Jaksel Kejar Penurunan Stunting hingga 11,2 Persen pada 2030

oleh -241 Dilihat
oleh
Jaksel Kejar Penurunan Stunting hingga 11,2 Persen pada 2030

Kota Administrasi Jakarta Selatan | Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menargetkan prevalensi stunting turun dari sekitar 14 persen menjadi 11,2 persen hingga akhir 2030. Sasaran tersebut menjadi arah kerja jangka panjang bagi pemerintah kota dalam menangani persoalan pertumbuhan anak. Penurunan yang dituju tidak hanya menggambarkan perubahan angka, tetapi juga menuntut kesinambungan upaya agar kemajuan yang telah terlihat dapat berlanjut sampai batas waktu yang ditetapkan.

Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Jakarta Selatan, Rizky Hamid, menyampaikan bahwa data pada 2023 dan 2024 menunjukkan tren penurunan stunting. Perkembangan ini menjadi indikasi bahwa kondisi bergerak ke arah yang diharapkan. Meski demikian, tren menurun dalam dua tahun tersebut belum berarti sasaran 2030 telah tercapai. Pemerintah masih perlu menjaga perhatian dan melanjutkan langkah penanganan dalam periode berikutnya.

Selisih prevalensi sekitar 14 persen dan target 11,2 persen menunjukkan bahwa pekerjaan untuk mencapai sasaran masih berlangsung. Target akhir 2030 memberi rentang waktu bagi pemerintah kota untuk meneruskan upaya yang sudah berjalan, sekaligus menilai perkembangan secara berkelanjutan. Keterangan mengenai tren 2023 dan 2024 juga perlu dipahami sebagai gambaran arah perubahan, bukan alasan untuk mengurangi komitmen terhadap penanganan stunting.

Dengan demikian, fokus Jakarta Selatan bukan hanya mencatat penurunan dari tahun ke tahun, melainkan memastikan kemajuan tersebut mendukung pencapaian target jangka panjang. Rizky menegaskan perlunya upaya lanjutan agar prevalensi dapat terus ditekan hingga mencapai 11,2 persen pada akhir 2030. Konsistensi menjadi penting karena sasaran itu masih harus dikejar dalam beberapa tahun ke depan. Perkembangan berikutnya akan menunjukkan apakah tren yang telah tercatat mampu dipertahankan dan membawa Jakarta Selatan semakin dekat pada target yang ditetapkan pemerintah kota.

Pemerintah Kota Jakarta Selatan mengandalkan koordinasi lintas perangkat daerah dan instansi untuk memperkuat penanganan stunting di seluruh wilayah. Kerja bersama ini diperlukan agar berbagai langkah yang telah direncanakan dapat berjalan selaras, menjangkau keluarga yang membutuhkan, dan mendukung upaya menurunkan angka stunting sesuai target. Dengan keterlibatan berbagai pihak, pemerintah berharap penanganan tidak berjalan secara terpisah, melainkan menjadi bagian dari upaya terpadu di tingkat kota hingga wilayah.

Penguatan intervensi menjadi salah satu langkah yang perlu terus dilakukan. Program penanganan perlu diarahkan secara tepat agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Koordinasi antarpihak juga membantu menyelaraskan pelaksanaan program, sehingga upaya di satu bidang dapat mendukung langkah lain. Pemerintah kota dapat memanfaatkan kerja sama tersebut untuk memperkuat jangkauan dan konsistensi intervensi di seluruh Jakarta Selatan.

Selain menjalankan program, evaluasi berkala diperlukan untuk melihat pelaksanaan serta menilai hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Hasil evaluasi dapat menjadi bahan bagi perangkat daerah dan instansi terkait dalam menyesuaikan langkah, memperkuat pelaksanaan, dan menjaga agar program tetap sesuai dengan tujuan. Dengan demikian, penanganan stunting tidak hanya bertumpu pada rencana, tetapi juga memperhatikan perkembangan pelaksanaan dan kebutuhan di lapangan.

Edukasi mengenai gizi dan pola asuh keluarga juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Informasi yang mudah dipahami dapat membantu keluarga mengenali pentingnya pemenuhan gizi serta menerapkan pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak. Penyampaian edukasi secara berkelanjutan dan melalui koordinasi berbagai pihak diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat. Keterlibatan keluarga menjadi penting karena praktik sehari-hari di rumah turut berperan dalam mendukung kesehatan dan perkembangan anak.

Rizky berharap koordinasi dan kerja bersama seluruh pihak dapat memperkuat pelaksanaan program serta mendukung pencapaian target penurunan stunting yang telah ditetapkan. Harapan tersebut menegaskan pentingnya komitmen bersama, evaluasi, intervensi yang kuat, dan edukasi bagi keluarga. Melalui upaya yang terarah dan berkesinambungan di seluruh wilayah Jakarta Selatan, pemerintah kota berupaya mendukung target penurunan stunting hingga 11,2 persen pada 2030.

Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Firmanudin Ibrahim mengingatkan bahwa stunting tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Ketersediaan pangan dan kemampuan memenuhi kebutuhan anak memang penting, tetapi cara orang tua mengasuh, memberi makan, serta memantau tumbuh kembang juga turut menentukan. Karena itu, penanganan stunting perlu melihat kehidupan anak secara menyeluruh, termasuk kebiasaan keluarga dan lingkungan tempat anak dirawat. Menurut Firmanudin, pendekatan yang hanya menitikberatkan pada bantuan ekonomi berisiko mengabaikan persoalan praktik pengasuhan sehari-hari. Upaya menurunkan angka stunting perlu mendorong pemahaman keluarga tentang kebutuhan gizi dan perawatan anak, sekaligus memperhatikan siapa yang menjalankan pengasuhan dalam keseharian.

Hasil pemetaan di Jakarta Selatan menunjukkan bahwa kasus stunting kerap dipicu tingginya kepercayaan keluarga kepada pihak pengasuh dalam merawat anak. Dalam sejumlah keluarga, pengasuh memiliki peran besar, sementara orang tua menyerahkan sebagian keputusan dan rutinitas perawatan kepada mereka. Kepercayaan tersebut tidak dengan sendirinya menjadi masalah, tetapi dapat menimbulkan risiko apabila pengasuh belum memperoleh informasi yang tepat mengenai gizi, pemberian makan, dan kebutuhan tumbuh kembang anak. Pesan kesehatan yang hanya disampaikan kepada orang tua mungkin tidak menjangkau orang yang paling sering mendampingi anak. Oleh sebab itu, pemetaan kebiasaan pengasuhan dapat membantu menentukan sasaran edukasi dan menemukan cara agar informasi diterapkan secara konsisten di rumah.

Penguatan edukasi gizi dan pola asuh perlu disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat, sehingga pesan yang diberikan relevan dengan kebiasaan, bahasa, dan keseharian keluarga. Materi tentang makanan bergizi, jadwal makan, serta perhatian terhadap pertumbuhan anak sebaiknya disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan dapat dipraktikkan. Keluarga juga perlu didorong untuk berbagi informasi yang sama dengan pihak pengasuh, agar perawatan anak tidak bergantung pada pemahaman yang berbeda-beda. Firmanudin turut menekankan pentingnya melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menyampaikan pesan. Kedekatan mereka dengan warga dapat membantu membangun kepercayaan, membuka ruang dialog, dan memperluas jangkauan edukasi. Dengan kolaborasi tersebut, upaya pencegahan dapat menyentuh keluarga dan pengasuh yang terlibat langsung dalam kehidupan anak.

Firmanudin menyebut Kecamatan Jagakarsa sebagai wilayah dengan kasus stunting paling luas dan terpadat di Jakarta Selatan. Catatan tersebut menempatkan Jagakarsa sebagai salah satu kawasan yang membutuhkan perhatian lebih dalam upaya penanganan stunting di tingkat kota. Luas wilayah kasus dan kepadatan yang disampaikan narasumber menjadi pertimbangan penting ketika pemerintah dan pihak terkait menentukan fokus perhatian, tanpa mengabaikan wilayah lain yang juga memerlukan penanganan.

Menurut Firmanudin, kondisi di Jagakarsa memerlukan perhatian serta intervensi yang lebih optimal. Penanganan stunting tidak cukup dilakukan oleh satu pihak atau melalui upaya yang berjalan sendiri-sendiri. Berbagai pihak perlu terlibat secara aktif dan bekerja secara berjenjang, sehingga perhatian terhadap persoalan ini dapat menjangkau lingkungan masyarakat. Keterlibatan hingga pengurus lingkungan menjadi bagian penting dari pendekatan yang disampaikan narasumber.

Pelibatan berjenjang juga menegaskan bahwa penanganan perlu dijalankan dengan koordinasi antarpihak, dari tingkat yang lebih luas hingga lingkungan setempat. Dengan keterlibatan aktif berbagai unsur, kebutuhan perhatian di Jagakarsa dapat menjadi bagian dari pembahasan dan upaya penanganan stunting Jakarta Selatan. Pernyataan Firmanudin menekankan perlunya intervensi yang lebih optimal di kecamatan tersebut, disertai kerja bersama sampai ke pengurus lingkungan. Fokus pada kolaborasi ini sejalan dengan kebutuhan untuk memberi perhatian lebih terhadap wilayah yang tercatat memiliki cakupan kasus paling luas dan kepadatan tertinggi di Jakarta Selatan.

Baca juga: Modifikasi Cuaca dan Polusi Jakarta: Klaim Penurunan Selama Festival dan Konser