Dari Kembali Bersekolah hingga Merangkai Kode: Pengalaman Siswa Sekolah Rakyat Garut

oleh -63 Dilihat
oleh
Dari Kembali Bersekolah hingga Merangkai Kode: Pengalaman Siswa Sekolah Rakyat Garut

Kabupaten Garut | Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, sejumlah siswa kini belajar menggunakan laptop untuk mengenal pemrograman. Kesempatan ini menjadi pengalaman baru bagi anak-anak yang sebelumnya memiliki akses terbatas terhadap perangkat digital. Sebagian siswa berasal dari keluarga prasejahtera, dengan keadaan yang pernah membuat mereka harus berhenti sekolah. Melalui program pendidikan gratis pemerintah, mereka mendapat kesempatan untuk kembali belajar dan membangun keterampilan yang dapat berguna pada masa mendatang.

Laptop yang disediakan pemerintah membantu siswa berkenalan dengan komputer secara langsung, bukan hanya melihat perangkat tersebut dari jauh. Dengan bimbingan guru, mereka berlatih menggunakan tetikus dan papan ketik, membuka aplikasi, serta memahami fungsi dasar perangkat. Proses belajar berlangsung bertahap agar siswa yang belum terbiasa tidak tertinggal. Mereka juga belajar mengakses internet untuk mencari bahan pembelajaran dan menambah pengetahuan, sambil mendapat arahan mengenai penggunaan teknologi secara tepat dan bertanggung jawab.

Pengenalan pemrograman dilakukan melalui kegiatan sederhana yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Mereka mencoba menyusun kode dasar untuk membuat permainan, kemudian melihat bagaimana instruksi yang ditulis dapat menghasilkan gerakan atau respons di layar. Jika hasilnya belum sesuai, siswa dapat memeriksa kembali susunan kode dan memperbaikinya. Latihan tersebut memperkenalkan cara berpikir runtut, memecah masalah menjadi langkah-langkah, serta mencoba solusi dengan tekun. Kegiatan ini tidak berarti semua siswa langsung menjadi mahir, tetapi memberi mereka ruang untuk bereksplorasi dan bertanya. Bagi siswa yang pernah terputus dari pendidikan, pengalaman belajar digital membuka kembali akses terhadap pengetahuan dan keterampilan baru. Pemanfaatan laptop juga memperluas kegiatan belajar di kelas, karena siswa dapat menggabungkan penjelasan guru dengan praktik langsung. Dengan fasilitas dan pendampingan yang memadai, mereka berpeluang mengenali teknologi sebagai alat belajar, bukan sekadar hiburan. Pengalaman di Garut menunjukkan bagaimana dukungan perangkat dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif bagi siswa dari latar belakang ekonomi beragam. Kesempatan tersebut membantu mereka mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memperkuat partisipasi dalam pendidikan. Pembelajaran tetap memerlukan dukungan berkelanjutan, termasuk ketersediaan perangkat, koneksi internet, serta guru yang mendampingi. Bekal awal ini memberi siswa kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan rasa percaya diri.Pada 2025, Raihan, 16 tahun, menjadi salah satu siswa SMP angkatan pertama di Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 Garut. Ia berasal dari Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, dan kini menjalani kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama. Bagi Raihan, pengalaman bersekolah tidak hanya berarti kembali belajar di ruang kelas. Ia juga mulai mengenal perangkat dan keterampilan yang sebelumnya terasa jauh dari kesehariannya, termasuk komputer, internet, dan teknologi digital.

Perubahan itu terlihat ketika Raihan belajar mengoperasikan laptop. Ia kini dapat menggunakan perangkat tersebut dan menjelajahi internet untuk menambah pengetahuan. Dengan akses ke berbagai informasi, ia memiliki cara baru untuk mencari bahan belajar dan mengenal hal-hal yang belum pernah ditemuinya. Sebelumnya, Raihan tidak membayangkan bahwa dirinya akan dapat mempelajari komputer dan teknologi seperti ini. Karena itu, kemampuan yang mulai ia kuasai menjadi pengalaman baru yang memperluas pandangannya tentang proses belajar.

Kesempatan tersebut ia peroleh melalui pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di sekolah. Dalam pembelajaran itu, Raihan tidak hanya berkenalan dengan penggunaan laptop, tetapi juga mulai belajar menyusun kode sederhana. Tahap awal ini mengenalkannya pada cara memberi instruksi kepada komputer secara teratur. Ia merasa senang karena dapat meneruskan pendidikan tingkat SMP sekaligus mempelajari teknologi yang sebelumnya tidak ia bayangkan akan menjadi bagian dari pelajarannya. Pengalaman Raihan menunjukkan bagaimana pendidikan dapat membuka ruang untuk mengenal keterampilan baru. Dari Kecamatan Limbangan hingga ruang kelas Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 Garut, ia memperoleh kesempatan untuk belajar, mencoba, dan menambah pengetahuan secara bertahap. Keterampilan komputer dan pemrograman yang mulai dikenalnya menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya saat ini, seiring dengan pelajaran lain di tingkat SMP. Baginya, mengenal teknologi melalui TIK merupakan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Pengalaman belajar teknologi di Sekolah Rakyat Garut membuat Raihan tertarik untuk mengenal bidang komputer lebih jauh. Dari kegiatan belajar tersebut, ia mulai membayangkan pekerjaan yang ingin dijalaninya kelak. Ketertarikan itu muncul di tengah dunia kerja yang semakin mengandalkan teknologi digital. Komputer dan teknologi menjadi bidang yang ingin ia dalami, sementara profesi programmer mulai terlihat sebagai pilihan masa depan yang menarik baginya. Raihan menyampaikan bahwa belajar di sekolah tersebut memberinya harapan baru tentang masa depan, terutama karena kehidupan kini serba digital. Pernyataan itu ia sampaikan saat kegiatan belajar di sekolah pada 12 Oktober 2026.

Harapan baru yang disebut Raihan berkaitan dengan pandangannya bahwa kehidupan saat ini berlangsung serba digital. Dalam konteks tersebut, pengalaman belajar teknologi membuatnya tertarik pada komputer dan mendorongnya membayangkan pekerjaan yang kelak ingin dijalani. Ia menyebut programmer sebagai profesi yang menarik baginya. Ketertarikan itu menjadi bagian dari pengalaman belajarnya di Sekolah Rakyat Garut, tempat ia mengikuti kegiatan belajar teknologi. Raihan tidak hanya menyebut minat pada bidang komputer, tetapi juga mulai menghubungkannya dengan bayangan mengenai pekerjaan di masa depan. Pernyataannya menggambarkan pilihan profesi yang sedang ia pertimbangkan, yakni menjadi programmer, dalam situasi ketika teknologi digital semakin diandalkan dalam dunia kerja.

Saat kegiatan belajar di sekolah pada 12 Oktober 2026, Raihan menyatakan bahwa belajar di sana memberinya harapan baru mengenai masa depan karena kehidupan kini serba digital. Ia juga mengatakan tertarik menjadi programmer. Pernyataan tersebut menunjukkan minatnya untuk mendalami bidang komputer setelah memperoleh pengalaman belajar teknologi. Bagi Raihan, pengalaman itu berkaitan dengan gambaran pekerjaan yang ingin ia jalani kelak, yaitu profesi programmer. Dunia kerja yang semakin mengandalkan teknologi digital menjadi konteks bagi ketertarikannya tersebut. Dengan demikian, hal yang disampaikan Raihan mencakup pengalaman belajar teknologi, minat pada bidang komputer, harapan baru tentang masa depan, serta ketertarikan pada profesi programmer. Semua hal itu ia ungkapkan dalam kegiatan belajar di Sekolah Rakyat Garut pada tanggal tersebut.

M. Fathir, siswa berusia 17 tahun asal Kecamatan Banyuresmi, Garut, memandang Sekolah Rakyat sebagai kesempatan untuk kembali belajar. Baginya, lembaga pendidikan ini juga menjadi jalan untuk mengenal teknologi. Kesempatan tersebut memiliki arti khusus karena ia pernah berhenti sekolah ketika masih duduk di bangku SMP. Pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikannya, yang kini berlanjut setelah tiga tahun tidak bersekolah. Kisah Fathir memperlihatkan bahwa kembali ke ruang belajar dapat membuka kesempatan untuk meneruskan pendidikan sekaligus mempelajari bidang yang menarik baginya.

Fathir sempat putus sekolah karena keterbatasan biaya dan perundungan dari teman-temannya. Kedua hal tersebut menjadi alasan yang disebut dalam kisahnya, tanpa perlu menambahkan dugaan tentang keadaan lain yang ia alami. Ia kemudian menjalani masa selama tiga tahun tanpa bersekolah. Setelah periode itu, Fathir kembali melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat. Peralihan dari tidak bersekolah menuju kembali belajar menandai langkah penting dalam perjalanan akademiknya. Fakta yang tersedia menunjukkan bahwa kesempatan untuk meneruskan pendidikan kini hadir baginya melalui sekolah tersebut.

Sekolah Rakyat bagi Fathir tidak hanya berkaitan dengan kembali menempuh pendidikan, tetapi juga dengan kesempatan mengenal teknologi. Ketertarikan pada bidang itu menjadi bagian dari pandangannya terhadap pengalaman belajar yang kini dijalani.

Baca juga: Pekanbaru Buka Kembali Sekolah Tatap Muka dengan Protokol di Tengah Asap | Sekolah Rakyat di Mimika Membina 58 Siswa dari Berbagai Distrik | Persib Hadapi Persik di Tengah Jadwal Padat, Sejumlah Pemain Kembali Pulih