Jakarta | Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta BRIN bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk menangani persoalan sampah. Keterangan tersebut disampaikan Arif seusai konferensi pers di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa. Arahan itu menempatkan kampus sebagai mitra penting dalam upaya memperluas penerapan teknologi pengolahan sampah, terutama pada lingkup rumah tangga dan desa. Penanganan di tingkat tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan di perkotaan, tetapi juga dengan kebiasaan, fasilitas, dan kemampuan masyarakat setempat.
Menurut Arif, Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap masalah sampah di Indonesia. Presiden juga menyebut persoalan serupa dijumpai di berbagai negara berkembang. Karena itu, penyelesaian masalah perlu didorong melalui pendekatan yang dapat diterapkan sesuai kondisi wilayah, sekaligus melibatkan pihak-pihak yang memiliki pengetahuan dan kapasitas teknologi. Kampus memiliki sumber daya akademik dan tenaga ahli, sedangkan BRIN mengembangkan berbagai teknologi yang berpotensi mendukung pengolahan sampah. Kolaborasi keduanya diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan desa dengan pilihan solusi yang relevan, bukan sekadar menghadirkan teknologi tanpa mempertimbangkan kesiapan pengguna serta karakteristik lingkungan.
BRIN, lanjut Arif, diminta berkolaborasi dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk memberdayakan perguruan tinggi agar turut membantu desa. Kerja sama ini mencakup pemanfaatan teknologi yang dimiliki BRIN maupun teknologi yang dikembangkan oleh kampus. Dengan keterlibatan perguruan tinggi, dukungan dapat diarahkan lebih dekat kepada masyarakat, mulai dari pengenalan teknologi hingga penerapannya dalam pengelolaan sampah sehari-hari. Arahan tersebut juga membuka ruang bagi kampus untuk mengambil peran dalam menjawab kebutuhan daerah melalui keahlian yang tersedia. Upaya ini diharapkan mendorong penanganan sampah rumah tangga dan desa secara lebih terarah, serta menghubungkan riset dan inovasi dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Arif, BRIN telah mengembangkan teknologi pengolahan sampah yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pada beragam skala. Pilihannya mencakup pengolahan di tingkat rumah tangga, desa, kecamatan, hingga kota. Perbedaan skala tersebut penting karena jumlah dan jenis sampah, ketersediaan lahan, serta kemampuan pengelolaan tidak selalu sama di setiap wilayah. Karena itu, satu teknologi belum tentu cocok digunakan di semua tempat.
Arahan Presiden menekankan agar teknologi yang sesuai untuk rumah tangga dan desa segera diterapkan. Langkah ini dapat mendekatkan penanganan sampah ke sumbernya, sekaligus membantu masyarakat mengelola sampah sebelum volumenya terkumpul dan harus diangkut ke fasilitas yang lebih besar. Penerapan di tingkat lokal juga berpotensi mendorong keterlibatan warga dan pemerintah desa dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan.
Namun, percepatan penerapan bukan berarti BRIN bertugas memproduksi teknologi secara massal. Peran lembaga riset tersebut adalah mengembangkan dan menghasilkan prototipe berdasarkan penelitian. Prototipe kemudian diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, maupun pihak lain yang memiliki kapasitas untuk mengadopsi dan mengoperasikannya. Produksi dalam jumlah besar dan pengelolaan layanan di lapangan memerlukan dukungan serta peran para mitra terkait.
Dengan demikian, keberhasilan riset tidak cukup diukur dari tersedianya alat atau teknologi. Hasil penelitian perlu terbukti berguna, sesuai dengan kondisi pengguna, dan dapat diterapkan secara konsisten. Untuk itu, pemilihan teknologi harus mempertimbangkan kebutuhan setempat, kesiapan operator, biaya operasional, ketersediaan perawatan, serta cara menangani hasil pengolahan. Pendampingan dan koordinasi dengan pihak yang akan menggunakan prototipe juga dapat membantu mengidentifikasi kendala sejak awal.
Perhatian terhadap penerapan dan kegunaan hasil riset menjadi penting agar inovasi tidak berhenti sebagai demonstrasi. Teknologi yang tepat guna dapat menjadi dasar bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat pengelolaan sampah sesuai skala wilayahnya. Dalam pendekatan ini, BRIN menyediakan hasil pengembangan, sementara pemanfaatannya membutuhkan kerja sama dengan pihak-pihak yang mampu meneruskan teknologi tersebut menjadi solusi operasional di rumah tangga dan desa.
Penerapan prototipe teknologi pengolahan sampah yang dikembangkan BRIN bersama kampus dapat menjadi salah satu langkah nyata untuk mendukung gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI). Gerakan yang dicanangkan Presiden Prabowo tersebut mengajak berbagai pihak memperhatikan kondisi lingkungan di seluruh daerah. Karena itu, upaya membawa teknologi pengolahan sampah ke desa memiliki kaitan langsung dengan semangat ASRI: mendorong lingkungan yang lebih tertata, bersih, dan nyaman bagi masyarakat. Pengembangan teknologi tidak berhenti pada keberhasilan membuat prototipe, tetapi perlu dilanjutkan dengan penerapan yang sesuai kebutuhan setempat.
Sebagaimana tujuan yang disampaikan dalam gerakan ASRI, Indonesia diharapkan menjadi lebih hijau dengan pepohonan serta bersih dari sampah di seluruh daerah. Kedua cita-cita itu saling melengkapi. Pengelolaan sampah yang lebih baik dapat membantu mengurangi pencemaran dan menjaga kebersihan ruang publik, sementara penghijauan mendukung lingkungan yang lebih teduh dan asri. Di tingkat desa, keberadaan alat pengolahan yang tepat guna berpotensi membantu warga menangani sampah secara lebih terarah. Namun, manfaatnya akan bergantung pada kemudahan penggunaan, ketersediaan dukungan, serta kesesuaian proses dengan jenis dan jumlah sampah yang dihadapi masyarakat.
Arif berharap prototipe BRIN benar-benar memberi manfaat dan dapat digunakan oleh masyarakat. Harapan tersebut menempatkan kebutuhan pengguna sebagai bagian penting dari penerapan teknologi: prototipe perlu dapat dioperasikan, dipelihara, dan dimanfaatkan dalam kegiatan sehari-hari, bukan hanya diperkenalkan sebagai hasil riset. Jika teknologi mampu menjawab kebutuhan desa, penerapannya dapat ikut memperkuat kebiasaan mengelola sampah dan menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Dengan demikian, kerja sama BRIN, kampus, pemerintah daerah, dan warga dapat membantu menerjemahkan tujuan gerakan ASRI ke dalam tindakan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pemanfaatan prototipe diharapkan sejalan dengan harapan presiden untuk mewujudkan Indonesia yang lebih hijau dan bersih dari sampah di seluruh daerah.
Dalam gerakan ASRI, pengelolaan sampah ditempatkan sebagai upaya yang perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Artinya, persoalan sampah tidak hanya ditangani ketika sampah sudah menumpuk atau harus dibuang, tetapi juga perlu diperhatikan sejak sumbernya. Pendekatan ini menekankan keteraturan dalam menangani sampah di setiap tahap, sehingga upaya pengurangan, pemanfaatan, dan pengolahan dapat saling mendukung.
Penanganan dari hulu berkaitan dengan cara sampah dihasilkan dan dikelola sejak awal, termasuk mendorong kebiasaan untuk mengurangi timbulan. Selanjutnya, sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak serta-merta diperlakukan sebagai bahan buangan. Pada tahap hilir, pengolahan diperlukan agar sampah yang tersisa dapat ditangani dengan lebih terarah. Kerangka tersebut menempatkan pengelolaan sampah sebagai rangkaian proses, bukan tindakan tunggal yang hanya berfokus pada pembuangan akhir.
Dukungan terhadap pengolahan sampah menjadi energi juga menjadi bagian dari upaya pemanfaatan. Pendekatan ini mengaitkan penanganan sampah dengan kemungkinan menghasilkan energi, sehingga sampah dapat dipandang sebagai bahan yang masih berpotensi berguna apabila diolah. Pengolahan menjadi energi melengkapi upaya pengelolaan lainnya dan tidak menggantikan pentingnya mengurangi sampah sejak sumbernya. Dengan demikian, perhatian tetap diberikan pada keseluruhan alur penanganan, sesuai dengan prinsip pengelolaan dari hulu hingga hilir.
Prinsip 3R turut menjadi dasar penting dalam pengelolaan tersebut. Reduce berarti mengurangi penggunaan atau timbulan barang yang berpotensi menjadi sampah. Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih layak, sehingga masa gunanya dapat diperpanjang. Sementara itu, recycle berarti mendaur ulang bahan agar dapat diolah menjadi produk atau kegunaan baru.
Baca juga: Toyota Didorong Perluas Produksi BEV, Model Lebih Terjangkau Dinanti



































