Jakarta | Realisasi investasi selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran tercatat mencapai Rp3.923,2 triliun. Capaian tersebut menggambarkan akumulasi penanaman modal dalam periode yang dihitung dan menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi nasional. Nilainya setara dengan 30,1% dari target investasi nasional untuk periode 2025–2029, yang ditetapkan sebesar Rp13.032,8 triliun. Perbandingan ini menunjukkan posisi realisasi terhadap sasaran lima tahunan, bukan bahwa target periode tersebut telah tercapai. Angka kumulatif itu disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, di Istana Negara pada Selasa, 20 Oktober 2026. Penyampaian tersebut menempatkan capaian investasi dan dampaknya pada tenaga kerja sebagai pokok laporan pemerintah mengenai perkembangan penanaman modal selama dua tahun.
Selain nilai modal yang masuk, realisasi tersebut tercatat menyerap 5.485.944 tenaga kerja Indonesia. Jumlah itu mencerminkan peran investasi dalam membuka kesempatan kerja dan menghubungkan kegiatan usaha dengan kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri. Informasi penyerapan tenaga kerja disampaikan bersamaan dengan nilai investasi oleh Rosan. Dengan demikian, capaian ini memuat dua ukuran penting: besaran investasi yang terealisasi dan jumlah pekerja Indonesia yang terserap. Data tersebut memberikan gambaran tentang jangkauan ekonomi dari kegiatan penanaman modal, tanpa mengubah perbandingan capaian dua tahun dan target nasional yang mencakup 2025–2029. Nilai 30,1% merujuk pada porsi Rp3.923,2 triliun terhadap target sebesar Rp13.032,8 triliun, sementara angka tenaga kerja menunjukkan jumlah serapan yang dilaporkan untuk realisasi tersebut.
Target investasi nasional hingga 2029 menjadi acuan untuk membaca capaian berikutnya. Karena realisasi yang diumumkan masih merupakan bagian dari target lima tahunan, perkembangan pada periode selanjutnya akan menentukan seberapa dekat sasaran itu dapat dicapai. Angka yang disampaikan di Istana Negara memberi gambaran mengenai posisi saat ini, sekaligus menyediakan dasar untuk memantau kemajuan investasi dari waktu ke waktu. Di sisi lain, penyerapan hampir 5,5 juta tenaga kerja Indonesia menegaskan bahwa penilaian atas realisasi investasi tidak hanya bertumpu pada nilai rupiah, tetapi juga pada dampaknya terhadap kesempatan kerja. Keterangan resmi tersebut merangkum hasil yang dicatat selama dua tahun pemerintahan dan menempatkannya dalam konteks sasaran nasional yang lebih panjang. Angka-angka ini menjadi informasi utama mengenai skala realisasi dan serapan tenaga kerja yang dilaporkan pemerintah pada 20 Oktober 2026.
Angka investasi sebesar Rp3.923,2 triliun yang dikaitkan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran perlu dibaca berdasarkan rentang waktu yang digunakan dalam bahan paparan. Perhitungan tersebut tidak mengambil seluruh periode tahun kalender 2024. Sebagai gantinya, titik awal yang dipakai adalah triwulan IV 2024, yakni tiga bulan terakhir pada tahun itu. Penjelasan mengenai dasar waktu ini penting agar angka yang disampaikan tidak dipahami sebagai akumulasi investasi sejak Januari 2024, ketika pemerintahan baru belum berjalan.
Rosan menerangkan bahwa penghitungan dimulai pada triwulan IV 2024, bukan pada awal tahun tersebut. Dengan demikian, data investasi selama triwulan I hingga triwulan III 2024 tidak termasuk dalam cakupan angka dua tahun itu. Pemilihan periode ini membuat perhitungan lebih selaras dengan masa pemerintahan yang sedang dievaluasi, sekaligus memberi batas yang jelas untuk membaca capaian. Karena itu, ketika membandingkan angka tersebut dengan data tahunan atau periode pemerintahan lain, rentang pengukurannya perlu diperiksa terlebih dahulu.
Secara keseluruhan, periode yang dihitung mencakup triwulan IV 2024, seluruh empat triwulan sepanjang 2025, serta tiga triwulan pertama 2026. Artinya, data berakhir pada triwulan III 2026 dan belum memasukkan triwulan IV pada tahun tersebut. Susunan periode ini menjadi dasar penyebutan capaian selama dua tahun dalam bahan paparan. Periode itu tidak sepenuhnya berimpit dengan dua tahun kalender yang utuh, melainkan merangkum bagian akhir 2024, satu tahun penuh 2025, dan sebagian besar 2026. Memahami batas tersebut membantu pembaca menafsirkan total investasi secara tepat dan membedakan angka kumulatif berdasarkan masa pemerintahan dari statistik yang dihitung menurut tahun kalender. Keterangan rentang waktu juga memberi konteks saat capaian dibandingkan dengan target, realisasi pada periode sebelumnya, maupun perkembangan investasi pada tahun berjalan. Oleh sebab itu, penyebutan periode perlu menyertai angka utama dalam pemberitaan, sehingga pembaca mengetahui dengan jelas kapan data mulai dan kapan penghitungan berakhir. Dengan acuan tersebut, nilai Rp3.923,2 triliun merujuk pada rentang yang dinyatakan, bukan keseluruhan tahun 2024 hingga 2026.
Realisasi investasi selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran tercatat sebesar Rp3.923,2 triliun. Berdasarkan pembagian wilayah yang disampaikan, investasi di luar Jawa mencapai Rp2.031,0 triliun atau setara dengan 51,8% dari total tersebut. Sementara itu, investasi di Jawa tercatat Rp1.892,2 triliun, dengan porsi sebesar 48,2%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh realisasi investasi berada di luar Jawa.
Perbedaan nilai kedua kawasan tercatat sebesar Rp138,8 triliun. Jumlah investasi di luar Jawa tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi di Jawa. Selisih ini sejalan dengan perbedaan porsi masing-masing wilayah terhadap total investasi, yakni 51,8% untuk luar Jawa dan 48,2% untuk Jawa. Dengan demikian, berdasarkan angka yang dipaparkan, kontribusi luar Jawa lebih besar.
Pembagian berdasarkan wilayah tersebut memberikan gambaran mengenai sebaran geografis investasi selama periode dua tahun pemerintahan. Dari total Rp3.923,2 triliun, Rp2.031,0 triliun tercatat di luar Jawa, sedangkan Rp1.892,2 triliun tercatat di Jawa. Penyajian nominal dan persentase secara berdampingan membantu menunjukkan besaran realisasi pada masing-masing kelompok wilayah tanpa mengubah nilai total yang dilaporkan.
Komposisi 51,8% berbanding 48,2% memperlihatkan bahwa porsi luar Jawa unggul 3,6 poin persentase dibandingkan porsi Jawa. Kedua wilayah tetap mencakup keseluruhan realisasi investasi yang disebutkan, dengan bagian masing-masing jika dijumlahkan mencapai 100%. Perbandingan ini menempatkan investasi luar Jawa sebagai bagian yang lebih besar, meskipun selisihnya terhadap Jawa tidak mengubah fakta bahwa realisasi di kedua kawasan sama-sama mendekati separuh total.
Dalam membaca data tersebut, penting untuk membedakan nilai nominal dan persentase. Nominal menunjukkan jumlah investasi yang tercatat pada tiap kelompok wilayah, sedangkan persentase memperlihatkan bagian wilayah itu dari total Rp3.923,2 triliun. Keduanya menyampaikan gambaran yang sama: luar Jawa mencatat realisasi Rp2.031,0 triliun atau 51,8%, sementara Jawa mencatat Rp1.892,2 triliun atau 48,2%. Jadi, porsi luar Jawa lebih besar berdasarkan angka yang disampaikan.
Dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, total investasi yang tercatat mencapai Rp3.923,2 triliun. Angka tersebut berasal dari dua sumber utama, yakni penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA). Berdasarkan rinciannya, PMDN menyumbang Rp1.998,7 triliun atau 50,9% dari keseluruhan realisasi. Sementara itu, PMA mencapai Rp1.924,5 triliun atau 49,1%. Kedua komponen tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas investasi nasional ditopang oleh pelaku domestik maupun investor dari luar negeri.
Besaran kontribusi PMDN dan PMA itu menunjukkan komposisi yang relatif seimbang. Selisih nilai keduanya sekitar Rp74,2 triliun, dengan porsi investasi dalam negeri sedikit lebih besar daripada investasi asing. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan bahwa kontribusi modal domestik dan asing berbanding tipis.
Baca juga: Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Cara Capaian Program Disampaikan kepada Publik | Prabowo Minta Ekspor Nasional Diperkuat, Satgas Tangani Penghambat Usaha | Donasi Elon Musk Rp2,85 Triliun Dongkrak Rekor Dana Super PAC Republik AS



































