Kabupaten Bangka Boy Yandra | Bupati Bangka Fery Insani meluncurkan Gerakan Memilah Pintar dan Mengelola Sampah (Gempita Mas) di Sungailiat pada Minggu. Program ini menjadi upaya pemerintah kabupaten untuk mendorong perubahan cara masyarakat menangani sampah, terutama dengan membiasakan pemilahan sebelum sampah dikumpulkan atau dibuang. Melalui gerakan tersebut, warga diharapkan memahami bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi urusan petugas kebersihan, tetapi membutuhkan keterlibatan bersama sejak tingkat rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kabupaten Bangka menggandeng pengurus masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya. Pengurus tempat ibadah dinilai memiliki kedekatan dengan warga serta berperan dalam membangun kebiasaan dan menyampaikan pesan kepada komunitas masing-masing. Karena itu, keterlibatan mereka diharapkan dapat memperluas jangkauan sosialisasi dan membuat penanganan sampah lebih efektif. Kerja sama ini juga memberi ruang bagi setiap lingkungan untuk menyesuaikan kegiatan pemilahan dengan kondisi dan kebutuhan setempat, tanpa membatasi gerakan pada satu kelompok masyarakat saja.
Gagasan utama Gempita Mas adalah mendorong pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Sampah dapat dipisahkan sesuai jenis sebelum masuk ke tahap pengumpulan, sehingga bahan yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung tercampur dengan sampah lainnya. Kebiasaan sederhana tersebut memerlukan dukungan informasi, fasilitas yang memadai, serta partisipasi rutin dari warga dan pengelola lingkungan. Dengan memulai pengelolaan di tempat sampah dihasilkan, proses penanganan berikutnya berpeluang menjadi lebih tertata. Pelibatan tempat ibadah menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran dan menggerakkan tindakan bersama. Gerakan ini menempatkan warga sebagai bagian penting dari upaya mengurangi beban sampah, sekaligus memperkuat tanggung jawab kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan di Kabupaten Bangka.
Di Kampung Jawa, Sungailiat, pengurus Masjid Al Husna menjalankan kegiatan pengumpulan sampah nonorganik sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan. Sampah yang masih dapat dimanfaatkan, seperti bahan daur ulang, dikumpulkan agar tidak bercampur dengan sampah lain dan berakhir menumpuk di sekitar permukiman. Praktik ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari ruang komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Pengurus masjid berperan mengajak jamaah dan masyarakat sekitar untuk memilah barang yang masih bernilai, kemudian menyalurkannya melalui pengumpulan yang lebih teratur. Dengan demikian, kegiatan sederhana ini bukan hanya menjaga kawasan masjid, tetapi juga memperlihatkan bahwa kepedulian lingkungan dapat tumbuh dari tindakan bersama.
Menurut Fery Insani, kegiatan tersebut membantu mengurangi jumlah sampah di lingkungan sekitar masjid. Sampah nonorganik yang terkumpul kemudian dijual, dan hasil penjualannya disedekahkan kepada warga kurang mampu yang tinggal di sekitar masjid. Mekanisme ini menghubungkan kebiasaan memilah sampah dengan kepedulian sosial. Barang yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat memiliki nilai guna, sementara hasilnya membantu warga yang membutuhkan. Kegiatan itu juga memberi contoh bahwa pengelolaan sampah tidak harus berhenti pada urusan kebersihan, tetapi dapat menghadirkan manfaat nyata bagi komunitas. Peran tempat ibadah sebagai ruang berkumpul warga membuat ajakan memilah sampah lebih mudah disampaikan dan dilakukan secara bersama-sama.
Praktik Masjid Al Husna diharapkan dapat mendorong masyarakat di tempat lain untuk lebih sadar dalam mengelola sampah, mulai dari memilah di rumah hingga membuangnya pada lokasi yang telah disediakan. Keterlibatan pengurus tempat ibadah dapat menjadi pemantik gerakan serupa, sekaligus memperkuat pesan bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Di sisi lain, bupati menyampaikan keprihatinan atas kebiasaan sebagian warga yang masih membuang sampah sembarangan, meskipun tempat pembuangan sementara telah tersedia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyediaan fasilitas perlu diiringi perubahan perilaku dan kepatuhan masyarakat. Jika warga terbiasa memilah serta membuang sampah dengan benar, lingkungan permukiman dapat terjaga, sementara sampah bernilai guna bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial.
Program Gerakan Pilah Sampah Bangka atau Gempita Mas dirancang untuk mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka, Boy Yandra, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengajak warga memisahkan sampah, melainkan juga menunjukkan manfaat nyata dari pengelolaan yang tepat. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna dapat memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan disalurkan melalui jalur yang sesuai. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan lebih terdorong untuk mengurangi sampah tercampur dan membiasakan pemilahan dari rumah maupun lingkungan tempat ibadah.
Menurut Boy Yandra, hasil pemilahan sampah nonorganik dapat membantu menambah pendapatan keluarga. Botol plastik, aluminium, besi, serta berbagai bahan lain yang masih memiliki nilai jual dapat dikumpulkan untuk kemudian disetorkan ke bank sampah. Langkah ini memberi kesempatan kepada warga untuk memperoleh manfaat ekonomi dari barang yang sebelumnya mungkin langsung dibuang. Pengurus dan jamaah tempat ibadah dapat ikut berperan dengan menyediakan wadah pengumpulan, mengajak masyarakat memilah sampah, serta menyalurkan hasilnya secara teratur. Sebagian sampah juga dapat disedekahkan ke Masjid Al Husna, sehingga kegiatan tersebut sekaligus mendukung kepedulian sosial dan menjaga kebersihan lingkungan.
Pengelolaan yang tepat tidak hanya berlaku untuk bahan yang dapat dijual. Sampah organik, seperti sisa makanan dan bahan alami lainnya, bisa dipisahkan agar tidak bercampur dengan plastik atau logam. Bahan tersebut dapat diolah menjadi pupuk yang bermanfaat bagi pertanian. Pemanfaatan ini membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang sekaligus menyediakan sumber pupuk bagi kegiatan bercocok tanam. Melalui Gempita Mas, warga diperkenalkan pada pilihan pengolahan sesuai jenis sampah: bahan nonorganik dikumpulkan untuk dijual atau disedekahkan, sedangkan bahan organik diolah kembali. Boy Yandra berharap kesadaran tersebut tumbuh berkelanjutan, sehingga pemilahan menjadi kebiasaan sehari-hari dan manfaat lingkungan serta ekonomi dapat dirasakan keluarga maupun masyarakat luas.
Gerakan pemilahan sampah yang melibatkan pengurus tempat ibadah di Bangka direncanakan tidak berhenti pada satu lokasi. Dalam waktu dekat, program serupa akan diluncurkan di masjid-masjid lain di Sungailiat. Perluasan ini diharapkan mendorong lebih banyak warga memilah sampah dari rumah dan lingkungan masing-masing, sekaligus menjadikan tempat ibadah sebagai ruang untuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan.
Rencana tersebut berlangsung di tengah target pemerintah pusat agar penanganan sampah di suatu daerah mencakup 30 persen dari jumlah penduduk. Target itu menjadi salah satu tolok ukur penting bagi pemerintah daerah dalam memperkuat pengelolaan sampah, termasuk mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Namun, capaian yang ada masih menunjukkan bahwa upaya pengurangan perlu ditingkatkan agar mendekati sasaran.
Boy Yandra menyampaikan bahwa pengurangan sampah saat ini baru mencapai 11 persen dari target yang telah ditetapkan. Di sisi lain, rata-rata sampah yang dibuang ke TPA tercatat turun dari sekitar 60 ton menjadi 58 ton per hari. Penurunan tersebut menunjukkan adanya perubahan, tetapi volumenya masih cukup besar dan memerlukan langkah berkelanjutan. Pemilahan sampah organik dan anorganik sejak awal dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut dan ditimbun.
Bupati berpandangan bahwa penanganan sampah tidak sepatutnya ditunda. Persoalan ini perlu mulai ditangani sekarang, sebelum pertambahan penduduk membuat beban pengelolaan semakin berat. Semakin banyak warga berarti semakin besar pula potensi sampah yang dihasilkan, sehingga kesiapan sistem dan partisipasi masyarakat menjadi penting. Karena itu, perluasan gerakan ke masjid lain di Sungailiat diharapkan dapat memperkuat keterlibatan warga serta mendorong kebiasaan memilah secara konsisten.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga menyampaikan optimisme bahwa pemilahan dari sumber dapat membantu menekan volume sampah.
Baca juga: Pemeriksaan Narkotika di Diskotek Penjaringan Libatkan 462 Personel Gabungan



































