Dari Apel Hari Santri di Tebuireng, PBNU Ajak Warga Gelar Salat Istisqa

oleh -54 Dilihat
oleh
Dari Apel Hari Santri di Tebuireng, PBNU Ajak Warga Gelar Salat Istisqa

Kabupaten Jombang | Apel akbar untuk memperingati Hari Santri Nasional 2026 berlangsung di lapangan Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Ribuan santri memadati lokasi untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi bagian dari peringatan Hari Santri yang digelar di lingkungan pesantren itu. Apel tersebut mempertemukan para santri di satu tempat dalam rangka memperingati tanggal yang ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

Jumlah peserta yang mencapai ribuan membuat lapangan Pesantren Tebuireng dipenuhi santri yang hadir mengikuti apel. Kegiatan berlangsung di Jombang, salah satu wilayah yang memiliki pesantren dan tradisi pendidikan keagamaan. Namun, keterangan mengenai kegiatan ini secara khusus mencatat lokasi, waktu, serta banyaknya santri yang hadir, tanpa merinci keadaan lapangan atau susunan acara lainnya. Karena itu, kehadiran para peserta dapat dipahami dalam konteks apel peringatan Hari Santri Nasional, tanpa menambahkan gambaran yang tidak disebutkan.

Peringatan Hari Santri Nasional menjadi pokok kegiatan yang diikuti para santri pada Kamis tersebut. Mereka datang ke lapangan Tebuireng untuk mengikuti apel akbar, sementara pelaksanaan di Kabupaten Jombang menempatkan Pesantren Tebuireng sebagai lokasi peringatan. Informasi yang tersedia menyebut ribuan santri memadati tempat itu, tetapi tidak menjelaskan asal setiap peserta maupun alasan personal mereka hadir. Tujuan yang dapat disampaikan berdasarkan keterangan kegiatan adalah mengikuti apel dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.

Dengan demikian, peristiwa di Tebuireng tercatat sebagai apel akbar Hari Santri yang dihadiri ribuan santri pada 22 Oktober 2026. Tempat pelaksanaan dan tanggal tersebut menjadi unsur utama dalam laporan mengenai kegiatan. Kehadiran peserta menunjukkan bahwa apel peringatan itu diikuti dalam jumlah besar, sesuai keterangan bahwa ribuan santri memadati lokasi. Uraian ini tidak menambahkan rincian mengenai suasana, pidato, pihak yang memimpin apel, ataupun rangkaian kegiatan lain yang tidak tercantum dalam informasi sumber.

Peringatan Hari Santri di Tebuireng dihadiri berbagai kalangan, mulai dari tokoh lokal dan pengasuh pesantren hingga jajaran petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kehadiran para undangan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ini melibatkan unsur masyarakat setempat, lingkungan pesantren, serta pengurus organisasi di tingkat pusat. Mereka berkumpul dalam satu rangkaian peringatan yang menjadi ruang kebersamaan sekaligus kesempatan untuk mengikuti agenda yang telah disiapkan panitia.

Di tokoh PBNU yang hadir terdapat Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz, yang juga dikenal dengan sapaan Gus Kikin. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari perhatian jajaran PBNU terhadap peringatan yang berlangsung di Tebuireng. Sejumlah tokoh lain yang turut hadir adalah Prof Mohammad Nuh serta Saifullah Yusuf, yang dikenal dengan sapaan Gus Ipul. Nama-nama tersebut hadir bersama tokoh lokal dan para pengasuh pesantren dalam kegiatan tersebut.

Partisipasi pengasuh pesantren dan tokoh masyarakat lokal juga memberi gambaran tentang keterlibatan komunitas di sekitar Tebuireng. Kehadiran mereka berdampingan dengan jajaran PBNU dalam peringatan Hari Santri, tanpa mengurangi peran masing-masing unsur dalam acara. Rangkaian ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk bertemu dan mengikuti kegiatan bersama, sekaligus menandai peringatan Hari Santri di lingkungan pesantren. Dengan beragam unsur yang hadir, acara tersebut mencerminkan suasana kebersamaan komunitas lokal, kalangan pesantren, dan jajaran organisasi. Kehadiran para tokoh itu juga menjadi bagian penting dari pelaksanaan peringatan, yang diikuti oleh undangan dari beragam latar. Dalam konteks acara di Tebuireng, keterlibatan tokoh lokal, pengasuh pesantren, serta petinggi PBNU menegaskan luasnya partisipasi tanpa perlu mengaitkan peserta dengan jabatan atau peran lain yang tidak disebutkan.

Dalam amanat pada apel Hari Santri di Tebuireng, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz mengajak masyarakat dan pemerintah Indonesia memperkuat persatuan di tengah beragam persoalan bangsa. Pesan tersebut menempatkan kebersamaan sebagai landasan penting untuk merespons tantangan yang dihadapi bersama, tanpa mengabaikan peran masing-masing pihak. Momentum Hari Santri, menurut amanat yang disampaikan, dapat menjadi ruang untuk mengingat kembali pentingnya merawat hubungan sosial dan membangun kepedulian terhadap keadaan di berbagai daerah.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian ialah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di Pulau Kalimantan. Sorotan itu disampaikan sebagai bagian dari ajakan agar kondisi tersebut mendapat perhatian bersama. Dalam menghadapi persoalan lintas wilayah seperti ini, masyarakat dan pemerintah diharapkan menjaga komunikasi serta memperkuat kerja sama. Seruan tersebut tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok, tetapi menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam melihat persoalan yang berkembang di Tanah Air.

Ajakan memperkuat persatuan juga menggarisbawahi perlunya menghindari perpecahan ketika bangsa menghadapi berbagai tantangan. Pemerintah dan warga dapat mengambil peran melalui perhatian, koordinasi, dan kepedulian yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks karhutla, amanat tersebut menyoroti wilayah yang masih menghadapi kebakaran, khususnya Kalimantan, tanpa menguraikan penyebab maupun dampak peristiwa itu. Penyampaian pesan di hadapan peserta apel Hari Santri di Tebuireng sekaligus menegaskan bahwa peringatan tersebut berkaitan dengan tanggung jawab sosial. Dengan semangat kebersamaan, masyarakat diharapkan terus mendukung upaya menghadapi persoalan bangsa, sementara pemerintah memperkuat perhatian terhadap keadaan di daerah. Pesan KH Abdul Hakim Mahfudz menghubungkan semangat Hari Santri dengan dorongan untuk menjaga persatuan, merawat kepedulian, dan tidak melupakan masalah yang sedang berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia.

KH Abdul Hakim Mahfudz mengajak warga Nahdliyin di berbagai daerah untuk menggelar salat istisqa, yaitu salat yang dilakukan sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Ajakan tersebut disampaikan di tengah kondisi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Melalui ibadah ini, warga diharapkan dapat bersama-sama memanjatkan doa dan memohon pertolongan Allah, sekaligus menyikapi keadaan dengan kepedulian terhadap sesama. Seruan itu tidak hanya ditujukan kepada warga di satu wilayah, melainkan kepada kalangan Nahdliyin di berbagai daerah yang menghadapi dampak kemarau dan karhutla.

Salat istisqa merupakan bentuk ikhtiar keagamaan yang dapat dilaksanakan secara berjemaah. Dalam ajakan tersebut, warga didorong untuk mengadakan salat dan berdoa agar hujan turun, sehingga kondisi yang menyulitkan masyarakat dapat berangsur membaik. Permohonan itu ditujukan kepada Allah SWT, dengan kesadaran bahwa turunnya hujan berada dalam kehendak-Nya. Karena itu, pelaksanaan salat istisqa menjadi kesempatan bagi umat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyampaikan harapan di tengah situasi yang dihadapi. Ajakan KH Abdul Hakim Mahfudz juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan ikhtiar tersebut, tanpa membatasi partisipasi hanya pada kelompok atau daerah tertentu.

Harapan yang menyertai ajakan itu ialah agar hujan turun dan bencana karhutla yang menimpa masyarakat dapat segera teratasi. Kebakaran hutan dan lahan dapat membawa dampak bagi warga, sehingga upaya memohon pertolongan melalui doa menjadi salah satu respons yang disampaikan kepada komunitas Nahdliyin. Namun, salat istisqa merupakan ikhtiar untuk memohon, bukan jaminan bahwa bencana akan langsung berakhir. Warga tetap dapat menjadikan ajakan tersebut sebagai dorongan untuk berdoa bersama serta memperhatikan keadaan masyarakat yang terdampak. Dengan demikian, pesan utama seruan ini adalah mengajak warga Nahdliyin di berbagai daerah beribadah dan memohon kepada Allah SWT agar hujan turun serta keadaan sulit yang berkaitan dengan karhutla dapat segera teratasi.

Baca juga: Peduli Kesehatan ibu dan anak, persit KCK Cabang XVII Kodim Mansel gelar sosialisasi kesehatan bagi warga kampung Yamboi dalam TMMD ke 130 | Gotong Royong Warga Dan Babinsa Koramil Binangun Bedah RTLH Milik Warga Di Blitar