Rano Karno Ajak Raja dan Sultan Nusantara Hadiri 500 Tahun Jakarta

oleh -493 Dilihat
oleh
Rano Karno Ajak Raja dan Sultan Nusantara Hadiri 500 Tahun Jakarta

Jakarta | Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengundang para raja dan sultan dari seluruh Nusantara untuk hadir dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-500 Jakarta pada 2027. Undangan tersebut menempatkan para pemimpin kerajaan dan adat sebagai tamu penting dalam momentum bersejarah bagi ibu kota. Perayaan lima abad Jakarta bukan hanya penanda perjalanan panjang sebuah kota, tetapi juga kesempatan untuk mempertemukan beragam unsur kebudayaan Indonesia. Dengan mengajak para raja dan sultan, Rano menunjukkan bahwa peringatan ini ingin melibatkan tokoh-tokoh yang memiliki hubungan erat dengan tradisi dan sejarah di berbagai wilayah Nusantara. Kehadiran mereka diharapkan menjadi bagian dari perayaan tersebut.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menyiapkan acara khusus untuk menyambut para tamu dari berbagai daerah itu. Rencana tersebut mencerminkan perhatian pemerintah daerah terhadap undangan yang disampaikan Rano, sekaligus memberi ruang bagi para raja dan sultan untuk hadir dalam peringatan bersejarah tersebut. Meski rincian mengenai bentuk maupun susunan acara belum disampaikan, penyambutan khusus menunjukkan bahwa kehadiran mereka dipandang penting. Pemerintah Provinsi DKI akan menyiapkan penyambutan dalam rangkaian perayaan, tanpa mengubah tujuan utama peringatan, yakni menandai perjalanan Jakarta hingga mencapai usia lima abad. Persiapan itu juga menjadi bagian dari upaya menjadikan momentum 2027 bermakna bagi warga dan para undangan.

Rano berharap perayaan lima abad dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya ibu kota. Jakarta memiliki keberagaman budaya yang dapat ditampilkan dan dikenalkan kepada para tamu, termasuk kepada raja dan sultan yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Dengan demikian, undangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehadiran dalam sebuah perayaan, tetapi juga membuka peluang untuk memperluas pemahaman tentang identitas budaya Jakarta. Harapan itu memberi makna lebih luas pada peringatan HUT ke-500: selain menengok perjalanan kota, momentum ini dapat mengangkat kebudayaan ibu kota di hadapan para pemimpin dari berbagai daerah. Rencana penyambutan khusus dan undangan kepada para raja serta sultan menjadi bagian dari upaya tersebut.

Rano Karno menyampaikan ajakan kepada para raja dan sultan dari berbagai daerah di Nusantara saat menghadiri Karnaval Sarendo-Rendo di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Minggu (18/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengundang mereka untuk kembali datang ke ibu kota dalam rangka menyambut usia Jakarta yang akan mencapai 500 tahun pada tahun berikutnya. Ajakan itu sekaligus menempatkan perayaan setengah milenium Jakarta sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan ibu kota dan beragam komunitas budaya di Indonesia.

Karnaval Sarendo-Rendo digelar untuk menyambut Hari Kebudayaan Nasional sekaligus memperkenalkan keberagaman budaya yang hidup di Jakarta. Kawasan Bundaran Hotel Indonesia menjadi ruang pertemuan bagi warga dan pengunjung untuk menyaksikan kegiatan yang menampilkan kekayaan tradisi. Melalui acara tersebut, penyelenggara mengangkat kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan kota, bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu. Berbagai unsur budaya dapat hadir berdampingan dan menunjukkan karakter Jakarta sebagai tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang.

Dalam pernyataannya, Rano menyebut Jakarta akan berusia 500 tahun pada tahun depan dan berharap para raja serta sultan Nusantara memenuhi undangan untuk kembali ke ibu kota. Kehadiran para pemimpin adat dan kerajaan itu diharapkan menjadi bagian dari peringatan yang melibatkan berbagai daerah, sekaligus memperlihatkan ikatan sejarah dan kebudayaan yang terbentuk Jakarta dan wilayah lain di Indonesia. Undangan tersebut disampaikan dalam suasana karnaval yang terbuka bagi masyarakat, sejalan dengan upaya memperkenalkan keragaman budaya kepada khalayak luas. Momentum menuju 500 tahun Jakarta juga memberi ruang untuk menegaskan bahwa identitas kota dibangun oleh banyak tradisi dan kontribusi masyarakat Nusantara. Dengan demikian, ajakan itu tidak hanya berkaitan dengan acara peringatan, tetapi juga dengan pengakuan terhadap warisan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan bersama di ibu kota.

Rano Karno memandang Jakarta sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok dan tradisi, sehingga identitas budaya ibu kota tidak dapat dibatasi hanya pada kebudayaan Betawi. Betawi tetap menjadi bagian penting dari karakter Jakarta, tetapi kehidupan kota juga dibentuk oleh masyarakat dari beragam latar belakang yang datang, menetap, dan membawa kebiasaan serta kesenian masing-masing. Keragaman itu, menurut Rano, merupakan kenyataan yang melekat pada Jakarta dan patut ditampilkan sebagai bagian dari wajah kota.

Ia mencontohkan kebudayaan Jawa, Bugis, Cina, Ambon, dan Bali sebagai sejumlah tradisi yang hadir di Jakarta. Ragam tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan ibu kota berkembang melalui perjumpaan antarkomunitas, bukan melalui satu identitas tunggal. Setiap kelompok memiliki ekspresi seni dan warisan budaya yang dapat memperkaya kehidupan bersama. Dengan memberi ruang bagi berbagai tradisi, Jakarta dapat menggambarkan masyarakatnya secara lebih utuh sekaligus mendorong warga untuk mengenal kebudayaan yang hidup berdampingan di sekitarnya.

Untuk menampilkan keragaman itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan program “Jakarta Penuh Warna” setiap dua bulan sekali. Program ini menjadi agenda pertunjukan yang menghadirkan beragam kebudayaan di ibu kota. Melalui kegiatan berkala tersebut, masyarakat memperoleh kesempatan untuk menyaksikan berbagai bentuk ekspresi seni, sementara kelompok budaya dapat memperkenalkan tradisi mereka kepada khalayak yang lebih luas. Penyelenggaraan rutin juga memberi kesinambungan bagi upaya menampilkan kekayaan budaya Jakarta, bukan sekadar menjadikannya tontonan pada kesempatan tertentu.

Menurut Rano, hampir seluruh sanggar di Jakarta dilibatkan dalam program tersebut. Pelibatan ini diharapkan membuka ruang bagi para pelaku seni untuk menyalurkan kreativitas dan menunjukkan karya mereka. Pada saat yang sama, kegiatan itu dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan apresiasi terhadap kebudayaan di tengah masyarakat. Kehadiran sanggar dari berbagai latar belakang membantu memperlihatkan bahwa kehidupan seni Jakarta memiliki banyak suara dan bentuk. Dengan demikian, “Jakarta Penuh Warna” bukan hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga mendukung interaksi budaya dan memberi pengakuan kepada komunitas yang turut membentuk identitas ibu kota.

Dalam penjelasannya, Rano Karno mengaitkan penyelenggaraan kegiatan kebudayaan di sekitar Bundaran HI dengan bergeraknya aktivitas ekonomi di Jakarta. Menurut dia, ruang publik yang ramai oleh pertunjukan, pertemuan, dan agenda seni dapat menarik warga maupun pengunjung dari luar kota. Kehadiran orang dalam jumlah besar kemudian membuka peluang bagi usaha di sekitarnya, mulai dari pedagang makanan, transportasi, hingga layanan akomodasi. Ia menilai kegiatan semacam itu bukan hanya memberi ruang bagi ekspresi budaya, tetapi juga menghadirkan perputaran pengeluaran yang dapat dirasakan oleh berbagai pelaku usaha. Dalam konteks tersebut, Bundaran HI berfungsi sebagai titik temu yang menghubungkan agenda publik dengan kegiatan komersial perkotaan.

Rano juga menyebut rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan peringatan 500 tahun Jakarta sebagai bagian dari upaya menghadirkan keramaian di kawasan tersebut. Agenda budaya, menurutnya, dapat mendorong orang untuk datang, tinggal lebih lama, dan menggunakan layanan yang tersedia di sekitar lokasi. Dampak yang ia gambarkan mencakup sektor perhotelan, yang berpotensi menerima manfaat ketika jumlah pengunjung meningkat. Ia menyampaikan bahwa okupansi hotel yang sebelumnya berada di kisaran 40 persen diklaim naik menjadi sekitar 80 hingga 90 persen. Angka itu ia gunakan untuk menjelaskan hubungan berlangsungnya kegiatan dan meningkatnya permintaan terhadap penginapan, khususnya selama rangkaian acara menarik pengunjung ke pusat kota.

Meski demikian, angka okupansi tersebut perlu dipahami sebagai pernyataan Rano, bukan sebagai data yang telah diverifikasi secara independen dalam penjelasan itu. Ia tidak memaparkan rincian tentang hotel yang menjadi acuan, periode pembanding, ataupun metode penghitungan tingkat hunian.

Baca juga: Namu Balai Kota Buka Ruang bagi Warga Mengenal Pemerintahan dan Sejarah Jakarta | Lima Agenda Jakarta: Masjid Apung, Koperasi, Sekolah, dan Sampah | BNN dan Bareskrim Kerahkan 462 Personel dalam Razia Tempat Hiburan di Jakarta