Jakarta | Lao Gan Ma, produsen sambal asal China yang dikenal luas dengan produk cabai dalam minyak, menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lini produksinya. Perhatian publik terutama tertuju pada kabar bahwa jumlah pekerja di salah satu lini produksi turun tajam setelah teknologi tersebut diterapkan. Isu ini memunculkan perdebatan tentang bagaimana otomatisasi dapat meningkatkan efisiensi perusahaan, sekaligus dampaknya terhadap pekerjaan manusia. Namun, informasi yang beredar perlu dipahami sesuai konteksnya: ini merupakan kabar mengenai perusahaan di China, bukan peristiwa yang berlangsung di Indonesia.
Pembahasan itu mencuat setelah Li Xin, presiden eksekutif sekaligus kepala petugas mutu Lao Gan Ma, berbicara dalam sebuah konferensi pemerintah provinsi pada akhir September. Menurut laporan yang mengutip pernyataannya, Li menjelaskan bahwa AI telah membantu perusahaan mengendalikan proses produksi dan menekan tingkat kecacatan produk. Penggunaan teknologi tersebut disebut menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga mutu secara lebih konsisten. Pernyataan itu kemudian menarik perhatian karena disampaikan bersamaan dengan laporan mengenai berkurangnya tenaga kerja pada lini tertentu, sehingga efisiensi teknologi dan kekhawatiran pekerja menjadi dua sisi utama kontroversi.
Laporan yang sama juga menyebut Lao Gan Ma membukukan pendapatan rekor sebesar 5,4 miliar yuan pada 2025, setara sekitar Rp14,73 triliun. Angka tersebut menambah konteks pada pembicaraan mengenai penerapan AI: perusahaan mencatat kinerja keuangan yang kuat, sementara publik mempertanyakan perubahan yang mungkin terjadi di lingkungan kerja. Meski demikian, informasi mengenai penurunan jumlah pekerja pada salah satu lini tidak dengan sendirinya menjelaskan keseluruhan kebijakan ketenagakerjaan perusahaan atau memastikan bahwa AI menjadi satu-satunya penyebabnya. Karena itu, pernyataan Li dan angka pendapatan sebaiknya dibaca sebagai laporan tentang klaim manfaat operasional, bukan bukti lengkap mengenai hubungan otomatisasi dan jumlah pekerjaan. Sorotan terhadap Lao Gan Ma memperlihatkan bagaimana adopsi AI di industri makanan dapat memicu perhatian lebih luas, khususnya ketika capaian produksi dan dampak terhadap pekerja dibicarakan secara bersamaan.
Perhatian publik terhadap penerapan kecerdasan buatan di Lao Gan Ma meningkat setelah beredar laporan yang menyebut jumlah pekerja pada salah satu lini produksi turun dari lebih dari 600 orang menjadi 48 orang. Laporan itu mengaitkan perubahan tersebut dengan sistem pemeriksaan cabai berbasis AI yang diperkenalkan pada tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai klaim yang beredar dalam pemberitaan dan percakapan daring, bukan sebagai bukti terverifikasi bahwa ratusan pekerja telah diberhentikan.
Perbedaan itu penting karena pengurangan jumlah orang yang bekerja pada sebuah lini tidak dengan sendirinya menjelaskan apa yang terjadi pada seluruh tenaga kerja. Informasi yang beredar tidak memastikan apakah pekerja dipindahkan ke bagian lain, apakah angka tersebut merujuk pada satu tahap produksi tertentu, atau apakah benar terjadi pemutusan hubungan kerja. Tanpa keterangan rinci dan konfirmasi perusahaan, hubungan otomasi dan nasib para pekerja tetap belum jelas. Karena itu, klaim angka tersebut sebaiknya tidak diperlakukan sebagai gambaran pasti mengenai kebijakan ketenagakerjaan Lao Gan Ma.
Meski demikian, kabar tersebut memicu kritik warganet China, terutama di media sosial seperti Weibo. Sebagian pengguna menilai perusahaan lebih mengutamakan efisiensi dan keuntungan daripada kesejahteraan pekerja. Reaksi itu juga berkaitan dengan citra Lao Gan Ma sebagai merek yang memiliki akar kelas pekerja dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam konteks tersebut, otomatisasi bukan hanya dibahas sebagai pembaruan teknologi, tetapi juga sebagai persoalan tentang siapa yang menerima manfaat dan siapa yang menanggung risikonya. Bagi para pengkritik, peningkatan produktivitas melalui AI semestinya disertai perhatian terhadap keamanan kerja, penempatan kembali, dan perlindungan pekerja yang terdampak. Perdebatan di ruang digital pun memperlihatkan bahwa penerimaan terhadap teknologi industri bergantung bukan semata pada kecanggihannya, melainkan juga pada transparansi perusahaan mengenai dampak sosial penerapannya.
Lao Gan Ma menanggapi laporan yang beredar dengan menyatakan bahwa informasi tersebut tidak akurat. Seorang perwakilan perusahaan, saat berbicara kepada media China, membantah klaim bahwa perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja massal. Pernyataan ini menjadi klarifikasi penting di tengah perhatian publik terhadap kabar bahwa penerapan kecerdasan buatan di fasilitas produksi berujung pada pengurangan besar jumlah pekerja.
Di sisi lain, juru bicara perusahaan membenarkan bahwa teknologi inspeksi berbasis AI memang digunakan. Teknologi tersebut berkaitan dengan pemeriksaan dalam proses produksi, sehingga pengakuan ini menunjukkan adanya pemanfaatan sistem otomatis untuk mendukung kegiatan operasional. Namun, pengakuan atas penggunaan teknologi itu tidak sama dengan pengakuan bahwa perusahaan telah mengganti banyak pekerja atau mengurangi tenaga kerja dalam skala besar.
Perusahaan juga menekankan bahwa lini produksi yang menjadi sorotan sejak awal tidak mempekerjakan sebanyak jumlah yang disebutkan dalam laporan. Karena itu, Lao Gan Ma menolak gambaran bahwa jumlah pekerja yang dikabarkan kehilangan pekerjaan mencerminkan kondisi sebenarnya di lini tersebut. Perbedaan jumlah tenaga kerja yang dilaporkan dan keterangan perusahaan menjadi salah satu pokok utama dalam tanggapan resmi mereka.
Klarifikasi ini perlu dibaca dengan memisahkan dua hal yang kerap tercampur dalam pemberitaan: penggunaan AI untuk inspeksi dan dugaan PHK massal. Yang pertama diakui perusahaan, sedangkan yang kedua dibantah. Keberadaan teknologi inspeksi tidak dengan sendirinya membuktikan terjadinya pengurangan pegawai, terlebih ketika perusahaan menyatakan skala tenaga kerja pada lini terkait berbeda dari angka yang beredar.
Dengan demikian, posisi Lao Gan Ma adalah bahwa laporan mengenai PHK massal tidak akurat, sementara penerapan teknologi inspeksi berbasis AI memang berlangsung. Sampai ada informasi tambahan yang dapat memverifikasi klaim tersebut, tanggapan perusahaan sebaiknya disajikan sebagai bantahan resmi, bukan sebagai bukti bahwa PHK massal benar terjadi. Pembedaan ini menjaga pemberitaan tetap cermat dan tidak mengubah penggunaan AI yang diakui menjadi kesimpulan tentang nasib pekerja yang belum dikonfirmasi.
Respons warganet terhadap kontroversi penggunaan kecerdasan buatan (AI) di Lao Gan Ma menunjukkan bahwa persoalan ini tidak hanya dipandang sebagai pilihan teknologi, tetapi juga menyangkut nasib pekerja. Sejumlah pengguna media sosial menyuarakan ancaman untuk memboikot produk perusahaan tersebut. Salah satu tagar yang berkaitan dengan kontroversi itu telah mencatat lebih dari 120 juta penayangan hingga Rabu. Angka tersebut menggambarkan luasnya perhatian terhadap isu di ruang digital, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan sikap seluruh konsumen atau memastikan bahwa ancaman boikot akan berujung pada perubahan perilaku belanja.
Sebagai contoh reaksi individual, seorang pengguna Weibo menyebut keputusan yang dipersoalkan itu ironis dan tidak etis. Pengguna tersebut juga mengancam akan menarik produk Lao Gan Ma dari rak apabila para pekerja kehilangan pekerjaan. Pernyataan semacam ini memperlihatkan bahwa bagi sebagian warganet, pertanyaan utamanya bukan semata-mata apakah AI dapat meningkatkan efisiensi produksi, melainkan bagaimana manfaat efisiensi dibagi dan siapa yang menanggung konsekuensinya. Namun, unggahan seorang pengguna tetap merupakan contoh dari perdebatan daring, bukan bukti bahwa semua pelanggan memiliki pandangan serupa ataupun bahwa perusahaan telah mengambil langkah pemutusan hubungan kerja.
Polemik ini berlangsung dalam konteks kekhawatiran yang lebih luas di China mengenai dampak AI terhadap pekerjaan, terutama di sektor-sektor padat karya. Otomatisasi dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja dan jenis keterampilan yang dicari, sementara banyak pekerja menghadapi ketidakpastian tentang keamanan pekerjaan mereka. Pemerintah Beijing disebut telah berjanji melindungi lapangan kerja sekaligus meningkatkan perekrutan tenaga kerja.



































