Kisah Eva di Kampung Bali: Lima Orang Bertahan di Kontrakan Sempit Tanpa Bansos

oleh -498 Dilihat
oleh
Kisah Eva di Kampung Bali: Lima Orang Bertahan di Kontrakan Sempit Tanpa Bansos

Jakarta | Di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, rumah-rumah berdiri rapat dan gang sempit menjadi jalur utama bagi warga yang beraktivitas setiap hari. Permukiman padat ini dihuni orang-orang dengan latar belakang dan pekerjaan beragam. Ada yang bekerja di sektor informal, berdagang, atau mencari penghasilan dari pekerjaan harian. Kehidupan di lingkungan tersebut berlangsung dekat dengan keterbatasan ruang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Di warga yang berjuang menjalani keseharian itu, ada Eva, seorang pedagang keliling yang tinggal bersama keluarganya di sebuah kontrakan kecil.

Eva berbagi tempat tinggal dengan empat anggota keluarga: menantu, anak, serta dua cucunya. Mereka berlima menjalani kehidupan sehari-hari dalam ruang yang ukurannya sekitar 3 x 1 meter. Luas tersebut membuat kegiatan di dalam rumah harus dilakukan dengan menyesuaikan keadaan dan berbagi ruang. Kontrakan itu bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang untuk keluarga berkumpul dan beristirahat setelah menjalani kesibukan masing-masing. Dengan ruang yang sangat terbatas, privasi dan keleluasaan menjadi hal yang sulit diperoleh. Namun, di sanalah mereka tinggal bersama, mengatur kebutuhan harian, dan berusaha menjalani hidup meski kondisi tempat tinggal tidak memadai.

Sejak suaminya meninggal, Eva menjadi pencari nafkah bagi dirinya dan keluarga. Ia berjualan secara keliling, tetapi pendapatannya tidak menentu karena bergantung pada hasil dagangan dan kesempatan memperoleh pembeli. Meski demikian, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dari hari ke hari. Sementara itu, biaya untuk mempertahankan tempat tinggal juga menjadi beban rutin: kontrakan tersebut disewa dengan tarif Rp20 ribu per hari. Bagi keluarga dengan pemasukan yang berubah-ubah, pengeluaran harian itu menuntut pengelolaan uang yang cermat. Kehidupan Eva menggambarkan bagaimana pekerjaan informal, tanggung jawab keluarga, dan keterbatasan hunian bertemu dalam keseharian warga Kampung Bali. Di tengah kondisi itu, ia terus berusaha mencari penghasilan agar lima orang di rumah tersebut dapat bertahan.

Tempat tinggal Eva berada di sebuah kontrakan petak semi permanen di lantai dua, persis di tepi Kali Krukut. Bangunan kecil itu menggunakan kayu dan triplek, dengan ruang yang terbatas untuk menampung Eva bersama empat anggota keluarganya. Mereka berlima berbagi satu unit kontrakan, sehingga susunan dan fungsi ruang menjadi bagian penting dari keseharian keluarga. Rincian yang tersedia menggambarkan hunian sederhana dengan bentuk dan fasilitas yang terbatas, tanpa memberi keterangan lebih jauh tentang kondisi lainnya.

Akses menuju kontrakan melewati tangga yang sempit dan curam. Jalur masuk tersebut menghubungkan lantai bawah dengan unit di lantai dua, sehingga ruang di dalam tidak dapat dicapai melalui akses yang lapang. Setelah melewati tangga, penghuni masuk ke ruangan berbentuk huruf L. Bentuk ini menjadi ciri tata ruang kontrakan, tetapi tidak tersedia keterangan tentang ukuran persisnya maupun pembagian bagian-bagian ruang tersebut. Karena itu, gambaran hunian dapat dijelaskan melalui bentuk, bahan, dan fasilitas yang disebutkan, tanpa mengandaikan rincian yang tidak diketahui.

Kontrakan itu tidak memiliki kamar mandi di dalam maupun ruang tamu. Pada dinding kayu terdapat sebuah lubang yang berfungsi sebagai jendela, menjadi jalan agar udara dapat masuk ke ruangan. Lubang tersebut merupakan bukaan yang disebutkan pada hunian, dan tidak ada informasi lain mengenai bentuk atau ukurannya. Dengan demikian, ruang tinggal Eva terdiri atas satu unit petak berbentuk L, tanpa dua fasilitas tersebut, serta memiliki bukaan udara pada dindingnya.

Seluruh keterangan itu menunjukkan susunan dasar tempat Eva dan keluarganya tinggal: unit semi permanen dari kayu dan triplek di lantai dua, akses melalui tangga sempit dan curam, dan posisi tepat di tepi Kali Krukut. Lima orang menghuni ruang yang sama, yakni Eva bersama empat anggota keluarganya. Tidak ada keterangan yang memastikan adanya ruang terpisah untuk setiap orang, sehingga gambaran yang paling akurat adalah bahwa keluarga tersebut berbagi kontrakan petak itu. Penyebutan rincian ini membantu pembaca memahami bentuk hunian mereka secara konkret, tanpa menambahkan keadaan yang tidak tercantum dalam informasi tentang Eva.

Eva mengetahui bahwa dirinya tercatat pada desil 5 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kategori ini dijelaskan sebagai kelompok keluarga dengan tingkat kesejahteraan menengah bawah yang relatif stabil. Posisi tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan prioritas penerima sejumlah program perlindungan sosial. Dengan demikian, status desil tidak serta-merta menggambarkan seluruh kesulitan yang dialami sebuah keluarga, tetapi digunakan untuk mengelompokkan kondisi sosial ekonomi rumah tangga dalam pendataan pemerintah.

Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), yang juga dikenal sebagai Program Sembako, diprioritaskan bagi keluarga yang berada pada desil 1 sampai 4. Karena tercatat di desil 5, Eva tidak termasuk kelompok yang diutamakan untuk menerima kedua program tersebut. Keadaan itu menjelaskan mengapa ia tidak memperoleh PKH maupun BPNT/Program Sembako, meskipun keluarganya menghadapi keterbatasan hidup di kontrakan sempit. Informasi mengenai kategori dan prioritas program tersebut memberi konteks pada pengalaman Eva, tanpa mengubah keterangan yang ia sampaikan mengenai keadaan keluarganya.

Saat ditemui di rumahnya pada Selasa, 13 Oktober 2026, Eva mengaku tidak memperoleh bantuan sosial. Ia juga menyampaikan bahwa anaknya tidak mendapat Kartu Jakarta Pintar (KJP), meskipun ia memiliki KTP Jakarta. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan identitas kependudukan Jakarta, menurut pengalaman Eva, tidak disertai penerimaan bantuan sosial ataupun bantuan pendidikan untuk anaknya. Keterangan ini menggambarkan situasi yang ia hadapi secara langsung, sementara pencatatan desil dan ketentuan prioritas program menjelaskan posisinya dalam skema bantuan yang disebutkan. Kisahnya memperlihatkan perbedaan kriteria penentuan sasaran program dengan kebutuhan sehari-hari keluarga. Dalam menyampaikan pengalaman tersebut, Eva menegaskan bahwa ia belum menerima bantuan yang diharapkan, termasuk dukungan bagi anaknya. Status pada desil 5 menjadi latar penting untuk memahami mengapa keluarganya tidak diprioritaskan dalam dua program bantuan tersebut, tetapi keterangannya mengenai KJP tetap merupakan bagian tersendiri dari pengalaman yang ia ceritakan.Kabar bahwa Eva memiliki aset senilai Rp1 miliar bukan berasal dari informasi yang ia ketahui atau pernah ia pastikan sendiri. Menurut penuturannya, kabar itu muncul dalam percakapan dengan teman-temannya setelah ia bercerita bahwa anaknya tidak memperoleh Kartu Jakarta Pintar (KJP). Salah seorang teman kemudian menduga bahwa seseorang yang mempunyai aset sebesar itu mungkin tidak memenuhi syarat untuk menerima bantuan pemerintah. Dugaan tersebut lantas dikaitkan dengan keadaan Eva, meskipun ia mengaku tidak mengetahui dasar kabar mengenai aset itu dan tidak merasa pernah memiliki kekayaan seperti yang disebutkan.

Perbedaan kabar tersebut dan kehidupan sehari-hari Eva terlihat dari kesulitan yang ia ceritakan. Ia tinggal bersama keluarganya di kontrakan yang sempit dan harus berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan keadaan yang terbatas. Membayar sewa menjadi beban tersendiri, sementara pengeluaran untuk kebutuhan pokok terus berjalan. Eva mengatakan bahwa ada kalanya ia bahkan tidak mendapat makanan. Pengalaman itu membuat kabar tentang aset bernilai besar terasa jauh dari kenyataan yang ia hadapi. Ia tidak menyampaikan bahwa dirinya mengetahui mengapa kabar tersebut beredar; yang ia sampaikan adalah cerita temannya setelah pembicaraan mengenai KJP, bukan pengakuan tentang kepemilikan aset.

Di tengah kesulitan itu, Eva berharap dapat menerima bantuan pemerintah yang bisa meringankan beban dan membantu menghidupi keluarganya.

Baca juga: Penuh Kepedulian, Satgas TMMD ke-130 Bangun Rumah Warga Kampung Yamboi | TNI–ADF Asah Kemampuan Bertahan Hidup di Alam Liar dalam Latgabma Keris Woomera 2026 | Sinergi Satgas TMMD Dan Dinkes, Cegah Stunting Melalui Pengecekan Tinggi dan Berat Badan Anak di Kampung Yamboi