Kota Bogor | Aktor senior Yadi Mulyadi, yang dikenal luas dengan nama Yadi Timo, meninggal dunia setelah mengalami masalah kesehatan, termasuk gula darah tinggi dan serangan jantung. Kepergiannya membawa duka bagi keluarga, rekan kerja, serta sahabat yang selama ini mengenalnya bukan hanya sebagai sosok di dunia hiburan, tetapi juga sebagai teman dekat. Kabar tersebut terasa berat bagi orang-orang yang pernah berbagi waktu dan percakapan dengannya.
Yadi telah dimakamkan di TPU Dreded, Jalan Dreded No. 43, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, pada Jumat (16/7/2026), sebagaimana disebutkan dalam bahan sumber. Pemakaman itu menjadi kesempatan bagi keluarga dan orang-orang terdekat untuk mengantar kepergiannya. Di tengah kehilangan tersebut, kenangan tentang pribadi Yadi kembali disampaikan oleh sahabat-sahabatnya.
Salah satunya adalah Denpus, sahabat dekat Yadi, yang mengenangnya sebagai aktor yang baik dan teman yang menyenangkan. Kenangan itu memberi gambaran tentang hubungan mereka di luar pekerjaan. Bagi Denpus, Yadi bukan semata-mata rekan sesama pelaku seni, melainkan sosok yang kehadirannya membuat pertemanan terasa akrab. Penilaian tersebut menjadi bagian penting dari cerita tentang Yadi, terutama saat orang-orang mengenang sikap dan kebersamaannya.
Kepergian Yadi juga terasa mendadak bagi sahabat yang masih menyimpan percakapan dan rencana sederhana bersamanya. Tiga hari sebelum wafat, ia masih mengajak sahabatnya untuk ngopi. Ajakan itu kini menjadi kenangan yang melekat, sekaligus pengingat bahwa keseharian bersama seseorang dapat menjadi berarti setelah ia tiada. Bagi orang-orang dekatnya, momen tersebut bukan sekadar obrolan tentang kopi, tetapi potret kebiasaan bertemu dan menjaga hubungan.
Ucapan duka dan ingatan tentang Yadi Timo menunjukkan bahwa jejak seseorang tidak hanya tercatat melalui karya yang ditinggalkan. Sikap baik, persahabatan, serta waktu yang dibagikan dengan orang lain turut membentuk kenangan yang bertahan. Bagi Denpus dan sahabat-sahabatnya, sosok Yadi akan terus dikenang sebagai aktor senior sekaligus teman yang menyenangkan. Kenangan tentang ajakan ngopi beberapa hari sebelum kepergiannya pun menjadi salah satu kisah yang akan mereka simpan dalam ingatan.
Dalam penuturan Denpus, sekitar tiga hari sebelum Yadi Timo meninggal dunia, Yadi sempat menghubungi teman-temannya dan mengajak mereka berkumpul untuk minum kopi di kawasan Cibubur. Ajakan itu disampaikan sebagai kesempatan untuk bertemu dan mengobrol bersama. Bagi Denpus, kabar tersebut menjadi salah satu kenangan yang terus diingat, terutama karena saat itu ia belum menyadari bahwa Yadi akan segera berpulang.
Denpus mengatakan dirinya tidak dapat memenuhi ajakan tersebut. Ia sedang memiliki kesibukan lain, termasuk menjalani kegiatan syuting, sehingga belum bisa datang ke Cibubur. Ia dan teman-temannya pun membicarakan kemungkinan untuk bertemu pada kesempatan berikutnya. Rencana itu terdengar wajar dalam keseharian mereka: ketika satu orang berhalangan, pertemuan dapat dijadwalkan kembali di waktu yang lebih memungkinkan.
Namun, setelah Yadi meninggal, ajakan untuk ngopi tersebut mendapat makna tersendiri bagi Denpus. Ia mengenang bahwa Yadi masih berinisiatif mengumpulkan sahabat-sahabatnya beberapa hari sebelumnya. Meski demikian, kisah ini merupakan pengalaman dan ingatan Denpus mengenai ajakan tersebut. Tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa pertemuan di Cibubur itu pasti akan menjadi kesempatan terakhir mereka, seandainya ajakan tersebut diterima. Pada saat itu, mereka hanya memperkirakan akan bertemu lagi di lain waktu.
Denpus juga mengingat bahwa pertemuan terakhirnya dengan Yadi sebelum kabar duka terjadi kira-kira sebulan sebelumnya. Mereka bertemu di sebuah warung kopi dan menghabiskan waktu bersama dalam suasana biasa, seperti teman-teman yang saling menyempatkan diri untuk berbincang. Kenangan tentang pertemuan itu kini berdampingan dengan cerita ajakan di Cibubur yang tidak sempat terpenuhi. Keduanya memperlihatkan hubungan pertemanan yang dijaga melalui pertemuan sederhana, percakapan, dan rencana untuk berkumpul lagi. Dalam cerita Denpus, detail waktu dan tempat itu menjadi pengingat personal tentang Yadi, tanpa mengubah ajakan ngopi tersebut menjadi sesuatu yang telah diketahui sebagai perpisahan terakhir. Ia hanya mengenangnya sebagai salah satu kesempatan bertemu yang saat itu belum terlaksana.
Menurut Denpus, Yadi Timo jarang memperlihatkan kondisi kesehatannya ketika berkumpul dengan teman-teman. Dalam pertemuan santai, termasuk saat mereka menikmati kopi bersama, Yadi tetap tampak seperti biasa dan tidak banyak membicarakan apa yang sedang ia rasakan. Karena itu, para sahabatnya tidak selalu mengetahui keadaan kesehatannya secara terperinci. Momen kebersamaan lebih sering diisi obrolan dan kegiatan yang mereka nikmati bersama, sementara persoalan kesehatan bukan hal yang selalu disampaikan Yadi kepada teman-temannya.
Denpus menyebut Yadi memiliki riwayat gula darah tinggi dan dikenal gemar makan. Kebiasaan tersebut membuat sahabat-sahabatnya kerap mengingatkan agar ia lebih memperhatikan pola makan. Nasihat itu disampaikan sebagai bentuk kepedulian, terutama karena mereka mengetahui riwayat gula darah Yadi. Meski begitu, Denpus memahami bahwa mengingatkan seseorang tidak berarti dapat mengatur sepenuhnya pilihan makanan yang disukainya. Dalam pergaulan mereka, perhatian terhadap kebiasaan makan menjadi salah satu cara sederhana untuk menunjukkan kepedulian kepada Yadi.
Yadi juga pernah bercerita kepada Denpus bahwa kadar gula darahnya turun setelah menjalani pemeriksaan. Denpus menyampaikan cerita tersebut sebagaimana yang pernah ia dengar langsung dari sahabatnya, tanpa menambahkan penjelasan atau kesimpulan medis lain. Cerita itu menjadi bagian dari percakapan mereka mengenai kesehatan, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa Yadi tetap menyukai makanan yang ia gemari. Denpus mengaku tidak bisa sepenuhnya melarang Yadi menikmati makanan tersebut. Ia hanya dapat mengingatkan, sembari berharap Yadi lebih memperhatikan kesehatannya dan mempertimbangkan nasihat dari orang-orang terdekat.
Perhatian itu juga menunjukkan kedekatan Denpus dan Yadi. Sebagai sahabat, Denpus tidak ingin menghilangkan hal-hal yang disukai Yadi, tetapi berharap ia lebih menjaga diri. Ia menyadari bahwa keputusan mengenai makanan tetap berada pada Yadi sendiri. Karena itu, yang bisa dilakukan teman-temannya adalah menyampaikan pengingat dengan baik dan tetap menemani dalam kebersamaan, termasuk saat ngopi. Denpus mengungkapkan harapan agar Yadi lebih memberi perhatian pada kesehatan, tanpa bermaksud melarangnya secara mutlak atau mengubah kebiasaan mereka berkumpul. Kisah tersebut memperlihatkan bahwa di balik pertemuan santai, ada kepedulian sahabat yang hadir melalui perhatian dan pengingat sederhana.Bagi Denpus, warung kopi bukan sekadar tempat untuk duduk dan menikmati secangkir kopi. Tempat itu menyimpan kenangan kebersamaan dengan Yadi Timo, terutama saat mereka bertemu dan berbincang santai. Di sela kegiatan masing-masing, ajakan untuk ngopi memberi kesempatan bagi mereka untuk saling menyapa, bertukar kabar, dan kembali merasakan kedekatan sebagai sahabat.
Percakapan mereka biasanya menyentuh berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka berbicara tentang pekerjaan, keluarga, serta anak-anak Yadi yang masih bersekolah. Yadi juga bercerita mengenai kegiatan bisnisnya di Indramayu. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari obrolan yang mengalir ketika mereka berkumpul, tanpa perlu suasana formal ataupun agenda khusus. Bagi Denpus, pertemuan semacam itu memberi ruang untuk mengetahui kabar satu sama lain secara langsung.
Denpus menilai ajakan ngopi dari Yadi sebagai cara untuk melepas rindu kepada teman-temannya sekaligus bertukar cerita. Di tengah kesibukan dan urusan keluarga maupun pekerjaan, sebuah pertemuan sederhana dapat menjadi kesempatan untuk menjaga hubungan. Karena itu, warung kopi terasa lebih berarti daripada sekadar tempat berkumpul: di sana tersimpan percakapan dan kebersamaan yang kini dikenang Denpus.
Ajakan Yadi untuk bertemu terasa semakin membekas bagi Denpus.
Baca juga: Doddy Katamsi Tetap Manggung Sebelum Jalani Perawatan Intensif 45 Hari | Yadi Timo Wafat dalam Perjalanan ke Rumah Sakit setelah Mengeluh Sakit Perut | Kepergian Yadi Timo Usai Malam Berkumpul dengan Rekan-rekannya



































