Jakarta | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meminta PT Pertamina (Persero) meningkatkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Bali menjadi 15 hari. Saat ini, stok yang tersedia diperkirakan mencukupi kebutuhan selama sekitar 11 hingga 12 hari. Penambahan cadangan tersebut diharapkan memperkuat kesiapan pasokan di wilayah yang aktivitas masyarakat dan mobilitas kendaraannya dapat meningkat sewaktu-waktu.
Bahlil menyampaikan permintaan itu dalam konferensi pers di Fuel Terminal Sanggaran, Pesanggaran, Denpasar, Bali, pada Senin, 19 Oktober 2026. Target 15 hari dimaksudkan untuk memberi jaminan pasokan yang lebih memadai, sehingga distribusi BBM dapat berlangsung lebih stabil ketika permintaan naik. Pertamina diminta menyiapkan langkah yang diperlukan agar persediaan tambahan dapat mendukung kebutuhan konsumen di berbagai wilayah Bali.
Upaya memperbesar stok juga berkaitan dengan antrean kendaraan yang sempat terjadi di Bali. Kepastian bahwa BBM tersedia dalam jumlah cukup diharapkan membantu meredakan kekhawatiran masyarakat dan mencegah penumpukan kendaraan di stasiun pengisian. Bali merupakan tujuan wisata internasional, sehingga kelancaran pasokan tidak hanya penting bagi warga, tetapi juga bagi wisatawan dan kegiatan ekonomi yang bergantung pada mobilitas.
Cadangan selama 15 hari memberi ruang penyangga lebih besar apabila penyaluran menghadapi gangguan atau kebutuhan meningkat. Dengan persediaan yang lebih kuat, pasokan ke lembaga penyalur diharapkan tetap terjaga dan masyarakat dapat memperoleh BBM tanpa kesulitan berarti. Permintaan Bahlil ini menempatkan ketersediaan stok sebagai bagian dari langkah menjaga pelayanan energi, terutama di daerah dengan arus kunjungan tinggi.
Meski demikian, peningkatan cadangan perlu disertai pengelolaan distribusi yang terukur. Stok di terminal harus dapat diteruskan sesuai kebutuhan tiap daerah, sementara perkembangan permintaan dan kondisi antrean perlu dipantau. Langkah tersebut diharapkan memastikan target 15 hari benar-benar mendukung kelancaran layanan, bukan sekadar menambah angka persediaan. Pemerintah dan Pertamina perlu menjaga koordinasi agar kebijakan ini memberi kepastian bagi pengguna BBM serta membantu aktivitas pariwisata dan ekonomi Bali berjalan lancar.
Untuk memenuhi sasaran cadangan bahan bakar minyak (BBM) Bali menjadi 15 hari, Bahlil menyebut penguatan distribusi sebagai salah satu langkah yang perlu dilakukan. Pasokan akan ditopang dengan menambah jumlah kapal yang melayani pengiriman BBM ke Pulau Dewata. Menurutnya, tujuh kapal tambahan akan disiapkan agar pengangkutan dapat mendukung kebutuhan stok yang lebih besar.
Bahlil juga mengatakan bahwa sejak Kamis ia telah meminta Direktur Utama Pertamina menambah transportasi BBM dari Jawa ke Bali. Penambahan angkutan tersebut diharapkan memperlancar aliran pasokan antarpulau, sekaligus membantu memastikan ketersediaan BBM sesuai sasaran cadangan yang ditetapkan. Penguatan jalur pengiriman menjadi perhatian karena distribusi dari Jawa merupakan bagian penting dalam memenuhi kebutuhan Bali.
Dalam penjelasannya, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak memangkas kuota BBM untuk Bali. Ia menyebut keterlambatan pengiriman yang terjadi beberapa hari sebelumnya bukan disebabkan pengurangan kuota, melainkan kendala teknis pada kapal ketika bersandar. Gangguan tersebut, kata dia, berlangsung dalam manajemen internal logistik Pertamina. Karena itu, persoalan yang terjadi berkaitan dengan proses pengiriman, bukan keputusan untuk mengurangi jatah pasokan bagi wilayah tersebut.
Bahlil menyatakan telah memberikan arahan melalui Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi serta Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) agar cadangan yang sebelumnya setara 11 hari ditingkatkan menjadi 15 hari. Ia menegaskan arah kebijakan itu adalah menaikkan, bukan mengurangi, persediaan. Penambahan kapal dan transportasi dari Jawa menjadi langkah yang disebut untuk menunjang target tersebut. Dengan demikian, pemerintah meminta penguatan distribusi sekaligus memastikan perbedaan keterlambatan teknis dan kuota BBM dijelaskan kepada masyarakat. Bahlil menyampaikan bahwa peningkatan cadangan itu menjadi sasaran yang perlu didukung oleh kelancaran operasional logistik, termasuk kesiapan kapal saat proses sandar dan penyaluran menuju Bali. Penjelasan tersebut menempatkan gangguan beberapa hari sebelumnya sebagai kendala operasional yang perlu ditangani, sementara kuota tetap diarahkan untuk menopang persediaan lebih besar.
Pertamina mengoptimalkan dua fasilitas penyimpanan utama untuk mendukung peningkatan cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Bali. Kedua terminal tersebut adalah Terminal Manggis dan Terminal Sanggaran. Pengelolaan kapasitas di kedua lokasi menjadi bagian penting dari upaya menjaga pasokan energi bagi masyarakat dan kegiatan ekonomi di pulau tersebut. Terminal Manggis saat ini memiliki cadangan BBM di atas 11 hari, sedangkan kapasitas cadangan di Terminal Sanggaran berada pada kisaran 4–5 hari. Dengan mengoptimalkan fasilitas yang tersedia, Pertamina mendukung target cadangan yang disampaikan pemerintah, yakni mencapai 15 hari.
Angka 15 hari tersebut perlu dipahami sebagai gambaran kapasitas penyimpanan yang dikelola secara bergulir dan berkesinambungan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa istilah itu tidak berarti seluruh persediaan hanya digunakan selama 15 hari, lalu habis tanpa pengisian berikutnya. BBM yang disalurkan dari terminal akan diikuti pengisian kembali, sehingga persediaan terus bergerak dalam suatu siklus. Karena itu, angka hari menunjukkan kemampuan cadangan dalam sistem penyimpanan, bukan hitungan waktu setelahnya pasokan pasti berhenti.
Untuk menerangkan cara kerja tersebut, Bahlil menggunakan perumpamaan bak air yang terus diisi kembali. Air di dalam bak dapat digunakan, sementara bak tetap menerima tambahan air secara berkelanjutan. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada jumlah BBM yang tersimpan pada satu waktu, tetapi juga pada proses pengisian ulang yang menjaga ketersediaan. Perumpamaan itu menggambarkan bahwa cadangan 15 hari merupakan kapasitas yang diisi secara bergulir, seiring dengan penggunaan dan penyaluran. Dalam konteks Bali, keberadaan Terminal Manggis dengan cadangan di atas 11 hari dan Terminal Sanggaran dengan kapasitas sekitar 4–5 hari menjadi dua penopang penyimpanan yang dioptimalkan. Penjelasan tersebut menegaskan maksud angka 15 hari tanpa menyamakannya dengan persediaan yang akan habis tepat setelah jangka waktu itu.Permintaan agar cadangan BBM Bali ditingkatkan menjadi 15 hari disampaikan dalam konteks pengelolaan pasokan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ketersediaan BBM Indonesia secara umum berada pada posisi aman. Menurut angka yang ia sampaikan, cadangan BBM bersubsidi, khususnya Pertalite dengan RON 90, berkisar 16–18 hari. Sementara itu, cadangan untuk jenis BBM lainnya tercatat lebih dari 20 hari. Gambaran nasional tersebut menjadi latar bagi perhatian pemerintah terhadap kondisi distribusi di daerah, termasuk Bali.
Angka cadangan nasional menggambarkan ketersediaan secara agregat, sedangkan kecukupan stok di tiap wilayah juga bergantung pada kelancaran penyaluran dan kebutuhan setempat. Karena itu, kondisi aman pada tingkat nasional tidak menghapus perlunya memastikan BBM tersedia di lokasi yang membutuhkan. Bali menjadi perhatian karena pasokan harus menopang kegiatan masyarakat dan aktivitas ekonomi di pulau tersebut. Bahlil menyampaikan perlunya mendorong cadangan daerah itu hingga setara kebutuhan 15 hari, sehingga penyaluran dapat memiliki ruang penyangga lebih memadai. Langkah tersebut ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga pasokan di lapangan, bukan sebagai pernyataan bahwa cadangan nasional berada dalam kondisi kekurangan.
Perbedaan angka cadangan nasional dan target untuk Bali juga menunjukkan pentingnya melihat pasokan berdasarkan skala wilayah. Persediaan nasional yang berada pada kisaran 16–18 hari untuk Pertalite dan lebih dari 20 hari untuk BBM lain menjadi gambaran umum, tetapi distribusi harus memastikan produk tersedia secara tepat waktu di setiap daerah. Pemerintah perlu memperhatikan hubungan stok, jalur penyaluran, serta kebutuhan konsumen agar ketersediaan dapat dirasakan langsung.
Baca juga: BEI Menurunkan Batas ARB Saham Menjadi 7 Persen hingga Akhir 2026 | Panduan Memahami Penentuan Hari Bepergian dalam Kalender Bali



































