Kabupaten Lampung Selatan | Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, mengalami delapan kali erupsi pada Minggu, 18 Oktober 2026. Rangkaian letusan tersebut tercatat berlangsung dalam satu hari, dengan kolom abu yang mencapai ketinggian berbeda-beda. Pengamatan terhadap letusan menunjukkan bahwa abu teramati naik sekitar 100 hingga 500 meter di atas puncak gunung. Dengan demikian, erupsi tertinggi dalam rangkaian itu menghasilkan kolom abu yang terpantau hingga sekitar 500 meter di atas puncak, sementara pada letusan lainnya ketinggian yang terlihat lebih rendah.
Warna kolom abu yang menyertai erupsi bervariasi dari kelabu sampai hitam. Perbedaan warna itu menjadi bagian dari pengamatan atas rangkaian aktivitas pada Minggu tersebut, bersama catatan mengenai ketinggian kolom. Informasi yang tersedia menggambarkan variasi tinggi abu dalam rentang sekitar 100–500 meter di atas puncak, bukan satu ketinggian yang sama untuk seluruh letusan. Karena terdapat delapan kejadian, catatan hari itu menunjukkan beberapa kali kemunculan kolom abu dengan ukuran yang beragam. Angka tertinggi yang terpantau adalah sekitar 500 meter, sedangkan kolom terendah berada pada kisaran 100 meter di atas puncak.
Rangkaian delapan erupsi itu menempatkan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebagai pokok pemantauan pada tanggal tersebut. Lokasinya berada di perairan Selat Sunda, dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Seluruh uraian mengenai kejadian ini merujuk pada pengamatan erupsi pada Minggu, 18 Oktober 2026, termasuk jumlah letusan, rentang ketinggian abu, serta warna yang terlihat. Rentang ketinggian tersebut perlu dibaca sebagai kisaran kolom abu selama rangkaian berlangsung, dengan puncak pengamatan mencapai 500 meter di atas puncak gunung. Sementara itu, warna abu yang tercatat berada pada rentang kelabu hingga hitam. Catatan ini menyajikan gambaran mengenai delapan letusan dan karakter kolom abunya tanpa menambahkan keterangan lain di luar data tersebut.
Dua erupsi dengan kolom abu tertinggi dalam rangkaian aktivitas Anak Krakatau terjadi pada pukul 11.44 dan 12.01 WIB. Keduanya melontarkan material vulkanik hingga sekitar 500 meter di atas puncak. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas letusan pada rentang waktu itu menghasilkan kolom yang lebih tinggi dibandingkan beberapa letusan lain yang tercatat pada hari yang sama. Meski tinggi kolomnya serupa, laporan pengamatan juga mencatat karakter visual dan parameter kegempaan dari masing-masing kejadian.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menyampaikan bahwa letusan pada pukul 11.44 WIB mengeluarkan abu berwarna hitam tebal. Kolom abu tersebut teramati mengarah ke utara dan mencapai sekitar 657 meter di atas permukaan laut, atau kurang lebih 500 meter di atas puncak gunung. Informasi mengenai warna, arah sebaran, serta tinggi kolom menjadi bagian penting dalam pencatatan aktivitas erupsi, karena menggambarkan kondisi yang teramati secara langsung pada saat letusan berlangsung. Arah sebaran yang tercatat juga dapat membantu menjelaskan wilayah yang berpotensi terdampak abu, berdasarkan pemantauan pada waktu tersebut.
Letusan berikutnya, pada pukul 12.01 WIB, memiliki karakteristik yang serupa dengan kejadian sebelumnya. Kolom abu kembali mencapai sekitar 500 meter di atas puncak, sementara rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi letusan selama 41 detik. Data seismik tersebut melengkapi pengamatan visual dan memberikan catatan terukur mengenai kekuatan sinyal serta lama kejadian. Pada pukul 12.57 dan 12.59 WIB, Anak Krakatau kembali erupsi, tetapi kolom abu yang terpantau lebih rendah, yakni sekitar 100 meter di atas puncak. Abu pada kedua letusan itu berwarna kelabu hingga hitam dan bergerak ke arah timur laut. Perbedaan tinggi kolom, warna, dan arah sebaran tersebut memperlihatkan variasi dalam rangkaian letusan. Seluruh catatan waktu dan karakteristik ini membantu mendokumentasikan perkembangan aktivitas gunung secara berurutan, tanpa menyamakan setiap letusan sebagai kejadian yang identik. Dengan demikian, pengamatan pada empat waktu tersebut merangkum dua letusan berkolom tertinggi serta dua letusan lanjutan yang menghasilkan kolom lebih rendah.Aktivitas Anak Krakatau berlanjut pada sore hingga malam hari. Pada pukul 17.22 WIB, terjadi erupsi yang menghasilkan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak, atau kurang lebih 357 meter di atas permukaan laut. Abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dan bergerak ke arah barat laut. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas letusan masih berlangsung, meskipun tinggi kolom dan arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi erupsi serta angin di sekitar gunung.
Erupsi kembali tercatat pada pukul 22.22 WIB. Letusan ini memiliki amplitudo maksimum 45 milimeter dan berlangsung selama 100 detik. Tiga menit kemudian, tepat pukul 22.25 WIB, terjadi erupsi berikutnya, tetapi peristiwa tersebut tidak teramati secara visual. Saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung. Rangkaian kejadian pada sore dan malam itu menjadi bagian dari pemantauan berkelanjutan terhadap perubahan aktivitas gunung, baik melalui pengamatan visual maupun pencatatan instrumen seismik.
Dalam pengamatan Senin, 19 Oktober 2026, pada rentang pukul 00.00–06.00 WIB, kondisi gunung tertutup kabut sehingga kawah tidak terlihat. Asap kawah juga tidak teramati, sementara kamera pengawas atau CCTV tertutup abu vulkanik. Keterbatasan pandangan tersebut membuat kondisi visual puncak tidak dapat dipastikan pada periode pengamatan itu. Meski demikian, data kegempaan tetap memberikan informasi mengenai aktivitas di dalam tubuh gunung dan menjadi salah satu dasar penting bagi pemantauan serta evaluasi tingkat aktivitas.
Catatan kegempaan pada periode tersebut meliputi satu gempa frekuensi rendah, 21 gempa hybrid atau fase banyak, tiga gempa vulkanik dangkal, dan satu gempa vulkanik dalam. Selain itu, tremor menerus terekam dengan amplitudo berkisar 1–10 milimeter dan didominasi amplitudo 3 milimeter. Status aktivitas Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan pengunjung diimbau mematuhi rekomendasi resmi serta tidak mendekati kawasan berbahaya, terutama saat pemantauan masih menunjukkan adanya aktivitas dan kondisi visual gunung terbatas.
Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk pengunjung dan wisatawan, diminta mematuhi pembatasan kawasan yang berlaku selama aktivitas erupsi berlangsung. Tidak seorang pun diperbolehkan memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Batas tersebut ditetapkan untuk mengurangi risiko paparan material vulkanik dan bahaya lain yang dapat muncul secara tiba-tiba. Warga maupun wisatawan sebaiknya tidak mendekati kawasan hanya untuk melihat aktivitas gunung atau mengambil gambar. Perubahan kondisi dapat terjadi tanpa banyak waktu untuk menyelamatkan diri, sehingga kepatuhan terhadap arahan petugas menjadi bagian penting dari upaya menjaga keselamatan bersama.
Selain larangan di sekitar pusat erupsi, masyarakat juga diimbau tidak memasuki radius satu kilometer dari pulau baru yang berada di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau. Area tersebut perlu dijauhi karena kondisi daratan dan material di sekitarnya berpotensi berubah. Suwarno mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kemungkinan lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta aliran lava. Bahaya tidak hanya terbatas pada saat letusan berlangsung. Erupsi sekunder dapat terjadi ketika lava yang panas bersentuhan dengan air laut ataupun air hujan. Kontak tersebut dapat memicu kejadian berbahaya, sehingga aktivitas di pantai maupun perairan dekat gunung sebaiknya dihindari sesuai arahan resmi.
Warga perlu mengikuti informasi dari lembaga berwenang dan petugas di lapangan, serta tidak menerobos batas aman yang telah ditetapkan.
Baca juga: Anak Krakatau Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Tertinggi Capai 500 Meter | Aktivitas Anak Krakatau pada 18 Oktober: Tiga Erupsi dan Imbauan Radius Aman | Penuh Keakraban, Sertu Nixon Pimpin Ibadah Bersama Anak-Anak Kampung Yamboi



































