Jakarta | BMKG memperkuat operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu upaya untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan yang meningkat di sejumlah wilayah. Penguatan ini dilakukan menjelang peralihan musim, ketika kondisi cuaca dan ketersediaan hujan menjadi perhatian dalam pengendalian kebakaran. Operasi tersebut ditujukan untuk mendukung upaya pemadaman dan mengurangi risiko meluasnya titik api melalui pemanfaatan peluang pembentukan hujan. Langkah ini menjadi bagian dari respons terhadap perkembangan kebakaran, sekaligus antisipasi terhadap periode sebelum musim hujan yang berdasarkan pemantauan BMKG kerap menjadi waktu rawan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan keterangan mengenai penguatan tersebut di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa BMKG memberi perhatian pada kecenderungan peningkatan kebakaran menjelang datangnya musim hujan. Berdasarkan pemantauan lembaga itu, kebakaran cenderung meningkat dalam rentang dua hingga empat minggu sebelum musim hujan tiba. Pola waktu tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan kesiapan dan intensitas dukungan modifikasi cuaca. Dengan demikian, penguatan operasi dilakukan sebagai langkah antisipatif, bukan hanya setelah kebakaran berkembang, agar dukungan dapat diberikan pada periode yang dinilai rentan.
Menjelang peralihan musim, pemantauan kondisi atmosfer dan perkembangan cuaca menjadi penting untuk mendukung pelaksanaan operasi secara tepat. Modifikasi cuaca bergantung pada peluang dan kondisi awan yang tersedia, sehingga pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan hasil pengamatan. Penguatan kesiapan memungkinkan BMKG merespons perubahan situasi dan membantu upaya penanganan kebakaran secara lebih terarah. Meski demikian, operasi ini merupakan dukungan terhadap penanganan karhutla dan tidak menggantikan langkah pencegahan maupun pemadaman di lapangan. Informasi BMKG mengenai kecenderungan waktu peningkatan kebakaran juga dapat menjadi dasar bagi pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan sebelum musim hujan. Pendekatan tersebut menempatkan pemantauan dan kesiapan sebagai bagian penting dalam menghadapi risiko kebakaran pada masa peralihan musim.
Dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BMKG menerapkan kombinasi es kering atau dry ice dengan garam, yaitu natrium klorida (NaCl). Kedua bahan tersebut digunakan sebagai bagian dari upaya untuk memicu pembentukan hujan. Pendekatan ini ditempatkan dalam konteks dukungan terhadap penanganan karhutla, ketika hujan diharapkan dapat membantu mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api.
Penggunaan dry ice dan NaCl tidak dimaksudkan sebagai pemadaman langsung terhadap setiap titik api. Tujuannya adalah mendukung terbentuknya hujan melalui modifikasi cuaca, sehingga kondisi lingkungan di wilayah terdampak berpotensi menjadi lebih basah. Dengan demikian, operasi tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan meteorologis dalam menghadapi karhutla, bukan pengganti langkah penanggulangan lain yang dilakukan oleh pihak terkait.
Penjelasan mengenai kombinasi bahan ini perlu dipahami sebatas metode yang diterapkan dalam operasi tersebut. Informasi yang tersedia menyebut dry ice dan garam sebagai bahan yang digunakan untuk membantu memicu hujan, tanpa merinci tahapan teknis pelaksanaan, jumlah bahan, ataupun frekuensi penerbangan. Karena itu, tidak tepat menarik kesimpulan lebih jauh mengenai rincian operasional atau hasil yang telah dicapai berdasarkan informasi tersebut saja.
Dalam konteks karhutla, harapan dari upaya ini adalah hadirnya hujan yang dapat membantu meredakan kondisi kering dan mendukung penanganan kebakaran. Namun, penggunaan bahan pemicu hujan tidak dengan sendirinya memastikan hujan akan turun atau api akan padam. Hasil modifikasi cuaca bergantung pada keadaan atmosfer, sementara penanganan karhutla juga memerlukan koordinasi dan tindakan lapangan. Kombinasi dry ice dan NaCl menjelaskan salah satu cara yang digunakan BMKG untuk mendukung upaya tersebut, dengan tujuan memperbesar peluang terbentuknya hujan tanpa menggantikan strategi penanggulangan lainnya.
Faisal menyebut lapisan inversi sebagai salah satu kendala dalam upaya memicu hujan di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Dalam kondisi tersebut, kabut asap tertahan di bagian bawah atmosfer dan tidak mudah terangkat. Keberadaan lapisan ini menjadi perhatian karena proses pembentukan hujan memerlukan kondisi atmosfer yang mendukung, termasuk pemanasan permukaan dan penguapan. Karena itu, upaya modifikasi cuaca menghadapi tantangan ketika lapisan inversi masih membatasi kondisi yang diperlukan untuk mendukung perkembangan awan hujan.
Menurut keterangan Faisal, lapisan inversi berada pada kisaran ketinggian sekitar 6.000 hingga 7.000 kaki. Pada lapisan tersebut, kondisi atmosfer menghambat masuknya sinar matahari ke permukaan. Hambatan terhadap sinar matahari itu kemudian berkaitan dengan berkurangnya dukungan bagi proses penguapan, yang berperan dalam menyediakan uap air untuk pembentukan awan. Dengan demikian, keberadaan inversi tidak hanya membuat kabut asap tertahan di atmosfer bagian bawah, tetapi juga menjadi kendala bagi proses alam yang diharapkan dapat membantu pembentukan hujan.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa pemicu hujan tidak semata-mata bergantung pada pelaksanaan kegiatan modifikasi cuaca. Kondisi atmosfer setempat turut menentukan apakah proses penguapan dan pembentukan awan dapat berlangsung dengan dukungan yang memadai. Selama lapisan inversi menghambat sinar matahari dan penguapan, pembentukan awan hujan dapat menghadapi hambatan yang disebutkan Faisal. Informasi mengenai kisaran ketinggian lapisan tersebut memberi gambaran tentang kondisi yang menjadi tantangan dalam penanganan karhutla. Namun, dampak yang disampaikan secara khusus berkaitan dengan tertahannya kabut asap di atmosfer bawah serta terhambatnya sinar matahari dan proses penguapan pendukung pembentukan awan hujan.
Peningkatan kejadian kebakaran hutan dan lahan menjelang musim hujan menunjukkan bahwa risiko karhutla masih perlu mendapat perhatian, meskipun peralihan musim mulai berlangsung. Kondisi lahan yang kering dan cuaca yang belum konsisten menghadirkan tantangan bagi upaya pengendalian. Dalam situasi tersebut, pemantauan atmosfer menjadi penting karena peluang terbentuknya hujan tidak hanya ditentukan oleh pergantian kalender musim, tetapi juga dipengaruhi keadaan udara pada suatu wilayah. BMKG menggunakan informasi tersebut sebagai dasar untuk menilai kebutuhan dan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Langkah ini diarahkan untuk membantu penanganan risiko karhutla, bukan sebagai pernyataan bahwa api telah padam atau ancaman kebakaran sudah berakhir.
Salah satu kendala atmosfer yang menjadi perhatian adalah lapisan inversi. Pada kondisi ini, suhu udara meningkat pada lapisan tertentu seiring bertambahnya ketinggian, sehingga gerak udara ke atas dapat terhambat. Hambatan tersebut berpengaruh terhadap perkembangan awan dan proses yang mendukung pembentukan hujan. Karena itu, meskipun wilayah sedang mendekati musim hujan, kondisi setempat tetap perlu diperiksa sebelum peluang hujan dapat dinilai. Lapisan inversi menjadi bagian dari pertimbangan dalam membaca dinamika atmosfer dan menentukan langkah yang sesuai. Operasi modifikasi cuaca tidak menghilangkan perlunya pemantauan tersebut, melainkan dijalankan dengan memperhatikan kondisi yang teramati menjelang peralihan musim.
Dalam operasi yang diperkuat, BMKG menggunakan bahan seperti dry ice dan natrium klorida atau NaCl dengan tujuan membantu memicu proses pembentukan hujan. Penyebutan bahan dan tujuan itu perlu dipahami secara terbatas: informasi yang tersedia menjelaskan upaya yang dilakukan, bukan memastikan bahwa hujan telah turun sebagai hasil operasi. Demikian pula, pelaksanaan modifikasi cuaca tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kebakaran sudah tertangani. Perkembangan karhutla dan keadaan atmosfer tetap memerlukan pengawasan, sementara operasi disesuaikan dengan hasil pemantauan. Dengan demikian, penguatan operasi BMKG berangkat dari penilaian atas risiko kebakaran yang meningkat dan kondisi atmosfer, termasuk lapisan inversi, menjelang peralihan menuju musim hujan.
Baca juga: TNI Optimalkan Dukungan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Penanganan Karhutla di Kalimantan | TNI Kerahkan Kekuatan Udara, Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca | TNI Lanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Menanggulangi Karhutla di Dua Wilayah



































