Banjir dan Longsor Mengganggu Akses Warga di Aceh Tenggara

oleh -52 Dilihat
oleh
Banjir dan Longsor Mengganggu Akses Warga di Aceh Tenggara

Kabupaten Aceh Tenggara | Banjir dan tanah longsor melanda empat kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara pada Minggu dini hari, 11 Oktober. Peristiwa tersebut mengganggu akses warga dan berdampak pada sejumlah permukiman yang berada di wilayah rawan bencana. Genangan air serta material longsor dilaporkan menyebar di tujuh desa, sehingga aktivitas masyarakat dan mobilitas antarkawasan ikut terdampak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Mohd. Asbi, menyampaikan bahwa lokasi terdampak mencakup Desa Kati Maju di Kecamatan Ketambe dan Desa Pulo Nas Baru di Kecamatan Lawe Bulan. Dampak serupa juga terjadi di Desa Pulo Lateng, Kecamatan Babussalam.

Sementara itu, di Kecamatan Bambel, banjir dan longsor melanda Desa Lawe Kihing, Desa Bambel Gabungan, Desa Terutung Seperai, serta Desa Terutung Megara Asli. Sebaran lokasi tersebut menunjukkan bahwa gangguan tidak terpusat pada satu titik, melainkan meliputi beberapa wilayah yang memiliki keterkaitan dengan jalur permukiman dan akses warga.

Keterangan BPBD menjadi dasar laporan mengenai kejadian tersebut. Informasi awal ini penting untuk menggambarkan luas dampak bencana sekaligus menjadi acuan bagi penanganan di lapangan. Pemerintah daerah bersama petugas terkait perlu memastikan kondisi setiap desa, terutama akses jalan, keselamatan penduduk, serta kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak. Pemantauan lanjutan juga diperlukan karena hujan dan kondisi tanah yang labil dapat memicu genangan atau longsor susulan di sejumlah kawasan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjelaskan bahwa rangkaian banjir dan longsor di Aceh Tenggara dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat, 9 Oktober. Hujan turun dengan durasi panjang sehingga tanah menerima limpasan air dalam jumlah besar. Kondisi ini meningkatkan potensi terjadinya genangan, luapan sungai, serta pergerakan tanah di kawasan yang memiliki kontur lereng dan aliran sungai.

Curah hujan yang tinggi secara langsung meningkatkan debit Sungai Lawe Bulan. Volume air yang bertambah membuat arus sungai menjadi lebih deras dan memberikan tekanan besar terhadap tanggul di sepanjang aliran sungai. Tekanan tersebut akhirnya menyebabkan tanggul di Desa Pulo Mas Baru jebol. Air kemudian meluap dan mengalir menuju permukiman warga, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat serta akses menuju sejumlah wilayah terdampak.

Luapan sungai tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan volume air, tetapi juga oleh kemampuan tanggul menahan arus yang terus menguat selama hujan berlangsung. Ketika struktur tanggul mengalami kerusakan, air dapat menyebar lebih cepat ke area rendah di sekitar bantaran. Situasi itu membuat warga perlu mewaspadai kenaikan muka air dan mengikuti informasi kebencanaan yang disampaikan petugas di lapangan.

Pada waktu yang sama, hujan berkepanjangan turut memengaruhi kondisi tanah di ruas jalan nasional Kutacane–Blangkejeren. Air yang meresap ke dalam tanah membuat lereng menjadi labil dan mengurangi kestabilan material penyusunnya. Perubahan tersebut memicu longsor di Desa Kati Maju. Material tanah dan batuan yang menutup sebagian badan jalan kemudian menghambat pergerakan kendaraan dan memperburuk gangguan akses warga. Kondisi lereng yang masih jenuh air juga berpotensi mengalami pergerakan susulan, terutama apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

Dampak banjir dan longsor di Aceh Tenggara mengganggu sejumlah jalur transportasi serta fasilitas penting bagi warga. Material tanah dan lumpur longsor menutup badan jalan di Desa Kati Maju. Timbunan tersebut menyebabkan kemacetan panjang dan menghambat akses pengguna jalan di kawasan itu. Kondisi ini menunjukkan bahwa gangguan tidak hanya terjadi akibat genangan, tetapi juga karena material longsoran yang memenuhi ruas jalan.

Di sektor layanan air bersih, intake sumber air bersih Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara hanyut setelah tergerus banjir. Kerusakan tersebut berdampak pada bagian sumber pengambilan air yang digunakan dalam sistem penyediaan air bersih. Sementara itu, tanggul penahan tebing Sungai Lawe Bulan/Lawe Kisam di Desa Lawe Kihing jebol sepanjang 50 meter. Banjir juga merendam lahan pertanian seluas 15 hektare yang berada di Desa Lawe Kihing, Bambel Gabungan, dan Terutung Seperai.

Genangan turut menutup ruas jalan nasional Kutacane–Medan di kawasan Desa Bambel Gabungan hingga Terutung Megara Asli. Ketinggian air di ruas tersebut mencapai 30–50 sentimeter, sehingga akses pada jalur nasional itu terdampak. Selain jalan dan lahan pertanian, air juga menggenangi gudang logistik BPBD serta fasilitas SMPIT Al Khansa. Genangan pada gudang logistik dan fasilitas pendidikan tersebut menambah daftar sarana publik yang terdampak bencana.

Hingga keterangan terakhir, air masih belum surut. Dengan demikian, gangguan terhadap akses jalan, lahan pertanian, layanan air bersih, gudang logistik, dan fasilitas sekolah masih berlangsung. Kondisi genangan yang belum surut juga mempertahankan hambatan pada sejumlah lokasi terdampak, termasuk ruas jalan nasional dan kawasan permukiman yang berada di sekitar wilayah banjir.

BPBD Aceh Tenggara segera mengambil langkah penanganan darurat setelah banjir dan longsor mengganggu akses warga di sejumlah wilayah. Tim Reaksi Cepat diterjunkan untuk melakukan pendataan terhadap dampak bencana. Pendataan tersebut mencakup kondisi akses jalan, lokasi terdampak, serta berbagai hambatan yang muncul akibat material longsor, genangan, dan gangguan pada aliran air.

Untuk mempercepat pembersihan, BPBD menurunkan satu unit ekskavator ke Desa Kati Maju. Alat berat tersebut digunakan untuk membersihkan material longsor yang menutup atau menghambat akses warga. Pengoperasian ekskavator menjadi bagian dari upaya membuka kembali jalur yang terdampak, sehingga mobilitas di sekitar lokasi dapat berangsur ditangani sesuai kondisi lapangan.

Penanganan juga dilakukan di Jembatan Bailey Pulo Latong. Di lokasi ini, petugas mengeruk kayu gelondongan yang menghambat aliran air. Pembersihan dilakukan untuk mengurangi sumbatan pada bagian aliran dan membantu menjaga fungsi jembatan di tengah kondisi banjir. Langkah tersebut dilaksanakan bersamaan dengan pemantauan terhadap dampak bencana di wilayah sekitarnya.

Selain itu, personel pemadam kebakaran BPBD dikerahkan untuk membersihkan endapan lumpur di ruas jalan Pulo Nas Baru–Lawe Rutung. Pembersihan jalan dilakukan agar material lumpur tidak semakin menghambat akses pengguna jalan. BPBD juga melakukan penutupan tanggul serta normalisasi sungai di Desa Lawe Kihing sebagai bagian dari penanganan terhadap aliran air dan genangan.

Berbagai langkah tersebut masih berlangsung di sejumlah titik terdampak. Tim di lapangan terus melakukan penanganan sesuai kondisi yang ditemukan, sementara genangan air masih tetap ada di beberapa lokasi.