Jakarta | IHSG melanjutkan penguatan pada sesi pertama perdagangan Jumat, dengan pergerakan positif yang telah terlihat sejak pasar dibuka. Pada pukul 10.24 WIB, indeks berada di level 5.449,09. Posisi tersebut mencerminkan kenaikan 61,18 poin atau 1,14% dibandingkan penutupan sebelumnya. Perkembangan ini menunjukkan bahwa penguatan pagi hari bertambah setelah indeks memulai perdagangan di wilayah positif.
Saat pembukaan, IHSG tercatat berada pada level 5.397,34 dan menguat 0,18%. Dari titik pembuka tersebut, indeks bergerak naik hingga mencapai posisi yang dilaporkan pada pukul 10.24 WIB. Selisih level pembukaan dan posisi itu memperlihatkan kenaikan sepanjang sesi pagi, sementara persentase perubahan pada pukul 10.24 WIB menggambarkan penguatan terhadap acuan penutupan sebelumnya. Dengan demikian, angka pembukaan dan posisi terkini memberikan dua gambaran berbeda mengenai pergerakan indeks: perubahan awal perdagangan serta kinerja kumulatif terhadap penutupan terdahulu.
Aktivitas perdagangan hingga pukul 10.23 WIB turut mencatat volume sebesar 161,48 juta lot, dengan nilai transaksi mencapai Rp5,08 triliun. Data tersebut menggambarkan transaksi yang telah berlangsung sebelum laporan posisi indeks pada pukul 10.24 WIB. Volume dan nilai transaksi menjadi konteks untuk membaca dinamika perdagangan pagi, meskipun angka itu sendiri tidak menjelaskan arah aktivitas pada saham tertentu. Pada waktu pengamatan tersebut, informasi yang tersedia menunjukkan IHSG berada di level 5.449,09 setelah dibuka pada 5.397,34, dengan penguatan tercatat sebesar 61,18 poin atau 1,14%. Pergerakan sejak awal sesi dan besaran transaksi memberikan gambaran perkembangan pasar hingga menjelang pertengahan sesi pertama, tanpa mengubah bahwa data indeks merujuk pada pukul 10.24 WIB sedangkan data aktivitas perdagangan merujuk pada pukul 10.23 WIB.
Penguatan IHSG pada sesi pagi mendapat dukungan dari sejumlah sektor yang bergerak positif. Sektor energi mencatat kenaikan terbesar di sektor yang disebutkan, yakni 2,3%. Kinerja ini sejalan dengan penguatan beberapa saham terkait energi dan sumber daya alam yang ikut menopang pergerakan indeks. Selain itu, sektor material dasar naik 2%, sementara sektor konsumer kritikal menguat 1,9%. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap pasar tidak hanya datang dari satu kelompok usaha, meskipun sektor energi mencatat kenaikan paling tinggi dalam data perdagangan pagi.
Beberapa saham yang turut mengangkat indeks lain AMMN atau Amman Mineral Internasional, ASII atau Astra International, BYAN atau Bayan Resources, EMAS atau Merdeka Gold Resources, serta DSSA atau Dian Swastatika Sentosa. Saham-saham tersebut berada di emiten yang bergerak mendukung penguatan IHSG pada sesi tersebut. Namun, data yang tersedia tidak merinci besaran kontribusi masing-masing saham terhadap perubahan indeks. Karena itu, penguatan mereka dapat dicatat sebagai faktor pendukung, tanpa menetapkan bobot atau urutan pengaruh tertentu.
Di sisi lain, laju indeks juga menghadapi tekanan dari sejumlah saham yang bergerak berlawanan arah. BBCA, yang diterbitkan Bank Central Asia, termasuk saham yang menekan ruang gerak IHSG. Tekanan juga datang dari DCII atau DCI Indonesia, MEGA atau Bank Mega, MTEL atau Dayamitra Telekomunikasi, dan BREN atau Barito Renewables Energy. Kehadiran saham-saham penekan ini memberi gambaran bahwa penguatan indeks berlangsung di tengah pergerakan pasar yang tidak seragam. Dengan demikian, kenaikan sektor energi, material dasar, dan konsumer kritikal serta dukungan sejumlah emiten menjadi bagian dari dinamika sesi pagi, sementara saham lain membatasi laju indeks. Informasi tersebut menggambarkan arah perdagangan berdasarkan saham dan sektor yang tercatat, tanpa mengasumsikan besaran dampak individual yang tidak tersedia dalam data.
Di luar pergerakan saham energi, pelaku pasar pada perdagangan Jumat turut mencermati sejumlah perkembangan domestik yang dapat memengaruhi prospek ekonomi dan sentimen investasi. Perhatian tertuju pada arah kebijakan pemerintah, terutama setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya mengenai pengelolaan sumber daya alam. Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena kebijakan di sektor ini dapat berdampak pada penerimaan negara, kegiatan usaha, dan prospek emiten terkait. Investor juga menimbang rencana perampingan badan usaha milik negara (BUMN), yang berpotensi mengubah struktur dan efisiensi perusahaan milik pemerintah.
Kondisi industri perbankan menjadi faktor domestik lainnya yang dipantau. Pertumbuhan kredit perbankan disebut telah mencapai level tertinggi dalam satu dekade, mencerminkan kuatnya penyaluran pembiayaan dibandingkan periode-periode sebelumnya. Pelaku pasar juga memperhatikan perkiraan bahwa penyaluran kredit baru akan meningkat pada akhir tahun, seiring kebutuhan pembiayaan dan kegiatan ekonomi. Di sisi lain, pemerintah menjalankan program untuk memperluas akses masyarakat terhadap rekening bank. Perluasan inklusi keuangan dapat membantu lebih banyak penduduk menggunakan layanan formal, sekaligus memperbesar jangkauan penghimpunan dana dan penyaluran kredit.
Likuiditas perekonomian turut menjadi sorotan menjelang rilis data uang beredar September 2026 dari Bank Indonesia. Angka tersebut dinantikan setelah pertumbuhannya melambat selama dua bulan berturut-turut, sehingga dapat memberi petunjuk tentang kondisi likuiditas dan permintaan dalam perekonomian. Pelaku pasar juga memperhitungkan perubahan metodologi penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) oleh Bursa Efek Indonesia yang mulai berlaku pada 2 November 2026. Dalam aturan baru, saham berkategori high shareholding concentration (HSC) tidak lagi dihitung dalam indeks, dengan tujuan agar IHSG lebih mencerminkan dinamika pasar. Sebelumnya, pengecualian penghitungan hanya berlaku bagi saham di papan akselerasi. Perubahan ini menjadi pertimbangan tambahan bagi investor saat membaca pergerakan indeks dan membandingkannya dengan kondisi pasar secara keseluruhan.
Di tengah penguatan IHSG pada sesi pagi, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi arah perdagangan. Salah satu perhatian utama adalah pelemahan tajam bursa Wall Street. Penurunan di pasar saham Amerika Serikat dapat menekan sentimen risiko secara lebih luas, terutama ketika investor menilai kembali prospek ekonomi dan kebijakan moneter. Pergerakan tersebut menjadi latar penting bagi pasar domestik, meskipun dampaknya tidak selalu langsung tercermin pada indeks karena investor juga mempertimbangkan katalis dari dalam negeri, termasuk kinerja sektor energi.
Selain Wall Street, data inflasi Jepang untuk September 2026 turut menjadi sorotan. Angka yang diumumkan pada Jumat pagi menunjukkan inflasi tahunan naik menjadi 2,1%, dibandingkan 1,9% dalam dua bulan sebelumnya. Kenaikan itu membawa inflasi ke tingkat tertinggi sejak Desember 2025. Perubahan tersebut memberi gambaran bahwa tekanan harga di Jepang kembali menguat, sehingga perkembangan inflasi dan kemungkinan respons kebijakan Bank of Japan tetap menjadi bahan pertimbangan investor global.
Ukuran inflasi inti Jepang, yang tidak memasukkan harga pangan segar tetapi tetap mencakup energi, tercatat sebesar 2,1% secara tahunan. Angka ini meningkat dari 1,7% pada Agustus dan menjadi level tertinggi dalam sembilan bulan. Hasil tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga tidak sepenuhnya menjadi kejutan bagi pelaku pasar. Namun, kembalinya inflasi inti ke atas target Bank of Japan tetap penting untuk dicermati. Data ini dapat memperkuat perhatian terhadap prospek suku bunga Jepang dan pergerakan yen, meskipun langkah kebijakan selanjutnya bergantung pada penilaian bank sentral atas kesinambungan tekanan harga. Bagi investor di Indonesia, kombinasi pelemahan Wall Street dan data inflasi Jepang menjadi konteks eksternal dalam membaca risiko pasar, sementara penguatan IHSG dan kontribusi sektor energi menunjukkan bahwa faktor domestik juga berperan dalam membentuk arah indeks pada sesi pagi.
Baca juga: IHSG Menguat 1,14% pada Perdagangan Jumat Pagi | Likuiditas Indonesia Menguat, M2 Tumbuh 8,3 Persen pada September



































