Dukungan Intelijen BIN Disebut Berperan dalam Operasi TNI di Maybrat

oleh -59 Dilihat
oleh
Dukungan Intelijen BIN Disebut Berperan dalam Operasi TNI di Maybrat

Kabupaten Maybrat | Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto menegaskan bahwa dukungan intelijen merupakan unsur penting dalam pelaksanaan operasi keamanan di Papua, termasuk di wilayah Maybrat. Informasi yang akurat mengenai keberadaan kelompok bersenjata membantu satuan di lapangan memahami situasi secara lebih menyeluruh sebelum mengambil langkah penindakan.

Menurut Lucky, data intelijen diperlukan untuk menentukan sasaran operasi secara terukur. Dengan informasi tersebut, aparat dapat membedakan lokasi, pergerakan, dan pola aktivitas kelompok yang diduga terlibat dalam kekerasan bersenjata. Pendekatan berbasis informasi juga memungkinkan satuan operasi menyusun perencanaan yang lebih tepat, sehingga tindakan terhadap ancaman dapat dilakukan tanpa memperluas dampak keamanan ke wilayah lain.

Keberadaan masyarakat sipil di sekitar daerah operasi menjadi salah satu pertimbangan utama. Informasi yang memadai dapat membantu aparat mengurangi risiko salah sasaran serta mencegah warga terdampak dalam proses penindakan. Karena itu, koordinasi dan pertukaran informasi antarlembaga dipandang penting untuk memastikan setiap langkah keamanan tetap memperhatikan keselamatan penduduk.

Pernyataan tersebut disampaikan Lucky dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Ia menilai sinergi Badan Intelijen Negara (BIN) dan satuan operasi TNI perlu terus diperkuat dalam menghadapi ancaman kekerasan bersenjata. Kerja sama itu mencakup penyampaian informasi, pemetaan perkembangan situasi, serta penyelarasan langkah operasional sesuai kewenangan masing-masing.

Sinergi intelijen dan unsur operasi, lanjutnya, menjadi bagian dari upaya membangun respons keamanan yang lebih terarah. Dukungan informasi tidak hanya berfungsi untuk membantu penindakan, tetapi juga mendukung pengambilan keputusan yang mempertimbangkan kondisi sosial dan keamanan setempat. Dengan demikian, operasi dapat dilaksanakan secara efektif, terukur, dan tetap berupaya meminimalkan risiko bagi masyarakat Papua.

Salah satu operasi yang disebut sebagai keberhasilan penindakan berlangsung di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Operasi tersebut melibatkan pasukan gabungan Satgas Yonif Marinir 9 dan Denkull 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema. Sasaran operasi adalah kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya yang berada di wilayah tersebut. Dalam keterangannya, Lucky menyebut operasi itu sebagai contoh tindakan yang dilakukan melalui koordinasi antarsatuan dalam menghadapi kelompok bersenjata.

Operasi gabungan itu diarahkan untuk menyasar lokasi yang disebut menjadi tempat persembunyian kelompok TPNPB-OPM. Penindakan dilakukan berdasarkan informasi mengenai keberadaan kelompok di area sasaran. Informasi intelijen dari Badan Intelijen Negara (BIN) disebut turut mendukung pelaksanaan operasi tersebut. Lucky menyatakan bahwa informasi yang digunakan memiliki nilai A1, sebagaimana disebut dalam keterangan mengenai operasi di Maybrat.

Keterlibatan informasi intelijen BIN menjadi salah satu unsur yang disoroti dalam penjelasan mengenai operasi tersebut. Informasi itu disebut membantu memberikan gambaran mengenai lokasi persembunyian yang menjadi sasaran pasukan gabungan. Selanjutnya, Satgas Yonif Marinir 9 bersama Denkull 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema menjalankan operasi terhadap kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya di Kabupaten Maybrat.

Operasi ini memperlihatkan adanya kerja bersama unsur intelijen dan satuan yang melaksanakan penindakan di lapangan. Namun, uraian mengenai kegiatan tersebut tetap merujuk pada keterangan sumber yang menyebut target, satuan yang terlibat, serta dukungan informasi intelijen BIN. Tidak terdapat penjelasan tambahan mengenai arti nilai A1 di luar keterangan yang disampaikan terkait operasi gabungan di Maybrat.

Dalam keterangan yang disampaikan Lucky, tiga pimpinan kelompok bersenjata yang disebut berada di wilayah Maybrat dilaporkan tewas setelah pasukan gabungan menemukan lokasi persembunyian mereka. Tokoh yang dimaksud ialah Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya, Manfret Fatem, serta dua komandan batalyon, Anton Fatem dan Yesias Fatem. Informasi tersebut menjadi bagian dari laporan mengenai operasi TNI yang disebut memperoleh dukungan intelijen BIN.

Menurut keterangan itu, penemuan lokasi persembunyian kemudian diikuti kontak senjata. Ketiga tokoh tersebut dilaporkan melepaskan tembakan ke arah pasukan TNI ketika keberadaan mereka diketahui. Dalam peristiwa tersebut, Manfret Fatem disebut tewas di lokasi. Sementara itu, Anton Fatem dan Yesias Fatem dilaporkan berusaha melarikan diri dengan bergerak menuju kawasan Sungai Frambu.

Upaya pelarian itu disebut berakhir ketika keduanya dilaporkan tewas dalam rangkaian kontak senjata. Namun, pencarian terhadap dua jenazah yang disebut tenggelam di sungai masih dilakukan. Proses tersebut diperlukan untuk memastikan lokasi dan kondisi jenazah, sekaligus mendukung penanganan lebih lanjut sesuai prosedur yang berlaku. Rincian mengenai waktu pencarian dan perkembangan evakuasi belum dijelaskan secara terpisah dalam keterangan yang tersedia.

Dari lokasi yang disebut berkaitan dengan peristiwa tersebut, pasukan gabungan dilaporkan mengamankan sejumlah barang. Barang bukti itu meliputi satu pucuk senjata api jenis AK-101, puluhan butir amunisi tajam, serta selembar bendera Bintang Kejora. Temuan tersebut menjadi bagian dari bahan laporan operasi dan akan digunakan untuk mendukung pemeriksaan mengenai aktivitas kelompok, kepemilikan persenjataan, serta kronologi kontak senjata. Seluruh informasi mengenai tewasnya ketiga pimpinan dan barang yang diamankan tetap merujuk pada keterangan pihak yang menyampaikannya.

Lucky menegaskan bahwa TNI akan melanjutkan tugas pengamanan wilayah dan penegakan hukum terhadap setiap ancaman kekerasan bersenjata di Maybrat. Pelaksanaan tugas tersebut dilakukan secara profesional, tegas, dan terukur, dengan mempertimbangkan kondisi lapangan serta keselamatan masyarakat. Langkah pengamanan tidak hanya diarahkan untuk menghadapi kelompok bersenjata, tetapi juga untuk memulihkan rasa aman, menjaga aktivitas warga, dan mendukung keberlangsungan pelayanan publik di wilayah terdampak.

Seluruh personel yang berada di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III wajib mematuhi rules of engagement, ketentuan peraturan perundang-undangan, serta prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia. Setiap tindakan harus memiliki dasar hukum yang jelas, dilakukan secara proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan melalui mekanisme pengawasan yang berlaku. Ketentuan tersebut menjadi pedoman penting agar operasi keamanan berlangsung efektif tanpa mengabaikan hak warga sipil, termasuk kelompok rentan yang berada di sekitar wilayah operasi.

Prinsip salus populi suprema lex esto, yang dimaknai sebagai keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi, menjadi landasan dalam pelaksanaan tugas. Karena itu, keselamatan masyarakat sipil, perlindungan warga, serta stabilitas keamanan di Papua menjadi prioritas utama. Koordinasi dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan unsur terkait juga diperlukan untuk memastikan langkah penanganan ancaman tidak menimbulkan dampak yang lebih luas bagi kehidupan sosial masyarakat.

Operasi di Maybrat dipandang sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga keamanan Papua Barat Daya. Dukungan informasi intelijen BIN dan koordinasi antarsatuan tetap diarahkan untuk memperkuat efektivitas tugas, sekaligus menjaga akuntabilitas, kepatuhan terhadap hukum, dan perlindungan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, operasi diharapkan mampu mendukung penegakan hukum secara terukur serta menciptakan kondisi yang lebih aman bagi warga dan pembangunan daerah.