Kota Padang | Banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatra Barat. Berdasarkan pendataan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, bencana <a href="https://putraturatea.com/gempa-m57-mengguncang-sukabumi-bmkg-sebut-tidak-berpotensi-tsunami/”>tersebut berdampak terhadap 498 jiwa dan menyebabkan sekitar 120 unit rumah terendam. Data itu menjadi gambaran awal mengenai dampak banjir yang tercatat di wilayah Kota Padang hingga waktu pendataan dilakukan.
Pembaruan informasi mengenai dampak banjir tersebut disampaikan melalui akun Pusdalops Kota Padang pada Minggu, 11 Oktober 2026. Dalam pembaruan itu disebutkan bahwa pendataan sementara BPBD Kota Padang dilakukan hingga Sabtu pukul 22.45 WIB. Angka 498 jiwa dan sekitar 120 rumah menjadi jumlah yang tercatat dalam laporan sementara tersebut.
Informasi ini menunjukkan bahwa banjir bandang telah memengaruhi ratusan warga di sejumlah wilayah Kota Padang. Sebanyak 120 unit rumah dilaporkan terendam, sementara jumlah warga terdampak tercatat mencapai 498 jiwa. Karena data yang disampaikan masih bersifat sementara, angka tersebut merupakan hasil pendataan BPBD Kota Padang sampai batas waktu yang disebutkan, yakni Sabtu pukul 22.45 WIB. Pembaruan melalui Pusdalops Kota Padang menjadi rujukan informasi terbaru mengenai jumlah warga dan rumah yang terdampak dalam peristiwa banjir bandang ini.
Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, banjir bandang dilaporkan berdampak pada sejumlah wilayah yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa genangan tidak hanya terjadi pada satu kawasan, melainkan meliputi beberapa kelurahan yang berada di kecamatan berbeda. Pendataan BPBD menjadi rujukan untuk menggambarkan lokasi-lokasi yang terdampak serta membantu memahami cakupan kejadian di Kota Padang.
Di Kecamatan Kuranji, wilayah yang disebut dalam laporan adalah Kelurahan Kuranji. Sementara itu, Kecamatan Koto Tangah mencakup Kelurahan Lubuk Minturun, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, dan Tabing Banda Gadang. Adapun di Kecamatan Nanggalo, banjir dilaporkan terjadi di Kelurahan Gurun Laweh. Penyebutan kelurahan tersebut memperlihatkan bahwa dampak banjir tersebar dari satu kecamatan ke kecamatan lain, dengan karakter wilayah terdampak yang berada dalam beberapa kawasan permukiman.
Rangkaian lokasi itu menjadi bagian penting dalam pendataan dampak banjir bandang yang merendam rumah dan memengaruhi warga. Kecamatan Kuranji tercatat melalui wilayah Kuranji, sedangkan beberapa kelurahan di Kecamatan Koto Tangah turut masuk dalam laporan, mulai dari Lubuk Minturun hingga Tabing Banda Gadang. Di sisi lain, Gurun Laweh mewakili wilayah terdampak di Kecamatan Nanggalo. Dengan demikian, informasi lokasi berdasarkan BPBD Kota Padang memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai persebaran banjir, tanpa memusatkan kejadian hanya pada satu kelurahan atau satu kecamatan.
Di Kecamatan Kuranji, dampak banjir bandang tidak hanya terlihat dari genangan yang memasuki permukiman, tetapi juga dari kerusakan pada sejumlah bangunan. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, terdapat empat unit rumah yang mengalami kerusakan sedang. Selain itu, satu unit rumah lainnya dilaporkan mengalami kerusakan berat. Data tersebut menunjukkan kondisi kerusakan fisik bangunan di Kuranji secara khusus, bukan jumlah seluruh rumah yang terdampak banjir di wilayah Kota Padang.
Secara keseluruhan, banjir dilaporkan merendam 120 rumah dan berdampak terhadap 498 warga. Angka 120 rumah merujuk pada rumah yang terdampak genangan, sedangkan lima rumah di Kuranji merupakan rincian bangunan yang mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan berbeda. Dengan demikian, kedua angka tersebut tidak dapat disamakan. Rumah yang terendam belum tentu mengalami kerusakan struktural, sementara laporan kerusakan mencatat kondisi bangunan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Selain bangunan, banjir juga mengganggu akses mobilitas warga di kawasan Guo, Kecamatan Kuranji. Akses jalan masyarakat di kawasan tersebut dilaporkan terputus akibat luapan air dan kondisi banjir. Terputusnya jalur ini berpotensi menyulitkan warga untuk bepergian, menerima bantuan, maupun melakukan kegiatan sehari-hari. Kondisi akses yang terganggu juga menjadi perhatian penting dalam proses penanganan darurat, terutama apabila masih terdapat warga yang membutuhkan evakuasi atau bantuan logistik.
Petugas dan unsur terkait perlu melakukan pendataan lanjutan terhadap rumah yang rusak serta memeriksa kondisi jalan di kawasan Guo. Penilaian tersebut diperlukan untuk memastikan tingkat kerusakan, menentukan kebutuhan perbaikan, dan membuka kembali akses warga secara aman. Pemisahan data rumah terendam, rumah rusak sedang, dan rumah rusak berat membantu penyampaian informasi bencana secara akurat serta mencegah kekeliruan dalam penyaluran bantuan.
Sebanyak 238 warga terdampak di sejumlah lokasi telah dievakuasi oleh tim SAR gabungan setelah banjir bandang merendam permukiman di Kota Padang. Evakuasi dilakukan sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak dan menghadapi risiko akibat genangan maupun arus air yang dapat berubah sewaktu-waktu. Warga diimbau mengikuti arahan petugas serta tidak kembali ke lokasi yang dinilai masih berbahaya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana susulan. Ancaman tersebut meliputi banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang, terutama apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi atau berlangsung dalam waktu lama. Masyarakat diminta tidak mengabaikan perubahan kondisi di sekitar tempat tinggal dan segera mengambil langkah aman ketika muncul tanda-tanda bahaya.
Warga yang tinggal di sekitar sungai, daerah rawan banjir, atau kawasan dengan tanah labil perlu terus memantau kondisi lingkungan. Perubahan tinggi muka air, arus yang semakin deras, munculnya retakan tanah, serta suara atau pergerakan material dari lereng dapat menjadi tanda yang harus diwaspadai. Ketika debit air meningkat, masyarakat diminta segera menjauhi lokasi berbahaya dan menuju tempat yang lebih aman sesuai arahan petugas. Kewaspadaan bersama diperlukan agar risiko terhadap keselamatan warga dapat ditekan selama potensi bencana susulan masih perlu diperhatikan.







