Jakarta | Kiky Saputri menyampaikan penjelasan melalui unggahan Instagram pada Rabu, 4 November 2026, setelah video lamanya kembali menjadi bahan perbincangan. Dalam unggahan tersebut, ia menanggapi penggunaan ungkapan “rakyat jelata” yang terdengar dalam video itu. Ia menjelaskan bahwa kata-kata tersebut disampaikan dalam konteks candaan, bukan sebagai pernyataan yang dimaksudkan untuk merendahkan masyarakat atau menilai seseorang berdasarkan kedudukannya. Penjelasan itu berfokus pada maksud yang ingin ia sampaikan ketika video dibuat, sekaligus mengakui bahwa potongan ucapan yang beredar dapat dipahami berbeda dari niat awalnya.
Ia juga menerangkan alasan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung. Menurut penjelasannya, niat bercanda tidak serta-merta menghapus dampak dari pilihan kata yang digunakan. Ungkapan tersebut dapat terdengar kurang tepat dan menimbulkan kesan yang tidak ia maksudkan. Karena itu, Kiky mengakui bahwa dampak ucapan perlu diperhatikan, meskipun maksud awalnya bukan untuk meremehkan orang lain. Permintaan maafnya ditujukan kepada mereka yang merasa tidak nyaman atau terluka oleh kata-kata dalam video, bukan untuk menyangkal bahwa candaan itu telah menimbulkan pemahaman tertentu.
Respons tersebut memuat dua hal yang berjalan bersamaan: penjelasan mengenai konteks dan pengakuan atas pilihan kata. Kiky berusaha meluruskan bahwa istilah “rakyat jelata” berada dalam bingkai humor, sementara ia tetap menerima bahwa cara penyampaiannya dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang merendahkan. Dengan demikian, ia tidak hanya menekankan maksud di balik candaan, tetapi juga menyatakan bahwa ungkapan yang dipilih mungkin tidak sesuai dan berpotensi menyakiti perasaan. Melalui unggahan itu, ia menyampaikan permohonan maaf serta menjelaskan bahwa tidak ada niat untuk merendahkan masyarakat. Penjelasan tersebut menjadi tanggapannya atas video lama yang kembali dibicarakan, sekaligus pengakuan bahwa maksud seseorang dan dampak kata-katanya tidak selalu diterima dengan cara yang sama.Kiky Saputri menjelaskan bahwa rekaman yang memuat candaan “rakyat jelata” itu dibuat pada 2023. Ia menyampaikan konteks tersebut untuk menerangkan situasi ketika percakapan dalam rekaman berlangsung, bukan untuk mengabaikan dampak dari pilihan kata yang kemudian menjadi perhatian publik. Menurut penjelasannya, saat itu ia bersama sejumlah pengisi acara menerima undangan untuk menghadiri peresmian Bandara Internasional Kertajati.
Perjalanan menuju acara tersebut dilakukan dengan pesawat yang sama dengan Menteri Perhubungan yang menjabat pada waktu itu. Kiky dan para pengisi acara berada dalam satu penerbangan bersama sang menteri dalam perjalanan menuju lokasi peresmian. Informasi yang disampaikan mengenai perjalanan itu menjadi latar bagi kemunculan percakapan dalam rekaman, sehingga pernyataan yang terdengar dapat dipahami dengan mempertimbangkan suasana dan tujuan perjalanan mereka.
Dengan menyebut tahun pembuatan rekaman dan agenda yang hendak dihadiri, Kiky memberikan penjelasan tentang kapan serta dalam rangka apa dirinya berada di perjalanan tersebut. Penjelasan itu tidak mengubah kenyataan bahwa rekaman kemudian memunculkan reaksi karena penggunaan istilah “rakyat jelata”. Ia juga mengakui bahwa pilihan kata dapat menimbulkan dampak, terlepas dari konteks percakapan saat itu. Karena itu, keterangan mengenai perjalanan ke peresmian bandara sebaiknya dipahami sebagai latar peristiwa, bukan sebagai alasan untuk menyimpulkan hal-hal lain yang tidak disampaikan. Tidak ada rincian tambahan mengenai identitas pejabat yang dimaksud, waktu keberangkatan, ataupun lokasi keberangkatan dalam keterangan tersebut. Dengan membatasi uraian pada informasi yang tersedia, kronologi tetap jelas: rekaman dibuat pada 2023, Kiky dan sejumlah pengisi acara diundang menghadiri peresmian Bandara Internasional Kertajati, lalu mereka menempuh perjalanan menggunakan pesawat bersama Menteri Perhubungan yang menjabat saat itu. Latar ini membantu pembaca membedakan konteks perjalanan dari pembahasan mengenai dampak bahasa yang digunakan.Kiky Saputri menjelaskan bahwa ungkapan “rakyat jelata” dalam video yang ramai dibicarakan perlu dipahami dalam konteks candaan, bukan sebagai pernyataan untuk merendahkan masyarakat. Ia mengaitkan pilihan gaya bicara tersebut dengan pekerjaannya sebagai komika. Dalam materi komedi, ia kerap memakai roasting, sindiran, dan sarkasme untuk menanggapi hal-hal yang sedang menjadi perhatian publik. Karena itu, sebuah frasa yang terdengar tajam dapat menjadi bagian dari cara menyampaikan lelucon, meski tetap berpotensi ditafsirkan berbeda oleh penonton.
Menurut penjelasannya, sasaran sindiran dalam video itu adalah fenomena flexing atau pamer kemewahan yang tengah ramai diperbincangkan. Istilah tersebut dipakai untuk menyoroti kebiasaan menampilkan fasilitas atau gaya hidup mewah, bukan untuk menyebut masyarakat biasa sebagai kelompok yang pantas dihina. Kiky menekankan bahwa konteks pembicaraan dan maksud komedinya penting agar kata-kata itu tidak dilepaskan dari situasi yang melatarbelakanginya. Ia berupaya menjelaskan bahwa lelucon tersebut mengomentari perilaku pamer, bukan menyerang orang-orang yang tidak memiliki kemewahan serupa.
Kiky juga menempatkan dirinya sebagai bagian dari kelompok yang menjadi bahan candaan itu. Ia menyampaikan bahwa dirinya baru pertama kali menaiki private jet, sehingga istilah tersebut turut diarahkan kepada pengalaman pribadinya, bukan hanya kepada orang lain. Posisi ini membuat candaan tersebut bersifat reflektif: ia ikut menertawakan situasi yang dialaminya ketika berhadapan dengan fasilitas mewah. Meski demikian, ia mengakui bahwa pemilihan kata dapat menimbulkan dampak dan memicu tanggapan beragam. Penjelasan mengenai maksud awalnya tidak serta-merta menghapus tafsir publik, tetapi memberi gambaran mengapa ungkapan itu muncul dan siapa yang sebenarnya menjadi sasaran sindiran.
Kiky Saputri mengakui bahwa sebuah candaan tidak selalu diterima dengan cara yang sama oleh setiap orang. Bagi orang yang menyampaikannya, kalimat tertentu mungkin dimaksudkan sebagai humor atau bagian dari percakapan yang ringan. Namun, pendengar dapat menangkapnya secara berbeda, terutama ketika pilihan kata yang digunakan terasa merendahkan atau menempatkan kelompok tertentu pada posisi yang tidak nyaman. Perbedaan sudut pandang itu membuat niat di balik ucapan tidak otomatis menentukan bagaimana ucapan tersebut dirasakan.
Pengakuan ini menunjukkan bahwa maksud pembicara dan dampak perkataan terhadap orang lain bisa berjalan beriringan, tetapi tidak selalu serupa. Seseorang dapat berniat melucu tanpa bermaksud menyakiti, sementara orang yang mendengar tetap merasa tersinggung atau tidak dihargai. Dalam konteks candaan “rakyat jelata”, Kiky memahami bahwa kata-kata yang ia pilih dapat menimbulkan kesan tidak menyenangkan bagi sebagian masyarakat. Karena itu, penjelasan mengenai niatnya tidak menghapus pengalaman orang-orang yang merasa terganggu oleh ucapan tersebut.
Kiky juga menyadari pentingnya mempertimbangkan bagaimana suatu ungkapan mungkin diterima, bukan hanya bagaimana ungkapan itu dimaksudkan saat disampaikan. Respons masyarakat menjadi pengingat bahwa humor dapat memiliki batas yang berbeda bagi tiap pendengar, sehingga dampaknya patut diperhatikan. Ia memahami bahwa pilihan kata dalam candaan tersebut dapat menyakiti atau membuat orang merasa direndahkan, meskipun hal itu bukan tujuan yang ia kehendaki. Kesadaran atas perbedaan maksud dan akibat inilah yang ia sampaikan ketika menanggapi kritik terhadap ucapannya.
Sejalan dengan pengakuan tersebut, Kiky menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang tersinggung. Permintaan itu ditujukan kepada mereka yang merasa tidak nyaman atau terluka oleh penggunaan istilah tersebut. Ia mengakui bahwa niat bercanda tidak serta-merta menghilangkan dampak yang dirasakan pendengar, dan bahwa pilihan kata dapat memunculkan kesan yang berbeda dari maksud awalnya. Dengan demikian, pernyataannya memuat pengakuan atas perasaan pihak yang terdampak sekaligus permintaan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung oleh candaan “rakyat jelata”.
Baca juga: MRT Jakarta Jelaskan Teguran kepada Penumpang yang Minum di Kereta
36 kunjungan


































