Guterres Soroti Batik dan Peran Indonesia dalam Multilateralisme

oleh -145 Dilihat
oleh
Guterres Soroti Batik dan Peran Indonesia dalam Multilateralisme

Jakarta | Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengaku terkesima oleh batik Indonesia. Ia menilai kain tradisional tersebut bukan sekadar busana atau karya seni, melainkan cerminan nyata kekayaan budaya Indonesia dan warisan yang diteruskan dari generasi ke generasi. Kekaguman itu disampaikan dalam acara Foreign Policy Circle Talks yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada Senin, 19 Oktober.

Dalam kesempatan tersebut, Guterres menyoroti beragam corak dan makna yang melekat pada batik. Motifnya memperlihatkan kreativitas masyarakat sekaligus menggambarkan nilai, tradisi, dan identitas yang berkembang di berbagai daerah. Karena itu, batik dapat menjadi cara yang mudah dipahami untuk mengenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia. Setiap lembar kain menyimpan cerita tentang keterampilan, pengetahuan, serta hubungan erat kebudayaan dan kehidupan sehari-hari.

Pernyataan Guterres juga mengingatkan bahwa batik Indonesia telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda umat manusia. Pengakuan tersebut menempatkan batik dalam warisan budaya yang bernilai bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi Indonesia. Penetapan UNESCO sekaligus menegaskan pentingnya menjaga proses dan pengetahuan tradisional yang membuat batik tetap hidup, termasuk teknik membatik, pemilihan motif, serta makna yang diwariskan bersama praktiknya.

Apresiasi dari pemimpin PBB itu memberi perhatian internasional terhadap kekayaan budaya Indonesia. Namun, pengakuan global bukanlah akhir dari upaya pelestarian. Keberlanjutan batik bergantung pada para perajin, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat yang terus mempelajari serta menggunakan karya tersebut dengan menghargai asal-usulnya. Dukungan terhadap perajin dan ruang bagi generasi muda untuk mengenal batik juga membantu tradisi ini berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Komentar Guterres menunjukkan bahwa budaya dapat membuka ruang dialog antarbangsa. Batik, dengan keragaman motif dan sejarahnya, memperkenalkan identitas Indonesia sekaligus memperlihatkan nilai universal tentang kreativitas dan warisan bersama. Dalam forum yang membahas hubungan luar negeri itu, kekaguman terhadap batik menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak hanya berlangsung melalui kebijakan, tetapi juga melalui pertukaran budaya yang memperkuat pemahaman dan penghormatan lintas masyarakat.

Dalam pandangan António Guterres, batik menunjukkan bagaimana tradisi budaya dapat terbentuk melalui pertemuan beragam pengaruh. Ia menyoroti perjalanan batik sebagai warisan yang berkembang dalam hubungan dengan berbagai masyarakat dan kebudayaan, bukan sebagai hasil dari satu sumber tunggal. Pengaruh Arab, China, Jepang, Asia Selatan, dan Eropa disebut sebagai bagian dari pertemuan tersebut. Ragam pengaruh ini hadir dalam proses panjang yang membentuk tradisi batik, memperlihatkan adanya pertukaran serta interaksi lintas budaya. Dengan menyebut sumber-sumber itu, Guterres menggambarkan batik sebagai contoh nyata bagaimana unsur dari berbagai tempat dapat hadir berdampingan dalam sebuah karya budaya yang memiliki sejarah dan makna tersendiri.

Namun, keterbukaan terhadap beragam pengaruh tidak menghapus keterkaitan batik dengan identitas budaya Indonesia. Batik tetap berakar dalam kehidupan dan tradisi masyarakat Indonesia, sekaligus menjadi bagian penting dari pengenalan terhadap kebudayaan negeri ini. Pengaruh dari luar tidak menjadikannya kehilangan identitas atau sekadar salinan budaya lain. Sebaliknya, kisah batik memperlihatkan bagaimana suatu tradisi dapat berkembang melalui hubungan dengan dunia yang lebih luas, sementara hubungannya dengan masyarakat yang mewariskan dan menghidupkannya tetap kuat. Dalam uraian Guterres, unsur-unsur Arab, China, Jepang, Asia Selatan, dan Eropa disebut sebagai pengaruh yang ikut membentuk tradisi tersebut, bukan sebagai pengganti keterikatan batik dengan Indonesia. Pembedaan ini penting untuk memahami batik sebagai warisan budaya yang sekaligus terbuka terhadap perjumpaan dan memiliki identitas yang jelas.

Guterres juga menghubungkan pengalaman batik dengan pelajaran bagi multilateralisme. Pesan yang disampaikan bertolak dari kenyataan bahwa batik terbentuk melalui pertemuan berbagai pengaruh, tanpa kehilangan kaitannya dengan identitas Indonesia. Pengalaman tersebut, menurut pesannya, memberi pelajaran bagi kerja sama multilateral. Dengan demikian, batik menjadi titik berangkat untuk menyampaikan bahwa perjumpaan berbagai pihak dapat menjadi bagian dari suatu tradisi bersama. Pesan itu tidak meniadakan asal-usul maupun identitas yang melekat, tetapi mengingatkan bahwa interaksi lintas budaya turut hadir dalam pembentukannya. Melalui contoh batik, Guterres menekankan hubungan keragaman pengaruh, identitas budaya, dan multilateralisme, tanpa menyamakan tradisi tersebut dengan keseluruhan praktik hubungan antarnegara. Batik tetap merupakan warisan Indonesia, sementara kisah terbentuknya menyampaikan pelajaran yang ia kaitkan dengan multilateralisme.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres memuji Indonesia sebagai salah satu pilar penting multilateralisme. Pengakuan ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang berperan aktif dalam mendorong kerja sama antarbangsa melalui dialog, kemitraan, dan penghormatan terhadap lembaga internasional. Dalam pandangan Guterres, kontribusi Indonesia tidak hanya terlihat dari keanggotaannya di berbagai forum, tetapi juga dari kesediaannya membantu membangun kesepahaman di tengah perbedaan kepentingan. Peran tersebut relevan ketika tantangan global menuntut negara-negara bekerja bersama, bukan bertindak sendiri-sendiri. Apresiasi itu sekaligus mencerminkan kepercayaan terhadap diplomasi Indonesia dan kemampuannya mengambil bagian dalam upaya kolektif untuk menjaga tatanan internasional yang lebih damai dan inklusif.

Guterres juga mengakui kepemimpinan Indonesia dalam menjalin serta memperkuat hubungan ASEAN dan PBB. Hubungan kedua organisasi ini penting karena mempertemukan kerja sama regional Asia Tenggara dengan agenda dan kapasitas global PBB. Indonesia dinilai berkontribusi dalam mendorong kemitraan yang lebih erat, sehingga dialog antarlembaga dapat diterjemahkan menjadi kolaborasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kemitraan ASEAN-PBB mencakup beberapa bidang utama, lain perdamaian dan keamanan, pembangunan, serta hak asasi manusia. Cakupan ini menunjukkan bahwa kerja sama tidak terbatas pada respons terhadap konflik atau ancaman keamanan, tetapi juga menyentuh kebutuhan jangka panjang, termasuk kemajuan pembangunan dan perlindungan martabat manusia. Dengan memperkuat hubungan tersebut, Indonesia membantu membuka ruang koordinasi yang lebih konsisten prioritas kawasan dan komitmen internasional.

Penilaian Guterres turut menyoroti reputasi Indonesia sebagai pembangun jembatan diplomatik. Indonesia dikenal dan dihormati karena mampu mendorong komunikasi serta mencari titik temu, baik di lingkungan PBB maupun di luar PBB. Peran sebagai penghubung menjadi bernilai ketika perbedaan pandangan menghambat tercapainya keputusan bersama. Melalui pendekatan dialog, Indonesia dapat membantu menjaga saluran komunikasi, mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan, dan mendukung penyelesaian yang dapat diterima secara luas. Reputasi tersebut memperkuat posisinya dalam diplomasi multilateral sekaligus melengkapi kontribusinya terhadap kemitraan ASEAN-PBB. Pujian Guterres, dengan demikian, menggambarkan Indonesia bukan hanya sebagai peserta dalam forum global, melainkan sebagai mitra yang turut membentuk kerja sama dan mendorong solidaritas internasional. Pengakuan ini juga menegaskan pentingnya kepemimpinan yang mampu menjembatani kebutuhan kawasan dengan tujuan bersama komunitas dunia.

Antonio Guterres menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia yang terus berlanjut dalam operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Partisipasi tersebut mencerminkan komitmen negara ini terhadap multilateralisme dan upaya bersama menjaga perdamaian di berbagai kawasan. Menurut Sekretaris Jenderal PBB itu, keterlibatan Indonesia bukan sekadar dukungan simbolis, melainkan sumbangan nyata melalui personel yang bertugas di lapangan, bekerja bersama pasukan dari negara lain untuk membantu melindungi warga sipil dan mendukung terciptanya stabilitas.

Saat ini, sekitar 2.000 personel Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, bertugas dalam pasukan penjaga perdamaian PBB. Kehadiran mereka menunjukkan besarnya kapasitas Indonesia dalam mendukung misi internasional serta pentingnya keterwakilan beragam negara dan gender dalam pekerjaan tersebut. Guterres menilai partisipasi berkelanjutan seperti ini sangat berarti, terutama ketika misi menghadapi tantangan keamanan, kebutuhan kemanusiaan, dan tuntutan untuk membangun kepercayaan dengan masyarakat setempat.

Baca juga: Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB: Apresiasi Guterres dan Peran Diplomasi Multilateral