Gempa M5,9 di Papua Nugini Dirasakan hingga Boven Digoel dan Jayapura

oleh -61 Dilihat
oleh
Gempa M5,9 di Papua Nugini Dirasakan hingga Boven Digoel dan Jayapura

Jayapura | Gempa tektonik mengguncang wilayah Kiunga, Papua Nugini, pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 10.26.48 WIB. Berdasarkan pemutakhiran informasi BMKG, gempa tersebut memiliki magnitudo 5,9 dan kedalaman 42 kilometer. Data ini menjadi acuan terbaru untuk menggambarkan kekuatan serta posisi sumber gempa yang berada di kawasan Papua Nugini.

Pusat gempa tercatat berada di darat, pada koordinat 5,68° Lintang Selatan dan 141,88° Bujur Timur. Lokasinya sekitar 171 kilometer tenggara Oksibil, Papua Pegunungan. Dengan demikian, keterangan mengenai gempa ini mencakup dua penanda lokasi: wilayah Kiunga sebagai kawasan yang disebut dalam laporan, serta titik koordinat dan jarak dari Oksibil sebagai gambaran posisi episentrum.

Magnitudo 5,9 merupakan angka yang telah diperbarui BMKG, sementara kedalaman 42 kilometer menunjukkan letak sumber gempa di bawah permukaan. Kedua parameter tersebut melengkapi informasi waktu dan lokasi kejadian. Karena episentrum berada di darat, titik sumber gempa pada catatan BMKG tidak ditempatkan di laut, melainkan pada koordinat daratan yang tercantum.

Informasi waktu kejadian menggunakan WIB, yaitu pukul 10.26.48 pada Kamis, 29 Oktober 2026. Penyebutan waktu, magnitudo, kedalaman, koordinat, serta jarak dari Oksibil membantu membedakan rincian utama peristiwa secara jelas. Dalam membaca laporan, magnitudo merujuk pada ukuran gempa yang dilaporkan, sedangkan koordinat menunjukkan posisi pusatnya. Jarak sekitar 171 kilometer tenggara Oksibil memberikan acuan geografis tambahan, tanpa mengubah lokasi episentrum yang dinyatakan berada di wilayah darat Papua Nugini. Keterangan ini merangkum data pokok yang telah disampaikan BMKG mengenai gempa di sekitar Kiunga pada tanggal tersebut.Hasil pemodelan BMKG menunjukkan gempa bermagnitudo 5,9 di Papua Nugini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Berdasarkan hasil tersebut, gempa yang dirasakan hingga Boven Digoel dan Jayapura tidak memenuhi kondisi yang dapat memicu gelombang tsunami. Informasi ini disampaikan sebagai bagian dari analisis BMKG terhadap karakteristik gempa, termasuk lokasi dan kedalaman sumbernya. Dengan demikian, gempa tersebut dikategorikan tidak berpotensi tsunami menurut pemodelan yang dilakukan lembaga tersebut.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa penilaian itu juga mempertimbangkan lokasi episenter serta kedalaman hiposenter. Dari kedua parameter tersebut, gempa diketahui tergolong dangkal. Wijayanto menyampaikan bahwa gempa dangkal ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Keterangan mengenai sumber gempa tersebut membantu menjelaskan karakter peristiwa yang terjadi, sementara hasil pemodelan tsunami menjadi dasar untuk menilai potensi dampaknya terhadap wilayah pesisir.

Analisis mekanisme sumber yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme sesar geser atau strike-slip. Hasil tersebut merupakan bagian dari kajian terhadap proses yang menghasilkan gempa, berdasarkan informasi yang tersedia pada saat analisis. BMKG menyandingkan hasil mekanisme sumber dengan data episenter dan hiposenter dalam memberikan keterangan mengenai peristiwa ini. Meski gempa terasa di sejumlah wilayah, hasil pemodelan tetap menyatakan tidak ada potensi tsunami yang ditimbulkan oleh gempa tersebut.

Penjelasan itu membedakan dua hal dalam laporan gempa: karakter sumber dan ancaman tsunami. Gempa yang tergolong dangkal serta dipicu aktivitas sesar aktif, dengan mekanisme sesar geser, tidak serta-merta berarti tsunami akan terjadi. Dalam kasus ini, pemodelan BMKG secara khusus menunjukkan bahwa gempa M5,9 di Papua Nugini tidak berpotensi tsunami. Pernyataan tersebut merujuk pada hasil analisis yang disampaikan BMKG, termasuk keterangan Wijayanto mengenai lokasi dan kedalaman gempa. Informasi ini menjadi acuan bagi masyarakat untuk memahami hasil kajian resmi tanpa menarik kesimpulan lebih jauh dari data yang tersedia.

Laporan mengenai gempa M5,9 di Papua Nugini menyebutkan getarannya turut dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia. Tingkat intensitas yang dilaporkan berbeda daerah, berdasarkan seberapa jelas guncangan terasa dan dampaknya terhadap benda-benda di sekitar. Di Boven Digoel, getaran tercatat pada skala III MMI. Warga menggambarkannya terasa nyata di dalam rumah, dengan sensasi menyerupai truk yang sedang melintas. Gambaran tersebut menjelaskan pengalaman yang dirasakan masyarakat, bukan ukuran mengenai kerusakan bangunan.

Skala III MMI menunjukkan getaran dapat dirasakan cukup jelas oleh orang yang berada di dalam rumah. Dalam laporan ini, sensasinya disamakan dengan kendaraan berat yang melintas dekat tempat tinggal. Perbedaan tingkat intensitas antardaerah dapat terlihat dari laporan mengenai siapa yang merasakan guncangan serta bagaimana benda di dalam ruangan bereaksi. Karena itu, keterangan untuk Boven Digoel menggambarkan getaran yang lebih nyata dibandingkan laporan dari Kota Jayapura dan Merauke. Informasi ini berfokus pada pengalaman masyarakat saat gempa terjadi.

Di Kota Jayapura dan Merauke, intensitas gempa dilaporkan mencapai II MMI. Pada tingkat tersebut, getaran dirasakan oleh beberapa orang, sementara benda-benda ringan yang tergantung dapat bergoyang. Keterangan itu menjadi gambaran umum mengenai bagaimana guncangan terasa di kedua wilayah, tanpa menyiratkan dampak lain yang tidak tercantum dalam laporan. Secara keseluruhan, laporan intensitas menunjukkan gempa terasa dengan tingkat berbeda di Boven Digoel, Kota Jayapura, dan Merauke. Informasi yang tersedia menjelaskan sensasi getaran dan gerakan benda, sehingga pembaca dapat memahami cakupan wilayah yang merasakannya secara proporsional.

Hingga pukul 10.55 WIB, hasil pemantauan BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan setelah gempa bermagnitudo 5,9 di Papua Nugini. Kondisi tersebut merujuk pada data yang terkumpul sampai waktu pembaruan itu, sehingga masyarakat tetap perlu mengikuti perkembangan informasi resmi. Tidak terdeteksinya gempa susulan pada pemantauan tersebut bukan alasan untuk menyebarkan dugaan atau kabar yang belum terverifikasi. Informasi mengenai aktivitas kegempaan dapat berubah seiring pembaruan data, dan keterangan BMKG menjadi rujukan untuk mengetahui perkembangan yang telah dikonfirmasi.

BMKG menyatakan pemantauan terhadap kemungkinan gempa susulan akan terus dilakukan. Lembaga tersebut juga akan menyampaikan pembaruan kepada para pemangku kepentingan serta masyarakat apabila terdapat perkembangan yang perlu diketahui. Pemantauan berkelanjutan ini membantu memastikan informasi yang dibagikan bersumber dari pengamatan dan analisis resmi, bukan spekulasi. Warga di wilayah yang merasakan guncangan, termasuk Boven Digoel dan Jayapura, dapat memperhatikan pengumuman berikutnya melalui kanal komunikasi BMKG yang terverifikasi. Jika informasi baru diterbitkan, masyarakat diimbau membaca keterangan secara utuh, termasuk waktu pembaruan dan konteksnya, agar tidak keliru memahami situasi.

Wijayanto mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat gempa, demi mengurangi risiko apabila kondisi bangunan tidak aman. Jangan memasuki kembali bagian bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Untuk memperoleh informasi mengenai gempa dan kemungkinan aktivitas susulan, masyarakat sebaiknya merujuk pada kanal komunikasi resmi BMKG yang telah terverifikasi serta situs web BMKG. Hindari meneruskan pesan berantai yang tidak menyertakan sumber jelas, waktu kejadian, atau konfirmasi lembaga terkait. Sikap tenang, kewaspadaan terhadap kondisi sekitar, dan penggunaan informasi yang sahih dapat membantu warga mengambil langkah secara tepat tanpa memperbesar keresahan.

Baca juga: Gempa M6,0 di Kiunga Terasa di Sejumlah Wilayah Papua