Samarinda | Briptu Asky Rizal Toding, ajudan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, dikembalikan ke kesatuannya di lingkungan Polri setelah muncul tuduhan bahwa ia menyenggol seorang mahasiswa. Peristiwa yang menjadi perhatian tersebut disebut terjadi di kompleks Masjid Nurul Mu’minin, Samarinda, pada 19 Oktober 2026. Pengembalian Asky berlangsung ketika penanganan atas insiden itu masih berjalan, sehingga belum ada keputusan akhir mengenai perkara maupun tindak lanjut terhadap dirinya.
Tim ahli gubernur, Sudarno, menyampaikan keputusan pengembalian tersebut pada Kamis, 22 Oktober 2026. Menurut Sudarno, setelah Asky kembali ke kesatuannya, kebijakan selanjutnya berada di tangan satuan tempat anggota Polri itu bertugas. Dengan demikian, penentuan langkah berikutnya tidak lagi menjadi kewenangan pihak gubernur, melainkan akan mengikuti mekanisme yang berlaku di kesatuan Asky. Sudarno juga menegaskan bahwa pengembalian tersebut bukan berarti Asky dipecat dari tugas kepolisian.
Di sisi lain, Propam Polda Kalimantan Timur masih menginvestigasi peristiwa yang melibatkan Asky dan mahasiswa tersebut. Pemeriksaan dilakukan untuk menelusuri kejadian serta memperoleh keterangan yang diperlukan sebelum menentukan tindak lanjut. Sudarno menyatakan bahwa keputusan terkait perkara akan mengacu pada hasil pemeriksaan Propam. Karena proses itu belum selesai, tuduhan terhadap Asky masih perlu dinilai berdasarkan temuan pemeriksa, dan belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan resmi. Hasil investigasi diharapkan menjadi dasar bagi kesatuan dalam menetapkan kebijakan berikutnya, sesuai prosedur yang berlaku di Polri.
Peristiwa yang melibatkan ajudan Gubernur Kalimantan Timur dan mahasiswa itu bermula dari aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak sekitar pukul 14.00 Wita. Para mahasiswa menyampaikan tuntutan terkait evaluasi kepemimpinan serta meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengambil langkah nyata untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan kronologi yang tersedia, aksi tersebut berlangsung selama beberapa jam, tetapi tuntutan para peserta disebut belum mendapat tanggapan dari pihak pemerintah.
Menjelang waktu magrib, para pengunjuk rasa mengetahui rombongan Gubernur Rudy Mas’ud berada di kompleks masjid. Sejumlah mahasiswa kemudian mendatangi lokasi tersebut untuk menemui gubernur. Dalam interaksi itu, seorang pengunjuk rasa bertanya kepada Rudy mengapa ia tidak menemui massa yang telah berunjuk rasa sejak siang. Pertanyaan itu disampaikan ketika rombongan gubernur berada di sekitar kompleks masjid, dalam situasi yang menjadi perhatian para peserta aksi.
Menurut kronologi yang beredar, Rudy tersenyum setelah mendengar pertanyaan tersebut, lalu bergegas menuju masjid. Pada saat rombongan bergerak, Asky, yang disebut sebagai ajudan gubernur, diduga sengaja menyenggol badan seorang mahasiswa yang sedang merekam kedatangan mereka. Dugaan itu berkaitan dengan momen ketika mahasiswa mengarahkan kamera untuk mendokumentasikan rombongan. Uraian tersebut merupakan keterangan mengenai rangkaian kejadian yang dilaporkan, bukan penetapan atas maksud ataupun tanggung jawab pihak tertentu.
Insiden senggolan itu kemudian menjadi sorotan karena terjadi di tengah aksi yang belum memperoleh tanggapan, sementara mahasiswa berupaya mendekati gubernur untuk meminta penjelasan. Peristiwa tersebut juga menjadi dasar perhatian terhadap tindakan ajudan dalam interaksi dengan peserta unjuk rasa. Asky dikembalikan ke kesatuannya, sedangkan Propam melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Pemeriksaan diharapkan mengklarifikasi kronologi dan konteks kejadian, termasuk dugaan senggolan terhadap mahasiswa yang merekam rombongan. Sampai penyelidikan memberikan keterangan lebih lanjut, kejadian itu tetap perlu dipahami sebagai dugaan yang sedang ditelusuri, bukan kesimpulan final mengenai apa yang terjadi maupun alasan di balik tindakan yang dipersoalkan.
Tuduhan terhadap Asky mencuat setelah sebuah video berdurasi sekitar 30 detik beredar di media sosial. Rekaman singkat itu menjadi perhatian karena memperlihatkan Asky berada di tengah kerumunan mahasiswa, dan ia tampak diduga menyenggol salah seorang dari mereka. Potongan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan warganet, termasuk kritik atas perilaku yang dinilai sebagian pihak tidak pantas. Namun, rekaman yang beredar hanya menampilkan bagian singkat dari kejadian, sehingga konteks sebelum dan sesudah momen itu belum sepenuhnya terlihat melalui video tersebut. Peredaran klip itu turut mendorong munculnya tuduhan bahwa ajudan Gubernur Kalimantan Timur tersebut bersikap arogan saat berhadapan dengan mahasiswa.
Menanggapi polemik itu, Sudarno membantah anggapan bahwa Asky menunjukkan sikap arogan. Ia menyatakan bahwa potongan video yang menyebar tidak menggambarkan peristiwa secara utuh. Menurut Sudarno, klip tersebut merupakan framing provokatif yang dapat membentuk persepsi tertentu terhadap kejadian, terutama karena rekamannya singkat dan tidak menyajikan rangkaian peristiwa secara lengkap. Penilaian mengenai adanya framing provokatif tersebut merupakan keterangan Sudarno, bukan kesimpulan independen mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dalam video. Ia juga menolak agar tindakan yang terlihat dalam cuplikan langsung ditafsirkan sebagai bukti sikap arogan tanpa mempertimbangkan konteks yang lebih luas.
Pernyataan Sudarno itu disampaikan di tengah perhatian publik terhadap hubungan aparat pendamping pejabat dan mahasiswa yang menyampaikan aspirasi. Perbedaan pandangan mengenai cuplikan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan apa yang tampak dalam rekaman dari penafsiran terhadap maksud atau sikap seseorang. Video berdurasi 30 detik itu memperlihatkan momen yang diduga melibatkan senggolan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan latar kejadian ataupun keseluruhan interaksi. Karena itu, bantahan Sudarno perlu dipahami sebagai tanggapan pihak terkait terhadap tuduhan yang beredar. Penelusuran lebih lanjut oleh pihak berwenang diharapkan dapat memberi gambaran yang lebih jelas, sementara publik sebaiknya menunggu informasi terverifikasi sebelum menetapkan penilaian tentang insiden tersebut.
Setelah video insiden dengan mahasiswa menjadi viral, Asky menyampaikan permintaan maaf melalui sebuah tayangan video. Ia mengakui bahwa tindakan yang dilakukannya keliru dan telah menimbulkan ketidaknyamanan. Dalam pernyataannya, Asky juga menegaskan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan perbuatan tersebut. Pengakuan itu disampaikan secara terbuka setelah rekaman kejadian beredar dan menjadi perhatian publik. Asky tidak berusaha menepis kesalahan yang tampak dalam video, melainkan menyatakan penyesalan atas tindakannya. Pernyataan tersebut menjadi respons langsungnya terhadap sorotan yang muncul setelah insiden itu, sekaligus bentuk pengakuan bahwa perilakunya tidak semestinya terjadi dalam situasi tersebut.
Asky menjelaskan bahwa tindakannya dilakukan secara spontan. Ia menyebut tidak menerima instruksi dari siapa pun untuk bertindak demikian. Penjelasan itu disampaikan sebagai keterangan mengenai bagaimana peristiwa tersebut terjadi, bukan sebagai pembenaran atas tindakan yang telah diakuinya keliru. Dalam tayangan yang beredar, ia tetap menegaskan bahwa perbuatannya menimbulkan ketidaknyamanan dan tidak seharusnya dilakukan. Ia juga menyampaikan permintaan maaf atas dampak yang timbul. Pernyataan mengenai tindakan spontan dan tidak adanya instruksi merupakan bagian dari penjelasan Asky sendiri. Keterangan tersebut belum dengan sendirinya menetapkan seluruh fakta insiden; hal itu tetap perlu ditempatkan dalam proses pemeriksaan yang sedang berjalan.
Dalam video itu, Asky berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ia menyatakan penyesalan dan berharap tindakannya tidak kembali terjadi. Namun, permintaan maaf dan janji tersebut tidak berarti persoalan telah selesai atau pemeriksaan telah dihentikan. Propam masih menyelidiki insiden tersebut, sementara pengembalian Asky ke kesatuan juga tidak dapat dianggap sebagai penutup proses pemeriksaan. Pernyataan Asky merupakan respons setelah video menjadi viral, sedangkan penilaian atas kejadian dan tindak lanjutnya tetap berada dalam proses yang terpisah. Karena itu, perkembangan pemeriksaan masih menjadi bagian penting untuk mencermati bagaimana insiden ini ditangani dan ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.
Baca juga: Ajudan Gubernur Kaltim Dikembalikan ke Kesatuan Polri, Propam Selidiki Dugaan Senggolan



































