Kabupaten Tulungagung | Banjir menggenangi sebagian ruang kelas SDN 1 Besole, yang berada di Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung. Genangan tersebut membuat ruang belajar terdampak dan mengganggu kegiatan belajar mengajar bagi para siswa. Informasi mengenai kejadian ini disampaikan oleh Dwi Teguh Prasetyo, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Tulungagung.
Menurut Dwi, air masuk ke ruang kelas setelah hujan mengguyur wilayah tersebut sejak Minggu malam, 1 November, hingga Senin pagi, 2 November. Rentang hujan yang berlangsung dari malam sampai pagi itu mendahului munculnya genangan di area sekolah. Air kemudian mencapai sebagian ruang kelas, sehingga kegiatan yang biasanya berlangsung di ruang tersebut menghadapi gangguan akibat kondisi banjir.
Keterangan itu menunjukkan bahwa dampak yang diketahui berada pada sebagian ruang kelas SDN 1 Besole. Tidak semua bagian sekolah disebut terdampak, dan informasi yang tersedia tidak merinci kondisi setiap ruang. Karena itu, keadaan tersebut dapat dijelaskan secara terbatas sebagai genangan yang masuk ke ruang kelas setelah hujan, tanpa menyimpulkan adanya dampak lain yang belum dilaporkan.
Lokasi sekolah di Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, menjadi konteks penting untuk memahami laporan kejadian ini. Hujan yang mengguyur kawasan tersebut selama periode yang disebutkan menjadi latar terjadinya banjir di lingkungan sekolah. Penjelasan Dwi Teguh Prasetyo memberikan dasar bagi informasi mengenai waktu hujan dan masuknya air, sekaligus mengidentifikasi bagian sekolah yang terdampak, yakni sebagian ruang kelas.
Dengan adanya air di ruang belajar, perhatian tertuju pada terganggunya kegiatan pendidikan di sekolah tersebut. Namun, rincian mengenai langkah penanganan, kondisi setelah air masuk, maupun dampak terhadap fasilitas tidak tercantum dalam informasi yang disampaikan. Oleh sebab itu, keterangan yang dapat dipastikan terbatas pada lokasi kejadian, waktu hujan, dan masuknya air ke sebagian ruang kelas. Informasi tersebut menggambarkan gangguan yang dialami SDN 1 Besole tanpa menambahkan rincian yang belum tersedia.
Banjir yang masih menggenangi lingkungan SDN 1 Besole berdampak langsung pada kegiatan belajar mengajar. Sebanyak 90 siswa dari kelas I hingga kelas VI untuk sementara waktu tidak dapat mengikuti pembelajaran secara tatap muka di sekolah. Agar proses pendidikan tetap berjalan, seluruh siswa tersebut mengikuti pembelajaran daring dari rumah. Kebijakan ini diterapkan karena area sekolah belum aman dan kondisinya belum memungkinkan kegiatan belajar berlangsung seperti biasa. Aktivitas belajar pun dialihkan ke rumah sambil menunggu genangan surut dan situasi kembali mendukung kegiatan sekolah. Perubahan sementara ini menjadi upaya menjaga keberlanjutan pendidikan sekaligus menghindari kegiatan belajar di area yang masih tergenang.
Pelaksanaan belajar dari rumah mencakup semua tingkat kelas, mulai dari kelas I sampai kelas VI. Dengan jumlah peserta sebanyak 90 siswa, sekolah perlu memastikan informasi mengenai pembelajaran daring dapat diterima oleh seluruh keluarga siswa. Kegiatan belajar tidak berlangsung di ruang kelas, melainkan dilakukan dari rumah selama lingkungan sekolah belum dapat digunakan. Pengalihan ini merupakan respons terhadap kondisi banjir, bukan perubahan permanen dalam penyelenggaraan pembelajaran. Para siswa diharapkan tetap mengikuti kegiatan belajar sesuai arahan sekolah, sementara pihak sekolah memantau keadaan lingkungan dan mempertimbangkan penyesuaian jika kondisi belum memungkinkan untuk kembali belajar secara langsung.
Pihak SDN 1 Besole juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Tulungagung untuk menentukan langkah pembelajaran selama banjir masih berdampak pada sekolah. Koordinasi tersebut diperlukan agar keputusan mengenai kegiatan belajar dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi setempat. Selama lingkungan sekolah masih tergenang, pembelajaran daring dari rumah menjadi pilihan yang diterapkan bagi seluruh 90 siswa. Sekolah dan dinas pendidikan akan membahas langkah yang tepat untuk menjaga kegiatan belajar tetap berlangsung sekaligus mempertimbangkan kesiapan lingkungan sekolah. Pembelajaran tatap muka dapat dipertimbangkan kembali setelah kondisi memungkinkan, dengan keputusan mengikuti hasil koordinasi dan situasi yang dihadapi. Untuk sementara, siswa tetap belajar dari rumah hingga ada langkah lanjutan yang ditetapkan.
Dinas Pendidikan akan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran di SDN 1 Besole dengan mempertimbangkan kondisi genangan yang masih memengaruhi lingkungan sekolah. Penilaian tersebut diperlukan untuk melihat apakah ruang kelas dan area yang digunakan siswa sudah memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung secara tatap muka. Dengan demikian, keputusan mengenai bentuk pembelajaran tidak hanya didasarkan pada rencana kegiatan, tetapi juga pada keadaan sekolah yang dapat berubah seiring perkembangan genangan.
Selama air masih menggenangi bagian sekolah atau ruang kelas belum dapat digunakan kembali, kegiatan belajar mengajar tatap muka belum dapat dipastikan untuk dilaksanakan. Kondisi setiap ruang dan lingkungan sekolah menjadi pertimbangan dalam evaluasi, terutama untuk memastikan bahwa tempat belajar sudah dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dinas Pendidikan akan menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan hasil penilaian terhadap keadaan tersebut, tanpa menetapkan jadwal sebelum kondisi sekolah diketahui.
Apabila genangan telah surut dan ruang kelas dapat digunakan kembali, kegiatan belajar mengajar secara tatap muka akan dilanjutkan. Penggunaan kembali ruang kelas menjadi salah satu syarat penting dalam menentukan kelanjutan aktivitas belajar langsung di sekolah. Karena itu, siswa, orang tua, dan pihak sekolah perlu menunggu perkembangan kondisi genangan serta evaluasi dari Dinas Pendidikan. Belum ada perkiraan waktu surutnya air maupun tanggal dimulainya kembali pembelajaran tatap muka yang dapat disampaikan. Keputusan akan bergantung pada keadaan nyata di sekolah, sehingga informasi mengenai kelanjutan kegiatan belajar sebaiknya merujuk pada pemberitahuan resmi setelah evaluasi dilakukan. Pendekatan ini memungkinkan pelaksanaan pembelajaran mengikuti kondisi yang tersedia, bukan asumsi mengenai kapan genangan akan berakhir. Sampai ruang kelas dapat dipakai lagi, kepastian jadwal tatap muka masih menunggu hasil penilaian terhadap keadaan sekolah.
Banjir yang mengganggu kegiatan belajar di SDN 1 Besole bukan pengalaman pertama bagi sekolah tersebut. Dwi menyebut kejadian serupa kerap dialami ketika memasuki musim penghujan. Dengan demikian, kondisi yang kembali berdampak pada aktivitas belajar kali ini merupakan situasi yang pernah terjadi sebelumnya, bukan peristiwa yang sama sekali baru bagi lingkungan sekolah. Keterangan itu menggambarkan bahwa banjir dan terganggunya pembelajaran di SDN 1 Besole pernah muncul pada masa musim hujan.
Menurut Dwi, saat musim penghujan mulai berlangsung, SDN 1 Besole kerap mengalami kejadian serupa. Ia juga menjelaskan bahwa dalam keadaan tertentu, aktivitas pembelajaran tidak selalu dapat berlangsung di sekolah seperti biasanya. Kegiatan belajar terkadang harus dialihkan ke rumah. Peralihan tersebut menjadi salah satu bentuk perubahan aktivitas pembelajaran yang pernah terjadi ketika sekolah terdampak banjir. Namun, informasi yang disampaikan tidak merinci kapan peralihan itu berlangsung atau berapa lama kegiatan belajar dilakukan dari rumah.
Pengalaman sebelumnya itu menunjukkan bahwa gangguan terhadap pembelajaran di SDN 1 Besole bukan hanya berkaitan dengan kejadian yang sedang diberitakan. Dwi menyampaikan bahwa situasi serupa telah berulang dalam konteks memasuki musim penghujan, dan sesekali berpengaruh pada tempat berlangsungnya kegiatan belajar. Dalam kondisi demikian, pembelajaran dapat dialihkan dari sekolah ke rumah. Keterangan tersebut terbatas pada pengalaman sekolah menghadapi banjir dan perubahan lokasi belajar; tidak ada rincian lain mengenai kejadian-kejadian sebelumnya. Karena itu, yang dapat dipastikan dari penjelasan Dwi adalah bahwa SDN 1 Besole pernah terdampak banjir lebih dari sekali dan bahwa aktivitas pembelajaran terkadang harus berlangsung dari rumah saat kondisi tersebut terjadi. Informasi ini menegaskan pengalaman berulang tanpa menetapkan jumlah kejadian ataupun rincian penanganannya.
Baca juga: Bangun Kenyamanan Belajar, Satgas TMMD Ke-130 Perbaiki Pesantren Ransiki | Tak Hanya Kampung Yamboi, Satgas TMMD Ke-130 Juga Perbaiki Tempat Belajar Anak-Anak Pesantren Ransiki | Satgas TMMD Ke-130 Laksanakan Perbaikan Plafon Pesantren Demi Kenyamanan Belajar Anak-Anak
35 kunjungan


































