Dampak Krisis Iklim pada Harga Pangan dan Kehidupan Pekerja Harian

oleh -466 Dilihat
oleh
Dampak Krisis Iklim pada Harga Pangan dan Kehidupan Pekerja Harian

Jakarta | Greenpeace Indonesia menilai dampak krisis iklim sudah dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dampak tersebut lain tampak melalui kenaikan harga bahan pangan dan terganggunya penghasilan pekerja harian. Dengan demikian, krisis iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan yang dibicarakan dalam konteks jangka panjang, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan dasar dan kondisi ekonomi yang dihadapi orang saat ini.

Jeanny Sirait, juru kampanye keadilan iklim Greenpeace Indonesia, menegaskan bahwa krisis iklim bukan semata ancaman bagi masa depan. Menurutnya, dampaknya telah memengaruhi kebutuhan dasar masyarakat. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pembahasan mengenai perubahan iklim perlu memperhatikan pengalaman yang sudah berlangsung, termasuk perubahan pada harga pangan serta penghasilan pekerja harian.

Kenaikan harga bahan pangan dapat membuat pemenuhan kebutuhan sehari-hari semakin berat, terutama ketika penghasilan tidak ikut terjaga. Pada saat yang sama, terganggunya penghasilan pekerja harian menunjukkan bahwa dampak krisis iklim juga dirasakan melalui sisi pendapatan. Kedua hal tersebut berkaitan erat: kebutuhan tetap harus dipenuhi, sementara kemampuan untuk memperoleh penghasilan dapat menghadapi gangguan. Karena itu, dampaknya tidak cukup dipahami hanya sebagai perubahan pada lingkungan alam.

Penilaian Greenpeace Indonesia tersebut menempatkan krisis iklim sebagai persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Harga pangan dan penghasilan merupakan bagian dari kebutuhan serta keseharian, sehingga perubahan pada keduanya dapat dirasakan secara langsung. Penegasan Jeanny Sirait juga mengingatkan bahwa perhatian tidak seharusnya terbatas pada risiko yang mungkin muncul di masa depan. Dampak yang telah terjadi perlu diakui sebagai persoalan sekarang, termasuk ketika berpengaruh pada hal-hal mendasar yang menopang kehidupan.

Memahami kaitan ini membantu memperjelas mengapa krisis iklim relevan bagi masyarakat luas. Isunya bukan hanya tentang kondisi iklim, melainkan juga tentang konsekuensi yang menyentuh kebutuhan dasar dan mata pencaharian. Kenaikan harga bahan pangan serta terganggunya penghasilan pekerja harian menjadi gambaran dampak yang disebut Greenpeace Indonesia. Keduanya menegaskan bahwa krisis iklim telah hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kemungkinan jauh di kemudian hari.

Dalam penjelasannya, Jeanny mengacu pada hasil riset Greenpeace yang menunjukkan bahwa krisis iklim merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan harga bahan pangan. Hubungan ini berkaitan dengan perubahan kondisi cuaca yang memengaruhi kegiatan pertanian dari tahap awal hingga masa panen. Saat pola cuaca menjadi semakin tidak menentu, petani lebih sulit memperkirakan waktu yang sesuai untuk memulai kegiatan tanam dan menjaga tanaman tumbuh. Ketidakpastian tersebut tidak selalu berarti hasil langsung berkurang, tetapi memperbesar paparan produksi pangan terhadap gangguan. Dengan demikian, dampak iklim perlu dipahami sebagai tekanan pada proses produksi yang pada akhirnya dapat berpengaruh pada ketersediaan pangan dan pembentukan harga.

Pola cuaca yang berubah dapat membuat jadwal tanam yang sebelumnya dapat diandalkan menjadi kurang sesuai. Perubahan waktu hujan atau kondisi lain yang mendukung pertumbuhan tanaman bisa menghambat persiapan lahan, penanaman, serta pemeliharaan. Jika kondisi tidak mendukung ketika kegiatan tersebut berlangsung, petani berhadapan dengan risiko gagal tanam. Artinya, upaya menanam dapat terganggu sejak awal, sehingga hasil yang diharapkan menjadi tidak pasti. Pada fase berikutnya, perubahan cuaca juga dapat meningkatkan kemungkinan gagal panen apabila tanaman tidak mampu melewati kondisi yang berubah. Risiko ini tidak seragam untuk setiap situasi, tetapi menjadi pertimbangan penting dalam memahami kerentanan pertanian terhadap krisis iklim.

Ketika kegiatan tanam atau panen terganggu, produksi pangan dapat menghadapi tekanan. Dampaknya terhadap harga tidak selalu terjadi secara langsung atau dengan cara yang sama, sebab harga juga dipengaruhi berbagai faktor lain. Namun, hasil riset yang dijelaskan Jeanny menempatkan krisis iklim sebagai salah satu penyebab yang patut diperhitungkan. Gangguan terhadap produksi dapat memengaruhi jumlah pangan yang tersedia, sementara ketidakpastian cuaca menyulitkan petani merencanakan kegiatan berikutnya. Karena itu, risiko gagal tanam dan gagal panen bukan hanya persoalan di tingkat usaha pertanian, tetapi juga berkaitan dengan kestabilan pasokan pangan. Memahami hubungan tersebut membantu menjelaskan mengapa perubahan pola cuaca dapat berimbas lebih luas pada kehidupan masyarakat melalui kemungkinan kenaikan harga bahan pangan.

Kenaikan suhu permukaan laut merupakan salah satu perubahan lingkungan yang dapat memengaruhi kondisi perairan dan kehidupan nelayan. Suhu yang lebih tinggi berpotensi mengubah sebaran ikan, waktu kemunculannya, serta wilayah tempat ikan mencari makan. Akibatnya, lokasi yang biasanya menjadi daerah tangkapan belum tentu menghasilkan jumlah ikan yang sama seperti sebelumnya. Nelayan mungkin perlu melaut lebih jauh atau mengubah waktu dan cara penangkapan, meskipun kemampuan untuk beradaptasi berbeda-beda. Perubahan tersebut tidak serta-merta berarti hasil tangkapan setiap nelayan selalu menurun, sebab banyak faktor lain turut berperan, termasuk cuaca, kondisi ekosistem, jenis alat tangkap, dan pengelolaan sumber daya. Namun, suhu laut yang meningkat dapat menambah ketidakpastian dalam memperoleh hasil yang cukup.

Jika hasil tangkapan berkurang atau menjadi kurang konsisten, pasokan ikan untuk pasar juga dapat terdampak. Keterangan sumber menyebutkan bahwa pasokan pangan berpotensi terganggu akibat tekanan iklim; dampak terhadap ketersediaan ikan dapat menjadi salah satu bagian dari persoalan tersebut. Hubungan ini perlu dipahami secara hati-hati: perubahan suhu laut bukan satu-satunya penyebab berkurangnya pasokan, dan dampaknya dapat berbeda menurut wilayah serta musim. Meski demikian, ketika nelayan membawa pulang hasil yang lebih sedikit, jumlah ikan yang tersedia bagi pedagang dan konsumen setempat mungkin ikut menyusut. Bagi pekerja harian dan keluarga berpenghasilan terbatas, perubahan ketersediaan ini penting karena ikan merupakan sumber pangan sekaligus komoditas yang dibeli secara rutin.

Jeanny menjelaskan bahwa tekanan harga dapat muncul ketika pasokan menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi. Dalam keadaan seperti itu, persaingan untuk memperoleh barang yang tersedia dapat mendorong harga pangan di pasar naik. Kenaikan harga tidak otomatis terjadi dengan besaran yang sama di semua tempat, karena biaya distribusi, stok, musim, dan kondisi pasar lokal juga berpengaruh. Namun, apabila ikan lebih sulit diperoleh dan permintaan tetap kuat, konsumen dapat menghadapi pilihan yang lebih terbatas atau harus membayar lebih untuk jumlah yang sama. Dampak tersebut terasa lebih berat bagi rumah tangga yang pendapatannya bergantung pada upah harian, sebab ruang untuk menyesuaikan belanja sering kali sempit. Karena itu, perubahan pada laut dapat berhubungan dengan ketahanan pangan dan pengeluaran sehari-hari, melalui rangkaian pasokan dan harga.

Aksi Greenpeace Indonesia menjadi salah satu konteks penting dalam pemberitaan mengenai dampak krisis iklim terhadap harga pangan dan kehidupan pekerja harian. Pada Selasa, 20 Oktober 2026, organisasi tersebut membentangkan spanduk di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Aksi di ruang publik itu menyoroti persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Ketika kondisi iklim mengganggu kegiatan produksi dan distribusi pangan, perubahan tersebut dapat terasa melalui ketersediaan barang maupun biaya yang harus dikeluarkan rumah tangga.

Bagi pekerja harian, kenaikan harga bahan pangan berpotensi semakin membebani pengeluaran, terutama ketika penghasilan bergantung pada pekerjaan yang tersedia dari hari ke hari. Mereka memiliki ruang terbatas untuk menyesuaikan anggaran apabila harga kebutuhan pokok berubah, sementara pendapatan tidak selalu meningkat seiring dengan perubahan biaya hidup. Karena itu, pembahasan mengenai harga pangan perlu melihat hubungan tekanan ekonomi yang dirasakan keluarga dan persoalan lebih luas yang memengaruhi sistem pangan.

Baca juga: Gerakan Pangan Murah Digelar Serentak, Pemerintah Perkuat Akses dan Stabilitas Harga | Pastikan pembangunan berjalan sesuai target, Dansatgas TMMD ke 130 Kodim 1808/Mansel tinjau langsung pekerja jembatan