Danantara Bidik Saham BUMN Saat IHSG Turun di Bawah 5.000

oleh -73 Dilihat
oleh
Danantara Bidik Saham BUMN Saat IHSG Turun di Bawah 5.000

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun ke level 4.996,6, menembus ke bawah ambang 5.000. Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan indeks berada di bawah batas psikologis itu. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menanggapi situasi pasar tersebut dengan melihatnya sebagai peluang. Menurut Rosan, harga saham yang lebih rendah dapat menjadi kesempatan untuk mencermati aset yang tersedia. Ia menyampaikan pandangan itu di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin (19/10/2026). Pernyataan tersebut menempatkan penurunan IHSG dalam sudut pandang investor yang mempertimbangkan valuasi dan peluang pembelian.

Rosan menilai kondisi ketika harga saham menjadi lebih murah dapat membuka ruang bagi Danantara untuk melihat peluang investasi. Pandangan itu bukan pernyataan bahwa seluruh saham otomatis menarik untuk dibeli, melainkan respons terhadap perubahan harga di pasar. Bagi investor, penurunan indeks dapat mendorong evaluasi atas nilai perusahaan dan prospek masing-masing emiten. Namun, pergerakan IHSG ke bawah 5.000 saja belum menjelaskan kinerja setiap saham secara terpisah. Karena itu, peluang yang disebut Rosan perlu dipahami sebagai kesempatan untuk mencermati pilihan investasi, bukan kepastian bahwa harga akan segera pulih atau bahwa semua saham sudah berada pada nilai yang tepat.

IHSG merupakan indikator gabungan pergerakan saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, sehingga level indeks memberi gambaran umum, bukan keputusan investasi secara langsung. Pernyataan Rosan menyoroti bagaimana harga yang turun dapat dipandang dari sisi kesempatan, sekaligus menegaskan perhatian Danantara terhadap kondisi pasar. Bagi pembaca dan pelaku pasar, informasi utama dari peristiwa ini adalah level IHSG sempat mencapai 4.996,6 dan respons CEO Danantara terhadap harga yang dinilai lebih murah. Tidak ada penyebab penurunan indeks yang disampaikan dalam keterangan tersebut. Dengan demikian, konteks yang tersedia terbatas pada posisi IHSG dan pandangan Rosan mengenai peluang yang mungkin muncul ketika harga saham melemah.

Rosan mengamini bahwa Danantara tengah menyiapkan kemungkinan penyertaan modal pada sejumlah saham yang diperdagangkan di bursa. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa lembaga itu sedang mengkaji peluang investasi, bukan bahwa pembelian saham telah dilakukan atau keputusan final sudah ditetapkan. Kajian ini berlangsung ketika tekanan pasar membuat harga sejumlah saham turun, termasuk di tengah pelemahan IHSG hingga berada di bawah level 5.000. Bagi investor dengan orientasi jangka panjang, perubahan harga seperti itu dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menilai kembali prospek dan nilai suatu perusahaan.

Menurut Rosan, valuasi perusahaan-perusahaan Indonesia saat ini dinilai sangat baik dan fundamentalnya solid. Penurunan harga saham, dalam pandangan tersebut, dapat membuka kesempatan untuk masuk pada tingkat harga yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Namun, harga yang turun saja tidak otomatis menjadikan suatu saham menarik. Penilaian tetap perlu mempertimbangkan kinerja usaha, kualitas aset, prospek pertumbuhan, tata kelola, serta risiko yang melekat pada masing-masing perusahaan. Karena itu, peluang investasi yang sedang disiapkan memerlukan kajian menyeluruh sebelum keputusan mengenai penyertaan modal diambil.

Pandangan Danantara mengenai peluang tersebut tidak terbatas pada pasar modal secara umum. Rosan juga menyampaikan bahwa pertimbangan investasi dapat mencakup BUMN yang dimiliki, sehingga penilaian terhadap perusahaan negara menjadi bagian dari cakupan kajian. Pendekatan ini menempatkan investasi sebagai keputusan jangka panjang yang perlu diselaraskan dengan nilai perusahaan dan prospek bisnisnya, bukan sekadar respons terhadap gejolak harga dalam jangka pendek. Meski demikian, belum ada keterangan bahwa transaksi tertentu telah terlaksana. Tahap persiapan dan penilaian masih penting untuk menentukan apakah suatu aset sesuai dengan tujuan investasi Danantara, sekaligus memastikan penggunaan modal dilakukan secara cermat di tengah dinamika pasar.

Rosan menggunakan saham perbankan sebagai contoh untuk menjelaskan bagaimana valuasi dapat dibaca ketika pasar sedang melemah. Berdasarkan perhitungan price to book value (PBV) yang ia sampaikan, rata-rata nilai saham perbankan disebut sudah berada di angka satu. PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan, sehingga angka tersebut memberi konteks mengenai posisi valuasi terhadap aset bersih yang tercatat. Namun, rasio ini bukan satu-satunya ukuran untuk menilai suatu saham. Investor tetap perlu melihat kondisi usaha, kualitas aset, prospek pertumbuhan, serta berbagai risiko yang dapat memengaruhi kinerja bank.

Dalam penjelasannya, Rosan juga menilai perbankan Indonesia berada dalam kondisi sehat. Penilaian itu disertai contoh dividen yang disebut berasal dari Bank Mandiri sekitar 16% dan BRI sekitar 13%. Angka tersebut menggambarkan besaran dividen yang ia rujuk, bukan janji bahwa investor akan menerima tingkat imbal hasil yang sama pada masa mendatang. Pembayaran dividen dapat berubah sesuai keputusan perusahaan, kinerja keuangan, kebutuhan modal, dan kebijakan yang berlaku. Karena itu, angka historis atau perkiraan yang dikemukakan perlu dipahami sesuai konteksnya, bukan dianggap sebagai hasil pasti.

Menurut Rosan, dividen tersebut dapat menjadi gambaran imbal hasil bagi investor, bahkan apabila kenaikan harga saham belum diperhitungkan. Dengan cara pandang ini, potensi pendapatan dari pembagian laba perusahaan dipisahkan dari kemungkinan keuntungan akibat perubahan harga saham. Keduanya merupakan sumber hasil investasi yang berbeda dan tidak selalu bergerak searah. Saham dapat membagikan dividen sementara harganya berfluktuasi, termasuk turun, sehingga total hasil yang diterima investor tetap bergantung pada sejumlah faktor. Contoh perbankan itu menjelaskan alasan valuasi dan dividen mendapat perhatian dalam pembahasan pasar, tetapi bukan rekomendasi atau jaminan keuntungan. Investor perlu mempertimbangkan tujuan, jangka waktu, toleransi risiko, serta informasi terbaru sebelum mengambil keputusan.

Rosan menilai kondisi pasar saham saat indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah hingga berada di bawah 5.000 justru membuka peluang untuk mencermati saham-saham yang dinilai menarik. Perhatian tersebut terutama tertuju pada saham perusahaan milik negara atau BUMN. Menurutnya, sejumlah perusahaan BUMN memiliki fondasi usaha yang kuat sehingga sahamnya layak ditelaah lebih lanjut di tengah tekanan pasar. Penilaian ini menunjukkan bahwa pergerakan indeks yang turun tidak serta-merta menghapus potensi investasi, tetapi dapat menjadi momentum untuk mengkaji nilai dan prospek perusahaan secara lebih cermat.

Ia juga menyampaikan bahwa Danantara kemungkinan dalam waktu dekat akan ikut menyuntikkan modal ke beberapa saham BUMN. Namun, langkah itu tidak berarti seluruh saham perusahaan negara otomatis menjadi sasaran. Saham yang dipertimbangkan tetap perlu melalui proses seleksi dan analisis, dengan perhatian utama pada fundamental masing-masing perusahaan. Aspek seperti kekuatan bisnis dan landasan kinerja menjadi pertimbangan penting untuk menilai apakah suatu saham sesuai dengan tujuan penempatan modal. Dengan pendekatan tersebut, keputusan investasi diharapkan bertumpu pada evaluasi perusahaan, bukan hanya pada perubahan harga saham dalam jangka pendek.

Rosan belum merinci nama saham BUMN yang masuk dalam pertimbangan Danantara. Ia juga tidak menyebutkan besaran modal yang mungkin disalurkan maupun waktu pelaksanaannya. Karena itu, rencana tersebut masih perlu dipahami sebagai kemungkinan investasi yang sedang dipertimbangkan, bukan pengumuman transaksi yang telah dipastikan. Informasi mengenai sasaran dan skala investasi baru dapat dinilai lebih jelas apabila Danantara menyampaikan rincian resmi. Untuk saat ini, pernyataan Rosan menegaskan minat terhadap saham BUMN yang dianggap memiliki fondasi kuat, sekaligus menempatkan analisis fundamental sebagai dasar utama sebelum modal dialokasikan. Investor pun dapat membedakan sinyal ketertarikan terhadap pasar dan kepastian realisasi investasi, sambil menunggu informasi lanjutan mengenai proses seleksi yang dilakukan lembaga tersebut.

Baca juga: IHSG Pulih Menjelang Sore, Tekanan Jual Saham BUMN Mereda | IHSG Pangkas Pelemahan, Sejumlah Saham BUMN Berbalik Menguat | BEI Siapkan Penanda Afiliasi Pemegang Saham dan Perubahan Bobot IHSG