Asap Karhutla Bergeser dari Jabodetabek, BMKG Petakan Sebarannya di Indonesia

oleh -123 Dilihat
oleh
Asap Karhutla Terdeteksi di Atmosfer Jakarta, BMKG Minta Warga

Jakarta | BMKG memantau sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sejak Sabtu, 17 Oktober 2026, bergerak menjauhi Jawa bagian barat. Wilayah yang sebelumnya sempat terlintasi asap mencakup Jabodetabek, yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Berdasarkan pemantauan tersebut, asap tidak lagi bergerak ke kawasan itu seperti yang terdeteksi sehari sebelumnya. Pergeseran ini menjadi perhatian karena citra satelit pada Jumat, 16 Oktober, sempat menunjukkan asap memasuki Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek. Namun, keberadaan asap di wilayah tersebut berlangsung sesaat dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan.

Kronologi pengamatan BMKG menunjukkan perubahan arah yang berlangsung bertahap pada Sabtu. Pada pukul 08.00 WIB, pemantauan masih mencatat sebaran asap, lalu pengamatan berikutnya pada pukul 10.00 WIB menunjukkan asap mulai bergerak menjauhi Jawa bagian barat. Perkembangan yang sama terlihat kembali dalam pengamatan pukul 13.00 WIB. Rangkaian waktu tersebut memperlihatkan bahwa asap yang sebelumnya terdeteksi di sekitar Jabodetabek tidak menetap di kawasan itu. Meski demikian, citra satelit menggambarkan sebaran asap di atmosfer dan tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya penurunan kualitas udara yang dirasakan langsung di permukaan.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyampaikan bahwa perubahan arah dan melemahnya angin pada ketinggian tempat asap berada turut memengaruhi pergeseran tersebut. Kondisi angin di lapisan itu dapat mengarahkan sebaran asap ke wilayah lain, sehingga pola pergerakannya berbeda dari hari sebelumnya. Pengamatan berkala pada beberapa waktu memungkinkan BMKG mengikuti perubahan sebaran, bukan hanya melihat satu gambaran sesaat. Karena itu, informasi mengenai asap yang menjauhi Jabodetabek perlu dipahami dalam konteks lokasi dan waktu pengamatan, serta kondisi atmosfer di ketinggian. BMKG mencatat bahwa asap sempat terdeteksi di Jawa bagian barat pada Jumat, tetapi pemantauan Sabtu menunjukkan pergerakan menjauh dan tidak menyebut adanya dampak pada kualitas udara permukaan di Jabodetabek.

Guswanto menegaskan bahwa keberadaan asap yang tampak dalam pemantauan satelit tidak serta-merta menunjukkan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan. Citra satelit dapat memperlihatkan sebaran asap di atmosfer, tetapi informasi tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan kadar pencemar yang sedang dihirup warga di suatu lokasi. Karena itu, kemunculan atau pergeseran area berasap pada citra perlu dipahami sesuai konteks dan tidak langsung dijadikan kesimpulan tentang kualitas udara permukaan. Masyarakat diminta tidak panik hanya berdasarkan tampilan asap yang terpantau dari satelit, sebab penilaian kondisi setempat memerlukan informasi yang relevan dengan lingkungan masing-masing.

Perbedaan pengamatan asap di atmosfer dan pengukuran kualitas udara dekat permukaan menjadi hal penting dalam membaca perkembangan karhutla. Sebaran asap dapat dipengaruhi dinamika atmosfer, sementara tingkat polutan di permukaan dapat berbeda menurut lokasi dan waktu. Dengan demikian, satu gambaran dari satelit tidak cukup untuk menetapkan bahwa konsentrasi polutan meningkat di semua wilayah yang terlihat terdampak, ataupun untuk memastikan keadaan udara di suatu kawasan tanpa data pendukung. Penegasan ini bukan berarti seluruh daerah otomatis memiliki kualitas udara yang baik atau buruk. Warga tetap perlu merujuk pada perkembangan informasi kualitas udara di sekitar tempat tinggal dan beraktivitas.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi kualitas udara di lingkungan masing-masing, sambil mengikuti pembaruan resmi terkait sebaran asap dan perkembangan atmosfer. Pemantauan setempat membantu warga memperoleh gambaran yang lebih sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi, dibandingkan hanya mengandalkan citra sebaran asap. BMKG menyatakan akan terus mengamati dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi terbaru kepada masyarakat. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mempertimbangkan langkah antisipatif sesuai keadaan di wilayah masing-masing. Dengan mengikuti perkembangan secara berkala dan memahami batas informasi dari pemantauan satelit, masyarakat dapat bersikap tanpa menimbulkan kepanikan, serta menyesuaikan tindakan berdasarkan data yang tersedia dan relevan bagi lokasi mereka.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menyampaikan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terpantau di sejumlah kawasan Indonesia. Sebarannya mencakup sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengamatan asap tidak lagi terbatas pada satu kawasan, melainkan meliputi wilayah yang luas dan tersebar.

Di wilayah-wilayah tersebut, arah gerak asap yang teramati berkisar dari barat laut hingga timur laut. BMKG juga masih mendeteksi keberadaan titik panas di sejumlah daerah. Titik panas merupakan bagian dari pemantauan kondisi karhutla, sedangkan pengamatan sebaran asap membantu menggambarkan wilayah yang terdampak dan kemungkinan arah pergerakannya. Karena itu, informasi citra satelit perlu dibaca sebagai gambaran pada waktu tertentu, bukan sebagai peta yang tetap sepanjang hari.

Berdasarkan citra BMKG pada Minggu, 18 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB, asap terpantau di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan. Di Kalimantan, pantauan mencakup Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Timur. Asap juga terlihat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Maluku Utara.

Di wilayah Papua, citra pada waktu yang sama menunjukkan sebaran asap di Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Pengamatan BMKG turut mencatat sebaran yang melintasi batas negara. Dari Sumatra, asap terdeteksi bergerak menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura. Dari Kalimantan, sebarannya mengarah ke Semenanjung Malaysia, Sarawak, dan Singapura. Sementara itu, asap dari Papua Nugini terpantau menuju Papua Selatan dan Papua Pegunungan. Catatan lintas batas ini menegaskan bahwa pemantauan karhutla dan penyebaran asap memerlukan perhatian regional, sekaligus pembaruan informasi sesuai perkembangan kondisi atmosfer dan hasil pengamatan terbaru.

Pemantauan BMKG pada 16 Oktober 2026, dalam rentang pukul 00.00 hingga 23.59 WIB, mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut merupakan hasil deteksi satelit pada periode pemantauan itu. Titik panas digunakan sebagai indikasi awal yang perlu diperhatikan dalam pengawasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi bukan ukuran langsung mengenai luas area yang terbakar. Karena itu, data ini perlu dibaca sesuai cakupannya, yakni jumlah titik panas yang terdeteksi selama satu hari.

Sumatera Selatan mencatat jumlah terbanyak, dengan 189 titik panas. Berikutnya, Jawa Timur memiliki 89 titik dan Papua Selatan tercatat 63 titik. Di Kalimantan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing mencatat 26 titik panas. Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa deteksi pada tanggal itu tidak hanya terkonsentrasi di satu pulau atau satu kawasan. Perbedaan jumlah antardaerah juga menggambarkan variasi temuan pemantauan, bukan dengan sendirinya menunjukkan perbandingan luas kebakaran atau tingkat kerusakan.

Perubahan paling mencolok dalam data yang disampaikan Andri terjadi di Kalimantan Tengah. Pada pemantauan 15 Oktober, wilayah itu mencatat 485 titik panas, sedangkan pada 16 Oktober jumlah yang terdeteksi turun menjadi 26. Dengan demikian, terdapat penurunan tajam pada catatan titik panas dari satu hari pemantauan ke hari berikutnya. Data tersebut menunjukkan lebih sedikit titik panas yang terdeteksi di Kalimantan Tengah pada 16 Oktober. Namun, angka itu tidak cukup untuk memastikan bahwa seluruh ancaman karhutla di wilayah tersebut telah berakhir.

Jumlah titik panas dapat berubah antarpemantauan, sehingga pembacaan satu hari perlu ditempatkan dalam rangkaian pengamatan yang berkelanjutan. Penurunan di Kalimantan Tengah patut dicatat, tetapi potensi karhutla tetap perlu diwaspadai.

Baca juga: Asap Karhutla Bergeser dari Jabodetabek, Pemantauan Udara Tetap Berlanjut | Asap Karhutla Menjauh dari Jabodetabek, Pemantauan Udara Tetap Berlanjut | Asap Karhutla Bergerak Menjauh dari Jabodetabek, Sejumlah Wilayah Masih Terpantau