Api Tersisa di Lawu, Pemadaman dan Pencegahan Terus Disiapkan

oleh -324 Dilihat
oleh
Api Tersisa di Lawu, Pemadaman dan Pencegahan Terus Disiapkan

Kabupaten Karanganyar. Meski | Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Lawu mulai terkendali, tetapi penanganannya belum dapat dihentikan. Petugas masih memantau satu titik api aktif yang berada di atas Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar area terdampak telah ditangani, upaya pemadaman dan pengawasan tetap diperlukan sampai tidak ada lagi bara maupun sumber api yang berpotensi menyala kembali.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa titik api tersebut masih menjadi perhatian tim di lapangan. Ia meminta seluruh unsur gabungan tetap bersiaga di pos masing-masing dan tidak mengendurkan pengawasan. Kesiapsiagaan itu penting agar petugas dapat segera merespons perubahan kondisi, sekaligus memastikan informasi dari berbagai area terdampak dapat disampaikan dan ditindaklanjuti dengan cepat.

Selain mempertahankan kesiagaan, tim gabungan diminta melakukan penyisiran secara menyeluruh. Pemeriksaan perlu menjangkau area yang telah terlihat padam maupun lokasi di sekitar titik api, sehingga bara tersembunyi dapat ditemukan sebelum kembali membesar. Penyisiran yang terkoordinasi juga membantu petugas mengetahui perkembangan situasi secara lebih lengkap dan menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Untuk membantu penanganan titik api di atas Gondosuli, direncanakan satu sorti penerbangan helikopter BNPB dari Lanud Adi Soemarmo. Dukungan udara tersebut diharapkan dapat menunjang upaya pemadaman di lokasi yang memerlukan penanganan. Rencana penerbangan menjadi bagian dari langkah lanjutan, sementara tim darat tetap menjalankan pemantauan, penyisiran, dan kesiapan di pos-pos yang telah ditentukan.

Selain memadamkan api yang masih terlihat, petugas perlu mencegah munculnya titik api baru. Kebakaran yang belum sepenuhnya padam dapat kembali meluas apabila bara tersisa tidak terdeteksi atau kondisi di sekitarnya memungkinkan api menyebar. Karena itu, pengawasan berkelanjutan dan koordinasi antartim menjadi bagian penting dari penanganan. Masyarakat di sekitar kawasan juga perlu mengikuti arahan petugas dan segera melaporkan tanda kebakaran yang terlihat. Dengan menjaga kesiagaan hingga kondisi benar-benar aman, upaya pemadaman dapat dilanjutkan sekaligus mengurangi risiko api kembali muncul di kawasan Gunung Lawu.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharto, menyampaikan bahwa kebakaran di kawasan Gunung Lawu sempat padam sepenuhnya pada Minggu, 25 Oktober 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada saat itu petugas tidak lagi melihat api yang menyala di area terdampak. Meski demikian, pemadaman yang telah tercapai belum berarti pemantauan dapat dihentikan. Petugas tetap perlu mengamati lokasi untuk memastikan keadaan terkendali dan mengetahui jika muncul perubahan. Dalam penanganan kebakaran lahan, kondisi lapangan dapat berkembang, sehingga laporan mengenai api yang sempat padam perlu dipahami sesuai waktu pengamatan tersebut.

Pada pemantauan Senin pagi, petugas kemudian menemukan titik api baru di atas kawasan Gondosuli. Temuan ini menjadi dasar untuk kembali memperhatikan area tersebut dan menilai kondisi api di lapangan. Informasi yang disampaikan Sugiharto menggambarkan urutan kejadian: api dinyatakan padam pada Minggu, lalu titik api baru terpantau keesokan paginya. Keterangan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana titik tersebut muncul atau apakah berkaitan dengan titik api sebelumnya. Penentuan kondisi dan perkembangan kebakaran memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak yang berwenang, berdasarkan pemantauan langsung serta hasil penyelidikan.

Hingga keterangan tersebut disampaikan, penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Peristiwa itu masih dalam penyelidikan kepolisian, sehingga belum ada dasar untuk memastikan faktor yang memicu kebakaran. Penting untuk membedakan fakta yang telah dilaporkan—yakni api sempat padam dan kemudian ditemukan titik api baru—dari kesimpulan mengenai penyebabnya. BPBD dan petugas terkait dapat terus memantau area, sementara kepolisian menelusuri kejadian sesuai kewenangannya. Informasi mengenai hasil penyelidikan baru dapat dipastikan setelah proses tersebut memberikan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, perkembangan terbaru ini perlu disampaikan secara cermat tanpa mengaitkan kebakaran dengan dugaan tertentu yang belum terverifikasi.

Tantangan pemadaman kebakaran di Gunung Lawu tidak hanya ditentukan oleh lokasi api, tetapi juga oleh kondisi permukaan lahan yang sulit dijangkau. Sugiharto menjelaskan bahwa sebagian area tertutup ilalang tebal dengan tinggi mencapai sekitar 30 sentimeter. Lapisan vegetasi tersebut menyulitkan petugas untuk melihat dan menjangkau titik api secara langsung, terutama ketika kobaran atau bara tersembunyi di bawah rumput kering.

Kondisi lahan di sejumlah titik disebut menyerupai lahan gambut. Material kering yang menumpuk dapat membuat panas dan bara bertahan di dalam lapisan permukaan, sehingga api berpotensi kembali menyala setelah tampak padam. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dengan memadamkan kobaran yang terlihat. Petugas perlu memberikan perhatian ekstra pada area yang tertutup ilalang serta memastikan bara di bawahnya tidak tersisa. Keadaan ini membutuhkan pendekatan khusus dan pemeriksaan berulang agar proses pemadaman lebih efektif.

Untuk membantu penanganan dari udara, operasi water bombing telah dilakukan sebanyak 34 kali. Dalam rangkaian penyiraman tersebut, total air yang dijatuhkan mencapai 68.000 liter. Setiap satu kali penyiraman membawa sekitar 2.000 liter air, yang diarahkan ke bagian lahan yang memerlukan dukungan pemadaman. Upaya ini menjadi salah satu langkah untuk menekan api di area yang sulit dicapai melalui jalur darat, meskipun kondisi vegetasi dan medan tetap membuat pekerjaan berlangsung menantang.

Operasi udara lanjutan belum ditetapkan secara terpisah dari perkembangan situasi di lapangan. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi cuaca di puncak Gunung Lawu, karena cuaca memengaruhi keselamatan penerbangan dan efektivitas penyiraman. Pemantauan terhadap titik api, lapisan ilalang, dan perubahan cuaca menjadi bagian penting dalam menentukan langkah berikutnya. Dengan medan yang menyerupai lahan gambut dan vegetasi tebal, pemadaman memerlukan koordinasi serta kehati-hatian agar upaya udara dan penanganan di darat dapat saling mendukung dalam mengurangi risiko api kembali muncul.

Ahmad Luthfi meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah, Dinas PUPR Kabupaten Karanganyar, serta Perhutani menyiapkan rancangan fasilitas penampungan air di kawasan Gunung Lawu. Bentuknya dapat berupa tandon atau embung yang ditempatkan secara strategis, sehingga pasokan air lebih mudah dijangkau ketika upaya pemadaman kebakaran diperlukan. Perencanaan perlu memperhatikan kondisi medan, akses petugas, sumber air, dan kebutuhan kawasan, agar fasilitas yang dibangun benar-benar dapat digunakan dengan cepat dalam keadaan darurat.

Rancangan tersebut juga perlu disertai koordinasi antarinstansi, mulai dari penentuan lokasi hingga pengaturan pemeliharaan dan pemanfaatannya. Keberadaan tandon atau embung tidak menggantikan kesiapsiagaan petugas, tetapi dapat membantu memperkuat dukungan air bagi operasi pemadaman. Karena itu, fasilitas harus dirancang sesuai karakter wilayah pegunungan dan dipastikan tetap berfungsi, termasuk saat musim kering. Langkah teknis ini menjadi bagian dari persiapan berkelanjutan untuk mengurangi risiko dan mempercepat penanganan apabila muncul titik api. Penyebab kebakaran yang terjadi tetap perlu menunggu hasil penyelidikan, sehingga upaya pencegahan tidak diarahkan pada dugaan yang belum terverifikasi.

Selain menyiapkan sarana, edukasi kepada masyarakat dinilai penting untuk mencegah kebakaran yang dapat terjadi akibat kelalaian. Warga perlu diingatkan agar tidak membakar sampah di area yang berisiko, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan tidak menyalakan api di kawasan hutan. Informasi mengenai bahaya tindakan tersebut perlu disampaikan secara jelas, berulang, dan mudah dipahami, terutama kepada pengunjung serta warga yang beraktivitas di sekitar lereng. Kesadaran sehari-hari dapat menjadi lapisan pencegahan awal sebelum petugas harus melakukan penanganan.

Keterlibatan warga setempat juga penting karena mereka mengenal kondisi wilayah dan perubahan di sekitarnya.

Baca juga: Surabaya Hadapi Tantangan Perlindungan Anak dan Pencegahan Narkoba | Karhutla Masih Membara: Sebaran Api dan Upaya Pemadaman di Indonesia | Potongan Tarif Bandara 50 Persen Disiapkan untuk Periode Libur Akhir Tahun