BGN Uji Integrasi CCTV Berbasis AI di Sekitar 70 Dapur MBG

oleh -61 Dilihat
oleh
BGN Uji Integrasi CCTV Berbasis AI di Sekitar 70 Dapur MBG

Jakarta | Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menguji integrasi kamera pengawas atau CCTV berbasis kecerdasan buatan di sekitar 70 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). SPPG merupakan unit yang menjalankan layanan penyediaan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan kerap disebut sebagai dapur MBG. Uji coba ini menjadi langkah untuk memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan program di lapangan.

Informasi tersebut disampaikan Kepala BGN Sudaryono dalam pemaparan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada Senin (19/10). Penggunaan teknologi AI pada CCTV sedang diuji pada puluhan lokasi, sehingga belum berarti sistem yang sama telah diterapkan secara menyeluruh di seluruh dapur MBG. Cakupan sekitar 70 SPPG menggambarkan tahap pengujian yang sedang berlangsung, sekaligus memberi ruang bagi BGN untuk menilai bagaimana teknologi itu mendukung pengawasan.

Integrasi CCTV berbasis AI ditujukan untuk membuat pemantauan kegiatan di lingkungan SPPG lebih ketat. Dengan dukungan kamera dan sistem pengolahan berbasis kecerdasan buatan, pengawasan diharapkan dapat membantu pihak terkait memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan operasional dapur. Teknologi ini dapat menjadi perangkat pendukung untuk mengamati aktivitas, bukan pengganti tanggung jawab pengelola maupun mekanisme pengawasan yang sudah berlaku.

Dalam konteks program MBG, pengawasan yang lebih kuat penting agar penyelenggaraan layanan di tiap SPPG dapat diperhatikan secara konsisten. Pengujian integrasi tersebut memungkinkan BGN melihat kesesuaian sistem dengan kebutuhan lapangan sebelum menentukan langkah berikutnya. Hasil uji coba juga dapat menjadi bahan evaluasi mengenai fungsi kamera, kelancaran integrasi, serta manfaatnya dalam menunjang pemantauan. Dengan demikian, rencana penggunaan CCTV berbasis AI perlu dipahami sebagai upaya yang masih diuji, dengan sasaran utama memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan program di sekitar puluhan dapur MBG yang menjadi lokasi uji coba.

Rekaman CCTV yang terhubung ke pusat pemantauan direncanakan menjadi sarana untuk mengamati kegiatan di sekitar dapur MBG secara lebih teratur. Dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI), tayangan dari kamera dapat membantu petugas meninjau aktivitas operasional tanpa hanya mengandalkan pemeriksaan langsung pada waktu tertentu. Cakupan pengawasan diarahkan pada kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), termasuk tahapan pengelolaan bahan, persiapan makanan, proses memasak, dan penyajian. Pemantauan tersebut diharapkan memberi gambaran yang lebih lengkap mengenai pelaksanaan kerja sehari-hari serta membantu menemukan bagian proses yang memerlukan perhatian.

Pengawasan tidak terbatas pada hasil akhir makanan. Kamera juga dapat digunakan untuk melihat apakah bahan ditangani dengan benar, area kerja digunakan sesuai fungsinya, dan kegiatan persiapan berlangsung di tempat yang semestinya. Perilaku karyawan selama bekerja turut menjadi bagian dari hal yang diamati, misalnya kepatuhan pada tata cara kerja dan kebersihan yang telah ditetapkan. Selain proses produksi, pemantauan mencakup pencucian ompreng setelah digunakan, sehingga tahap kebersihan peralatan dapat ditinjau sebagai bagian dari rangkaian layanan. Rekaman yang tersimpan dan terhubung ke pusat diharapkan memudahkan evaluasi ketika terdapat kondisi yang perlu diperiksa lebih lanjut.

BGN berharap pemanfaatan AI dapat membantu mengenali indikasi pelanggaran SOP dengan lebih cepat dan konsisten. Teknologi ini berfungsi sebagai alat bantu pengawasan; temuan dari rekaman tetap perlu ditinjau dan dikonfirmasi oleh petugas agar konteks kejadian dipahami secara tepat. Jika ditemukan penyimpangan, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk memberikan arahan, memperbaiki prosedur, atau meningkatkan pelatihan bagi karyawan. Pendekatan ini ditujukan agar evaluasi tidak berhenti pada pencatatan pelanggaran, melainkan mendorong perbaikan kerja di dapur. Dengan demikian, pemantauan terpusat dapat mendukung penerapan standar secara lebih merata, sekaligus membantu menjaga proses pengolahan dan penyajian makanan berjalan sesuai ketentuan.

Dapur-dapur MBG telah dilengkapi kamera pengawas atau CCTV yang merekam aktivitas di lingkungan kerja. Keberadaan perangkat tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat pengawasan, sebab rekaman dapat membantu melihat kembali proses yang berlangsung, termasuk kegiatan operasional sehari-hari. Namun, tersedianya kamera belum otomatis berarti rekamannya dimanfaatkan secara maksimal. Selama ini, CCTV di sejumlah dapur belum digunakan oleh pihak internal sebagai bagian dari sistem pemantauan terintegrasi. Dengan kata lain, perangkatnya telah tersedia, tetapi fungsi pengawasan berbasis rekaman belum terhubung secara menyeluruh dengan kebutuhan pemantauan operasional dapur.

Dalam upaya yang tengah dilakukan, Badan Gizi Nasional (BGN) berfokus menghubungkan kamera-kamera yang sudah terpasang agar rekamannya dapat mendukung pengawasan secara lebih terpadu. Langkah ini berbeda dari pengadaan perangkat baru dalam skala besar. Dengan memanfaatkan infrastruktur yang tersedia, upaya integrasi dapat diarahkan pada konektivitas dan pemanfaatan rekaman, bukan semata-mata penambahan kamera. Pendekatan tersebut juga dapat membantu memastikan perangkat yang telah dipasang memiliki fungsi yang lebih nyata bagi pengelola. Rekaman yang terkoneksi berpotensi memudahkan pemantauan aktivitas dari satu sistem, sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan teknis masing-masing dapur.

Sudaryono menjelaskan bahwa fokus saat ini adalah mengoneksikan CCTV yang telah ada. Penekanan tersebut menunjukkan bahwa BGN hendak mengoptimalkan sarana yang sudah tersedia sebelum mempertimbangkan kebutuhan pengadaan tambahan. Proses penyambungan perlu memperhatikan kondisi perangkat, jaringan, dan tata kelola akses rekaman, sehingga pemantauan dapat dilakukan secara tertib. Integrasi juga bukan berarti mengubah fungsi setiap kamera, melainkan membuat rekaman yang sebelumnya terpisah dapat dimanfaatkan dalam kerangka pengawasan yang lebih terhubung. Dengan demikian, kamera di sekitar dapur MBG diharapkan tidak hanya merekam aktivitas, tetapi juga mendukung evaluasi operasional secara lebih konsisten. Pemanfaatan sistem yang tersedia menjadi langkah awal untuk membangun pengawasan yang efektif tanpa mengabaikan kebutuhan teknis di lapangan.

Rencana integrasi CCTV berbasis kecerdasan buatan di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga membuka pembahasan mengenai siapa yang dapat melihat rekaman. Akses tersebut berpotensi diberikan secara terbatas kepada pihak tertentu, bukan dibuka tanpa batas kepada publik. Pengaturan ini perlu dirancang dengan mempertimbangkan keamanan, perlindungan informasi, dan tujuan pengawasan agar rekaman digunakan secara tepat. Dengan demikian, keterbukaan tetap dapat mendukung akuntabilitas tanpa mengabaikan risiko yang mungkin timbul dari penyebaran materi visual.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut kepala sekolah, guru, maupun orang tua siswa sebagai contoh pihak yang dapat dipertimbangkan untuk memperoleh akses. Keterlibatan mereka dapat membantu masyarakat mengetahui pelaksanaan layanan di lingkungan sekolah dan menyampaikan perhatian apabila terdapat hal yang perlu ditindaklanjuti. Sudaryono mendukung keterbukaan informasi serta pelibatan publik dalam pengawasan MBG. Namun, bentuk dan batas akses tetap perlu ditetapkan secara cermat, termasuk siapa yang berwenang melihat rekaman dan bagaimana informasi tersebut dikelola. Pendekatan yang terukur dapat menjaga keseimbangan transparansi, keamanan, dan tanggung jawab pengelola.

Selain pemantauan melalui CCTV, Badan Gizi Nasional (BGN) menyediakan layanan Radar MBG. Melalui layanan ini, pengguna dapat mengetahui menu harian, kandungan gizi, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasak makanan berdasarkan nama sekolah. Informasi tersebut memberi gambaran mengenai layanan yang diterima peserta didik, sedangkan rekaman CCTV berpotensi menyediakan bahan untuk memeriksa proses di dapur. Integrasi kamera diharapkan melengkapi sarana pengawasan yang sudah tersedia, terutama untuk melihat kepatuhan terhadap prosedur operasional standar (SOP) dan pelaksanaan program. Jika akses ditetapkan dengan aturan yang jelas, data dan rekaman dapat mendukung pengawasan yang lebih informatif, sekaligus memberi ruang bagi sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk berpartisipasi secara bertanggung jawab.