Dari Gagasan ke Produk: Anak Nasabah PNM Tampilkan Usaha di MEA 2026

oleh -121 Dilihat
oleh

Malang | PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mengembangkan kemampuan kewirausahaan anak-anak nasabah penerima beasiswa melalui Madani Entrepreneurship Academy (MEA) 2026. Program ini dirancang agar dukungan bagi keluarga prasejahtera tidak berhenti pada keberlanjutan pendidikan, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk belajar membangun usaha dan mengasah kepemimpinan.

Melalui rangkaian pembinaan, peserta mendapat ruang untuk mengenali potensi diri, merancang ide usaha, serta memahami langkah-langkah mengembangkan gagasan menjadi produk atau layanan. Mereka juga belajar menyusun rencana usaha dan menyampaikan ide secara terarah. Proses tersebut mendorong peserta untuk melihat tantangan di lingkungan sekitar sebagai peluang, sekaligus melatih kepercayaan diri dan tanggung jawab dalam mengambil keputusan.

Puncak MEA 2026 berlangsung melalui Demo Day di Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (24/10). Dalam kegiatan ini, para finalis mempresentasikan gagasan serta perkembangan usaha mereka di hadapan mentor. Presentasi menjadi kesempatan untuk menjelaskan proses yang telah dijalani, menerima masukan, dan menunjukkan bagaimana ide awal berkembang selama mengikuti program.

Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary S., menyampaikan bahwa para finalis membawa gagasan dan perkembangan usaha untuk dipaparkan kepada para mentor. Sesi tersebut tidak semata-mata menjadi ajang penilaian, melainkan juga bagian dari proses pembelajaran. Tanggapan mentor dapat membantu peserta melihat aspek yang perlu diperkuat, mulai dari kejelasan produk hingga cara menyampaikan manfaat usaha kepada calon pelanggan.

Dengan menggabungkan dukungan pendidikan dan pembinaan keterampilan, PNM berupaya membekali anak-anak nasabah dengan bekal yang relevan untuk masa depan. Pengalaman merancang dan mempresentasikan usaha dapat menumbuhkan pola pikir mandiri, kemampuan bekerja sama, serta keberanian mencoba. MEA 2026 sekaligus memberi ruang bagi peserta untuk menghubungkan pengetahuan yang mereka peroleh dengan kebutuhan nyata di sekitarnya. Dari gagasan yang disusun dan diuji, mereka dapat mulai memahami proses membangun usaha secara bertahap, sambil mengembangkan kapasitas diri sebagai calon wirausaha dan pemimpin.Program pengembangan usaha ini dimulai dengan pendampingan daring selama empat pekan yang diikuti 50 peserta. Selama periode tersebut, para peserta memperoleh ruang untuk mengembangkan gagasan awal, memahami kebutuhan calon pelanggan, dan menilai peluang agar ide dapat diarahkan menjadi produk yang lebih siap dipasarkan. Pendampingan dilakukan secara bertahap sehingga peserta tidak hanya berfokus pada kreativitas, tetapi juga mulai mempertimbangkan aspek praktis dalam membangun usaha.

Setelah mengikuti rangkaian pendampingan, 10 peserta terpilih menjadi finalis dan melanjutkan proses pembelajaran ke tahap berikutnya. Mereka merupakan anak nasabah PNM Mekaar yang berasal dari Semarang, Surabaya, Ambon, Bangka Belitung, Bekasi, Magelang, Cirebon, Probolinggo, Medan, dan Yogyakarta. Keberagaman daerah asal tersebut turut menghadirkan latar belakang, sumber daya, serta inspirasi yang berbeda dalam mengembangkan gagasan bisnis. Pada pendampingan lanjutan, finalis belajar menyusun business model canvas untuk memetakan unsur penting usaha, mulai dari target konsumen hingga saluran penjualan. Mereka juga mempelajari pembuatan prototipe, perancangan identitas merek, dan penghitungan harga jual produk. Materi tersebut membantu peserta menguji kelayakan ide sekaligus memahami cara menyampaikan nilai produk kepada calon pembeli.

Rangkaian program kemudian mencapai Demo Day, ketika finalis mempresentasikan ide dan produk yang telah dikembangkan. Gagasan yang ditampilkan mencakup olahan pangan dan beragam produk kreatif dengan potensi ekonomi. Sejumlah peserta memilih memanfaatkan bahan sisa sebagai bagian dari konsep usahanya. Kulit kopi, misalnya, diolah menjadi teh, sementara botol bekas dirancang menjadi pot tanaman. Ada pula kain jeans dan kain perca yang diubah menjadi tas tumbler. Pemanfaatan bahan tersebut menunjukkan bagaimana sumber daya yang tersedia dapat diolah kembali menjadi produk bernilai guna dan berpeluang dijual. Melalui presentasi, peserta berkesempatan menjelaskan fungsi produk, proses pembuatannya, serta pertimbangan usaha yang mendasarinya. Perjalanan dari pendampingan daring hingga Demo Day memberi para finalis pengalaman menyusun ide secara lebih terstruktur, menguji bentuk produk, dan memperkenalkan hasil kerja mereka. Dengan bekal ini, gagasan yang semula masih berupa konsep memiliki landasan lebih jelas untuk dikembangkan sebagai usaha.

Kompetisi dalam MEA 2026 menghasilkan tiga pemenang yang membawa gagasan usaha masing-masing ke dalam bentuk produk olahan pangan. Juara pertama diraih Kayla Aprilia, anak nasabah PNM Bangka Belitung, melalui produk bernama Skay Soufflecake. Posisi juara kedua ditempati Kesya Deswita Sari, anak nasabah PNM Magelang, dengan Cascara Tea. Sementara itu, juara ketiga diraih Talitha Maritza Rafa Hendrian, anak nasabah PNM Cirebon, yang menampilkan Moringo Bomboloni. Nama para peserta, wilayah asal, dan identitas produk menjadi bagian penting dari hasil kompetisi tersebut.

Ketiga produk itu memperlihatkan bagaimana peserta mengembangkan ide menjadi produk olahan pangan yang memiliki nilai ekonomi. Skay Soufflecake, Cascara Tea, dan Moringo Bomboloni hadir sebagai karya usaha dari anak-anak nasabah PNM yang mengikuti ajang ini. Perbedaan nama produk menunjukkan ragam gagasan yang dibawa peserta, sedangkan hasil pemeringkatan mencatat pencapaian mereka dalam kompetisi. Informasi tersebut juga menegaskan keterkaitan setiap pemenang dengan wilayah PNM masing-masing, tanpa mengubah identitas produk yang mereka tampilkan.

Pencapaian juara pertama, kedua, dan ketiga memberi pengakuan atas upaya para peserta dalam menghadirkan gagasan produk yang dapat dikembangkan secara ekonomi. Bagi Kayla Aprilia, hasil tersebut tercatat bersama Skay Soufflecake dan PNM Bangka Belitung. Kesya Deswita Sari memperoleh posisi kedua dengan Cascara Tea sebagai produk yang ditampilkan, sedangkan Talitha Maritza Rafa Hendrian meraih posisi ketiga dengan Moringo Bomboloni. Ketiganya merupakan produk olahan pangan yang dikembangkan peserta menjadi produk bernilai ekonomi. Dengan demikian, hasil kompetisi ini menyajikan capaian peserta sekaligus memperkenalkan karya usaha mereka kepada publik melalui nama produk dan asal wilayah masing-masing.

Dodot menegaskan bahwa penilaian terhadap usaha peserta tidak semata-mata bertumpu pada hasil akhir yang terlihat saat Demo Day. Proses di balik sebuah produk juga menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan peserta. Mereka perlu menunjukkan kemampuan mengembangkan gagasan, mengenali kebutuhan pasar, merancang model bisnis, dan mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang terus dibangun. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari produk yang dipamerkan, tetapi juga dari pembelajaran dan langkah yang ditempuh untuk mewujudkannya.

Dalam proses tersebut, peserta didorong untuk terbuka terhadap masukan dan bersedia memperbaiki produk. Perubahan dapat dilakukan setelah mereka memperoleh umpan balik, menguji gagasan, atau menemukan kebutuhan konsumen yang sebelumnya belum dipertimbangkan. Kemampuan menyesuaikan diri ini menjadi bekal penting ketika usaha mulai dijalankan di luar lingkungan program. Peserta juga belajar menimbang pilihan secara lebih terarah, mulai dari menentukan bahan dan cara produksi hingga memikirkan nilai yang ditawarkan kepada calon pembeli.

Dodot berharap pembinaan MEA 2026 dapat menumbuhkan jiwa pejuang, sekaligus mendorong peserta melanjutkan proyek usaha setelah kegiatan berakhir. Harapan tersebut mencakup upaya menghasilkan produk yang bermutu, termasuk olahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Menurutnya, pengalaman menyusun dan mengembangkan proyek memberi anak-anak ruang untuk mengenali potensi diri serta memahami bahwa membangun usaha membutuhkan ketekunan, kemauan belajar, dan kesiapan menghadapi perubahan.

Mentor MEA 2026, Puji Subekti, memandang kesempatan yang tepat dapat membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera merintis usaha. Bimbingan, pengalaman, dan ruang untuk mencoba dapat membuka jalan bagi mereka untuk mengolah gagasan menjadi kegiatan produktif.