JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Sebagian orang menganggap memuntahkan makanan setelah makan sebagai jalan pintas untuk mencegah kenaikan berat badan. Cara ini dinilai dapat “membatalkan” asupan kalori, terutama setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak. Anggapan tersebut juga dapat muncul ketika seseorang melihat konten mukbang, yaitu tayangan yang menampilkan orang makan dalam porsi besar. Namun, gambaran di media tidak boleh dijadikan acuan untuk meniru perilaku yang berisiko bagi kesehatan.
Menurut dr Yunita Aryani, MSI, MH, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, makanan yang dimuntahkan tidak otomatis seluruhnya keluar dari tubuh. Proses pencernaan dan penyerapan zat gizi sudah mulai berlangsung sejak makanan dikonsumsi. Karena itu, sebagian energi, gula, lemak, protein, serta zat gizi lain dapat tetap diserap sebelum seseorang muntah. Memuntahkan makanan juga tidak memberikan kepastian mengenai jumlah kalori yang berhasil dikeluarkan.
Selain tidak efektif sebagai pengendali berat badan, muntah yang disengaja dapat memicu berbagai gangguan. Asam lambung yang berulang kali mengenai gigi dan tenggorokan berpotensi merusak email gigi, menyebabkan iritasi, serta menimbulkan rasa nyeri. Kehilangan cairan dan elektrolit juga dapat mengganggu keseimbangan tubuh. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius dan berkaitan dengan gangguan perilaku makan.
Oleh sebab itu, muntah tidak tepat digunakan sebagai metode diet dan bukan cara sehat untuk menjadi kurus. Pengelolaan berat badan sebaiknya dilakukan melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik yang sesuai, tidur cukup, serta pendampingan tenaga kesehatan bila diperlukan. Seseorang yang merasa terdorong untuk memuntahkan makanan setelah makan perlu mencari bantuan profesional, bukan menyalahkan diri sendiri atau mengikuti contoh dari konten daring.
Memuntahkan makanan secara berulang dengan tujuan mengendalikan berat badan termasuk purging behavior, atau perilaku kompensasi yang tidak sehat. Tindakan ini bukan metode penurunan berat badan yang aman, karena dapat mengganggu fungsi tubuh sekaligus memperkuat hubungan yang bermasalah dengan makanan. Seseorang mungkin merasa bahwa muntah dapat membatalkan kalori yang dikonsumsi, padahal proses tersebut tidak sepenuhnya mengeluarkan makanan dan tetap membawa risiko medis.
Perilaku ini dapat berkembang menjadi sebuah siklus. Rangkaian tersebut sering diawali dengan makan dalam jumlah sangat banyak atau merasa kehilangan kendali saat makan. Setelah itu, muncul rasa bersalah, malu, serta ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan. Kecemasan tersebut kemudian mendorong tindakan kompensasi, seperti memuntahkan makanan, berolahraga secara berlebihan, berpuasa, atau menggunakan obat pencahar. Kelegaan yang terasa sesaat dapat membuat perilaku tersebut diulangi, sehingga siklus makan berlebihan, rasa bersalah, dan purging menjadi semakin sulit dihentikan.
Pola semacam ini memiliki kaitan dengan gangguan makan, termasuk bulimia nervosa. Namun, keberadaan satu perilaku saja tidak cukup untuk menetapkan diagnosis pada seseorang. Penilaian harus dilakukan oleh tenaga kesehatan mental atau dokter dengan melihat frekuensi perilaku, pikiran tentang bentuk tubuh, kondisi fisik, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Bantuan profesional penting agar masalah dapat ditangani secara menyeluruh, bukan sekadar berfokus pada berat badan.
Konten mukbang yang menampilkan makan dalam jumlah besar lalu memuntahkan makanan juga perlu disikapi secara hati-hati. Penyajian yang dibuat sensasional atau seolah-olah lucu dapat menormalisasi perilaku berbahaya dan mendorong peniruan, terutama pada remaja serta orang yang memiliki kekhawatiran terhadap berat badan. Penonton perlu memahami bahwa konten tersebut tidak menggambarkan konsekuensi kesehatan secara lengkap. Edukasi tentang pola makan seimbang, citra tubuh yang sehat, dan akses terhadap dukungan profesional lebih bermanfaat daripada menganggap purging sebagai cara wajar untuk mengontrol berat badan.
Muntah berulang untuk mengendalikan berat badan dapat memicu hipokalemia, yaitu kondisi ketika kadar kalium dalam darah turun terlalu rendah. Setiap episode muntah membuat tubuh kehilangan cairan dan asam lambung. Kehilangan volume cairan kemudian mengaktifkan mekanisme hormonal, termasuk peningkatan aldosteron. Hormon ini mendorong ginjal mempertahankan natrium dan membuang lebih banyak kalium melalui urine, sehingga kekurangan kalium dapat semakin berat.
Gejala hipokalemia dapat berupa tubuh lemas, kram atau kelemahan otot, konstipasi, kesemutan, serta jantung berdebar. Jika kadar kalium turun secara signifikan, kontraksi dan sistem listrik jantung dapat terganggu. Akibatnya, muncul gangguan irama jantung atau aritmia yang pada kondisi berat berpotensi mengancam nyawa. Risiko tersebut dapat meningkat apabila muntah berlangsung lama, frekuensinya tinggi, atau disertai asupan makanan dan minuman yang tidak mencukupi.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kalium. Dehidrasi dapat menurunkan aliran darah ke ginjal dan mengganggu fungsinya. Muntah berulang juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit lain serta gangguan asam-basa. Paparan asam lambung berulang berisiko menimbulkan peradangan dan luka pada kerongkongan, sementara gigi dapat mengalami kerusakan enamel. Pada saat muntah, isi lambung juga dapat masuk ke saluran napas dan paru-paru atau menyebabkan tersedak.
Konsekuensi psikologisnya perlu diperhatikan secara serius. Perilaku ini dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, dan citra tubuh negatif. Rasa bersalah setelah makan atau keinginan kuat mengubah bentuk tubuh dapat mempertahankan siklus makan lalu muntah yang semakin sulit dihentikan. Karena itu, kebiasaan tersebut memerlukan penanganan medis dan dukungan kesehatan mental, terutama bila disertai pingsan, nyeri dada, jantung berdebar, muntah darah, atau kesulitan bernapas.
Kebiasaan memuntahkan makanan untuk menurunkan berat badan memerlukan penanganan menyeluruh, bukan sekadar larangan agar seseorang berhenti muntah. Perilaku tersebut dapat berkaitan dengan tekanan psikologis, gangguan makan, rasa tidak puas terhadap tubuh, atau pola diet yang terlalu ketat. Karena itu, tenaga kesehatan perlu memahami kondisi setiap orang secara utuh dan membangun pendekatan yang aman, empatik, serta tidak menghakimi.
Pemeriksaan dapat mencakup kondisi fisik, perubahan berat badan, pola makan, frekuensi muntah, serta tanda dehidrasi atau kekurangan gizi. Dokter juga dapat menilai kadar elektrolit, seperti kalium dan natrium, karena ketidakseimbangan zat tersebut berisiko mengganggu kerja jantung dan otot. Fungsi ginjal, tekanan darah, denyut nadi, serta kemungkinan gangguan pada gigi, tenggorokan, dan saluran cerna juga perlu diperhatikan. Evaluasi psikologis membantu mengidentifikasi kecemasan, depresi, rasa bersalah setelah makan, atau pikiran berlebihan mengenai berat dan bentuk tubuh.
Terapi sebaiknya mencari pemicu perilaku sekaligus membantu membentuk kembali pola makan yang teratur dan mencukupi kebutuhan tubuh. Pendampingan dapat melibatkan dokter, psikolog atau psikiater, serta ahli gizi. Secara bertahap, seseorang dibantu memperbaiki hubungan dengan makanan, mengenali sinyal lapar dan kenyang, mengurangi ketakutan terhadap jenis makanan tertentu, serta membangun citra tubuh yang lebih realistis. Bila terdapat dehidrasi berat, pingsan, nyeri dada, muntah darah, atau kelemahan yang intens, pemeriksaan medis segera diperlukan.
Memuntahkan makanan bukan jalan pintas untuk menjadi kurus dan justru dapat menimbulkan komplikasi serius. Pengelolaan berat badan sebaiknya dilakukan melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur sesuai kemampuan, tidur yang cukup, dan pendampingan tenaga kesehatan berdasarkan kondisi masing-masing. Pendekatan bertahap dan berkelanjutan lebih aman daripada metode ekstrem yang membahayakan kesehatan fisik maupun mental.







