Lestari Tradisi Bandung Hidupkan Kembali Pop Sunda Era 1990-an

oleh -71 Dilihat
oleh
Lestari Tradisi Bandung Hidupkan Kembali Pop Sunda Era 1990-an

Kota Bandung. Sejumlah | Pagelaran Lestari Tradisi Bandung 1990 menghadirkan kembali lagu-lagu pop Sunda yang populer pada era 1990-an. Acara ini berlangsung di Bumi Sangkuriang, Kota Bandung, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Melalui sajian musik tersebut, karya-karya yang pernah dikenal luas pada masanya kembali menjadi bagian dari pertunjukan di Bandung. Sejumlah musisi dan seniman turut tampil, di antaranya Doel Sumbang, Nining Meida, Bungsu Bandung, dan Ujang Darso.

Pemilihan lagu-lagu dari era 1990-an menjadi inti pagelaran ini. Pop Sunda memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan musik daerah, dengan bahasa dan unsur musikal yang lekat dengan kehidupan masyarakat Sunda. Membawakan kembali lagu-lagu dari masa itu memberi kesempatan bagi pendengar untuk mengenali atau mengingat repertoar yang pernah populer. Pada saat yang sama, pertunjukan di panggung dapat mempertemukan kembali karya-karya tersebut dengan pendengar masa kini, tanpa mengubah fokus acara pada warisan musik Sunda.

Kehadiran para penampil dari latar musik Sunda memperkuat keterkaitan acara dengan lagu-lagu yang diangkat. Doel Sumbang, Nining Meida, Bungsu Bandung, dan Ujang Darso menjadi bagian dari deretan musisi serta seniman yang tampil dalam pagelaran. Nama-nama tersebut mengisi acara yang secara khusus mengangkat kembali pop Sunda era 1990-an. Dengan menempatkan repertoar lama di tengah sebuah pertunjukan, Pagelaran Lestari Tradisi Bandung 1990 turut memberi ruang bagi karya musik daerah untuk terus dikenali dan dibicarakan. Acara ini sekaligus menunjukkan bagaimana lagu-lagu populer dari satu periode dapat kembali hadir melalui penampilan langsung di kota tempat tradisi musik Sunda berkembang. Fokusnya tetap pada musik, para seniman yang membawakannya, dan karya pop Sunda yang menjadi bagian penting dari tema pagelaran tersebut.

Pagelaran Lestari Tradisi Bandung tidak hanya menghadirkan musik Pop Sunda era 1990-an sebagai hiburan utama. Acara ini juga membuka ruang bagi beragam kesenian tradisional untuk tampil dan dikenal oleh pengunjung. Kehadiran pertunjukan tersebut membuat pengalaman menyaksikan pagelaran terasa lebih beragam, sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Musik dan seni tradisi hadir berdampingan dalam satu perayaan, sehingga pengunjung dapat menikmati lebih dari satu bentuk pertunjukan selama berada di lokasi acara.

Jaipongan menjadi salah satu kesenian yang dapat disaksikan dalam rangkaian kegiatan. Pertunjukan angklung turut menyajikan pengalaman musikal yang berbeda, sementara tari tradisional melengkapi ragam penampilan budaya. Ketiga bentuk kesenian ini memberi kesempatan kepada pengunjung untuk melihat ekspresi seni yang berakar pada tradisi daerah. Penempatannya bersama pertunjukan musik juga menunjukkan bahwa hiburan populer dan kesenian tradisional dapat mengisi ruang yang sama tanpa saling meniadakan. Dengan begitu, pagelaran terasa sebagai pertemuan berbagai bentuk ekspresi budaya.

Di luar panggung, pengunjung dapat menjumpai bazar kuliner dan kerajinan khas daerah. Kehadiran bazar memberi dimensi lain pada acara: masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga dapat melihat dan mengenal produk lokal. Kuliner serta kerajinan menjadi bagian dari pengalaman berkunjung, sekaligus mempertemukan kegiatan budaya dengan hasil karya dan usaha masyarakat. Bazar tersebut melengkapi suasana pagelaran tanpa menggeser perhatian dari kesenian yang ditampilkan. Pengunjung pun memiliki pilihan kegiatan yang lebih luas selama acara berlangsung.

Perpaduan pertunjukan budaya dan produk lokal menjadikan pagelaran ini lebih dari sekadar agenda musik. Jaipongan, angklung, dan tari tradisional memberikan ruang bagi kesenian untuk hadir di hadapan khalayak, sedangkan bazar memperkenalkan ragam produk daerah secara langsung. Susunan kegiatan tersebut menciptakan pengalaman yang menghubungkan hiburan, tradisi, dan kehidupan lokal dalam satu acara. Bagi pengunjung, ragam sajian ini menawarkan cara untuk menikmati sekaligus mengapresiasi budaya Sunda, baik melalui pertunjukan di panggung maupun produk yang dijumpai di area bazar.Happy Salma, penggagas Lestari Tradisi, memandang upaya merawat kebudayaan sebagai pekerjaan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, ia ingin mengajak masyarakat memberi ruang bagi tradisi untuk tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika selera publik dan cara orang menikmati budaya terus berubah. Bagi Happy, menjaga warisan budaya bukan berarti menolak perkembangan zaman, melainkan memastikan nilai-nilai yang dianggap baik tidak terputus begitu saja.

Perubahan zaman kerap membuat perhatian masyarakat bergerak cepat dari satu tren ke tren lainnya. Dalam situasi seperti itu, tradisi yang tidak selalu mendapat sorotan luas dapat terasa seolah kehilangan tempat. Namun, ukuran keberhasilan sebuah kegiatan budaya tidak semestinya hanya ditentukan oleh seberapa ramai perhatian yang diterimanya. Lestari Tradisi berangkat dari keyakinan bahwa praktik dan karya yang memiliki nilai tetap layak dirawat, bahkan ketika tidak menjadi perbincangan populer.

Happy menekankan pentingnya rasa percaya diri dalam menjalankan kegiatan kebudayaan. Ia menyampaikan, “Kita harus punya kepercayaan diri bahwa sesuatu yang bagus itu tidak selalu harus viral. Kita mau melakukan kegiatan ini karena kita meyakini ada nilai yang baik di sana.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dorongan untuk menghidupkan tradisi dapat berangkat dari keyakinan terhadap maknanya, bukan semata-mata dari harapan memperoleh perhatian besar atau mengikuti tren sesaat.

Pandangan itu menjadi landasan bagi Lestari Tradisi dalam menghadirkan kembali unsur budaya yang mungkin kurang akrab bagi sebagian orang, sekaligus membuka kesempatan bagi generasi berbeda untuk mengenalnya. Ketika tradisi dibawa ke ruang yang relevan dengan kehidupan masa kini, masyarakat dapat melihatnya bukan sebagai peninggalan yang harus dibiarkan jauh di masa lalu, tetapi sebagai bagian dari identitas yang masih dapat dirasakan. Dengan demikian, merawat budaya memerlukan kesediaan untuk terus mengenalkan, membicarakan, dan memberi tempat bagi nilai-nilai tersebut di tengah perubahan. Upaya itu mungkin tidak selalu menjadi tren, tetapi tetap penting agar kesinambungan budaya dapat terjaga.Bandung dipilih sebagai latar pagelaran karena kota ini memberi ruang untuk menampilkan kembali suasana ketika pop Sunda tumbuh kuat dalam kehidupan masyarakat. Dekade 1990-an menjadi masa penting, saat musik berbahasa Sunda berkembang pesat dan tidak terbatas pada lingkup tertentu. Lagu-lagu pop Sunda hadir serta dikenal oleh berbagai kalangan, sehingga membentuk pengalaman bersama yang dekat dengan keseharian warga. Menghadirkan Bandung pada masa itu bukan sekadar menempatkan cerita pada sebuah periode, melainkan mengingatkan penonton pada lingkungan budaya yang membuat musik tersebut mudah diterima dan dinikmati. Nuansa kota dan zamannya menjadi pintu untuk memahami hubungan musik populer, bahasa, dan identitas lokal yang terasa akrab bagi masyarakat.

Pada dekade tersebut, perkembangan pop Sunda berlangsung berdampingan dengan kesenian tradisional yang tetap menjadi bagian penting dari kehidupan budaya Bandung. Kehadiran musik populer tidak menghapus ekspresi tradisi; keduanya dapat dipahami sebagai unsur yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang sama. Salah satu bentuk kesenian yang menonjol ialah jaipongan, yang dipopulerkan oleh maestro Gugum Gumbira. Jejak jaipongan memperlihatkan bahwa Bandung memiliki kekayaan seni yang beragam, dari musik yang akrab melalui lagu hingga pertunjukan tradisional dengan ciri gerak dan irama tersendiri. Dengan mempertemukan dua ranah tersebut dalam latar sejarah yang sama, pagelaran memberi gambaran tentang suasana budaya yang tidak tunggal, melainkan tersusun dari berbagai bentuk ekspresi.

Pilihan latar 1990-an memungkinkan pagelaran menempatkan pop Sunda dan tradisi dalam satu bingkai yang saling berdekatan.

Baca juga: Gangguan Ban Paksa Pesawat Citilink Rute Yogyakarta Kembali ke Halim | Tuntas! Koops TNI Habema Rebut Kembali Dua Senjata Yonif 9 Marinir yang Dirampas Kelompok Manfred Fatem di Maybrat | Aceh Timur Cocokkan Kembali Data 525 Nelayan Terdampak Banjir