Kasus Bayi Alena Soroti Bahaya Pemberian Telur Mentah dan MPASI Dini

oleh -236 Dilihat
oleh
Kasus Bayi Alena Soroti Bahaya Pemberian Telur Mentah dan MPASI Dini

Surabaya | Kasus bayi bernama Alena menjadi perhatian setelah informasi mengenai pemberian telur mentah beredar di media sosial. Alena disebut masih berusia belum genap satu bulan ketika mengalami kondisi yang kemudian memerlukan penanganan medis intensif. Peristiwa ini memunculkan kembali perhatian terhadap praktik pemberian makanan atau bahan tertentu kepada bayi yang belum berada pada usia untuk menerima makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

Dalam informasi yang beredar, telur mentah tersebut disebut diberikan oleh nenek Alena. Nenek itu merupakan ibu dari ayah Alena. Pemberian telur dilakukan karena Alena sebelumnya mengalami demam. Namun, berdasarkan kabar yang beredar, kondisi bayi tersebut kemudian memburuk sehingga membutuhkan perawatan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

Alena mulai dirawat di rumah sakit tersebut pada Jumat (9/10). Dalam penanganannya, bayi itu sempat mendapat perawatan di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yakni ruang khusus untuk bayi yang memerlukan pemantauan dan dukungan medis secara intensif. Informasi mengenai perawatan Alena menggambarkan kondisi yang serius, terutama karena usianya masih sangat dini dan daya tahan tubuhnya belum berkembang secara optimal.

Belakangan, kabar mengenai meninggalnya Alena juga beredar di media sosial. Informasi tersebut menjadi bagian dari perhatian publik terhadap kasus ini, tetapi kabar yang beredar tidak serta-merta dapat dijadikan kepastian tanpa keterangan resmi dari pihak terkait. Karena itu, rincian mengenai perkembangan kondisi Alena perlu merujuk pada informasi yang dapat diverifikasi, termasuk penjelasan keluarga atau pihak rumah sakit.

Kasus ini turut menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam merawat bayi baru lahir. Pemberian sesuatu selain asupan yang sesuai anjuran tenaga kesehatan, terlebih kepada bayi yang masih berusia di bawah satu bulan, dapat menimbulkan risiko. Ketika bayi mengalami demam atau gejala lain, keluarga sebaiknya segera meminta pertolongan medis dan tidak mengandalkan pemberian bahan pangan secara mandiri.

Menanggapi kasus bayi Alena, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa pemberian makanan kepada bayi tidak boleh dilakukan berdasarkan kebiasaan keluarga, anggapan turun-temurun, atau keinginan untuk mempercepat pertumbuhan. Orang tua dan anggota keluarga perlu memperhatikan usia, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan sebelum memperkenalkan makanan apa pun. Sistem pencernaan, kemampuan menelan, dan koordinasi gerak bayi berkembang secara bertahap, sehingga makanan yang belum sesuai dapat meningkatkan risiko tersedak, infeksi, alergi, atau gangguan asupan gizi.

Ketua Umum IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan bahwa makanan harus disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan kemampuan makan bayi. Penyesuaian tersebut penting untuk mendukung pertumbuhan sekaligus perkembangan anak secara optimal. Kesiapan memulai makanan pendamping ASI (MPASI) lain ditandai kemampuan bayi duduk dengan bantuan minimal, kontrol kepala yang baik, ketertarikan terhadap makanan, serta kemampuan mengoordinasikan mata, tangan, dan mulut. Namun, tanda-tanda tersebut tetap perlu dinilai bersama usia bayi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, ASI dilanjutkan bersama MPASI yang aman, beragam, dan sesuai kebutuhan hingga usia dua tahun atau lebih. Bayi yang belum memasuki masa MPASI pada dasarnya tidak membutuhkan makanan atau minuman tambahan, termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan. Pemberian tambahan sebelum waktunya dapat menggantikan asupan ASI dan meningkatkan risiko kontaminasi. Karena itu, seluruh keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama dan tidak memberikan makanan kepada bayi tanpa pertimbangan medis yang jelas.

MPASI pada umumnya mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan. Pada tahap ini, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai meningkat sehingga tidak lagi sepenuhnya dapat dipenuhi hanya melalui ASI. Pemberian makanan pendamping ASI membantu melengkapi asupan tersebut, sekaligus memperkenalkan bayi pada beragam rasa, tekstur, dan cara makan secara bertahap. Namun, waktu memulai MPASI tidak cukup ditentukan berdasarkan usia saja. Kondisi setiap bayi perlu dipertimbangkan secara menyeluruh agar makanan diberikan pada saat yang aman dan sesuai kebutuhannya.

Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak bayi berusia empat bulan atau sekitar 17 minggu. Meski demikian, hal ini bukan rekomendasi rutin untuk semua bayi. Keputusan tersebut harus didasarkan pada pertimbangan klinis dan penilaian dokter, dengan memperhatikan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, pertumbuhan, serta kemampuan bayi dalam menerima makanan. MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan karena sistem pencernaan dan keterampilan makan bayi mungkin belum cukup matang. Pemberian terlalu dini juga dapat meningkatkan risiko masalah makan maupun asupan yang tidak sesuai.

Tanda kesiapan bayi perlu dinilai secara keseluruhan, bukan berdasarkan satu ciri saja. Bayi yang siap umumnya mampu menjaga kepala dan leher tetap stabil, serta dapat duduk dengan bantuan sambil mempertahankan posisi tubuhnya. Ia juga mulai memiliki koordinasi gerakan mulut yang lebih baik dan mampu menelan tekstur makanan yang sesuai, bukan sekadar mendorong makanan keluar dengan lidah. Selain itu, bayi dapat menunjukkan ketertarikan ketika melihat orang makan dan mulai mampu menerima makanan dari sendok.

Dr Piprim menekankan bahwa satu tanda tidak dapat menjadi dasar tunggal untuk memulai MPASI. Bayi mungkin tampak tertarik pada makanan, tetapi belum mampu duduk stabil atau menelan dengan baik. Sebaliknya, kemampuan duduk saja belum tentu menunjukkan kesiapan makan. Karena itu, orang tua sebaiknya mengamati seluruh tanda tersebut dan berkonsultasi dengan dokter, terutama bila MPASI hendak dimulai sebelum usia enam bulan.

Pemberian makanan kepada bayi perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan menelan, serta tekstur yang dapat diterima. Makanan yang terlalu keras, licin, berukuran besar, atau belum dapat dikunyah dengan baik dapat meningkatkan risiko tersedak. Selain itu, makanan yang masuk ke saluran napas, atau aspirasi, dapat mengganggu pernapasan dan menimbulkan komplikasi kesehatan. Bayi juga dapat mengalami gangguan pemberian makan apabila berulang kali menghadapi tekstur yang tidak sesuai, dipaksa makan, atau mengalami pengalaman tersedak yang menakutkan.

Telur mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi dan anak, terutama karena pertimbangan keamanan pangan. Telur yang belum matang sempurna dapat mengandung bakteri Salmonella, yaitu bakteri yang menyebabkan salmonelosis atau infeksi saluran cerna. Gejalanya dapat berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi serta anak kecil, kehilangan cairan dapat berlangsung cepat karena cadangan tubuh mereka lebih terbatas. Infeksi yang berat juga berpotensi menyebar dan menyebabkan komplikasi serius, khususnya pada anak dengan daya tahan tubuh yang belum optimal.

Proses pemasakan hingga matang membantu mengurangi risiko bakteri berbahaya pada telur. Namun, keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan, melainkan juga kebersihan tangan dan peralatan, penyimpanan, serta cara penyajian. Makanan pendamping ASI harus diberikan secara bertahap dengan tekstur yang meningkat sesuai perkembangan kemampuan makan anak. Orang tua sebaiknya mengawasi anak selama makan dan segera mencari bantuan medis apabila muncul tanda tersedak, sulit bernapas, muntah terus-menerus, diare berat, demam, atau tanda dehidrasi.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak memiliki keuntungan gizi yang sebanding dengan risikonya. Karena itu, keamanan, tekstur, jumlah, dan cara penyajian makanan harus disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak. Pendekatan tersebut membantu memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus mengurangi risiko tersedak, aspirasi, infeksi, dan gangguan pemberian makan pada masa tumbuh kembang.

Baca juga: Kasus Bayi Alena Soroti Risiko Pemberian Telur Mentah pada Bayi | Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat Intensif, Dugaan Pemberian Telur Mentah Jadi Sorotan | Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat dalam Kondisi Kritis akibat Pemberian Telur Mentah