Kasus Bayi di Surabaya dan Penjelasan Medis tentang Keamanan MPASI Dini

oleh -59 Dilihat
oleh
Kasus Bayi di Surabaya dan Penjelasan Medis tentang Keamanan MPASI Dini

Surabaya | Seorang bayi berusia 24 hari di Surabaya, Alena, meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif. Peristiwa ini menjadi perhatian karena sebelum kondisi kesehatannya memburuk, Alena diduga diberi telur mentah oleh neneknya ketika mengalami demam. Pemberian tersebut disebut dilakukan dengan alasan membantu menurunkan suhu tubuh bayi.

Berdasarkan informasi awal yang beredar, Alena sempat mendapatkan perawatan di RSUD Dr. Soetomo sejak Jumat (9/10). Kondisinya kemudian memerlukan penanganan di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yaitu unit khusus untuk merawat bayi baru lahir atau bayi dengan keadaan medis serius. Perawatan intensif diberikan karena kondisi Alena disebut terus memburuk. Setelah melewati masa kritis, bayi tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Informasi mengenai kejadian ini pertama kali dibagikan melalui akun Threads @calistaarisha, yang disebut sebagai bibi atau tante Alena. Unggahan tersebut kemudian menarik perhatian publik dan memunculkan kembali pembahasan tentang pemberian makanan atau minuman kepada bayi yang belum mencapai usia siap menerima makanan pendamping.

Meski telur mentah disebut dalam rangkaian peristiwa tersebut, belum dapat dipastikan bahwa pemberian telur menjadi penyebab kematian Alena. Informasi yang tersedia masih berupa keterangan awal dan dugaan, sehingga penyebab medis kematian perlu merujuk pada penjelasan resmi dari tenaga kesehatan atau pihak berwenang. Demam pada bayi berusia kurang dari satu bulan juga merupakan kondisi yang memerlukan perhatian medis segera, bukan penanganan mandiri dengan memberikan bahan makanan tertentu.

Kasus ini sekaligus menunjukkan pentingnya keluarga berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum memberikan apa pun kepada bayi, terutama bayi baru lahir. Pada usia tersebut, sistem pencernaan dan daya tahan tubuh masih berkembang, sementara gejala seperti demam dapat menandakan masalah kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan segera.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan panduan bahwa makanan pendamping ASI (MPASI) umumnya mulai diperkenalkan ketika bayi berusia sekitar enam bulan. Pada tahap tersebut, ASI saja dinilai tidak lagi mencukupi seluruh kebutuhan energi dan zat gizi yang meningkat seiring pertumbuhan bayi. Pemberian makanan sebelum waktunya perlu dipertimbangkan secara hati-hati karena kesiapan pencernaan, kemampuan menelan, serta kebutuhan setiap bayi dapat berbeda.

Pada awal pemberian MPASI, makanan sebaiknya memiliki tekstur halus, seperti bubur kental atau puree, sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna. Tekstur kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai usia serta kemampuan bayi. Orang tua juga perlu memperhatikan tanda kesiapan makan, termasuk kemampuan duduk dengan bantuan, kontrol kepala yang baik, dan berkurangnya refleks mendorong makanan keluar dengan lidah. Panduan tenaga kesehatan tetap penting untuk menyesuaikan pemberian makanan dengan kondisi bayi.

Dalam konteks kasus Alena, usia 24 hari masih jauh di bawah usia umum dimulainya MPASI. Bayi pada usia tersebut pada umumnya masih berada dalam tahap pemberian ASI, atau mendapat susu formula sesuai anjuran tenaga medis apabila terdapat alasan tertentu. Karena itu, makanan apa pun tidak seharusnya diberikan secara sembarangan kepada bayi yang masih sangat muda tanpa penilaian dan arahan dokter anak.

Ketika MPASI sudah waktunya diberikan, bahan pangan seperti telur, daging, dan ikan harus dimasak hingga benar-benar matang. Makanan mentah atau setengah matang dapat membawa mikroorganisme yang berisiko menyebabkan infeksi. Kebersihan tangan, permukaan kerja, wadah, sendok, serta peralatan memasak juga perlu dijaga sejak persiapan hingga makanan disajikan. Langkah tersebut membantu mengurangi risiko kontaminasi dan mendukung keamanan makanan bayi.

Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) umumnya dianjurkan mulai usia enam bulan. Namun, menurut spesialis anak dr Meta Hanindita, SpA, terdapat kondisi tertentu yang memungkinkan dokter menyarankan MPASI setelah bayi berusia lebih dari empat bulan. Keputusan tersebut tidak dapat dibuat berdasarkan usia saja dan tidak otomatis dikategorikan sebagai MPASI dini, selama dilakukan atas indikasi medis serta melalui evaluasi yang memadai.

Dalam situasi khusus, dokter dapat mempertimbangkan pemberian MPASI apabila kenaikan berat badan bayi kurang optimal meskipun asupan ASI atau susu sudah dievaluasi, atau terdapat kondisi medis lain yang memerlukan penanganan nutrisi tertentu. Sebelum memberikan rekomendasi, dokter perlu menilai pertumbuhan, kesehatan umum, riwayat pemberian susu, kebutuhan nutrisi, serta kesiapan bayi untuk makan. Tanda kesiapan dapat mencakup kemampuan mempertahankan posisi kepala, duduk dengan bantuan, menunjukkan minat terhadap makanan, dan berkurangnya refleks mendorong makanan keluar menggunakan lidah.

Substansi penting dari penjelasan tersebut adalah MPASI sebelum enam bulan hanya dapat dipertimbangkan jika terdapat indikasi, bayi telah diperiksa dan dievaluasi, serta keputusan diambil berdasarkan advis dokter. Orang tua tidak dianjurkan meniru rekomendasi untuk bayi lain karena kebutuhan setiap anak berbeda. Bentuk makanan, tekstur, jumlah, dan frekuensi pemberian juga harus disesuaikan dengan usia serta kondisi bayi.

Hal ini berbeda secara tegas dari pemberian makanan kepada bayi berusia kurang dari empat bulan tanpa pemeriksaan atau rekomendasi tenaga medis. Praktik tersebut tidak memiliki dasar evaluasi individual dan dapat meningkatkan risiko tersedak, gangguan pencernaan, alergi, maupun asupan nutrisi yang tidak sesuai. Karena itu, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak apabila mengkhawatirkan pertumbuhan bayi. Penilaian profesional membantu memastikan bahwa setiap keputusan mengenai MPASI dilakukan secara aman, terukur, dan sesuai kebutuhan medis anak.

Pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) sebelum bayi berusia enam bulan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang perlu dipertimbangkan secara serius. Ahli gizi Syarief Darmawan menjelaskan bahwa saluran cerna bayi masih berada dalam tahap pematangan dan dipersiapkan terutama melalui ASI eksklusif. Jika makanan diberikan terlalu dini, risiko inflamasi atau peradangan usus dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu penyerapan nutrisi, sehingga kebutuhan zat gizi bayi tidak terpenuhi secara optimal.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan pencernaan, tetapi juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Penyerapan nutrisi yang kurang baik berisiko membuat pertambahan tinggi badan tidak optimal. Dalam jangka lebih panjang, gangguan asupan dan pencernaan juga dikaitkan dengan kemungkinan hambatan perkembangan, termasuk kecerdasan serta kemampuan motorik. Penelitian tahun 2024 menemukan hubungan pemberian MPASI pada usia 0–6 bulan dan gangguan pencernaan. Sementara itu, penelitian tahun 2018 dan 2021 menunjukkan adanya korelasi MPASI dini dan kejadian diare pada bayi.

Rujukan Kementerian Kesehatan RI turut menyebutkan risiko jangka pendek berupa berkurangnya frekuensi dan intensitas menyusu karena bayi lebih cepat merasa kenyang. Adapun dalam jangka panjang, pemberian makanan yang tidak sesuai kesiapan bayi dapat berkaitan dengan obesitas, hipertensi, aterosklerosis, serta alergi makanan. Meski demikian, pemberian makanan sebelum enam bulan perlu dibedakan dari MPASI yang dimulai berdasarkan evaluasi kondisi bayi dan anjuran dokter. Keputusan medis dapat mempertimbangkan pertumbuhan, kebutuhan nutrisi, kesiapan saluran cerna, serta keadaan khusus yang dimiliki setiap bayi. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menjadikan kasus tertentu sebagai dasar untuk memberikan MPASI secara mandiri, melainkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar waktu dan jenis makanan sesuai kebutuhan anak.

Baca juga: Raja Charles III Soroti Ancaman Siber dan Risiko AI bagi Keamanan Digital | Malam Ini, 15 Finalis Cak Ning Surabaya 2026 Berebut Gelar Duta Wisata | Ahmad Nawardi Sampaikan Literasi Finansial dan Kewirausahaan kepada Mahasiswa Hindu Surabaya