Ruben Onsu Unggah Rekaman CCTV soal Amplop yang Diserahkan Asisten Sarwendah kepada OTK

oleh -97 Dilihat
oleh
Ruben Onsu Unggah Rekaman CCTV soal Amplop yang Diserahkan Asisten Sarwendah kepada OTK

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Ruben Onsu membagikan rekaman kamera pengawas yang disebut berkaitan dengan keberadaan sebuah amplop putih di dalam tas merah. Rekaman tersebut diunggah melalui media sosial dan menjadi perhatian karena memperlihatkan aktivitas asisten Sarwendah yang dikenal dengan nama Manda di sebuah ruangan. Dalam tayangan itu, Manda tampak mendekati sofa tempat tas merah tersebut berada.

Berdasarkan keterangan yang menyertai unggahan Ruben, Manda diduga mengambil amplop putih dari dalam tas merah yang diletakkan di atas sofa. Amplop itu diduga berisi uang dengan nilai mencapai puluhan juta rupiah. Namun, jumlah uang maupun isi amplop tersebut belum dapat dipastikan secara independen. Karena itu, informasi mengenai nominal dan barang yang berada di dalamnya masih perlu ditempatkan sebagai dugaan, bukan fakta yang telah terbukti.

Rekaman berikutnya disebut memperlihatkan Manda membawa amplop tersebut dan menyerahkannya kepada seseorang yang tidak dikenal atau OTK. Sosok penerima tidak dijelaskan secara terperinci dalam informasi yang beredar, termasuk identitas, hubungan, maupun alasan penyerahan amplop itu. Visual dari kamera pengawas juga tidak serta-merta dapat memastikan maksud tindakan tersebut tanpa keterangan tambahan dari pihak-pihak yang berada di lokasi.

Unggahan Ruben kemudian memunculkan pertanyaan publik mengenai kronologi peristiwa, kepemilikan uang, serta tujuan penyerahan amplop. Meski demikian, rekaman CCTV perlu dipahami sebagai bagian dari informasi awal yang masih memerlukan penjelasan dan pemeriksaan lebih lanjut. Tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi pelanggaran atau menetapkan identitas penerima hanya berdasarkan tayangan tersebut. Keterangan Ruben, Manda, Sarwendah, dan pihak lain yang mengetahui kejadian akan diperlukan agar duduk perkara dapat dipahami secara lebih utuh.

Ruben Onsu menyoroti rekaman CCTV yang diunggahnya dengan mempertanyakan tindakan asisten Sarwendah, Manda, saat berada di sebuah lokasi. Dalam unggahan tersebut, ia meminta penjelasan mengenai benda atau barang yang diambil, siapa saja yang berada di tempat itu, serta kepada siapa amplop yang dibawa tersebut akhirnya diserahkan. Pertanyaan itu disampaikan secara langsung melalui kalimat: “ayo, manda. ambil apa itu? ada siapa saja di sana? lalu diberikan ke siapa,”.

Pertanyaan Ruben menunjukkan bahwa ia ingin memperoleh kejelasan mengenai rangkaian peristiwa yang terekam kamera. Ia tidak hanya menyoroti keberadaan amplop, tetapi juga meminta informasi tentang pihak-pihak yang hadir dan penerima amplop tersebut. Dengan demikian, perhatian Ruben tertuju pada tindakan yang terlihat dalam rekaman serta konteks di balik penyerahan barang, tanpa menjelaskan lebih jauh hal-hal yang tidak tampak dalam video.

Dalam unggahannya, Ruben juga mengaitkan sorotan itu dengan seruan perdamaian yang disampaikan Manda. Ia mempertanyakan kesesuaian ajakan untuk berdamai dan tindakan yang, menurut penilaiannya, justru berupaya merendahkan atau menjatuhkan posisinya sebagai ayah. Pernyataan tersebut menggambarkan keberatan Ruben terhadap cara dirinya ditempatkan dalam persoalan yang sedang disoroti.

Ruben menyampaikan penilaian itu sebagai respons atas tindakan yang ia lihat dan persoalan yang muncul dari rekaman CCTV. Ia mempertanyakan perbedaan pesan perdamaian dan tindakan yang dianggapnya tidak sejalan dengan pesan tersebut. Namun, sorotan itu tidak dengan sendirinya menjadi kesimpulan baru mengenai motif pihak lain. Hal yang ditekankan Ruben adalah kebutuhan untuk mengetahui apa yang diambil, siapa yang berada di lokasi, serta pihak yang menerima amplop tersebut, sekaligus menyampaikan keberatannya atas tindakan yang menurutnya dapat merendahkan kedudukannya sebagai ayah.

Dalam unggahan lanjutan mengenai rekaman CCTV tersebut, Ruben Onsu kembali menyinggung amplop yang diserahkan oleh asisten Sarwendah kepada seseorang yang disebut sebagai orang tidak dikenal (OTK). Ia memperkirakan uang di dalam amplop itu berada pada kisaran Rp30 juta atau Rp35 juta. Namun, perkiraan tersebut disampaikan sebagai dugaan dan bukan kepastian mengenai jumlah sebenarnya.

Ruben juga menanggapi pernyataan pihak yang bersangkutan yang, menurutnya, kerap menyampaikan keinginan untuk berdamai. Di sisi lain, Ruben menilai masih terdapat tindakan yang merendahkan dirinya sebagai ayah dari anak-anaknya. Ia menyebut hal itu dilakukan melalui orang lain dan dianggap sebagai upaya untuk menjatuhkannya. Pernyataan tersebut merupakan pandangan Ruben dalam merespons rangkaian persoalan yang tengah menjadi perhatian publik.

Dalam kesempatan yang sama, Ruben menjelaskan bahwa sikap diam yang selama ini ia pilih tidak dapat diartikan sebagai tanda kelemahan. Ia mengatakan telah berusaha bersabar dalam menghadapi berbagai konten dan sindiran keras yang beredar di dunia maya. Menurut penilaiannya, sebagian konten tersebut diarahkan untuk mendiskreditkan dirinya.

Ruben turut menyoroti dampak jangka panjang dari penyebaran pernyataan dan materi di media sosial. Ia menilai, unggahan yang dibuat tanpa mempertimbangkan akibatnya dapat memengaruhi banyak pihak, terutama keluarga dan anak-anak. Karena itu, sikap menahan diri yang ia tunjukkan selama ini disebut sebagai pilihan untuk menghadapi situasi dengan lebih hati-hati, bukan karena tidak memiliki tanggapan.

Pernyataan tentang nilai uang, ajakan berdamai, serta dugaan upaya merendahkan tersebut masih bersumber dari penjelasan Ruben. Belum terdapat kepastian independen mengenai jumlah uang di dalam amplop maupun konteks lengkap di balik penyerahannya. Publik pun diharapkan tidak langsung menarik kesimpulan sebelum seluruh informasi dan keterangan dari pihak-pihak terkait tersedia secara menyeluruh.

Perselisihan mengenai hak asuh anak Ruben Onsu dan pihak terkait masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam proses tersebut, Ruben menyampaikan bahwa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang diunggahnya menjadi bagian dari informasi yang ingin ia tunjukkan kepada publik. Ia memastikan rekaman itu valid, bukan hasil rekayasa, serta siap diuji dan diperiksa dalam proses hukum yang sedang berjalan.

Ruben juga menyampaikan tudingan serius mengenai posisi anak-anaknya dalam konflik tersebut. Menurut penilaiannya, anak-anak telah dijadikan instrumen eksploitasi untuk kepentingan asmara dan bisnis jualan. Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk keberatan atas tindakan yang dianggap menempatkan anak dalam persoalan orang dewasa, termasuk kepentingan pribadi dan komersial.

Di tengah perselisihan itu, Ruben mengaku merasakan kesedihan yang mendalam karena menilai terdapat upaya cuci otak terhadap anak-anaknya. Ia khawatir anak-anak menerima pengaruh atau informasi tertentu secara berulang sehingga membentuk pandangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kekhawatiran tersebut, menurut Ruben, semakin berat karena menyangkut hubungan emosional dan masa depan anak-anaknya.

Ruben berpandangan bahwa pembunuhan karakter yang disertai manipulasi psikologis terhadap anak merupakan kejahatan moral yang tidak dapat ditoleransi. Ia menilai anak seharusnya tidak dijadikan alat untuk menyerang, menekan, atau membangun citra buruk terhadap salah satu orang tua. Karena itu, ia meminta pihak-pihak yang berkepentingan untuk mencari kesalahan dirinya secara langsung, bukan melibatkan atau memanfaatkan anak-anak dalam perselisihan yang sedang berlangsung.

Dengan sikap tersebut, Ruben menyatakan akan menyerahkan bukti yang dimilikinya untuk diuji sesuai mekanisme hukum. Ia tetap menekankan bahwa rekaman CCTV tersebut harus dilihat dalam konteks perkara hak asuh anak di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sekaligus menjadi dasar bagi pihak berwenang untuk menilai setiap keterangan dan tudingan secara objektif.