Modifikasi Cuaca Tekan Asap Karhutla, Hujan Mulai Turun di Sejumlah Daerah

oleh -135 Dilihat
oleh
Modifikasi Cuaca Tekan Asap Karhutla, Hujan Mulai Turun di Sejumlah Daerah

Kabupaten Kotawaringin Timur | Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan penggunaan dry ice dan natrium klorida (NaCl) dinilai efektif menekan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Menurut dia, pendekatan tersebut dijalankan secara bertahap, dengan sasaran awal mengurangi kepadatan asap sebelum upaya mendorong hujan dilakukan. Prasetyo menyampaikan keterangan itu kepada wartawan pada Selasa, 20 Oktober 2026. Ia juga melaporkan hujan mulai turun di beberapa kabupaten, meskipun upaya penanganan masih diperlukan untuk menghadapi dampak karhutla.

Pada tahap pertama, dry ice digunakan untuk membantu memecah atau mengurai lapisan asap yang menyelimuti wilayah terdampak. Kabut asap yang pekat dapat menghalangi sinar matahari mencapai permukaan dan atmosfer secara optimal. Dengan berkurangnya kepadatan asap, sinar matahari diharapkan dapat menembus lapisan tersebut dan membantu proses pembentukan benih awan hujan. Tahap ini menjadi bagian dari rangkaian OMC, bukan tindakan yang berdiri sendiri. Pelaksanaannya diarahkan untuk menciptakan kondisi yang lebih mendukung terbentuknya awan, sehingga langkah berikutnya dapat dilakukan secara lebih terarah.

Setelah upaya mengurai asap, penyemaian NaCl dilakukan untuk mendorong turunnya hujan. Garam tersebut disebarkan sebagai bahan semai awan, dengan harapan proses di dalam awan berkembang hingga menghasilkan presipitasi. Hujan yang turun dapat membantu membasahi lahan dan vegetasi, sekaligus mendukung pemadaman titik api serta mengurangi sumber asap. Namun, hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang sesuai, sehingga pelaksanaan modifikasi cuaca perlu menyesuaikan keadaan setempat. Laporan mengenai hujan di beberapa kabupaten menjadi perkembangan awal yang disampaikan Prasetyo. Pemerintah tetap perlu memantau wilayah terdampak dan menilai perkembangan cuaca, karena hujan di sebagian daerah belum otomatis mengakhiri karhutla maupun menghapus seluruh kabut asap. Urutan penggunaan dry ice dan NaCl tersebut menunjukkan strategi yang menggabungkan penanganan asap dengan upaya meningkatkan peluang turunnya hujan, sebagai bagian dari respons terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan berlangsung sejak 16 Oktober 2026 sebagai upaya membantu menekan asap karhutla dan mendorong terbentuknya hujan. Dalam pelaksanaan operasi, petugas menggunakan 1.600 kilogram natrium klorida (NaCl) dan 4.000 kilogram dry ice. Bahan semai tersebut digunakan untuk mendukung proses pembentukan awan hujan, dengan harapan kondisi atmosfer lebih kondusif bagi turunnya hujan di wilayah yang terdampak asap.

Dukungan tidak hanya dilakukan melalui posko yang berada di Palembang. Posko Lampung juga membantu penyemaian dry ice untuk mengantisipasi kendala jarak pandang di Palembang. Pengiriman dukungan dari Lampung menjadi bagian dari langkah koordinasi lintas wilayah, terutama ketika kondisi penerbangan dan jangkauan operasi membutuhkan penguatan dari posko lain. Keterlibatan dua posko tersebut memungkinkan penyemaian dilakukan secara lebih terarah sesuai kebutuhan operasi.

Operasi tambahan dari Lampung berlangsung pada 15–18 Oktober 2026. Dalam rentang waktu tersebut, kegiatan dilaksanakan sebanyak enam sorti dengan total penggunaan 4.800 kilogram dry ice. Jumlah itu merupakan dukungan tambahan yang dicatat dalam rangkaian kegiatan dari Lampung, di samping bahan yang digunakan dalam OMC Sumatera Selatan. Pelaksanaan beberapa sorti memberi ruang bagi tim untuk menyesuaikan waktu penyemaian dengan kondisi awan dan kebutuhan di lapangan.

Prasetyo melaporkan adanya perubahan pada sejumlah indikator kualitas udara dan kondisi penglihatan. Konsentrasi PM 2.5 disebut menurun, sementara jarak pandang meningkat. Perubahan tersebut menjadi hasil yang dipantau setelah rangkaian upaya modifikasi cuaca dilakukan, meskipun kondisi dapat berbeda antarwilayah dan berubah mengikuti cuaca. Penurunan partikel halus serta membaiknya jarak pandang penting bagi masyarakat, khususnya untuk aktivitas harian dan keselamatan perjalanan.

Hujan yang mulai turun di sejumlah daerah menjadi perkembangan yang diharapkan dapat membantu mengurangi dampak asap, tetapi pemantauan tetap diperlukan. Operasi dari Palembang dan dukungan Lampung menunjukkan bahwa penanganan karhutla melalui modifikasi cuaca melibatkan koordinasi, ketersediaan bahan semai, serta pengamatan kondisi atmosfer. Data penggunaan bahan dan hasil yang dilaporkan menjadi bagian dari evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk kebutuhan operasi tambahan apabila situasi di Sumatera Selatan masih memerlukan dukungan.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah berlangsung sejak 26 Agustus 2026 sebagai upaya mendorong terbentuknya hujan di wilayah yang terdampak karhutla. Hingga periode pelaporan, pelaksanaan operasi mencakup 48 sorti dengan penggunaan 43.800 kilogram natrium klorida (NaCl). Menurut Prasetyo, volume curah hujan yang dihasilkan selama kegiatan tersebut mencapai 67,45 juta meter kubik. Capaian ini menjadi salah satu indikator dukungan OMC dalam membantu menekan potensi asap dan menjaga kondisi lingkungan di kawasan terdampak.

Dukungan juga diberikan oleh posko Kalimantan Selatan sejak 18 Oktober, setelah operasi di Kalimantan Tengah menghadapi kendala jarak pandang. Posko tersebut telah melaksanakan dua sorti dengan bahan semai berupa 800 kilogram dry ice dan 800 kilogram NaCl. Berdasarkan laporan petugas lapangan serta pengamatan dari penakar AWS/ARG, hujan tercatat di sejumlah kabupaten di Kalimantan Tengah, yakni Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kapuas, Gunung Mas, dan Barito Timur. Sebaran laporan ini menunjukkan bahwa hujan turun di beberapa kawasan yang menjadi perhatian operasi.

Di Kalimantan Selatan, penyemaian awan telah menggunakan 23.000 kilogram NaCl sejak 1 Oktober. Kegiatan tersebut didukung dua armada pesawat dan menghasilkan volume curah hujan sebesar 222,67 juta meter kubik. Hujan dilaporkan turun di Tabalong, Tapin, dan Barito Kuala. Data tersebut melengkapi catatan pelaksanaan OMC di provinsi ini, sekaligus menggambarkan cakupan operasi yang dijalankan untuk mendukung upaya pengendalian dampak karhutla.

Sementara itu, OMC di Kalimantan Barat telah berlangsung sejak 22 Agustus. Hingga laporan terbaru, operasi mencatat 107 sorti dengan penggunaan 98.800 kilogram NaCl. Volume curah hujan kumulatif yang tercatat mencapai 471,2 juta meter kubik. Pada 19 Oktober 2026, hujan dilaporkan di Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kayong Utara, Pontianak, Bengkayang, Kapuas Hulu, Kota Singkawang, dan Ketapang. Rangkaian data dari ketiga provinsi memperlihatkan pelaksanaan operasi, bahan semai yang digunakan, serta wilayah yang menerima hujan selama periode kegiatan.

Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah bekerja keras menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimbulkan asap di sejumlah daerah. Penanganan dilakukan melalui berbagai upaya yang berjalan bersamaan, dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan karakter kebakaran. Di darat, pasukan dikerahkan untuk membantu memadamkan titik api serta mencegah penjalaran ke area lain. Upaya ini melibatkan personel terkait dan relawan yang turut mendukung pekerjaan di lokasi. Kehadiran mereka diperlukan agar penanganan dapat menjangkau wilayah terdampak secara langsung, sementara koordinasi terus dilakukan mengikuti perkembangan keadaan.

Selain pengerahan pasukan darat, pemerintah menggunakan peralatan udara untuk mendukung upaya pemadaman. Bantuan dari udara menjadi bagian dari penanganan, terutama ketika kondisi lokasi membutuhkan dukungan tambahan bagi petugas di lapangan. Prasetyo juga mengingatkan bahwa karakteristik lahan gambut tidak sama dengan tanah mineral. Perbedaan itu berpengaruh terhadap penanganan api, sebab kebakaran pada lahan gambut memiliki kondisi yang berlainan dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan kebakaran di tanah mineral. Karena itu, langkah penanganan perlu memperhatikan jenis lahan serta keadaan setempat, bukan hanya melihat api yang tampak di permukaan. Pemerintah menggabungkan kerja pasukan darat dengan dukungan peralatan udara, sembari melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu memicu hujan.

Penanganan karhutla, menurut Prasetyo, tidak berhenti pada pemadaman dan OMC.

Baca juga: TNI Kirim 9,6 Ton Material Modifikasi Cuaca untuk Percepatan Penanganan Karhutla di Kalsel | Prakiraan Cuaca Malang pada 20 Oktober: Cerah, dengan Angin di Sejumlah Wilayah | Asap Karhutla Ganggu Aktivitas dan Kesehatan Warga Palembang