Ingram Micro Raih Penghargaan untuk Ekosistem AI Perusahaan

oleh -674 Dilihat
oleh
Ingram Micro Raih Penghargaan untuk Ekosistem AI Perusahaan

Jakarta | Ingram Micro menerima penghargaan kategori Best Enterprise AI Ecosystem dalam ajang Road to Awards 2026 “Best AI Ecosystem”. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas peran perusahaan dalam membangun ekosistem kecerdasan artifisial untuk kebutuhan perusahaan. Penyerahan penghargaan berlangsung pada Jumat, 30 Oktober 2026, sebagai bagian dari acara yang memberikan apresiasi kepada pelaku usaha yang mengadaptasi AI di tengah persaingan bisnis.

Road to Awards 2026 “Best AI Ecosystem” menyoroti upaya pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk memperkuat kepercayaan masyarakat. Dalam lingkungan bisnis yang terus berkembang, adopsi AI dinilai perlu disertai perhatian terhadap kebutuhan pengguna dan dampak teknologi. Apresiasi dalam ajang ini diberikan kepada pelaku usaha yang menghadirkan pendekatan serta ekosistem AI yang mendukung pemanfaatan teknologi secara relevan. Kategori Best Enterprise AI Ecosystem secara khusus mengakui ekosistem AI yang berorientasi pada kebutuhan perusahaan.

Penghargaan untuk Ingram Micro diserahkan langsung oleh Said Mirza Pahlevi, Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru pada Ditjen Ekosistem Digital Komdigi. Penghargaan tersebut diterima oleh Mulia Dewi Karnadi, President Director Ingram Micro Indonesia. Kehadiran perwakilan pemerintah dalam penyerahan itu menandai dukungan terhadap pengembangan ekosistem teknologi baru serta penerapan AI dalam lingkungan usaha.

Pengakuan ini menempatkan Ingram Micro di pelaku usaha yang mendapat apresiasi atas kontribusinya dalam ranah AI perusahaan. Bagi perusahaan, ekosistem AI dapat mencakup dukungan teknologi dan kolaborasi yang membantu organisasi mempertimbangkan penerapan kecerdasan artifisial sesuai kebutuhan operasional. Penghargaan tersebut juga menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai bagaimana pelaku usaha mengadopsi teknologi baru sekaligus menjaga kepercayaan publik. Melalui Road to Awards 2026, perhatian tertuju pada hubungan inovasi, persaingan, dan tanggung jawab dalam penggunaan AI. Penyerahan pada 30 Oktober 2026 menegaskan pencapaian Ingram Micro Indonesia di kategori tersebut, sekaligus mencerminkan pentingnya ekosistem yang dapat mendukung pemanfaatan AI secara berkelanjutan di sektor perusahaan.

Mulia Dewi Karnadi menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan yang diterima Ingram Micro. Apresiasi tersebut ia maknai sebagai pengakuan yang tidak hanya ditujukan kepada perusahaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menghargai pihak-pihak yang ikut mendukung perjalanan bisnis Ingram Micro. Karena itu, penghargaan tersebut didedikasikan kepada para pelanggan serta principal atau vendor bisnis yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem perusahaan.

Dalam tanggapannya, Dewi turut menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Ingram Micro. Kepercayaan dari pelanggan dan principal atau vendor bisnis menjadi bagian penting dalam hubungan yang terjalin. Dedikasi penghargaan kepada mereka menegaskan bahwa apresiasi itu ingin dibagikan kepada para mitra tersebut, bukan hanya diterima sebagai pencapaian perusahaan. Pernyataan ini juga mencerminkan penghargaan terhadap dukungan dan keyakinan yang telah diberikan kepada Ingram Micro.

Dewi menyampaikan bahwa Ingram Micro berkomitmen untuk terus bergerak bersama para pelanggan dan principal atau vendor bisnis. Tujuan bersama tersebut adalah mendorong transformasi teknologi di Indonesia secara berkelanjutan demi kemajuan negara. Dengan demikian, penghargaan yang diterima menjadi pengingat atas pentingnya kepercayaan dan kerja bersama dalam melanjutkan upaya tersebut. Pesan yang disampaikan menempatkan kemajuan teknologi sebagai tujuan yang hendak didukung bersama, sekaligus menegaskan komitmen Ingram Micro untuk berkontribusi dalam perjalanan transformasi teknologi Indonesia. Dedikasi kepada para pelanggan dan mitra bisnis serta ucapan terima kasih atas kepercayaan mereka merupakan inti dari tanggapan Dewi atas apresiasi tersebut.

Kecerdasan buatan (AI) semakin menjadi bagian penting dalam agenda teknologi perusahaan. Kemampuannya mengolah data, mengenali pola, dan membantu mengotomatisasi tugas dapat mendukung efisiensi operasional serta meningkatkan produktivitas. Di berbagai sektor, organisasi mengeksplorasi penggunaan AI untuk mempercepat pekerjaan rutin, memperkuat analisis, dan menghasilkan wawasan yang membantu pengambilan keputusan. Teknologi ini juga membuka ruang bagi inovasi, mulai dari penyempurnaan proses yang sudah ada hingga pengembangan produk dan layanan baru. Namun, manfaat tersebut bergantung pada kesesuaian penerapan dengan kebutuhan organisasi, kualitas data, kesiapan infrastruktur, serta keterampilan tenaga kerja. Karena itu, adopsi AI bukan sekadar memasang perangkat lunak, melainkan proses perubahan yang memerlukan perencanaan, tata kelola, dan evaluasi berkelanjutan.

Dalam perkembangan ini, Ingram Micro berperan membantu perusahaan mengadopsi teknologi kecerdasan buatan melalui dukungan ekosistem teknologi perusahaan. Peran tersebut relevan ketika organisasi perlu menilai pilihan teknologi, menghubungkan solusi dengan kebutuhan bisnis, dan mempertimbangkan cara penerapannya secara bertanggung jawab. Pendampingan dalam perjalanan adopsi dapat membantu perusahaan memahami peluang AI sekaligus mengantisipasi aspek praktis, seperti integrasi dengan sistem yang telah digunakan, keamanan, dan pengelolaan data. Setiap organisasi memiliki prioritas dan tingkat kesiapan berbeda, sehingga pendekatan yang tepat tidak selalu sama. Dengan dukungan yang sesuai, perusahaan dapat membuat keputusan lebih terarah mengenai penggunaan AI, menetapkan sasaran yang realistis, serta menilai hasil penerapan berdasarkan dampaknya terhadap operasi dan tujuan bisnis.

Adopsi AI telah berlangsung selama sekitar satu dekade terakhir, tetapi kematangannya tidak merata di perusahaan maupun sektor. Pada tahap awal, banyak inisiatif berwujud eksperimen atau proyek percontohan yang menguji kelayakan teknologi pada kasus penggunaan tertentu. Kini, sebagian penerapan mulai bergerak dari fase uji coba menuju tahap pengembangan, ketika organisasi memperluas solusi, menyempurnakan proses, dan mengintegrasikannya lebih dekat dengan operasi sehari-hari. Peralihan ini tidak berarti seluruh perusahaan telah mencapai tingkat penerapan yang sama. Sebagian masih membangun fondasi data dan keterampilan, sementara yang lain mulai mengembangkan penggunaan AI secara lebih luas. Memahami perbedaan tahap tersebut penting agar strategi adopsi tetap realistis, bertahap, dan selaras dengan kebutuhan masing-masing organisasi.

Laporan McKinsey “The State of AI in 2025: Agents, Innovation, and Transformation” menggambarkan bahwa kecerdasan buatan telah menjangkau banyak organisasi, tetapi tingkat penerapannya masih beragam. Lebih dari 75% organisasi melaporkan telah menggunakan AI setidaknya dalam satu fungsi bisnis. Angka ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut semakin hadir dalam kegiatan perusahaan, mulai dari proses operasional hingga dukungan bagi pengambilan keputusan. Namun, penggunaan di satu atau beberapa fungsi belum berarti AI telah terintegrasi secara menyeluruh ke dalam cara perusahaan bekerja.

Menurut laporan tersebut, mayoritas organisasi masih berada pada tahap awal penerapan. Pemanfaatan AI kerap terbatas pada kasus penggunaan tertentu, belum mencakup keseluruhan proses kerja, dan belum menghasilkan perubahan mendasar di seluruh perusahaan. Area seperti manajemen dokumen serta fungsi back-office termasuk dalam bagian operasional yang belum sepenuhnya tersentuh transformasi. Kesenjangan adopsi awal dan penerapan lintas proses menjadi salah satu tantangan penting: perusahaan perlu bergerak dari eksperimen atau penggunaan terbatas menuju integrasi yang lebih luas dan terarah.

Laporan itu juga membandingkan perusahaan yang memanfaatkan AI untuk transformasi bisnis menyeluruh, yang disebut AI high performers, dengan perusahaan yang belum memanfaatkan AI. Sebanyak 50% AI high performers menargetkan perubahan besar dalam tiga tahun ke depan. Jumlah tersebut 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan proporsi perusahaan yang belum menggunakan AI. Perbedaan ini menandakan bahwa perusahaan yang telah menjadikan AI bagian dari agenda transformasi lebih cenderung memiliki sasaran perubahan yang ambisius dalam jangka menengah. Data yang disampaikan McKinsey menunjukkan bahwa strategi AI yang jelas dan terarah berkaitan langsung dengan peningkatan signifikan, sebagaimana terlihat pada perbedaan sasaran transformasi di kelompok perusahaan tersebut.

Baca juga: Memperkuat Ekosistem AI Indonesia untuk Menopang Pertumbuhan Ekonomi | HashMicro Terima Penghargaan Platform AI untuk Kebutuhan Enterprise | Dari Tambang ke Industri Modern: Peluang Pengembangan Ekosistem Emas Indonesia