Dua Embung Baru di Cipayung Perkuat Tampungan Air dan Ruang Warga

oleh -62 Dilihat
oleh
Dua Embung Baru di Cipayung Perkuat Tampungan Air dan Ruang Warga

Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, pada Senin (19/10). Peresmian dua fasilitas tersebut menandai penambahan infrastruktur pengelolaan air di wilayah timur Jakarta. Kedua embung memiliki kapasitas tampungan gabungan sebesar 36.550 meter kubik, yang dapat dimanfaatkan untuk menampung air hujan sekaligus mendukung upaya pengendalian banjir. Kehadirannya memperkuat jaringan tampungan air di kawasan Cipayung dan menambah sarana yang membantu mengelola limpasan saat hujan.

Pembangunan Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong dilaksanakan oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada 2025. Proyek ini menggunakan pendekatan infrastruktur biru-hijau dan solusi berbasis alam, yang memadukan fungsi pengelolaan air dengan perhatian terhadap lingkungan. Melalui pembangunan embung, air hujan dapat ditampung dan dikelola sebelum mengalir ke kawasan lain. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah provinsi untuk meningkatkan kesiapan menghadapi genangan, terutama ketika curah hujan tinggi, serta menjaga ketersediaan sumber daya air.

Selain berperan sebagai tampungan, kedua embung juga mendukung konservasi sumber daya air. Penampungan air hujan memberi manfaat bagi pengelolaan air secara lebih berkelanjutan, sementara keberadaan fasilitas baru menambah kapasitas infrastruktur yang tersedia di Jakarta Timur. Peresmian ini mencerminkan upaya Pemprov DKI untuk menangani persoalan air melalui langkah yang saling melengkapi: mengurangi risiko banjir, mengelola air hujan, dan menjaga sumber daya air. Dengan kapasitas gabungan 36.550 meter kubik, Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong menjadi bagian dari penguatan sistem pengelolaan air di Cipayung. Pendekatan tersebut menempatkan infrastruktur sebagai unsur penting dalam adaptasi perkotaan, sekaligus membuka peluang agar fasilitas air dapat terintegrasi dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Pemerintah provinsi melanjutkan pembangunan sarana sejenis sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan wilayah terhadap tekanan air, baik saat hujan maupun dalam pengelolaan sumber air setempat. Melalui peresmian ini, fungsi tampungan dan konservasi diharapkan dapat berjalan beriringan di Jakarta Timur.

Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam memiliki ukuran lahan, luas badan air, dan kapasitas tampungan yang berbeda. Perbandingan ketiga aspek tersebut memberi gambaran lebih lengkap tentang karakter masing-masing fasilitas, sekaligus menunjukkan kontribusi keduanya terhadap tampungan air di Cipayung. Luas lahan mencakup area fasilitas secara keseluruhan, sedangkan badan air merujuk pada bagian yang terisi air. Karena itu, perbedaan kedua ukuran tersebut tidak selalu sejalan dengan besarnya kapasitas tampungan.

Embung Batu Bangkong berdiri di atas lahan seluas 1,3 hektare. Dari keseluruhan area itu, badan airnya mencakup 0,58 hektare. Kapasitas tampungannya mencapai 20.300 meter kubik. Dengan demikian, fasilitas ini memiliki badan air yang lebih luas dibandingkan Embung Bambu Hitam, sekaligus kapasitas tampungan yang lebih besar. Angka-angka tersebut menunjukkan skala ruang dan volume air yang dapat ditampung, tanpa berarti seluruh lahan digunakan sebagai permukaan air.

Sementara itu, Embung Bambu Hitam memiliki luas lahan sekitar 2,1 hektare, lebih besar daripada area Embung Batu Bangkong. Namun, badan airnya tercatat seluas 0,50 hektare, sedikit lebih kecil. Kapasitas tampungannya sebesar 16.250 meter kubik. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa lahan yang lebih luas tidak otomatis menghasilkan badan air atau volume tampungan yang lebih besar. Susunan area dan karakter rancangan masing-masing embung turut membedakan angka luas dan kapasitasnya.

Jika digabungkan, kedua embung memiliki kapasitas tampungan 36.550 meter kubik. Total tersebut merangkum kemampuan dua fasilitas dengan komposisi ukuran yang tidak sama: Batu Bangkong menyediakan volume tampungan lebih besar, sedangkan Bambu Hitam memiliki area lahan keseluruhan yang lebih luas. Perbedaan itu penting untuk dipahami saat melihat fungsi keduanya sebagai bagian dari infrastruktur air setempat. Ukuran lahan, badan air, dan kapasitas merupakan ukuran yang saling berkaitan, tetapi menjelaskan aspek yang berlainan. Dengan membaca ketiganya secara bersamaan, masyarakat dapat memahami skala fasilitas secara lebih proporsional dan melihat bagaimana masing-masing embung melengkapi tampungan air di kawasan Cipayung.

Embung berfungsi menahan dan menampung air hujan sebelum air tersebut masuk ke saluran drainase atau mengalir menuju sungai. Dengan adanya ruang tampungan, limpasan dapat dikelola secara lebih terkendali, terutama ketika hujan deras menghasilkan volume air yang besar dalam waktu singkat. Peran ini membantu mengurangi beban pada jaringan drainase dan aliran sungai di sekitarnya, sehingga air tidak seluruhnya bergerak keluar dari kawasan dengan cepat.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa air yang masuk ke embung tidak semata-mata dialirkan keluar. Air ditampung terlebih dahulu dan dibiarkan meresap ke dalam tanah di kawasan embung. Cara tersebut menjadi bagian dari konservasi air, karena membantu menjaga cadangan air di lingkungan sekitar sekaligus mengelola limpasan hujan. Dengan demikian, embung dapat mendukung upaya pengelolaan air yang tidak hanya berorientasi pada pembuangan, tetapi juga mempertahankan air agar tetap memberi manfaat di lokasi.

Proses penampungan dan peresapan berlangsung sesuai kondisi kawasan serta kapasitas tampungan yang tersedia. Saat hujan, embung menyediakan ruang bagi air untuk berkumpul, sementara pada waktu berikutnya air dapat meresap secara bertahap. Fungsi ini penting dalam pengelolaan air perkotaan, ketika permukaan yang tertutup bangunan dan perkerasan dapat membatasi penyerapan alami. Embung menjadi salah satu sarana untuk mengatur aliran air hujan sekaligus mendukung keseimbangan ketersediaan air.

Selain berperan dalam konservasi, Pramono juga menyebut embung dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Potensi tersebut menambah nilai fungsi tampungan, karena air yang dikelola tidak hanya membantu mengurangi tekanan terhadap drainase, tetapi juga dapat mendukung kebutuhan pasokan air sesuai pemanfaatan dan pengelolaan yang ditetapkan. Kehadiran embung di Cipayung karena itu menggabungkan fungsi pengendalian limpasan, peresapan, dan penyediaan sumber air. Pengoperasian serta pemeliharaan kawasan tetap diperlukan agar daya tampung dan kualitas air terjaga, sehingga manfaatnya dapat berlangsung dalam jangka panjang bagi lingkungan dan warga sekitar.

Kawasan di sekitar kedua embung di Cipayung tidak hanya dirancang untuk mengelola air, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang interaksi publik. Perpaduan fungsi tersebut memberi warga tempat untuk beraktivitas sekaligus mendukung kebutuhan lingkungan. Fasilitas yang tersedia mencakup instalasi pengolahan air limbah, jalur joging, taman bermain anak, balai warga, lapangan multifungsi, serta sunken plaza. Kehadiran sarana itu memungkinkan kawasan embung digunakan untuk beragam kegiatan, mulai dari olahraga dan bermain hingga pertemuan warga. Dengan demikian, area ini diharapkan dapat menjadi ruang bersama yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar, bukan sekadar infrastruktur yang hanya terlihat ketika terjadi hujan atau genangan.

Pemanfaatan kawasan menyesuaikan kondisi air. Saat cuaca kering, warga dapat menggunakan fasilitas dan ruang terbuka yang tersedia untuk berolahraga, bersantai, atau mengadakan kegiatan bersama. Ketika hujan turun, area embung berperan sebagai tampungan tambahan untuk menahan dan menampung air. Fungsi ganda ini membuat ruang publik dan pengelolaan air saling melengkapi: kawasan tetap berguna dalam keseharian, sementara kapasitas tampungnya membantu mendukung upaya mengurangi risiko banjir. Masyarakat dapat menggunakan embung secara gratis, sehingga akses terhadap ruang dan fasilitas tersebut terbuka tanpa biaya. Agar manfaatnya bertahan, fasilitas perlu dijaga, kebersihan kawasan diperhatikan, dan sarana yang tersedia dirawat secara berkala.

Pramono menilai penanganan banjir perlu mengutamakan pencegahan yang berkelanjutan, bukan hanya respons setelah banjir terjadi.

Baca juga: OJK Perkuat Reformasi Pasar Modal, Penindakan Pelanggaran Jadi Pesan Utama | ADB Setujui Pembiayaan US$650 Juta untuk Perkuat Pasar Keuangan Indonesia | Panglima TNI dan Kapolri Perkuat Soliditas dan Sinergi TNI-Polri