Kota Besi. Tim Balai Konservasi Sumber Daya | Ira, orang utan betina, berhasil dievakuasi setelah bertahan di atas sebuah pohon dengan ketinggian sekitar 10 meter. Ia ditemukan di kawasan hutan bekas terbakar di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Peristiwa ini berpusat di sekitar Jalan Tjilik Riwut Km 9, pada jalur yang menghubungkan Sampit dan Kota Besi. Informasi tersebut menempatkan lokasi penemuan Ira secara jelas, tanpa perlu menambahkan dugaan mengenai bagaimana ia sampai berada di sana.
Keberadaan Ira di atas pohon menjadi inti dari peristiwa evakuasi tersebut. Selama berada di sana, orang utan betina itu bertahan pada ketinggian sekitar 10 meter. Lokasi penemuannya disebut berada di kawasan hutan bekas terbakar, di wilayah Kotawaringin Timur. Keterangan mengenai tempat dan posisi Ira memberi gambaran dasar tentang situasi yang dihadapi tim saat proses penyelamatan dilakukan. Namun, informasi yang tersedia tidak menjelaskan penyebab Ira berada di kawasan itu ataupun rincian lain tentang keadaan hutan di sekitarnya.
Evakuasi Ira menandai berakhirnya masa bertahan di atas pohon dan memungkinkan orang utan tersebut dipindahkan dari lokasi penemuan. Kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 9, jalur Sampit–Kota Besi, menjadi penanda penting untuk memahami di mana peristiwa ini terjadi. Penyebutan wilayah tersebut juga membantu membedakan lokasi penemuan dari kawasan lain di Kabupaten Kotawaringin Timur. Dengan demikian, fakta utama yang dapat disampaikan adalah bahwa Ira, seekor orang utan betina, ditemukan di pohon setinggi sekitar 10 meter dalam kawasan hutan bekas terbakar, lalu berhasil dievakuasi. Uraian ini terbatas pada keterangan mengenai identitas Ira, posisinya, lokasi penemuan, dan hasil evakuasi, tanpa menyimpulkan latar belakang kejadian yang belum dijelaskan.
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, menyebut petugas menerima laporan dari warga sekitar pukul 10.00 WIB. Informasi tersebut menjadi awal upaya penanganan terhadap Ira di kawasan hutan bekas terbakar. Setelah memperoleh laporan, petugas segera mendatangi lokasi untuk mengetahui keadaan satwa itu secara langsung. Mereka kemudian berkoordinasi dengan warga yang berada di sekitar area, sembari menunggu tim penyelamat tiba. Kehadiran warga membantu petugas memantau pergerakan Ira, sekaligus memberikan informasi mengenai posisi terakhir yang terlihat. Langkah awal ini dilakukan dengan hati-hati agar situasi tetap terkendali dan petugas dapat mengikuti perkembangan tanpa kehilangan jejaknya.
Pemantauan tidak berlangsung sebentar. Petugas dan warga mengamati pergerakan Ira sepanjang hari, menyesuaikan langkah dengan perubahan posisi satwa di tengah kawasan yang sulit dijangkau. Selama menunggu tim penyelamat, pengamatan menjadi bagian penting untuk memastikan lokasi Ira dapat diketahui dan kondisi di sekitarnya dapat dinilai. Namun, medan yang dipenuhi ranting rimbun membuat pandangan terbatas. Petugas harus mencari celah untuk melihat Ira dengan lebih jelas, sementara vegetasi rapat menghalangi akses menuju beberapa titik. Situasi tersebut menuntut kewaspadaan dan koordinasi, terutama ketika petugas berupaya tetap menjaga jarak serta tidak mengganggu pergerakan satwa.
Kerimbunan ranting juga menjadi kendala ketika petugas mempertimbangkan tindakan pembiusan. Untuk melakukannya, diperlukan posisi yang aman dan pandangan yang cukup terhadap Ira. Menemukan tempat semacam itu tidak mudah karena ranting yang rapat menyulitkan petugas memastikan jalur maupun titik yang tepat. Kondisi tersebut membuat proses pemantauan perlu diteruskan, sambil menunggu tim penyelamat dan mencari kesempatan yang memungkinkan penanganan dilakukan secara aman. Petugas tidak dapat begitu saja mendekat atau mengambil tindakan tanpa memperhitungkan keadaan di lapangan. Karena itu, pengamatan bersama warga sepanjang hari menjadi dasar untuk mengikuti pergerakan Ira dan menilai situasi sebelum langkah berikutnya diputuskan. Upaya tersebut berlangsung di tengah lingkungan hutan yang gelap dan bekas terbakar, dengan keterbatasan jarak pandang serta akses yang dipengaruhi rimbunnya ranting.
Pada Rabu (14/10/2026), tim gabungan dari BKSDA Kalimantan Tengah, Orangutan Foundation International (OFI), dan aktivis lingkungan dari Sampit bergerak untuk mengevakuasi Ira. Perjalanan menuju lokasi dimulai sekitar pukul 18.30 WIB, ketika kawasan hutan telah gelap dan jarak pandang semakin terbatas. Tim menggunakan sepeda motor untuk mencapai titik yang bisa dijangkau kendaraan, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Peralihan itu menandai dimulainya tahap yang lebih sulit: jalur menuju Ira sempit, tertutup vegetasi, dan membutuhkan perhatian penuh dari setiap anggota tim.
Minimnya penerangan menjadi salah satu kendala utama selama perjalanan. Cahaya yang tersedia tidak cukup untuk melihat seluruh permukaan jalur dengan jelas, sehingga petugas harus mengandalkan langkah perlahan dan pengamatan cermat. Medan yang tidak rata membuat pijakan mudah berubah, sementara ranting-ranting rimbun menghalangi gerak dan pandangan. Di sejumlah bagian, tunggul kayu bekas terbakar masih menonjol dari tanah. Sisa kebakaran tersebut menyulitkan tim mengenali batas aman untuk melangkah, terutama saat melewati kawasan yang dipenuhi kayu dan cabang yang tidak mudah terlihat dalam gelap.
Dalam kondisi seperti itu, petugas tidak dapat bergerak cepat tanpa meningkatkan risiko. Setiap anggota perlu memperhatikan pijakan sendiri sekaligus menjaga ruang gerak bagi rekan di sekitarnya. Kehati-hatian juga penting agar Ira tidak mengalami cedera saat proses evakuasi berlangsung. Tim menyesuaikan langkah dengan keadaan jalur, melewati bagian yang sempit secara bertahap, dan menghindari tunggul maupun ranting yang berpotensi menghambat perjalanan. Upaya tersebut menggambarkan tantangan evakuasi satwa di kawasan hutan bekas terbakar: akses yang sulit, penerangan terbatas, serta sisa material yang berbahaya menuntut koordinasi dan kesabaran. Dengan bergerak terukur, tim berupaya menjaga keselamatan Ira dan para petugas hingga dapat melanjutkan proses evakuasi dengan aman.
Petugas terlebih dahulu berupaya mengarahkan Ira ke posisi yang lebih mudah dijangkau. Dalam gelapnya kawasan hutan bekas terbakar, ruang gerak dan jarak pandang yang terbatas membuat setiap tindakan perlu dilakukan dengan cermat. Mereka beberapa kali memukul batang pohon untuk mendorong Ira berpindah dari tempatnya semula. Cara ini dilakukan secara terukur, bukan untuk mengejutkan satwa secara berlebihan, melainkan agar posisinya lebih memungkinkan untuk ditangani.
Setiap percobaan disertai pengamatan terhadap respons Ira. Petugas memahami bahwa gerakan mendadak dapat membuat satwa panik, berpindah secara tidak terkendali, atau terjatuh. Situasi tersebut juga berisiko mencederai petugas yang berada di sekitar lokasi. Karena itu, mereka menjaga jarak aman dan mengatur tindakan dengan hati-hati. Pukulan pada batang pohon diulang beberapa kali, sambil menunggu perubahan posisi yang dapat membuka jalan bagi proses pembiusan.
Setelah sejumlah upaya, Ira akhirnya berhasil dibius. Namun, keberhasilan itu tidak serta-merta mengakhiri proses evakuasi. Tubuhnya tidak langsung jatuh ke tanah karena masih tersangkut pada ranting. Kondisi tersebut menuntut petugas untuk tidak terburu-buru menurunkannya. Posisi tubuh dan bagian yang tersangkut perlu diperiksa terlebih dahulu, agar langkah berikutnya tidak menimbulkan tarikan atau benturan yang dapat berakibat buruk bagi Ira.
Petugas kemudian memastikan bahwa posisi Ira cukup aman sebelum mulai menurunkannya secara perlahan. Mereka memperhatikan ranting yang menahan tubuhnya serta keadaan sekitar, termasuk kondisi tanah di kawasan bekas terbakar. Permukaan dan sisa vegetasi di lokasi berpotensi menambah risiko cedera jika tubuh Ira terlepas atau jatuh tanpa kendali. Dengan gerakan bertahap dan koordinasi yang cermat, proses penurunan dilakukan untuk menjaga keselamatan satwa sekaligus petugas. Kehati-hatian menjadi kunci pada tahap ini, sebab pembiusan yang berhasil tetap harus diikuti penanganan aman hingga Ira berada di bawah dan dapat dievakuasi lebih lanjut.
Baca juga: Kebakaran di Kawasan Bromo: Tiga Orang Dilaporkan Tewas Saat Evakuasi Berlangsung | Dua Perwira TNI Hadiri Agenda Pelantikan yang Dikabarkan Berlangsung di Istana | Pertemuan Kabinet Merah Putih Dijadwalkan Berlangsung di Istana Bogor



































