Bentrokan di Pidie Usai Perselisihan soal Pengibaran Bendera Bulan Bintang

oleh
oleh
Bentrokan di Pidie Usai Perselisihan soal Pengibaran Bendera Bulan Bintang

Kabupaten Pidie | Bentrokan terjadi pada Rabu, 4 November 2026, di meunasah Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh. Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, menurut keterangan yang disampaikan pihak TNI Angkatan Darat. Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menyebut seorang warga meninggal dunia dalam kejadian itu. Selain korban meninggal, sejumlah warga dan personel TNI juga dilaporkan mengalami luka. Keterangan tersebut menjadi dasar angka korban yang disampaikan dalam laporan ini, sehingga penting untuk membedakan informasi resmi itu dari rincian yang belum dipastikan atau belum disampaikan oleh pihak terkait. Peristiwa berlangsung di lingkungan meunasah, sementara latar perselisihan yang disebut berkaitan dengan pengibaran bendera Bulan Bintang.

Donny Pramono menyampaikan bahwa 13 warga mengalami luka-luka. Pada saat yang sama, enam personel TNI turut terluka dalam bentrokan tersebut. Dengan demikian, angka korban luka yang disebut pihak TNI AD mencakup warga serta anggota militer, dengan jumlah masing-masing sebagaimana disampaikan oleh kepala dinas penerangan itu. Keterangan tersebut juga menyebutkan bahwa personel TNI yang terluka telah mendapatkan penanganan medis sesuai kondisi masing-masing. Informasi ini menegaskan adanya respons medis bagi para personel yang terdampak, tetapi tidak merinci jenis luka, fasilitas kesehatan yang menangani, atau perkembangan kondisi mereka setelah memperoleh perawatan. Tidak ada rincian tambahan mengenai penanganan warga terluka dalam keterangan yang menjadi dasar angka korban tersebut.

Dalam menyampaikan dampak bentrokan di Pulo Keunari, angka satu warga meninggal dunia, 13 warga luka-luka, dan enam personel TNI terluka perlu dipahami sebagai keterangan dari pihak TNI AD. Penyebutan sumber ini penting agar pembaca mengetahui asal data korban, terutama ketika informasi awal mengenai suatu peristiwa dapat berkembang seiring adanya keterangan dari berbagai pihak. Rincian yang tersedia dalam keterangan tersebut berfokus pada jumlah korban dan penanganan medis terhadap personel TNI yang terluka. Belum ada informasi lebih lanjut dalam data ini mengenai identitas korban, penyebab kematian, tingkat keparahan luka, maupun kondisi terkini para korban. Karena itu, jumlah dan kondisi korban di sini disajikan sesuai pernyataan Brigjen TNI Donny Pramono, tanpa menambahkan dugaan atau detail yang tidak tercantum. Perkembangan resmi berikutnya dapat memberikan penjelasan tambahan tentang situasi pascabentrok dan kondisi pihak-pihak yang terdampak.

Bentrokan di Pidie bermula dari persoalan pengibaran bendera bulan bintang dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di sebuah meunasah. Keberadaan bendera tersebut menjadi pokok perselisihan aparat dan panitia penyelenggara. Sebelum terjadi penertiban, aparat TNI dan Polri disebut telah berupaya membicarakan persoalan itu dengan panitia agar bendera tidak dikibarkan dalam kegiatan tersebut.

Menurut keterangan TNI AD, komunikasi dan mediasi dilakukan sebagai langkah awal untuk mencari penyelesaian tanpa tindakan penertiban. Aparat menyampaikan permintaan agar bendera tidak dipasang atau dikibarkan dalam peringatan Maulid. Upaya tersebut dimaksudkan untuk membahas persoalan secara langsung dengan panitia sebelum situasi berkembang menjadi tindakan di lapangan. Dengan demikian, penertiban bukan langkah pertama yang ditempuh aparat dalam menghadapi perselisihan tersebut.

Namun, pembicaraan itu tidak menghasilkan kesepakatan. Panitia penyelenggara tetap bersikeras mempertahankan bendera, sementara aparat meminta agar pengibaran tidak dilakukan. Perbedaan sikap tersebut membuat persoalan yang semula diupayakan melalui komunikasi dan mediasi berlanjut pada langkah penertiban. Ketika upaya persuasif tidak mencapai titik temu, prajurit berusaha menurunkan bendera yang menjadi sumber perselisihan.

Dalam keterangan TNI AD, tindakan prajurit untuk menertibkan dan menurunkan bendera itu merupakan bagian dari rangkaian peristiwa yang mendahului bentrokan. Perselisihan terkait pengibaran bendera dalam peringatan Maulid menjadi latar kejadian, setelah aparat dan panitia tidak berhasil menyepakati langkah yang akan diambil. Rangkaian ini menunjukkan bahwa ketegangan muncul di tengah perbedaan sikap mengenai bendera: aparat telah meminta agar bendera tidak dikibarkan, sedangkan panitia tetap mempertahankannya. Penjelasan tersebut menggambarkan urutan yang disampaikan TNI AD, mulai dari komunikasi dan mediasi, kegagalan mencapai kesepakatan, hingga upaya penertiban oleh prajurit. Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi bentrokan di lokasi kegiatan.

Menurut keterangan TNI AD, situasi di lokasi mulai meningkat ketika proses penertiban berlangsung. Personel yang berada di lapangan disebut menghadapi pelemparan batu dan kayu ke arah mereka. Dalam keterangan yang sama, sejumlah orang juga terlihat membawa senjata tajam. Informasi tersebut menggambarkan kondisi yang dinilai aparat semakin sulit dikendalikan, tetapi merupakan versi yang disampaikan pihak TNI AD mengenai jalannya peristiwa. Rincian mengenai tindakan masing-masing orang atau urutan lengkap kejadian belum dapat dipastikan hanya dari keterangan tersebut.

TNI AD menyatakan personel terlebih dahulu berupaya menenangkan dan membubarkan massa dengan menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Upaya itu dilakukan saat pelemparan dan tindakan lain yang dianggap mengancam masih berlangsung. Aparat, menurut sumber tersebut, kemudian menilai keselamatan personel berada dalam risiko. Dalam kondisi itu, pengamanan disebut dilaksanakan secara bertahap, dengan tujuan menghentikan situasi yang semakin tegang dan mencegah ancaman berlanjut. Keterangan yang tersedia tidak merinci jumlah personel maupun warga yang terlibat, serta tidak menjelaskan secara terpisah apakah ada pihak yang mengalami luka.

Langkah pengamanan, berdasarkan penjelasan TNI AD, dimulai dengan tembakan peringatan menggunakan munisi hampa. Setelah tindakan massa disebut terus berlanjut, aparat kemudian menggunakan munisi karet. Penyampaian tahapan tersebut penting untuk memahami bagaimana pihak TNI menjelaskan respons di lapangan, tanpa menganggapnya sebagai gambaran independen yang telah diverifikasi. Setelah massa membubarkan diri, personel TNI menurunkan bendera bulan bintang yang berada di lokasi. Dengan demikian, penertiban berakhir setelah situasi dinyatakan lebih terkendali dan massa tidak lagi berada di tempat kejadian. Kronologi ini merujuk pada keterangan TNI AD; penilaian menyeluruh atas bentrokan memerlukan informasi dari pihak lain serta pemeriksaan terhadap kondisi dan bukti di lokasi.

Warga yang meninggal dunia dalam bentrokan di Pulo Keunari diketahui bernama Abzalul Riza. Ia merupakan warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Informasi mengenai identitas korban ini disampaikan sebagai bagian dari keterangan terkait peristiwa tersebut. Jenazah Abzalul Riza dimakamkan pada Kamis, 5 November 2026, pukul 01.00 WIB, di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro.

TNI AD menyampaikan keprihatinan atas jatuhnya korban jiwa dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Ungkapan duka tersebut juga ditujukan kepada warga yang terdampak oleh peristiwa itu. TNI AD berharap para korban yang mengalami luka-luka dapat segera pulih dan memperoleh penanganan yang diperlukan. Penyampaian belasungkawa dan harapan pemulihan itu menegaskan perhatian terhadap dampak kemanusiaan dari bentrokan, tanpa mengurangi pentingnya klarifikasi informasi mengenai kejadian tersebut.

Secara terpisah, TNI AD juga melakukan langkah antisipasi terhadap rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan antisipasi ini berlangsung di wilayah berbeda dan merupakan informasi tersendiri; tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa rencana kegiatan tersebut menyebabkan atau berkaitan langsung dengan bentrokan di Pulo Keunari, Pidie.

Dalam rangka mengantisipasi kegiatan itu, personel Kodim 0102/Pidie bersama personel bawah kendali operasi melaksanakan patroli dan komunikasi sosial. Langkah tersebut dilakukan untuk memantau situasi serta berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Rencana kegiatan semula disebut akan berlangsung di Desa Udeung Poroh. Namun, lokasi yang direncanakan kemudian dipindahkan ke makam Abdullah Syafi’i, Desa Cubo, Kecamatan Bandar Baru.

Pemisahan informasi mengenai kedua peristiwa penting.

Baca juga: Situasi Pulo Keunari Kondusif Setelah Bentrokan, TNI Tetap Siaga

401 kunjungan