Jakarta | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan laporan mengenai dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada Presiden Prabowo Subianto pada Selasa, 20 Oktober 2026. Dalam penyampaian tersebut, DEN juga memberikan saran terkait distribusi program. Laporan dan masukan itu menjadi bagian dari pembahasan mengenai pelaksanaan MBG, dengan perhatian pada dampak program serta bagaimana penyalurannya dapat dilakukan. Informasi yang disampaikan kepada Presiden merangkum pemantauan DEN terhadap program, sekaligus menawarkan pertimbangan mengenai distribusi manfaatnya kepada para penerima.
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan hadir bersama Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu dalam pertemuan tersebut. Sejumlah anggota DEN juga turut serta, yaitu Arief Anshory, Haryanto Adikoesoemo, Heriyawan Irawan, Mochamad Firman Hidayat, dan Septian Hario Seto. Kehadiran pimpinan dan anggota dewan itu mencerminkan keterlibatan DEN dalam menyusun serta menyampaikan laporan dan saran kepada Presiden. Nama-nama tersebut merupakan peserta yang tercantum dalam informasi mengenai penyampaian laporan, tanpa keterangan tambahan mengenai peran khusus masing-masing dalam pertemuan.
Pokok laporan yang disampaikan mencakup dampak MBG, sedangkan saran yang menyertainya menyoroti distribusi program. Dengan demikian, pembahasan yang tercatat berfokus pada dua hal tersebut. Tidak terdapat rincian lebih lanjut dalam keterangan ini mengenai temuan spesifik, ukuran dampak, kelompok penerima tertentu, ataupun bentuk teknis saran distribusi yang diajukan. Karena itu, informasi tentang pertemuan ini dapat dipahami sebagai penyampaian laporan dan rekomendasi DEN kepada Presiden, bukan sebagai uraian terperinci atas hasil evaluasi atau keputusan lanjutan. Tanggal penyampaian, pihak yang hadir, pokok laporan, dan cakupan saran tersebut menjadi informasi utama yang disampaikan kepada publik dalam konteks ini.
Firman Hidayat menyampaikan temuan bahwa siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima program tersebut. Perbedaan ini menunjukkan adanya pola kehadiran yang lebih baik di kalangan penerima MBG. Temuan mengenai absensi menjadi salah satu gambaran yang disoroti dalam pembahasan tentang kehadiran dan semangat belajar siswa. Namun, keterangan tersebut perlu dipahami sesuai batas informasi yang disampaikan: tidak terdapat angka absensi tertentu yang disebutkan, sehingga besar selisihnya tidak dapat dijelaskan secara numerik.
Menurut Firman, kesenjangan kehadiran itu dinilai cukup besar terutama pada desil 1, yaitu kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Penekanan pada kelompok ini penting karena temuan tidak hanya membandingkan penerima dan bukan penerima secara umum, tetapi juga menyoroti bahwa perbedaan tampak nyata di siswa dari keluarga paling miskin. Dengan demikian, pembahasan absensi mengaitkan kondisi sosial ekonomi siswa dengan pola kehadiran yang dilaporkan, tanpa memberikan rincian jumlah hari, jumlah siswa, atau ukuran lain yang tidak tercantum dalam keterangan tersebut.
Temuan ini dapat menjadi bahan perhatian dalam menilai keterkaitan MBG dengan pengalaman siswa di sekolah, khususnya kehadiran. Meski penerima program dilaporkan lebih jarang absen, informasi yang tersedia tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa MBG merupakan satu-satunya penyebab perbedaan tersebut. Karena itu, uraian Firman sebaiknya dibaca sebagai temuan perbandingan, bukan sebagai kepastian mengenai hubungan sebab-akibat. Tidak ada rincian metode penelitian yang disertakan dalam keterangan ini, sehingga klaim yang dapat disampaikan terbatas pada pola yang disebutkan: absensi penerima lebih rendah, dan perbedaannya dianggap cukup besar pada desil 1. Penjelasan yang cermat menjaga agar temuan tersebut tetap informatif tanpa menambahkan angka ataupun asumsi. Pada saat yang sama, sorotan terhadap kelompok paling miskin menegaskan pentingnya memperhatikan pemerataan manfaat program dan kondisi yang mendukung siswa untuk hadir di sekolah secara konsisten. Data lebih lengkap diperlukan untuk memahami faktor lain yang mungkin berkaitan dengan kehadiran.Temuan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menunjukkan bahwa siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki semangat belajar yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang tidak menerima program tersebut. DEN juga menilai kualitas penyerapan pembelajaran pada kelompok penerima lebih baik. Temuan ini menempatkan makanan yang dikonsumsi di sekolah sebagai salah satu aspek yang patut diperhatikan ketika menilai kondisi belajar siswa. Namun, manfaat tersebut tidak hanya berkaitan dengan keberadaan makanan, melainkan juga mutu menu yang disajikan.
Catatan DEN memperlihatkan bahwa 95 persen siswa penerima MBG mengatakan mereka merasa lebih bersemangat ketika memperoleh menu berkualitas baik. Sebaliknya, angka siswa yang merasakan peningkatan semangat turun sangat rendah saat mutu menu dinilai buruk. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pengalaman siswa terhadap program dapat berubah sesuai kualitas hidangan yang mereka terima. Menu yang tersedia perlu memenuhi standar gizi sekaligus disajikan dengan mutu yang memadai agar dapat mendukung kebutuhan siswa selama berada di sekolah.
Karena itu, pemantauan terhadap kualitas makanan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG. Perhatian tidak cukup diberikan pada jumlah porsi atau kelancaran distribusi; kandungan gizi, kesegaran, kebersihan, rasa, dan variasi menu juga perlu dijaga. Evaluasi berkala dapat membantu penyelenggara mengetahui apakah makanan benar-benar dikonsumsi siswa serta bagaimana tanggapan mereka terhadap hidangan. Masukan dari siswa dan sekolah dapat digunakan untuk memperbaiki menu, mengurangi makanan yang tersisa, dan memastikan layanan sesuai dengan kebutuhan setempat.
Firman menekankan adanya korelasi mutu makanan, rasa lapar, dan semangat belajar di sekolah. Ketika kebutuhan makan siswa terpenuhi dengan baik, mereka berpotensi mengikuti kegiatan belajar dengan lebih nyaman dan berkonsentrasi. Sebaliknya, hidangan yang kurang memadai dapat membuat siswa tetap lapar atau tidak tertarik mengonsumsinya, sehingga dukungan program terhadap proses belajar tidak optimal. Hubungan tersebut tidak berarti kualitas menu menjadi satu-satunya penentu hasil belajar, tetapi menjadi faktor yang layak dipertimbangkan. Dengan menjaga mutu makanan secara konsisten, pelaksanaan MBG diharapkan semakin mendukung kesiapan siswa untuk belajar dan menyerap materi di kelas.
Data sebaran penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) per September menunjukkan bahwa manfaat program belum menjangkau semua kelompok secara seimbang. Penerima masih lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan pedesaan. Pada saat yang sama, siswa dari keluarga mampu masih banyak menerima manfaat, sementara kebutuhan siswa dari keluarga miskin belum sepenuhnya menjadi prioritas. Temuan ini menjadi perhatian Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dalam menilai pelaksanaan program dan pemerataan aksesnya.
DEN menyarankan agar prioritas distribusi diperbaiki dengan mempertimbangkan tingkat kerentanan dan hambatan akses. Perluasan jangkauan sebaiknya lebih diarahkan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kawasan pedesaan yang belum terlayani secara memadai. Siswa dari keluarga miskin juga perlu memperoleh perhatian lebih besar, sehingga bantuan menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Penentuan sasaran yang lebih tepat dapat membantu mengurangi ketimpangan penerima di perkotaan dan pedesaan, sekaligus memastikan sumber daya program digunakan secara efektif.
Perbaikan sasaran tersebut penting karena temuan mengenai manfaat MBG menunjukkan bahwa program ini berpotensi mendukung kegiatan belajar di sekolah. MBG dinilai mampu menekan absensi, meningkatkan semangat belajar, dan mengurangi rasa lapar yang dialami siswa selama berada di sekolah. Dampak itu dapat lebih berarti bagi anak-anak yang menghadapi keterbatasan ekonomi maupun akses pangan. Karena itu, pemerataan bukan sekadar persoalan jumlah penerima, melainkan juga memastikan bantuan hadir pada kelompok dan lokasi yang paling membutuhkan. Dengan distribusi yang lebih berpihak kepada siswa rentan, manfaat terhadap kehadiran dan kesiapan belajar berpeluang dirasakan lebih luas.
Baca juga: Warna Baru, Semangat Baru : Satgas TMMD ke-130 Percantik Rumah Warga Oransbari



































