Dragonfish 25 Dikerahkan untuk Memantau Potensi Karhutla di Kapuas

oleh -81 Dilihat
oleh
Dragonfish 25 Dikerahkan untuk Memantau Potensi Karhutla di Kapuas

Jakarta | Tim drone Dragonfish 25 dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dikerahkan dari Jakarta untuk membantu pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Pengerahan ini ditujukan untuk mendukung upaya penanganan kekeringan dan karhutla, terutama melalui pengamatan kondisi wilayah dari udara. Dengan bantuan drone, petugas dapat memperoleh gambaran area yang perlu diperhatikan tanpa hanya mengandalkan pemantauan langsung di lapangan.

Dalam kegiatan tersebut, tim Kopassus mendukung Kodim 1011/Kuala Kapuas untuk memantau kondisi wilayah sekaligus mengenali area yang berpotensi terdampak kebakaran. Informasi hasil pemantauan dapat membantu satuan terkait memahami situasi di sejumlah titik dan menentukan perhatian sesuai kondisi yang teridentifikasi. Pemantauan udara juga mendukung koordinasi tim drone dan petugas yang menangani respons di darat, sehingga perkembangan wilayah dapat dicermati sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan.

Ketua Tim Drone Kopassus, Sersan Satu Reki, menyampaikan keterangan mengenai pengerahan tersebut di posko induk tanggap darurat kekeringan dan karhutla BPBD Kapuas pada Jumat. Ia menjelaskan bahwa penugasan tim merupakan perintah Dankopassus, dengan perhatian Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), untuk membantu Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Dukungan itu secara khusus diberikan kepada Kodim 1011/Kuala Kapuas dalam melaksanakan pemantauan di wilayah Kabupaten Kapuas.

Kehadiran Dragonfish 25 menjadi salah satu unsur pendukung bagi petugas dalam mengamati potensi karhutla. Tim membantu mengumpulkan gambaran kondisi area yang dipantau, sementara tindak lanjut tetap dilakukan oleh unsur terkait sesuai tugas dan kewenangannya. Melalui dukungan tersebut, pemantauan wilayah diharapkan dapat berlangsung lebih terarah dan membantu Satgas Karhutla mengenali lokasi yang membutuhkan perhatian. Pengerahan ini juga mencerminkan koordinasi lintas unsur dalam menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan serta dampak kekeringan di Kapuas.

Dragonfish 25 memiliki kemampuan terbang sekitar tiga jam dalam satu operasi. Durasi ini memberi ruang bagi petugas untuk melakukan pemantauan lebih lama tanpa harus segera mengakhiri penerbangan. Dengan jangkauan hampir 100 kilometer, wahana ini dapat mendukung pengawasan area yang luas di Kapuas. Kemampuan tersebut relevan ketika wilayah yang dipantau tersebar atau berjarak dari titik operasi. Pemanfaatannya membantu memperluas cakupan pengamatan udara selama kegiatan pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan, sesuai tujuan pengerahan perangkat tersebut. Jarak dan waktu terbang itu merupakan bekal operasional untuk melihat kondisi lapangan dari udara, bukan bukti bahwa suatu sumber panas atau titik api telah ditemukan.

Selain jangkauan terbang, Dragonfish 25 dilengkapi kamera termal yang dapat membantu petugas mengamati perbedaan suhu di permukaan. Informasi panas dari sensor ini berfungsi sebagai petunjuk awal untuk mengenali area yang perlu diperiksa lebih lanjut. Dalam pemantauan potensi karhutla, pengamatan tersebut dapat membantu mengidentifikasi sumber panas serta lokasi yang berpotensi menjadi tempat munculnya kebakaran. Data yang diperoleh tetap perlu ditafsirkan secara cermat oleh petugas, karena indikasi panas tidak dengan sendirinya memastikan adanya api. Dengan demikian, kamera termal menjadi salah satu sarana pendukung pengawasan, bukan pengganti pemeriksaan dan penilaian kondisi di lapangan.

Kombinasi durasi penerbangan, jangkauan, dan sensor termal juga berguna untuk mengamati kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Pada lokasi terpencil atau aksesnya terbatas, pengamatan dari udara dapat memberi gambaran awal mengenai kondisi area dan membantu menentukan bagian yang perlu mendapat perhatian. Petugas dapat menggunakan informasi tersebut sebagai bahan untuk mengarahkan langkah pemantauan berikutnya, termasuk mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan jika diperlukan. Namun, kemampuan teknis Dragonfish 25 perlu dipahami sesuai fungsinya: mendukung pencarian indikasi sumber panas dan pengawasan wilayah yang luas. Keterangan mengenai kemampuan ini tidak menyatakan bahwa drone telah menemukan titik api di Kapuas; penggunaannya ditujukan untuk membantu pemantauan potensi kebakaran.

Dragonfish 25 dilengkapi fitur live streaming yang memungkinkan hasil pemantauan udara ditampilkan secara langsung melalui monitor. Fitur ini memberi pihak terkait kesempatan untuk mengikuti kondisi wilayah yang sedang dipantau tanpa harus berada di lokasi penerbangan. Informasi visual dari udara dapat disaksikan ketika kegiatan berlangsung, sehingga gambaran mengenai area pemantauan tersedia secara langsung bagi unsur yang memerlukan informasi tersebut. Penyampaian melalui monitor menjadi bagian dari dukungan teknologi dalam kegiatan pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan di Kapuas.

Reki menyebut pihak terkait, termasuk kepala BPBD, dapat melihat kegiatan tim melalui tayangan tersebut. Pemantauan dapat diikuti sejak tim melakukan penerbangan hingga mengamati kondisi wilayah dari udara. Dengan demikian, tayangan langsung mencakup rangkaian kegiatan operasional yang sedang berlangsung, bukan hanya hasil pengamatan setelah penerbangan selesai. Akses terhadap informasi secara bersamaan memungkinkan pihak terkait mengetahui apa yang sedang dilakukan tim dan kondisi yang terlihat di area pemantauan. Ketersediaan tayangan ini juga membantu menghubungkan kegiatan lapangan dengan pihak yang memerlukan pembaruan situasi.

Penyampaian informasi lapangan secara lebih cepat diharapkan mendukung koordinasi unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla. Ketika kondisi wilayah dapat dipantau melalui tayangan langsung, informasi yang relevan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak terkait dalam memahami kebutuhan operasi. Harapan tersebut berkaitan dengan ketersediaan informasi yang lebih segera, bukan pernyataan bahwa keputusan tertentu telah diambil atau tindakan khusus telah dilaksanakan. Setiap keputusan tetap perlu disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan operasi yang dihadapi. Dalam konteks ini, live streaming Dragonfish 25 berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan hasil pemantauan udara kepada pihak terkait, termasuk kepala BPBD, secara langsung. Informasi yang diperoleh dapat membantu unsur yang terlibat menilai situasi lapangan dan mempertimbangkan langkah sesuai kebutuhan operasi tanpa mengurangi pentingnya koordinasi di pihak-pihak tersebut.

Tim Dragonfish 25 yang bertugas di Kabupaten Kapuas terdiri atas delapan personel militer dan dua instruktur. Susunan tersebut menjadi unsur pelaksana kegiatan pemantauan menggunakan drone di wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan. Kehadiran personel militer bersama instruktur mendukung pelaksanaan operasi, mulai dari penggunaan perangkat hingga penyampaian informasi yang diperoleh selama pemantauan. Pembagian tugas dilakukan dengan mengikuti kebutuhan kegiatan dan arahan komando, sehingga tim dapat menjalankan pemantauan sesuai kondisi di lapangan. Penugasan ini merupakan bagian dari dukungan untuk memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla di Kapuas, terutama melalui pemanfaatan pengamatan dari udara. Dengan dukungan personel dan instruktur, kegiatan dapat dilaksanakan secara terkoordinasi, sementara perkembangan pelaksanaan tetap disampaikan melalui jalur yang telah ditentukan.

Durasi tugas tim tidak ditetapkan sebagai jangka waktu yang terpisah dari kebutuhan operasi. Masa penugasan akan menyesuaikan perintah komando serta situasi dan kebutuhan di lapangan. Reki menyampaikan bahwa tim akan mengikuti perintah hingga penugasan dinyatakan selesai. Dengan demikian, keberadaan personel di Kapuas dapat berlanjut selama masih diperlukan untuk mendukung operasi dan selama arahan atasan menghendakinya. Ketentuan tersebut memberi ruang bagi komando untuk menyesuaikan pengerahan dengan perkembangan kondisi, termasuk kebutuhan pemantauan yang berubah. Tim menjalankan tugas berdasarkan instruksi yang diterima, bukan menentukan sendiri waktu berakhirnya penugasan. Pengaturan ini juga memastikan keputusan mengenai durasi tetap berada pada jalur komando dan selaras dengan tujuan operasi.

Dalam pelaksanaan kegiatan, tim drone berada di bawah koordinasi Kodim 1011/Kuala Kapuas. Laporan awal mengenai pelaksanaan kegiatan disampaikan kepada komandan kodim sebagai bagian dari mekanisme pelaporan. Koordinasi tersebut menjadi penghubung aktivitas pemantauan udara dan kebutuhan informasi di tingkat wilayah, sehingga hasil kegiatan dapat diteruskan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Baca juga: Pemadaman Karhutla Gunung Ciremai Diperkuat, Warga Diajak Membuat Sekat Api | Karhutla Meluas ke 16 Wilayah, BNPB Kerahkan Personel dan Dukungan Udara | Satgas TMMD ke-130 Kodim 1808/Mansel, Sosialisasikan Bahaya Karhutla Kepada Warga Kampung Yamboi