Bogor | Wati menempuh perjalanan seorang diri dari Bogor menuju Jakarta dengan KRL untuk menjajakan minuman dan makanan siap seduh. Tujuannya adalah mencari penghasilan dari dagangan yang dibawanya, meski perjalanan itu mengharuskannya meninggalkan rumah sejak pagi. Kisah Wati memperlihatkan usaha seorang pedagang kecil yang mengandalkan kesempatan berjualan agar kebutuhan sehari-hari tetap dapat dipenuhi. Ia tidak datang sekadar untuk berjalan-jalan, melainkan membawa barang dagangan dan bersiap menawarkan produk kepada orang-orang yang ditemuinya.
Bagi pekerja yang menerima upah harian, pemasukan sangat bergantung pada ada atau tidaknya kesempatan bekerja. Ketika tidak ada pekerjaan atau peluang memperoleh uang, penghasilan dapat terhenti, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Dalam keadaan seperti itu, berjualan menjadi salah satu cara untuk berusaha mendapatkan pemasukan. Wati pun menempuh perjalanan dari Bogor ke Jakarta dengan harapan dagangannya dapat terjual. Ia pergi tanpa ditemani orang lain, membawa barang yang bisa disajikan dengan praktis, termasuk minuman dan makanan siap seduh.
Sebelum berangkat, Wati terlebih dahulu menjalani pekerjaan rumah pada pagi hari. Ia memasak dan mencuci, kemudian bersiap menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sekitar pukul 10.00, ia berangkat menggunakan kereta. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk mencari nafkah, sekaligus menuntutnya mengatur waktu urusan rumah dan kegiatan berjualan. Wati menyampaikan bahwa ia tidak akan pulang pada malam itu. Ia berencana menginap, lalu keesokan harinya melanjutkan usahanya dengan berjualan di Pasar Tasik. Rencana itu menunjukkan bahwa perjalanan dari Bogor bukan hanya untuk satu kesempatan berjualan di Jakarta. Dengan menginap, Wati dapat bersiap kembali menawarkan dagangannya pada hari berikutnya. Ia tetap berupaya mencari peluang penghasilan, meskipun harus menempuh perjalanan jauh dan menjalani hari di luar rumah. Untuk pedagang yang mengandalkan penjualan langsung, kesempatan bertemu calon pembeli menjadi penting, sebab hasil usaha ditentukan oleh dagangan yang berhasil terjual. Wati menjalani perjalanan tersebut dengan tujuan sederhana: memperoleh penghasilan dari barang yang ia bawa dan terus berusaha memenuhi kebutuhan hidup.Pada Rabu (28/10), Wati datang dari Bogor ke kawasan Monas, Jakarta, saat aksi mahasiswa memperingati Hari Sumpah Pemuda berlangsung. Ia memilih berada di tengah keramaian itu untuk berjualan dan mencari pembeli. Bagi Wati, lokasi tersebut menjadi tempat yang berpotensi mempertemukannya dengan orang-orang yang mungkin membutuhkan dagangannya. Karena itu, ia membawa barang dagangan dan mulai menyiapkan tempat berjualan di sekitar area aksi.
Wati menggelar tikar kecil, lalu menata dagangannya di atasnya. Persiapan sederhana itu menjadi langkah awal untuk menarik perhatian orang yang melintas atau berada di kawasan Monas. Ia berharap ada aparat ataupun warga yang bersedia membeli. Harapan tersebut membuatnya tetap berusaha menawarkan dagangan, meskipun ia harus mencari calon pembeli di tengah kegiatan yang ramai. Kehadiran aksi mahasiswa menjadi latar bagi upayanya, sekaligus alasan kawasan itu dinilai memiliki kemungkinan untuk mendatangkan pembeli.
Berjualan di lokasi yang ramai tidak dengan sendirinya menjamin barang dagangan terjual. Wati tetap perlu menunggu dan mengandalkan kesempatan ketika aparat atau warga melihat dagangannya. Dengan menggelar tikar dan menata barang-barangnya, ia berupaya membuat dagangan dapat dijangkau oleh orang-orang di sekitarnya. Pilihan untuk datang ke Monas menunjukkan caranya mencari peluang penghasilan di tempat yang sedang dipadati orang. Pada hari itu, fokus Wati adalah mendapatkan pembeli dari mereka yang berada di kawasan tersebut. Ia menjalani upaya itu dengan sederhana: menempatkan dagangan di lokasi yang dianggap berpotensi, lalu berharap ada orang yang berminat membeli. Di tengah aksi peringatan Sumpah Pemuda, kegiatan berjualannya berlangsung sebagai usaha untuk bertahan hidup.
Selama puluhan tahun, Pasar Tanah Abang menjadi salah satu tempat Wati menggantungkan hidup. Di sana ia berjualan dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dari hari ke hari. Namun, keadaan pasar tidak selalu ramai seperti dahulu. Ketika jumlah pembeli semakin berkurang, bertahan di satu lokasi saja tidak lagi cukup untuk memastikan dagangannya terjual. Perubahan suasana itu membuat Wati perlu menyesuaikan cara bekerja, meski usia dan lamanya berjualan tidak serta-merta membuat perjuangannya menjadi lebih ringan.
Wati pun memilih mendatangi tempat-tempat yang diperkirakan ramai, termasuk lokasi kegiatan yang berlangsung pada waktu tertentu. Aksi dan keramaian musiman dapat membuka peluang bagi pedagang untuk menawarkan barang kepada lebih banyak orang. Ia tidak selalu tahu berapa banyak yang akan terjual, sehingga setiap kali berangkat, ada ketidakpastian yang harus dihadapi. Baginya, berpindah mengikuti peluang bukan sekadar pilihan untuk mencari suasana baru, melainkan cara agar tetap memiliki kesempatan memperoleh pemasukan ketika pasar langganannya sedang sepi.
Hasil berjualan terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Uang yang diperoleh harus segera dialokasikan untuk keperluan rumah tangga, sehingga belum ada bagian yang dapat disisihkan sebagai tabungan. Dalam keadaan seperti itu, Rp100 ribu bukan sekadar angka, melainkan hasil dari perjuangan panjang Wati untuk mencari pembeli dan menyambung kebutuhan keluarga. Pengalaman bertahun-tahun di Tanah Abang memberinya ketekunan, tetapi kondisi pasar yang berubah tetap menuntutnya terus bergerak. Setiap lokasi baru membawa harapan sekaligus risiko: dagangan mungkin laku, tetapi belum tentu cukup untuk menyisakan dana. Wati menjalani hari-harinya dengan mengandalkan usaha sendiri, mencari keramaian yang bisa menjadi peluang, dan menggunakan hasilnya untuk kebutuhan yang paling mendesak. Cara itu menunjukkan bagaimana sepinya pasar mengubah rutinitas seorang pedagang yang telah lama bekerja, tanpa menghapus kebutuhan untuk terus berjuang.
Perubahan keadaan keluarga membuat Wati kini menjadi satu-satunya penopang ekonomi. Sebelumnya, suaminya bekerja di proyek dan turut mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, pekerjaan itu terhenti setelah ia mengalami cedera pada tangan. Kondisi tersebut membuatnya tidak lagi dapat bekerja seperti sebelumnya, sehingga tanggung jawab mencari nafkah kini berada di pundak Wati.
Situasi itu menjadi bagian dari alasan Wati tetap berjualan. Dari Bogor, ia datang ke kawasan Monas untuk menawarkan dagangannya dan memperoleh uang bagi keluarga. Aktivitas tersebut bukan sekadar cara mengisi waktu di sekitar lokasi aksi, melainkan pekerjaan yang dijalani untuk mempertahankan penghasilan. Ketika suaminya belum dapat bekerja akibat cedera, hasil berjualan menjadi hal penting bagi kebutuhan mereka.
Di tengah keramaian demonstrasi, Wati tidak menjadikan suasana aksi sebagai persoalan utama. Ia tidak mempersoalkan riuhnya tuntutan maupun aktivitas massa yang berlangsung di sekitarnya. Perhatiannya tertuju pada kesempatan untuk berjualan, karena itulah yang dapat ia lakukan untuk mendapatkan uang. Sikap tersebut menunjukkan prioritasnya pada pekerjaan dan kebutuhan keluarga, bukan pada perdebatan mengenai tuntutan yang disuarakan para peserta aksi.
Bagi Wati, yang utama adalah mencari nafkah dengan cara yang halal. Ia menjalani pekerjaannya di tengah suasana yang ramai, sembari berharap dagangannya menghasilkan uang untuk dibawa pulang. Selain mendapatkan penghasilan, keselamatan selama berada di lokasi juga menjadi perhatian. Ia ingin menyelesaikan aktivitas berjualan dan pulang dengan selamat sambil membawa uang hasil kerja. Dengan demikian, keadaan suaminya yang tidak lagi bisa bekerja membuat peran Wati dalam menopang ekonomi keluarga semakin besar, sementara ia tetap berpegang pada tujuan sederhana: bekerja, memperoleh nafkah, dan kembali ke rumah dengan selamat.
170 kunjungan


































