawab pemulihan pada perusahaan, bukan pada nasabah yang asetnya terkena dampak. Penggantian dilakukan secara bertahap, sementara Binance terus menilai kebutuhan dan perkembangan penanganan insiden.

Salah satu sumber dana utama adalah Secure Asset Fund for Users, atau SAFU, dana perlindungan nasabah yang nilainya sekitar US$1 miliar dan disimpan dalam bitcoin. Binance menjelaskan bahwa cadangan tersebut tersedia untuk membantu melindungi pengguna ketika terjadi keadaan darurat. Yi He menyampaikan bahwa perusahaan berencana menggunakan sekitar separuh dana SAFU untuk mendukung penggantian aset. Setelah pemakaian itu, Binance berkomitmen mengisi kembali cadangan hingga nilainya kembali mendekati US$1 miliar.

Selain SAFU, penggantian token juga dapat bersumber dari sebagian Futures Insurance Fund serta kas perusahaan. Kombinasi beberapa sumber ini memberi Binance pilihan untuk memenuhi kewajiban pemulihan tanpa hanya mengandalkan satu cadangan. Penggunaan dana internal tersebut merupakan bagian dari upaya membatasi dampak insiden terhadap pengguna dan menjaga kemampuan perusahaan untuk menjalankan proses penarikan secara bertahap. Rincian penggunaan setiap sumber dapat bergantung pada kebutuhan pemulihan dan hasil penelusuran aset.

Penanganan tidak hanya berfokus pada pendanaan. Binance juga bekerja sama dengan mitra industri untuk mengidentifikasi serta membekukan aset yang berkaitan dengan serangan, sehingga perpindahan dana dapat dibatasi apabila memungkinkan. Hingga Jumat, sekitar US$3 miliar aset curian telah ditemukan. Angka tersebut menunjukkan kemajuan penelusuran, tetapi tidak dengan sendirinya berarti seluruh aset sudah berhasil dibekukan atau dikembalikan. Binance tetap perlu berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menentukan langkah berikutnya.

Dengan demikian, pemulihan mengandalkan gabungan cadangan perlindungan nasabah, dana asuransi futures, dan kas perusahaan, disertai pelacakan aset bersama mitra. Binance menyatakan akan memenuhi komitmen penggantian dan membangun kembali SAFU setelah sebagian cadangannya digunakan. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga perlindungan pengguna tetap tersedia, sekaligus memberi ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan upaya pemulihan secara terukur.

Pada Sabtu, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan kelompok peretas TraderTraitor bertanggung jawab atas serangan yang menyebabkan aset kripto Binance dicuri. FBI mengaitkan kelompok tersebut dengan Korea Utara dan menyebutnya sebagai kelompok yang disponsori negara. Pernyataan itu menjadi bagian dari penyelidikan mengenai bagaimana aset hasil peretasan dipindahkan setelah serangan, sementara Binance berupaya memulihkan dana dan memulai kembali penarikan secara bertahap. Tuduhan tersebut disampaikan oleh otoritas Amerika Serikat, bukan pengakuan dari pihak yang dituduh.

Menurut FBI, aparat menemukan anggota TraderTraitor mengonversi sebagian aset curian menjadi ether, mata uang kripto yang digunakan pada jaringan Ethereum. Perubahan bentuk aset dapat membantu pelaku memindahkan atau menyamarkan dana, sehingga penyelidik memantau transaksi lanjutan yang terkait dengan hasil serangan. FBI juga memperkirakan pencucian lebih lanjut dapat berlangsung melalui teknologi terkait, termasuk layanan atau sarana yang memungkinkan aset berpindah antarpihak dan jaringan. Namun, temuan mengenai konversi menjadi ether tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh alur dana atau memastikan di mana aset akhirnya akan berakhir. Penyelidikan terhadap transaksi dan pihak-pihak yang terlibat masih penting untuk menentukan besaran dana yang dapat dilacak maupun dipulihkan.

Korea Utara selama bertahun-tahun membantah menggunakan kelompok siber untuk melakukan spionase, mencuri dana, atau mencari sumber pendapatan bagi negara. Karena itu, tuduhan FBI bertentangan dengan posisi resmi Pyongyang yang berulang kali menolak keterlibatan dalam aktivitas semacam itu. Perwakilan diplomatik Korea Utara di Jenewa dan kedutaannya di China tidak menanggapi permintaan komentar terkait pernyataan terbaru tersebut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengatakan pemerintahannya belum dapat memastikan apakah Korea Utara terlibat dalam serangan ini. Ia menyatakan akan berbicara dengan negara itu apabila keterlibatan tersebut terbukti. Pernyataan Trump menunjukkan bahwa kesimpulan akhir masih bergantung pada bukti yang sedang dikumpulkan dan dinilai oleh pemerintah AS. Sementara itu, tuduhan FBI, penyangkalan Korea Utara, serta belum adanya kepastian dari Gedung Putih menempatkan atribusi serangan sebagai persoalan yang masih berkembang. Informasi publik sejauh ini menggambarkan penilaian aparat dan respons politik, bukan putusan hukum mengenai tanggung jawab para pelaku.

Chief executive Binance Richard Teng mengatakan peretasan tersebut merupakan operasi yang kompleks, bukan sekadar upaya mengambil aset secara langsung. Menurut keterangannya, pelaku memanfaatkan laptop yang telah dikompromikan serta perangkat lunak berbahaya untuk menghapus jejak aktivitas. Kombinasi itu menyulitkan tim keamanan dalam menelusuri jalur serangan dan mengidentifikasi pelakunya. Teng menyebut sebagian besar pencurian berlangsung dalam rentang sekitar 20 menit, sejak Kamis malam. Kecepatan tersebut memberi sedikit waktu untuk mendeteksi transaksi mencurigakan dan membatasi perpindahan aset. Perusahaan kemudian bekerja untuk melacak dana serta memulihkan aset yang terdampak, sembari menjelaskan situasi kepada nasabah.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya pencurian aset digital. TRM Labs mencatat hampir 150 serangan pencurian kripto sepanjang tahun lalu, dengan nilai kerugian gabungan mencapai US$2,9 miliar. Angka itu menunjukkan bahwa serangan terhadap platform dan pemilik aset tetap menjadi risiko besar bagi industri, sekalipun perusahaan memperkuat sistem keamanan dan pemantauan transaksi.

Baca juga: Muhammad Rahul Dorong RUU Perampasan Aset Pulihkan Hak Korban Kejahatan Keuangan | Musim Hujan Jakarta 2026 Diperkirakan Tiba Bertahap, Jaksel dan Jaktim Lebih Awal